Agama

Tips Cerdas Mengajari Anak Bersedekah

“Bi, besok saya mau bantu umi jualan ya?” Setengah berbisik, Ana, putri kecil kami berucap di telinga saya.

“Jualan apa?” Spontan saya pun balik bertanya. Masih dengan suara berbisik. Sebab si bungsu yang baru berusia sebulan sedang nyenyak-nyenyaknya tertidur di pangkuan saya.

“Jualan kerupuk!”

Sontak saya palingkan tatapan ke arah wajahnya. Ah, mata indah itu. Begitu lekat mengingatkan pada mata ibu, yang telah berpulang tiga tahun lalu.

“Lha, biasanya juga ikut bantu umi jualan kan?”

“Tapi ini beda, Bi..,” sergahnya dengan bibir maju sesenti.

Kemudian segera dia sodorkan kertas kecil yang sejak tadi berada di tangannya.

Sedekah adalah melepaskan sebagian dari kepemilikan kita. Itu sebuah metode pengajaran dari Allah agar kita bisa melepaskan diri dari jerat keduniawian. Jangan salah. Konsep zakat yang bayak tidak dipahami adalah bahwa itu sesungguhnya pertama-tama bukan ditujukan agar orang lain terbantu (meskipun efek sampingnya adalah begitu); tetapi agar orang yang berzakat atau bershodaqoh tersebut memiliki kerelaan memberi. Kerelaan inilah yang ‘diganjar’ oleh Allah. Apa ganjaran itu? Yaitu munculnya kesadaran bahwa hanya kepada Allah semata kita bergantung. Orang yang tidak memiliki kerelaan memberi, akan selalu khawatir hartanya akan berkurang atau bahkan hilang. Mengapa khawatir? Sebab orang macam ini menganggap harta benda itu ‘hasil keringat’-nya sendiri. Bukan pemberian dari Allah. Nah, bukankah ini kategori ‘kafir’, karena sedang menganggap Allah tidak ada?

Demikian paragraf pembuka pemberitahuan dari ma’had (sekolah) putri kecil saya ini. Masya Allah, rangkaian kata yang begitu menghujam hati saya. Tulisan yang cukup saya kenal siapa kiranya yang menuangkan ide. Salah satu pendiri sekolah sekaligus pondok pesantren yang luar biasa. Keihklasan yang mungkin saat ini belum mampu saya contoh. Melepaskan sepenuhnya tanah pribadi dan keluarga sebagai wakaf. Selanjutnya tinggal di ‘secuil’ tanah yang di atasnya dibangun sebuah rumah mungil untuk keluarganya.

Gae opo omah gede, karangan ombo, katik adoh ambek sorga, Dik?” Demikian ungkapan yang pernah diucapkannya kepada saya. Saat saya tanya, mengapa hanya menyisakan tanah yang hanya cukup untuk rumah tipe 36 itu.

Kemudian saya lanjutkan membaca paragraf berikutnya.

Kita tentu tidak mau jika anak-anak kita begitu. Maka konsep menjalankan Puasa Ramadhan bagi anak-anak ini dirancang agar salah satunya anak-anak belajar untuk bersedekah. Sebab yakinlah, anak-anak yang berusia 10-12 tahun konsep puasanya bukan lagi hanya sekadar menahan lapar dan dahaga. Sedekah yang berasal dari ‘uangnya sendiri’. uang yang disedekahkan adalah uang hasil jerih payah, bukan pemberian tanpa bekerja.

Sebagaimana perlu diketahui, bahwa di pesantren putri kecil kami semua santri sudah terbiasa puasa penuh. Ini dijalani sejak masuk kelas satu (usia tujuh tahunan). Jika pun ada yang memutuskan tidak puasa, biasanya akan ada pendampingan dari para pengasuhnya. Sehingga amat jarang dijumpai yang sudah berusia sembilan tahun untuk tidak puasa penuh. Apalagi setiap hari Senin dan Kamis pun dilatih secara rutin untuk puasa sunnah.

Selanjutnya dalam pemberitahuan tersebut diberikan tips cara untuk mendapatkan ‘upah’ dengan bekerja.

  1. Beri anak-anak pekerjaan yang labelnya adalah “membantu orangtua”. Usahakan mereka cari sendiri di mana mereka semestinya membantu. Atau Anda bisa mengatakan tolong bantu ayah atau ibu melakukan ini dan itu.
  2. Beri mereka upah yang wajar. Tapi Anda bisa memberikan lebih dengan alasan, misalnya: karena Anda melihat ekspresi wajah anak-anak Anda menunjukkan kerelaan dan kelegaan atau hal semacamnya. Maka Anda menghargainya dengan upah yang lebih dari semestinya.
  3. Sampaikan kepada anak bahwa uang tersebut sebagian akan disedekahkan sebagai wujud rasa syukur atas Bulan Ramadan yang bisa dijalaninya saat ini. Besarnya kerelaan serta keikhlasan itu adalah gambaran nyata ungkapan rasa syukur tersebut.
  4. Kepada siapa uang anak-anak tersebut disedekahkan? Maka orang tua memberikan kriteria siapa saja yang berhak menerima sedekah atau infak tersebut. Biarkan anak-anak tersebut memberikan secara langsung kepada yang bersangkutan dengan bimbingan dan pengawasan orangtua tentu saja.

Alhamdulillah, tips cerdas di atas sudah biasa saya jalankan kepada semua anak-anak saya. Meski konsep atau model ‘bekerja’ dengan ‘upah’ terkadang beberapa sahabat mengkritik keras. Tapi saya sampaikan bahwa Rasulullah dan beberapa sahabat sudah bekerja sejak mereka kecil. Meski dengan tetap menjalankan kewajiban untuk menuntut ilmu.

Menyisihkan sebagian upah dengan memasukkan ke amplop-amplop kecil. Selanjutnya setiap jelang balik ke pesantren, mereka memberikan amplop-amplop kecil tersebut kepada yang berhak. Cara seperti ini akan membuat mereka ‘ketagihan’ untuk bersedekah. Sekaligus memupuk jiwa berbagi dalam kondisi yang bagaimanapun. Satu tips cerdas bersedekah, sekaligus cerdas bekerja.

Dan ingatlah, bahwa balasan sedekah ini begitu luar biasa. Sebagaimana firman Allah dalam QS Ali Imran [3]: 136.

Balasan bagi mereka itu adalah ampunan dari Tuhan mereka dan bagi mereka adalah surga yang sungai-sungai mengalir di bawahnya, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.

Keterangan:

Gae opo omah gede, karangan ombo, katik adoh ambek sorga = Buat apa rumah besar, tanah luas, kalau jauh dari sorga.

———————————————

[Seri ke-dua Inspirasi Ramadhan 1437H.]

 

Mas Nuz

Pecinta keluarga yang kadang suka nulis dan jalan-jalan.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Hai, sahabat Indoblognet 😁 Selamat beraktivitas dan menjalani hari penuh berkah, aamiin
.
Sahabat, tau gak kalian, kalau saat ini menulis content yang hanya berupa tulisan rasanya jadi kurang menarik, khususnya untuk konten sosmed ya guys 😀 Karena saat ini konten yang menarik perhatian  audiens adalah konten yang dikemas dalam bentuk infografik (yaitu konten dalam bentuk visual: tabel, gambar, animasi, dll)
.
Berdasarkan survey, konten infografik mendapatkan like dan share yang lebih banyak 3X lipat dibandingkan konten yang hanya berupa tulisan 😉 Nah, yuk ah belajar meningkatkan kualitas kontenmu dengan mencoba berbagai bentuk infografik 😀
.
#indoblognet #mbcommunication #infografik #konten #tipscontent #trending #popularpost #viralcontent #socialmedia

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top