Agama

Tak Ada Ketupat dan Opor Ayam, Aku Rapopo

Buka puasa bersama di Tucson

Pada tahun 1983 saya mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan intelijen di Amerika Serikat. Kampus USAICS (United States of America Intelligence Center and School)  terletak di kawasan Fort Huachuca, Sierra Vista, yang masuk negara bagian Arizona, Amerika Serikat. Pendidikan berlangsung selama 10 minggu. Saat itu saya berpangkat kapten dan baru saja lulus Kursus Intensif Bahasa Inggris di Sekolah Calon Perwira TNI-AD di Bandung. Menjelang berakhirnya pendidikan, kebetulan markas besar Angkatan Darat sedang mencari 3 perwira untuk mengikuti seleksi dalam rangka pendidikan tersebut. Saya, Kapten Bambang Sus, dan Letnan Arif Rahman lulus dalam seleksi Bahasa Inggris yang diselenggarakan di Mabesad dan di Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia di Jakarta. Alhamdulillah, tangggal 11 Juni 1983 ketika ada gerhana matahari, kami bertiga berangkat ke Amerika Serikat. Ini adalah penugasan dan perjalanan perdana saya ke luar negeri. Senang dan bangga rasanya.

Tak lama tiba di Fort Huachuca, kami langsung disambut puasa Ramadhan yang jatuh pada tanggal 12 Juni 1983. Sebagai seorang muslim, saya dan Letnan Arif Rahman juga menjalankan ibadah puasa. Kapten Bambang Sus yang beragama Nasrani kadang juga ikut berpuasa walaupun tidak setiap hari. Waktu berpuasa cukup panjang. Jika di Indonesia kami berpuasa sekitar 13 jam, maka di Amerika Serikat kami harus menahan haus dan lapar sekitar 16 jam. Siangnya memang cukup panjang kala itu. Jam 4 pagi matahari sudah bersinar terang, sebaliknya jam 8 malam di luar masih belum gelap. Karena waktu itu saya dan teman-teman belum mengenal internet, maka kami tidak bisa mencari info jadwal makan sahur dan berbuka puasa untuk wilayah Fort Huachuca, Arizona.

Cuaca memang cukup panas saat itu, namun tidak terlalu menyengat di kulit karena di luar ruangan angin bertiup cukup kencang. Untungnya kami berangkat dan kembali dari kelas naik kendaraan jemputan yang ber-AC. Di kelas dan di BOQ (Bachelor Officer Quarters) juga full AC sehingga kami tidak terlalu merasa kepanasan dan kehausan.

Kami menyiapkan makan sahur dan berbuka puasa sesuai kemampuan. Maklum cowok semua. Kapten Bambang dan Letnan Arif cukup piawai memasak. Sementara saya hanya kebagian menyiapkan minuman. Alhamdulillah kami dapat makan sahur dan berbuka puasa dengan nyaman dan nikmat walaupun dengan menu sederhana.

Selama bulan Ramadhan, saya dan Dik Arif hanya sekali melaksanakan Shalat Tarawih berjamaah. Kami memang belum tahu apakah di sekitar kampus ada masjid yang melaksanakan Shalat Tarawih. Begitulah risiko sekolah di luar negeri kala itu. Kami lebih banyak Shalat Tarawih di kamar masing-masing.

Untungnya Captain Thomas Vogeley teman sekelas dan sekaligus sponsor saya baik sekali. Ketika saya menyatakan keinginan untuk Shalat Tarawih berjamaah dia mau mengantarkan kami ke Islamic Center yang terletak di Kota Tucson. Jarak antara Fort Huachuca-Tucson kurang lebih 72,9 mil dan ditempuh sekitar satu setengah jam dengan mobil.  Karena kami tidak biasa mengemudikan mobil stir kiri, maka Captain Thomas Vogeley dengan sukarela mengemudikan mobilnya. Beberapa teman dari negara sahabat yang satu kampus juga mengikuti kegiatan ibadah di Tucson tersebut dengan mobil yang lain. Alhamdulillah, di sana kami bisa ikut berbuka puasa, Shalat Maghrib, dan Shalat Tarawih berjamaah. Kami menikmati hidangan buka puasa dengan gaya lesehan. Menunya juga pas dengan selera, apalagi dapat gratisan. Sementara kami melaksanakan shalat, Captain Thomas Vogeley dan Dik Bambang jalan-jalan di kota tersebut.  Senang rasanya bertemu, berbuka puasa, dan shalat berjamaah bersama saudara-saudara muslim dari berbagai negara.

Foto bersama Allied Students of USAICS

Mejeng dulu sebelum berangkat buka bersama di Tucson

Berpuasa sambil mengikuti pendidikan ternyata juga asyik-asyik saja. Mata memang kadang agak terasa berat ketika sedang belajar di kelas. Jika rasa kantuk mulai menyerang saya langsung minta izin keluar kelas sebentar untuk cuci muka sambil menggerakkan badan. Usai mengikuti pelajaran di kelas, kami kembali ke BOQ. Biasanya kami tidur siang sebentar dan dilanjutkan memasak makanan pada sore harinya untuk berbuka puasa.

Tanggal 12 Juli 1983 adalah Hari Raya Idul Fitri. Saya, Letnan Arif, dan Kapten Husain dari Pakistan sepakat untuk melaksanakan Shalat Id di kamar. Hanya bertiga. Soal bagaimana nilai Shalat Id kami saat itu hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tahu. Setelah shalat, kami segera bersiap diri untuk berangkat ke kelas. Hari itu tidak libur, bahkan ada ujian mata pelajaran yang cukup penting.

Berpuasa di negaranya Ashoka, India

11 tahun setelah mengikuti pendidikan di Amerika Serikat saya mendapat tugas belajar lagi di mancanegara. Pendidikan Army Staff College di Defence Services Staff College yang saya ikuti ini berlangsung pada tahun 1994, selama 11 bulan. Kampusnya di Wellington, yang masuk distrik Nilgiris, Tamil Nadu, India. Saat itu saya berpangkat Mayor dan sudah mengikuti pedidikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) pada tahun 1988/1989 di Bandung.

Berbeda dengan ketika mengikuti pendidikan di Amerika Serikat tahun 1983, saat berada di India saya dan para perwira siswa diperbolehkan membawa serta istri dan anak-anaknya. Lembaga DSSC telah menyiapkan sebuah rumah untuk perwira siswa plus pembantu rumah tangga yang rumahnya di belakang rumah para perwira. Tentu saja gaji untuk pembantu rumah tangga ditanggung oleh masing-masing perwira.

Karena pendidikan berlangsung hampir setahun maka saat kuliah di DSSC ini saya juga mengalami bulan Ramadhan. Awal Ramadhan jatuh tanggal 12 Februari 1994. Oleh karena itu saya juga menjalankan kewajiban sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183). Beberapa perwira dari mancanegara juga ada yang beragama Islam antara lain dari Malaysia dan Oman.

Jika saat di Fort Huachuca saya berpuasa ditemani Dik Arif, maka berpuasa di India ini saya menjalankan sendiri. Kebetulan istri saya sudah kembali ke Indonesia pada bulan Desember 1993. Untung Anna Marie, pembantu rumah tangga yang penduduk asli India itu sudah diajari memasak makanan Indonesia oleh istri saya sehingga tak ada masalah. Saya juga sudah menikmati beberapa makanan India misalnya cepati, samosa, dosa, dan lain sebagainya. Lama berpuasa di India sepertinya juga agak panjang. Kalau tidak salah sekitar 16 jam.

Saat Idul Fitri ada staff DSSC yang berbaik hati mengajak saya Sholat Idul Fitri di sebuah masjid yang ada di kota Wellington atau Coonor. Alhamdulillah, ada saja saudara muslim di manapun saya berada.

Itulah pengalaman saya menjalankan ibadah puasa Ramadhan di Amerika Serikat dan India. Alhamdulillah, puasa tak jadi rintangan bagi kami yang tengah menuntut ilmu di negeri orang. Walaupun tak ada ketupat dan opor ayam pada saat Idul Fitri, aku rapopo.

Editor: Indoblognet

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • #Repost @anisa.dee (@get_repost)
・・・
Pagi 😆😆😆 Mobil apa yang dimiliki saat ini? Saya baru punya Toyota Kijang, meski sudah 15 tahun usianya tp masih mampu dibawa jalan jarak jauh loh.

Ada yg sudah kenal dengan K-LINK Engine Power apa belum?

Saya baru kenal 1 bulan terakhir ini, di kotaknya dijelaskan K-LINK Engine Power merupakan Oil Additive yang bisa membersihkan seluruh ruang mesin hingga ke celah-celah terkecil, mengikat kotoran dalam ruang mesin, dan selanjutnya kotoran mesin dibuang melalui gas buang kendaraan.

Hasilnya akan meningkatnya performa mesin serta menghasilkan penggunaan bahan bakar minyak yang semakin minim/irit.

K-LINK Engine Power memiliki 7 Keunggulan yaitu:
1. Membuat BBM irit 10% – 50%
2. Membuat umur oli lebih panjang 50%
3. Meningkatkan performa mesin
4. Menjadikan mesin halus dan ringan
5. Menjaga suhu mesin tetap stabil
6. Menurunkan emisi gas buang
7. Menjadikan mesin bersih dan terawat

Mengetahui keunggulannya, tanpa ragu saya pakai dong untuk mesin mobil saya, cara pakainya: 10ml K-LINK Engine Power dapat digunakan untuk 1 liter oli 
K-LINK Engine Power ini dapat digunakan untuk SEMUA JENIS oli mesin, bensin maupun diesel, transmisi manual maupun matik.

Kondisi mobil saya lebih prima dan lebih awet dalam penggunaan BBM saat ini loh.

@klink_indonesia_official
@Indoblognet
#Klinksolusihidupmu
#Klinkmember15olusi

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top