Menulis Yuk

Ujian Sekolah Bukan Ancaman

Ujian Nasional sudah di depan mata. Beberapa tahun belakangan menjelang ujian sekolah nasional adalah saat-saat sibuk dan menegangkan bagi siswa dan walinya. Bagaimana tidak tegang jika ujian sekolah tanpa sadar dianggap sebagai ancaman. Nilai buruk ? terancam tidak lulus sekolah apalagi ketika standarisasi nilai berlaku nasional. Nilai kurang memuaskan terancam tidak dapat melanjutkan di sekolah lanjutan yang diimpikan.

Syukurlah Ujian Sekolah Nasional tahun ajaran 2015/2016 tidak terlalu mengerikan seperti ujian nasional di tahun-tahun sebelumnya sebab standarisasi kelulusan tidak hanya berpatokan pada hasil ujian nasional namun juga ujian yang diselenggarakan pihak sekolah serta penilaian kepribadian siswa selama menuntut ilmu.

Sudah saatnya siswa dan orang tua murid mengubah persepsi tentang tujuan diadakannya ujian sekolah sebenarnya. Ujian sekolah bukan ancaman namun penilaian standar untuk mengetahui apakah sang siswa telah memperoleh ilmu yang bermanfaat selama masa sekolahnya, adakah pembentukan karakter telah tertanam pada diri sang anak, apakah sang anak mampu bersosialisasi dengan baik dan penilaian-penilaian lain yang tidak sekedar berdasarkan angka. Ujian sekolah adalah bagian dari pendidikan. Kata dasar “didik” dapat diartikan mengarahkan untuk menjadi lebih baik. Sangat disayangkan jika pihak sekolah dan orang tua serta masyarakat pada umumnya hanya menekankan kepada pencapaian nilai ujian sementara sang anak tak kunjung mandiri, kurang mampu bersosialisasi dan ilmu yang diperoleh tidak dapat diaplikasikan dalam hidup sehari-hari.

Apa yang harus diupayakan bersama agar ujian sekolah tak lagi dianggap sebagai ancaman:

  1. Menumbuhkan kesadaran kepada diri siswa bahwa ujian sekolah adalah bagian dari proses yang harus dihadapi. Tak ubahnya ujian kenaikan tingkat pada ekstrakurikuler bela diri, bahwa ujian sekolah lebih mirip tantangan-tantangan yang harus dihadapi pada level game dan permainan agar bisa naik ke level berikutnya, bahwa ujian sekolah tak ubahnya ajang pengukuran kemampuan siswa seperti menonton kuis dan cerdas cermat di televisi. Mencoba mengkondisikan alam bawah sadar siswa bahwa tak perlu khawatir dan ketakutan menghadapi ujian sekolah akan membantunya lebih rileks dan tenang menghadapi ujian.
  2. Mempersiapkan kemampuan siswa dalam menghadapi ujian. Meski tetap rileks menghadapi ujian namun persiapan menghadapi ujian harus diupayakan lebih maksimal. Persiapan jauh-jauh hari biasanya hasilnya lebih optimal daripada sistem belajar kebut semalam. Oleh karena itu mengikutsertakan anak dalam bimbingan belajar dan pengayaan pelajaran perlu dilakukan jauh hari sebelum pelaksanaan ujian. Belajar rutin setiap hari akan lebih berdampak positif bagi otak daripada belajar keras dan otak diforsir mendekati ujian.
  3. Memberikan waktu jeda. Belajar giat bukan berarti meniadakan waktu istirahat. Layaknya mesin, pikiran dan raga tetap harus beristirahat dengan cukup. Les dan bimbingan belajar siang hingga malam tanpa jeda bukan jaminan sang anak akan jauh lebih pintar. Kemungkinan ia malah jenuh dan ilmu yang diserap kurang maksimal.
  4. Tidak menetapkan target di atas kemampuan. Salah satu “kesalahan” orang tua adalah berharap terlalu besar kepada si anak. Alasan gengsi misalnya menjadikan orang tua memasang target agar si anak bisa diterima di sekolah favorit. Alangkah lebih bijak jika orang tua tetap mempertimbangkan aspirasi sang anak tentang sekolah idamannya sembari tetap mendukungnya dengan berbagai fasilitas belajar serta memberikan masukan berbagai pilihan sekolah yang kemungkinan lebih mudah dituju daripada sekedar mengejar sekolah favorit.
  5. Bangkitkan sisi religius. Kewajiban umatNya adalah berikhtiar dan berdoa. Bangkitkan sisi religius siswa untuk lebih dekat kepada Sang Pencipta. Doa-Ikhtiar-Doa adalah paket 3 in 1 yang tak dapat dipisahkan. Mulai dengan doa dan akhiri dengan doa. Namun perlu dipertegas kembali bahwa kedekatan makhluk kepada Penciptanya tidak hanya saat susah, ketika menjelang ujian. Sama halnya dengan sistem belajar yang efektif semangat spiritual hendaknya dilakukan secara kontinyu, berkesinambungan dan istiqomah.

doa

Satu hal yang terpenting ketika mempersiapkan siswa menghadapi ujian adalah menanamkan nilai kejujuran. Beban target yang terlalu tinggi agar siswa meraih prestasi dapat menyebabkan anak menghalalkan berbagai cara. Curang, mencontek, membeli kunci jawaban dan perbuatan-perbuatan lain yang mungkin hanya akan memberikan dampak negatif. Maka tujuan pendidikan untuk menghasilkan generasi muda yang tangguh, mandiri dan mampu bekerja keras akan sia-sia hanya demi mengejar hasil instan belaka.

Dwi Aprilytanti Handayani

Ibu dua anak, senang menulis dan berbagi pengalaman. Baginya menulis adalah salah satu sarana mengeluarkan uneg-uneg dan segala rasa.

Latest posts by Dwi Aprilytanti Handayani (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Hellooo, sahabat Indoblognet 😉 Kamis manis nih, yuk perbanyak optimis 😍
.
Bagi seorang pebisnis atau penjual, memiliki banyak konsumen tentunya adalah hal yang sangat penting, ya 😁 Masalahnya konsumen gak akan datang sendiri tanpa dijemput, artinya penjual perlu melakukan berbagai cara untuk menarik konsumen 😄
.
Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh penjual adalah dengan menerapkan konten marketing. Dengan konten marketing, kamu menarik perhatian konsumen dengan konten-konten berkualitas, menarik, dan disukai konsumen 😍
.
#instagram #indoblognet #mbcommunication #thursday #instadaily #followme #business #tips #viral

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top