Agama

Syukur Itu Menghapus Kecewa

BEBERAPA hari belakangan aku merasa sedih  dan tercekam. Penyebabnya, seorang tetanggaku mendadak beringas. Tingkah lakunya kadang kala sangat nggegirisi juga. Bisa tiba-tiba menyekap orang dari belakang. Iya. Disekap dan diciuminya sampai gelagepan. Di lain waktu, ada yang disekap lalu dicekik. Seorang anak berusia 3 tahun, yang merupakan anak tetangga dekatnya, diangkat tinggi-tinggi. Kemudian diayun-ayunkan dengan kencang dari teras lantai dua rumahnya. Duuhh, sungguh berbahaya. Untunglah aksi horornya itu segera ketahuan. Bayangkan bila tidak. Bagaimana nasib si bocah?

Dalam kondisi “normal” dia memang dekat dan ramah terhadap anak-anak. Maka anak-anak pun tidak sungkan-sungkan untuk berinteraksi dengannya. Nah. Inilah yang justru perlu diwaspadai. Sungguh berbahaya. Terlebih anak-anak itu enggak ngeh kalau ada sesuatu yang “berbeda” darinya.

Keberingasannya diiringi dengan kecerewetan. Padahal biasanya, ia sangat pendiam. Kalau berpapasan jalan ya tersenyum sembari mengucap salam. Pokoknya standarlah perilakunya. Walaupun kadangkala menurutku, tersirat “sesuatu” yang aneh darinya. Terasa ada hal yang tak biasa, tapi entah apa.

Perubahannya menjadi beringas itulah yang kemudian menyadarkanku. Ya, menyadarkanku pada “sesuatu” yang aneh itu. Rupanya selama ini ia merasa tertekan dalam menjalani hari-harinya. Sikap super pendiamnya sebab tertekan. Sementara senyumnya adalah sebuah keterpaksaan. Rasa tertekannya kian hari kian menumpuk, hingga akhirnya membuat tetanggaku itu menjadi beringas. Dan rupanya kini, ia tak kuasa lagi menahan kecewa yang menderanya.

Entahlah apa penyebab dirinya tertekan. Namun desas-desusnya, ia frustrasi dengan sikap galak suaminya. Konon pula ia merasa sangat tertekan sejak putra satu-satunya meninggal setahun lalu. Baiklah. Hal yang mana pun yang paling memicu keberingasannya, yang jelas ia menyandang derita serupa sebab hatinya dipenuhi oleh rasa kecewa. Ya, hatinya terlalu ringkih untuk menyandang takdir kesedihannya.

Meskipun tidak begitu mengenalnya –sebab rumah kami yang berjauhan plus dirinya memang pendiam–, aku ikut bersedih dengan kondisinya tersebut. Betul-betul  aku merasa sedih tak terkira. Tapi seiring dengan itu, aku juga merasa sangat bersyukur bahwa Dia SWT memberiku kekuatan mental untuk menghadapi situasi terburuk dalam hidup. Andai tidak, aku mungkin akan mengalami derita yang sama dengannya.

Hal yang menimpa tetanggaku itu menepuk bahuku. Diriku seolah-olah diingatkan kembali untuk senantiasa bersyukur. Bersyukur dalam segala kondisi hidup yang bagaimanapun. Diriku seperti ditegur untuk lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan jiwa. Sekaligus aku bersyukur, setidaknya aku masih mampu mengendalikan diri di tengah-tengah situasi gila.

Teman, persoalan pelik dalam hidup itu biasa. Bisa datang silih berganti. Maka memperkuat mental dan menyehatkan jiwa menjadi keniscayaan. Tujuannya tentu agar kita lebih “terkendali”. Tak elok bila merasa jadi orang yang paling menderita sedunia. ‘Ntar bisa beranjak gila, lho. Gila-gilaan sedikit sih untuk intermezzo dalam hidup. Tapi gila beneran? Jangan sampai, dong.

Ikhlas  dan pasrah. Senantiasa berpikiran positif.  Meyakini seribu persen bahwa semua hal terjadi atas rancangan-Nya belaka. Kiranya itulah hal-hal yang dapat membuat kita setangguh karang, yang dihempas ombak samudera. Bukankah begitu?

Bersyukurlah untuk tiap hal yang kita genggam. Sepahit dan seburuk apa pun. Percayalah. Syukur itulah yang akan menetralkan rasa pahit dan buruk tersebut. Yang bisa bikin kita senantiasa bahagia.

Yup! Bersyukur di setiap kesempatan. Bersyukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya, sekecil apa pun itu. Bersyukur atas hal-hal yang tampak sepele dan biasa-biasa saja…. Sayangnya banyak di antara kita (termasuk saya sendiri) yang acap kali lupa pada nikmat-nikmat yang sepele. Padahal, akumulasi dari nikmat-nikmat yang sepele itulah yang pada akhirnya akan terakumulasi menjadi sebuah kenikmatan yang membuncah!

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah bersyukur dengan nikmat-nikmat “sepele” yang Anda jumpai hari ini?

Image source: pixabay.com

 

Agustina Soebachman

Perempuan biasa saja. Namun, berusaha aktif membaca dan menulis demi perbaikan diri.

Latest posts by Agustina Soebachman (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Kemajemukan  adalah anugerah dan takdir terindah dari Tuhan untuk bangsa Indonesia. Ini harus kita kelola dengan baik dalam komitmen yang sama sebagai bangsa merdeka untuk kemajuan negeri ini.

Founder Kader Bangsa Fellowship Program @kaderbangsafellowship Dimas Oky Nugroho Ph.D  @dimas_okynugroho mengajak generasi muda Indonesia untuk  turun tangan, ambil bagian  membangun kemajemukan untuk kesejahteraan dengan kerja sama, gotong royong dan kolaborasi. Merdeka !

Dirgahayu Republik Indonesia Merdeka 72 tahun !

Mari sebarkan pesan cinta Indonesia yang majemuk !

#mudakolaborasimerdeka #mudabersatumerdeka #mudakreatifmerdeka #mudakerenmerdeka #hutri72 #indonesiamerdeka72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top