Menulis Yuk

Waspadai Beredarnya Vaksin Palsu!

Melihat berita di TV dan sosmed tentang vaksin palsu saya sangat yakin bagi para orangtua yang menyadari imunisasi adalah untuk masa depan anak-anak, maka berita ini membuat terkejut dan bertanya-tanya: asli atau palsu kah vaksin yang sudah diberikan ke anak-anak kami selama ini? Lalu bisakah yang sudah terjadi ini diminta pertanggungjawabannya, pertanggungjawaban kepada anak-anak kami? Kepada siapa kasus ini dipersalahkan, moral pembuat yang rusakkah, menteri kesehatankah? Aparatkah? Atau mungkin pada rumput yang bergoyang?

Seperti yang diberitakan, kasus vaksin palsu ini ternyata sudah praktik sejak tahun 2003, 13 tahun-berapa yang sudah beredar-berapa yang menjadi korban-berapa yang (bisa saja) sudah mengalami sesuatu karena vaksin palsu? Gemetar rasanya membayangkan anak-anak saya kalau-kalau vaksinnya adalah vaksin palsu, tapi tentu saja sebagai orangtua saya berharap yang baik-baik. Semoga tidak mendapatkan jatah vaksin palsu, sebab mau mengusut-menuntut bagaimana pun, anak-anak saya semuanya sudah divaksin? Lagi-lagi rasanya ingin menendang rumput yang bergoyang (derita  rakyat).

Terbayangkan bukan, berapa banyak para ibu yang antri di tempat-tempat imunisasi, kalau lah mereka melakukan imunisasi dasar di puskesmas tentu gratis tapi imunisasi yang tidak dicover pemerintah seperti MMR, misalnya. Berapa uang yang sudah mereka keluarkan, lalu dengan adanya berita vaksin palsu, meski  belum tentu vaksin yang diberikan ke anaknya dapat yang vaksin palsu-meski bisa jadi palsu (tebak-tebakan yang menyiksa sebenarnya). Rakyat dengan kondisi ini jelas-jelas dirugikan berlipat-lipat: kehilangan biaya yang dikeluarkan untuk imunisasi, kecemasan-kepanikan menduga-duga (asli atau palsu vaksin yang sudah terlanjur masuk ke tubuh anak-anak mereka)-spekulasi masa depan kesehatan yang tidak jelas dan semua ini tidak dapat dituntut ke siapa-siapa, bukan?

Atau apakah negara akan mempertanggungjawabkan semua kerugian ini kelak, karena kami rakyat kecil konon dalam perlindungan negara, terutama anak-anak. Bukan kah dalam kasus vaksin palsu kerugian terbesarnya adalah masa depan anak-anak bangsa ini? Anak-anak yang merupakan generasi penerus sebuah bangsa (Indonesia).

Saya masih ingat kasus seorang anak berusia 5 tahun yang terkena tetanus, kemudian tidak tetolong (meninggal)  karena tidak mendapat vaksin DPT sebelumnya-tubuhnya tidak memiliki kekebalan terhadap tetanus, kasus seorang ibu hamil  yang terkena rubella karena tidak divaksin MMR sehingga bayi yang dikandungnya menderita sindrom rubella kongenital: dimana dan saya sendiri yang nyaris tidak tertolong karena terkena pertusis (batuk 1000 hari) karena saat itu tidak divaksin DPT.

Mungkin saja tidak semua anak-anak akan terkena penyakit-penyakit berbahaya seperti itu, sehingga beberapa orangtua yang memutuskan untuk tidak mengimunisasi buah hatinya tetap merasa di ambang aman, tapi begitu banyak orangtua yang tidak berani berspekulasi dengan pernyakit berbahaya itu dan memilih untuk mengimunisasi buah hatinya. Karena Allah SWT menginginkan hamba-hambanya berusaha, selain berdoa. Jadi, bagi saya memberi imunisasi pada anak-anak saya adalah sebagian dari usaha untuk kesehatan masa depan mereka kelak.

Maka dengan  adanya kejahatan vaksin palsu ini benar-benar telah menghancurkan hati kami para orangtua. Wakil ketua KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) – Susanto,  mengatakan kepada pers – Sabtu-25 Juni 2016,  “Praktik ini merupakan kejahatan yang tidak bisa ditolerasi”. Beliau juga mendesak Bareskrim Polri untuk membongkar praktik pembuatan vaksin palsu untuk bayi serta  menghukum seberat-beratnya.

Ehmmm, hukuman seberat-beratnya kira-kira seperti apa?

Mari sama-sama kita tunggu saja keputusan akhirnya, tapi bagi saya – yang seorang ibu dengan 4 anak (1 alm), kejahatan Praktik Membuat Vaksin Palsu = Pembunuhan Anak-Anak dengan Berencana. Dan sadisnya mereka melakukan pembunuhan berencana tersebut secara massal!

Coba hitung, berapa banyakkah korban vaksin palsu jika kebejatan itu sudah berjalan selama 13 tahun? Selain bisa jadi sudah ada korban karena dalam tubuh si anak yang diimunisasi tidak ada vaksin yang sebenarnya (PALSU), atau bisa saja sudah banyak efek negatif menggunakan vaksin palsu yang tentu saja tidak higienis dalam pembuatan, dan kandungan lainnya. Merinding saya membayangkannya, dan sekali lagi oknum pembuat-penyebar vaksin palsu adalah PEMBUNUHAN ANAK-ANAK SECARA BERENCANA.

Image source: pixabay.com

Editor: Indoblognet

Eni Martini

Ibu 3 anak, penulis novel fiksi, blogger dan owner bliblibuku.com

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Mitra Blogger dan Netizen Gorontalo, kalian keren ya ! Terima kasih atas dukungannya untuk @klink_indonesia_official. 
Semoga makin sering diadakan event-event di sana. Netizennya semangat untuk belajar  dan berkembang. 
Proud...proud of you guys !! #bloggergorontalo #mbcommunication #klinksolusihidupmu #Klinkmember15olusi #indoblognet #kkidsomegaGorontalo

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top