Opini

Taksi Konvensional Vs Taksi Online, Sebuah Pertaruhan Layanan

taksi demo bluebird

Pagi ini ribuan pengemudi taksi berdemo besar-besaran ke DPR, bahkan berkonvoi dengan mengajak angkutan lingkungan lainnya seperti bajaj, mikrolet, kopamilet menuju Istana Negara  (22/3). Beberapa hari sebelumnya, demo ini sudah dilakukan untuk “menggertak pemerintah” yang dinilai tidak adil dalam memberlakukan aturan tentang transportasi umum terhadap taksi online, Uber Taxi dan Grab Car. Mereka menilai operasional kendaraan itu melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Angkutan Jalan dan UU Lalu Lintas tahun 1992. Taksi online yang notabene tidak mengantongi ijin usaha, tidak ada KIR bisa bebas melahap lahan perut taksi konvensional dengan mudah. Hmm…sampai di sini sebagai pengguna baik taksi konvensional maupun online, miris benar rasanya.

Apalagi demo sejak pagi sudah menanjak ke level anarkis. Supir-supir yang berdemo meneror rekan-rekannya yang tetap narik. Penumpang dipaksa keluar, dan mobil dirusak. Bahkan, di timeline medsos, beredar foto-foto supir taksi membawa parang panjang. Saya sedang membayangkan di dalamnya ada penumpang yang sedang sakit….semoga itu hanya bayangan saya saja.  Eh tapi ..tiba-tiba beredar di medsos, sejumlah supir taksi Blue Bird memaksa seorang ibu tengah menggendong anak untuk keluar dan dibiarkan kepanasan di jalan, sungguh terlalu,. Apa yang ada di kepala para bapak itu ya… Bagaimana kalau itu terjadi pada ibu, istri atau anaknya… Ada juga supir taksi konvensional yang nekat narik bawa penumpang  ketika dihadang rekan-rekannya untuk keluar, supir tersebut balik melawan dengan menabrakkan taksinya ke sejumlah rekan-rekannya Organda yang dikonfirmasi media beberapa hari lalu, seolah cuci tangan.

Ketua Organda DKI Jakarta yang juga Direktur Taksi Express, Shafruhan Sinungan seperti dikutip pada Liputan6.com mengatakan, “Ini dari pengemudi Paguyuban Pengemudi Angkuran Darat (PPAD), bukan perusahaan atau Organda. Jadi ini masalahnya sudah ke masalah perut. Mereka minta izin karena tidak beroperasi. Kami selaku operator atau perusahaan serba salah, kalau tidak diizinkan toh mereka akan tetap demo. Ya terpaksa diizinkan yang penting jaga kendaraan jangan sampai terjadi apa-apa, tanggung jawab masih-masing pengemudi,” jelasnya, seperti dilaporkan Liputan6.com.

 

taksi demo kartun

Ilustrasi diambiil dari Kafi Kurnia

 

Lahh,, kalau memang masalah perut, kan sumber masalahnya ada di perusahaan taksinya.  Kenapa nggak bisa penuhi urusan perut supirnya. Kok bisa aja bilang begitu…bukan urusan Organda.  Harap dicatat, pengurus Organda itu terdiri dari direktur taksi Blue Bird dan Express…kok bisa sih lempar batu sembunyi tangan, menyodorkan umpan supir-supirnya. Kalau saya melihat, sepertinya supir-supir taksi  sedang diadu oleh “pembesar” dalam perusahaannya sendiri. Padahal, justru konflik menganga karena disulut oleh manajemen perusahaan taksi juga yang tidak benar mengatur kesejahteraan supirnya.

Saya pernah beberapa kali membuka obrolan dengan supir taksi  Bluebird dan Express. Supir Bluebird mengakui beberapa tahun belakangan ini sejak manajemen berganti, nasib supir seperti di ujung tanduk. Setoran tinggi, dan sejumlah target renumerasi yang kadang seperti “ngadalin”supir. Sayang saya lupa mencatat berapa besar nominal yang harus dicapai supir jika mereka ingin mendapatkan bonus 50 ribu. Kalau nggak salah sekitaran 200 ribu, supir akan diberikan bonus 50 ribu. Jika kurang dikit saja, seribu atau dua ribu, bonus itu akan hangus. Tetapi kalau lebih, tidak ada hitungannya. Itu belum lagi soal pembayaran renumerasi yang suka telat karena alasan sistem ngadat.

Memang, Blue Bird manetapkan 10 persen setoran masuk kantong supir. Tetapi, dengan semakin banyaknya armada Blue Bird di jalanan, supir tak hanya bersaing dengan sesama supir dalam perusahaan, sekaligus supir dari perusahaan taksi lain. Ditambah lagi harus berhadapan dengan taksi online. Hmm..inilah kadang membuat supir taksi merasa “tak berdaya”. Yang pada akhirnya, mereka menguatkan diri, karena tak ada pilihan “rejeki sudah ada yang mengatur”, ‘Tuhan tidak tidur Mbak, liat hamba-Nya yang giat bekerja, meski perusahaan “tidur”. Saya menarik nafas panjang mendengar “ketidakberdayaan” supir ini. “Semoga ada solusinya ya Pak,” ujarku.

 

taksi express

Foto : Elisa Koraag

 

Taksi dari Express Group lain lagi curhatannya. Dulu, selama belum ramai taksi aplikasi, sering saya mendengar, mereka merasa puas dengan perusahaannya. Mereka bandingkan dengan perusahaan lama. Karena waktu itu, Taksi Express menawarkan sistem kerja sama kemitraan dengan supir tetapnya atau yang disebut sebagai supir Bravo. Ya, kalo di Blue Bird, sistem komisi 10 persen, mobil sewa alias tetap dimiliki perusahaan, sedangkan supir Taksi Express, mobil yang dikendarainya akan menjadi miliknya. Setoran sebesar kurang lebih 400 ribuan per hari  (ada yang 350 ribu) selama 6 tahun dinilai sebagai cicilan kredit mobil. Supir taksi pun berhitung bisnis. Setelah  narik, mobilnya akan dijual dengan terlebih dahulu diganti cat dan ubah menjadi plat hitam. Setidaknya, ia bisa mengantongi uang 70-80 juta dari jual mobil lelah itu. Tarolah itu sebagai “bonus” narik 6 tahun. Jika ia tak sanggup narik setiap hari, bisa kerja sama dengan supir tandeman yang disebut supir charlie.  Hasil penjualan mobil, biasanya dibagi dua dengan supir charlie atau terserah kesepakatan kedua belah pihak.

Sistem kemitraan yang telah diterapkan Express Group sejak tahun 1997 ini, telah mendapatkan pengakuan dari salah satu badan PBB, yaitu United Nation Development Program (UNDP) pada 2008 yang dinilai berhasil mendukung program UNDP untuk memberantas kemiskinan di dunia.

taksi bluebird

Sistem ini memang secara langsung dan tidak langsung “memaksa” supir untuk tidak malas dan merasa bertanggung jawab lebih atas penggunaan mobilnya.  Tetapi, ada juga supir taksi yang berhitung jeli. Setoran hampir 400 ribu per hari jika dikalkulasi selama 6 tahun, besar sekali, 800 jutaan. Sementara, mereka harus cukup puas menerima mobil cape seharga 70 jutaan. Tetapi apa boleh buat, daripada ga dapat sama sekali, itu kata Pak supir. Dan, kalo misal sehari saja tidak narik, akan dihitung “hutang” yang harus dilunasi dengan tarikan berikutnya. Atau kalau setoran kurang, akan menjadi hutang yang harus dilunasi.

Adanya taksi aplikasi online, lumayan mempengaruhi “mood” Taksi Express mengejar setoran. Dan, memang selama 2015, penghasilan Taksi Express menukik tajam hampir 90 persen dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya. Menurut release yang dikeluarkan PT Express Transindo Tbk, hingga kuartal III-2015, laba perusahaan harus puas menancap di angka Rp 11, 075 miliar. Sementara pada kuartal yang sama tahun lalu mencapai laba sebesar Rp 109, 044 miliar. Tak pelak, menurut  Direktur Taksi Express Shafruhan Sinungan, sekitar 6.000 sopir taksi terpaksa  diberhentikan sejak satu tahun lalu. Lah, gimana nasib kreditannya? Perusahaan tak bisa untung sesuai harapan, sementara impian supir taksi memiliki mobil idaman kandas.

Meski begitu, kabar membahagiakan sih. Tidak sedikit supir taksi Express yang kini menjadi supir Uber atau Grab Taxi. Bahkan ada yang menjalankan double agent. Saya tertawa geli, ketika mendengar pengakuan supir Grab, yang mengatur penumpang dari dua belah pihak. Sebenarnya sih bisa mba, nggak pa pa. Tapi saya repot sendiri. Baru naikin penumpang. Eh dari yang satu call lagi. Makanya, saya offkan yang Uber, saya main di Grab saja,” ujar pengemudi yang mengakui masih single ini. Terlihat dengan keramahannya, ia sepertinya menikmati sekali profesinya ini.  Oya, di Grab, dia membawa kendaraan plat hitam model Avanza atau Xenia. Dia bisa mengatur waktunya sendiri. Meski diakui, sejak menjamurnya kendaraan plat hitam beraplikasi atau taksi Uber dan Grab sesama perusahaannya, penghasilannya tak seloncer bulan-bulan Oktober-Desember. Tapi, masih lebih baiklah  dibanding sewaktu menjalani taksi konvensional.

Taksi online, Sukses Penuhi Kebutuhan Konsumen .

Ya, saya simpulkan begitu. Sebagai pengguna saya merasa sangat terbantu. Saya pecinta ojek online, dan sesekali menggunakan taksi online. Tarif sudah pasti lebih murah. Walaupun macet, argo tidak berjalan. Taksi atau kendaraannya lebih terawat, wangi dan bersih. Supir pun tak segan mengucapkan maaf sekiranya kendaraannya kurang bersih karena habis dinaikin penumpang. Pelayanannya  hospitalized, ramah, dan helpful.  Praktis lagi dalam pemesanannya, nggak perlu repot atau buang waktu mencari taksi. Tinggal pesan. mereka cepat menyambut kita dengan wajah ceria. Tidak seperti supir taksi konvensional, yang acuh tak acuh dengan konsumen. Malah tidak jarang, mereka yang menolak penumpang. Aduhhh…sakitnya tuh di sini.. Saya kerap ditolak. Hanya karena alasan jarak dekat atau jalanan menuju rumah saya rusak. Kalau ingat masa itu, kadang sebelnya sampai ubun-ubun.

Saya sedang hamil besar, udah letih sekali mau cepat pulang. Rumah saya di Cileungsi. Waktu itu saya dalam perjalanan  dari Jakarta, bersama anak saya yang pertama. Suami tidak bisa menjemput. Hujan gerimis, letih sekali yang saya rasakan sore itu. Saya berdiri agak lama di perempatan Cileungsi, mencegat taksi. Banyak taksi Bluebird berseliweran. Ketika saya bilang, Griya ya Bang. Abangnya langsung menolak, sambil bilang, “Yang lain aja Bu…! Saya sudah mencegat beberapa kali, jawabannya sama. Ya, memang diakui jalanan menuju perumahan saya rusak. Tapi kalau mau niat antar, saya bisa kasih tahu jalan kampung, untuk menghindari jalan rusak tadi. Tetapi tetap mereka tidak mau. Sampai akhirnya, saya memutuskan naik angkot dan nyambung ojek di tengah gerimis.

taksi demo

Dari postingan Windy Teguh

 

Satu lagi, sepulang saya dari belanja bulanan, suami juga tak bisa menjemput karena ada suatu urusan di Bekasi. Saya membawa belanjaan cukup banyak. Sejam lebih saya hadang taksi di pinggir jalan Cileungsi-Jonggol. Ketika saya sebut perumahan saya, baik supir taksi Bluebird dan Express tidak mau antar. Alasannya, jaraknya dekat. Padahal saya mau membayar lebih. Saat itu, saya sambil menggendong anak kedua saya. Akhirnya sudah hampir jam 10 malam, saya memutuskan pakai angkot borongan. Alhamdulillah diantar sampai rumah dengan selamat bersama ibu dan dua anak saya.

Kalau dikumpulin, ada banyak koleksi cerita saya tentang pelayanan taksi konvensional. Ibu saya yang pernah disasarin, naik taksi sendiri. Untungnya ibu agak bawel dan jujur, kalau udah ga bisa bayar ongkosannya. Teman saya parah lagi. Udah uang pas-pasan, terpaksa naik taksi karena anaknya yang sedang sakit mau ke dokter, masih saja dikerjain dengan alasan tidak tahu jalan. Akibatnya argonya membengkak. Kalau sudah begini, sumpah serapah saya kadang meluncur deras sekuat tenaga saya tahan. Saya membatin, pasti Tuhan punya cara untuk memberi balasan orang-orang yang menzalimi sesamanya. Gerammm.

Di luar yang buruk-buruk tadi, banyak juga yang baik. Kadang, saya banyak mengambil pelajaran hidup dari para supir taksi yang memang suka saya ajak ngobrol. Ada supir taksi yang selalu menjaga nilai setorannya dengan sedekah di setiap mesjid yang dia singgahi shalat. Alhasil, setorannya selalu penuh, bahkan lebih. Padahal, sedekahnya di mesjid ga seberapa, 1000 -2000 perak. Tapi rutin dilakukan. Bahkan, ada yang jadi supir taksi demi mencari keberkahan rejeki. Karena sebelumnya dia seorang kontraktor proyek-proyek besar pemerintahan. Welehhh…semua kebobrokan korupsi petinggi dibuka sama dia. Dan, sebelum ajal menjemput, dia bertaubat dengan mencari yang halal. Selama jadi supir taksi, dia merasakan kedamaian.

Yah, namanya manusia, pasti ada potensi baik dan buruknya. Ada juga dari supir taksi, bisa men-sarjanakan anak-anaknya. Inspiratif. Padahal banyak yang bilang setoran kurang. Tetapi ternyata keberkahan rejeki dan pintu rejeki bisa dari mana saja, asal kita percaya penuh rejeki sudah ada yang mengatur. Kalau memang, dirasa perusahaan tak lagi bisa menyejahterakan, tinggal risain.

 

taksi online

 

Yang pasti sebagai penumpang, kita ingin dilayani dengan baik. Kalau layanannya baik, kita pun tak sungkan untuk memberikan tip lebih. Jangan pake lah trik-trik nggak ada uang kembalian. Atau banyak mengeluh ke konsumen, bersungut-sungut di hadapan konsumen. Parahnya, penumpang sampai diturunkan di jalan. Pekalah terhadap penumpang ibu hamil, lansia atau anak-anak.  Bisa jadi, supir taksi yang memaksa ibu yang membawa anak ke luar taksinya, suka juga menolak penumpang perempuan hamil atau lansia. Adanya layanan pemeringkatan konsumen terhadap supir taksi, menurut saya sangat bagus. Kita bisa langsung memberikan grade terkait kualitas layanan supir.

Ada temen medsos cerita, abis lahiran tidak hati-hati membawa mobil, dan diturunin di jalan. Itu kalau mau nyebut brand, taksi Express loh.  Ketika diadukan ke customer servicenya, ternyata katanya tidak ada nomor taksi berplat nomor tersebut. Waduhh…

Soal tarif, nggak dipungkiri, saya memilih yang lebih hemat di dompet. Yang saya paling suka dengan taksi online, tarif tetap meski lalu lintas macet. Jadi, kita bisa tenang di dalam mobil. Berbeda kalau kita naik taksi konvensional, macet udah bikin kepala pening,  ditambah bikin mata kunang-kunang melototin argo yang seperti ga berdosa sama dompet. Terus aja naik. Hufff….kalau lagi pas honor cair tepat waktu ga masalah. Nah ini honor kadang telat dan tak menentu. Bikin butek jadinya, xixixi.

Semoga pemerintah dalam hal ini menteri perhubungan bisa bijaksana melihat persoalan. Uber Taksi, Grab Taksi atau sejenisnya yang beraplikasi online, samakanlah kewajibannya membayar pajak sebagai angkutan umum. Tertibkan mobil plat hitam yang mengoperasikan taksi online yang tidak membayar pajak. Kalau toh sudah dipajakin tetap tarifnya lebih murah, ya jangan terus taksi online ini disalahkan. Mereka bisa lebih murah, karena tidak perlu bayar cost sewa pool, menanggung operasional dan pemeliharaan kendaraan dan sebagainya. Karena, kendaraannya bukan milik perusahaan aplikasi. Melainkan dimiliki oleh pribadi. Ya…daripada rental ga produktif, mending dijadiin angkutan taksi online.

 

demo taksi

 

Sebenarnya, Bluebird juga telah mengeluarkan aplikasi pemesanan online, saya sih belum pernah coba atau unduh. Tetapi, kenapa kalau sudah ada, tetap tidak bisa bersaing dengan sejenisnya. Bisa jadi, tarifnya mugkin dirasa masih tinggi oleh konsumen. Kalau sudah begitu, yang harus diperbaiki adalah manajemen perusahaannya. Harus bisa beradaptasi lagi dengan perkembangan jaman. Rombak sistem manajemen yang tidak akomodatif terhadap perkembangan jaman yang kata Rhenald Kasali, saat ini eranya Sharing Economy, sebuah era dimana kita tak perlu harus menguasai sumber ekonomi untuk menjalankan bisnis (owning economy).  Melainkan kita hanya butuh saling berbagi dengan yang lain untuk menjalankan roda bisnis bersama yang saling menguntungkan.

Selama ini kita banyak dijejali oleh pemikiran kapitalisme yang disebut Rhenald sebagai Tragedi Kapitalis, dimana mengagungkan penumpukan modal, yang tak mau berbagi dengan yang lain. Akibatnya, ya seperti sekarang ini, perusahan tercekik hingga mencekik karyawannya, dan tak segan-segan menumbalkan karyawannya untuk suatu kepentingan. Innalillahi.

Sebagai perusahaan yang puluhan tahun menggurita di negeri ini, Blue Bird harus berubah dan dinamis merespon perkembangan jaman yang cepat. Jangan setengah-setengah dan tambal sulam saja kalau memang berkomitmen untuk maju. Kalau memang sudah membuat sistem aplikasi seperti taksi aplikasi yang lain, kenapa tidak bisa menaikan omset. Ini tanda tanya. Bukannya, Blue Bird selalu membanggakan diri paling terdepan di bidang teknologi.  Begitu pula dengan taksi Express yang merasa bangga dengan sistem kemitraannya, tak melihat, banyak supir di jalan terengah-engah mengejar setoran yang dijadikan cicilan kredit yang cukup tinggi. Ya, ini PR bersama. Yang terurgent, pemerintah harus segera mengambil tindakan tegas, dan memberikan tarif pajak yang sesuai untuk taksi online. Jangan abu-abu. Kalau sudah masalah perut, yang abu-abu bisa menyulap orang jadi “hitam”.

 

kartina Ika Sari

kartina Ika Sari

writerpreneur, founder MB Communication, Indoblognet.com & jelajahiindonesiamu.com
kartina Ika Sari

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Happy weekend, sahabat Indoblognet 😁 Punya rencana jalan-jalan kemana sih, kalian? Kasih tau dong *kepo nih 😄
Btw, cara jualan zaman sekarang tuh udah jauh lebih edukatif dibanding dulu lho, guys. Gak usah jauh-jauh deh, ceki-ceki aja olshop di IG-mu 😀 Banyak olshop yang menjual produknya dengan disertai ulasan bermanfaat yang berkaitan dengan produk mereka. Intinya, zaman sekarang ini penjual harus pintar mengedukasi konsumen, bukan hanya pintar "mengoceh" mempromosikan produk, yaaa 😁
.
#indoblognet #mbcommunication #sales #marketing #onlineshop #ecommerce #selling #viral #trendingpost

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top