Menulis Yuk

Wanita Indonesia Bisa [Book Review]

Petugas pos suatu hari membawakan saya sebuah paket berisi buku. Buku tersebut yang disusun Kompasianer bernama Gaganawati Stegmann ini tergolong istimewa, karena menghadirkan 38 sosok wanita Indonesia dari berbagai belahan dunia yang inspiratif.

38 WIB atau 38 Wanita Indonesia Bisa, demikian judul buku yang memiliki kata pengantar dari Linda Amalia Sari Gumelar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak masa itu, mengupas tentang kiprah para perempuan Indonesia. Ada Anne Avantie yang dikenal sebagai desainer kebaya bertaraf internasional, ada balerina Jetty Maika yang menetap di Amerika, ada pula model cantik Siska Gunawan yang tinggal di Australia dan seorang seniwati bernama Dwi Suharsini yang menetap di Ngawi, Jawa Timur. Masing-masing memiliki kisah tersendiri, suka dan duka dalam menggeluti bidang pekerjaannya masing-masing.

Ketika membaca buku ini saya merasa diri saya tidak apa-apanya dibandingkan wanita-wanita hebat ini. Mereka bisa jadi istri, ibu, dan juga berkontribusi bagi lingkungannya.

Dwi Suharsini, misalnya. Ia sejak kanak-kanak terjun di bidang seni dan akrab dengan gamelan. Ketika dewasa ia aktif sebagai sinden dan menikah dengan dalang bernama Setyadji. Setelah menjadi kepala sekolah SD, ia masih aktif di bidang seni dengan mengadakan berbagai acara seni, seperti menggelar kursus bahasa Jawa. Kemudian, suaminya diangkat menjadi pejabat keraton Demak sehingga kontribusi mereka untuk melestarikan budaya semakin besar.

Kisah Diah Yulianti, staf PBB di Jerman juga tak kalah seru. Ia bercerita bagaimana ia bisa bekerja di PBB dengan modal bahasa Inggris yang pas-pasan. Sampai sekarang ia terkadang masih takjub bagaimana ia bisa sampai bekerja di PBB. Hal itu dikarenakan ia mencantumkan pernah mengikuti organisasi kemah internasional di Indonesia di CV-nya.

Diah kemudian bertemu Marc yang berkewarganegaraan Jerman. Selama awal-awal pernikahan, ia mengalami masa-masa sulit menyesuaikan diri, terutama dalam hal kebiasaan makan. Ia suka sayur asem pedas, sedangkan suaminya suka mashed potatoes. Akhirnya mereka sepakat memasak dan menyantap masakan kegemaran masing-masing di meja makan berdua.

Kupat kumis yang dialami Nur Helmi Savitri, lurah perempuan di Johar Baru bisa menjadi pembelajaran bagaimana mengelola sebuah daerah yang kupat atau kumuh rapat dan kumis alias kumuh miskin, agar bisa menjadi daerah yang asri dan nyaman ditinggali. Johar Baru dikenal sebagai daerah yang padat penduduk dan tawuran antar warganya.

Untuk itu Nur Helmi mengajak para warga berkomunikasi sambil menyantap ubi rebus atau bajigur tentang permasalahan yang mereka hadapi. Dengan cara serius santai ini ia mulai bisa merangkul warga. Mereka yang terbiasa hidup kumuh, mulai rajin membersihkan lingkungannya sehingga bersih, nyaman, dan asri. Program green city pun mulai terlaksana dimana warga bersedia bertanam sayuran di halaman atau lingkungannya.

Meskipun sibuk bekerja sebagai lurah, ia juga memberikan perhatian cukup kepada kedua anaknya dan menghormati suaminya. Setiap anaknya pentas, ia menyempatkan diri untuk menonton. Nur Helmi berupaya untuk menyeimbangkan kariernya dan kehidupan rumah tangganya.

Masih ada 35 kisah wanita Indonesia lainnya yang menarik disimak dan banyak di antaranya yang menginspirasi. Setelah membaca buku ini saya merasa setiap wanita memiliki cita-cita dan harapan tersendiri yang bisa diwujudkan dengan tekad yang kuat dan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Memang di setiap langkah ada saja batu sandungan, tapi hal tersebut bisa dilalui dengan upaya dan doa. Menjadi pengusaha, birokrat, bekerja di parlemen, menjadi balerina baik di dalam negeri maupun luar negeri bisa dilakukan perempuan Indonesia.

Buku setebal 310 halaman ini enak dibaca karena bahasanya mengalir dan topiknya beragam. Dari buku ini saya mengetahui ada banyak wanita hebat di luar sana yang mungkin namanya belum dikenal luas, tapi telah memberikan kontribusi yang besar bagi keluarga, institusi, dan lingkungan sekelilingnya.

Deskripsi Buku:
Judul : 38 WIB (Wanita Indonesia Bisa)
Penulis: Gaganawati
Penerbit : Peniti Media
Tebal Buku : 310 halaman
Tahun Terbit: 2014
Rating : 4/5

 

 

 

Puspa

Saya suka membaca dan menulis apa saja.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Kemajemukan  adalah anugerah dan takdir terindah dari Tuhan untuk bangsa Indonesia. Ini harus kita kelola dengan baik dalam komitmen yang sama sebagai bangsa merdeka untuk kemajuan negeri ini.

Founder Kader Bangsa Fellowship Program @kaderbangsafellowship Dimas Oky Nugroho Ph.D  @dimas_okynugroho mengajak generasi muda Indonesia untuk  turun tangan, ambil bagian  membangun kemajemukan untuk kesejahteraan dengan kerja sama, gotong royong dan kolaborasi. Merdeka !

Dirgahayu Republik Indonesia Merdeka 72 tahun !

Mari sebarkan pesan cinta Indonesia yang majemuk !

#mudakolaborasimerdeka #mudabersatumerdeka #mudakreatifmerdeka #mudakerenmerdeka #hutri72 #indonesiamerdeka72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top