Menulis Yuk

Sungguh, Saya Miris Jika Kesenian Ludruk Punah

Pada tahun 1990 ketika saya bertugas sebagai anggota pasukan PBB dalam misi UNTAG (United Nations Transition Assistance Group in Namibia) saya membawa beberapa buah kaset. Salah satunya adalah kaset Ludruk Sawunggaling yang dimainkan oleh Cak Kartolo Cs. Lho, mengapa bertugas di Afrika kok membawa kaset ludruk? Yup, saya adalah penggemar berat kesenian khas Jombang dan Surabaya ini. Jika di kampung saya ada tetangga yang mempunyai hajat mengkhitankan atau menikahkan putranya dan menanggap ludruk saya pasti menonton. Jika cerita ludruknya bagus maka saya bisa menonton sampai pentas mereka usai, sekitar jam 4 pagi.

Dulu jumlah grup ludruk cukup banyak. Di Jawa Timur terdapat grup Ludruk Baru Budi, Bui Daya, Masa Baru, Sari Rukun, Biyana Mayangkara, dan lain sebagainya. Saat itu ABRI juga mempunyai ludruk binaan, misalnya Ludruk Ajdam V/Brawijaya, Ludruk Kopagasgat, Ludruk Gema Tribrata , dan lain sebagainya.

Pentas ludruk biasanya dimulai pukul 21.00. Babak pertama diisi oleh tari ngremo yang dimainkan dengan iringan gending Jula-Juli. Yang muncul pertama adalah tari ngremo gaya putri. Kala itu pemain ludruk semuanya laki-laki. Nah, pada tari ngremo gaya putri ini yang memainkan juga laki-laki yang berdandan seperti perempuan. Dengan pakaian khas dan berkonde, suaranya juga dimiripkan perempuan. Ternyata ada juga laki-laki yang wajahnya berubah menjadi cantik setelah mereka berhias. Selain menari, penari ngremo juga mengumandangkan ‘parikan’ yaitu kidungan berbahasa Jawa. Usai tari ngremo gaya putri dilanjutkan dengan tari ngremo gaya putra. Salah satu ciri khas penari ngremo adalah adanya gongseng yang dipasang di kaki penari. Jika mereka bergerak maka akan terdengar bunyi cring, cring, cring yang sesuai dengan gending yang mengiringinya. Babak pertama diakhiri dengan bedayan. Beberapa laki-laki berdandan perempuan muncul satu persatu di panggung. Jumlahnya sekitar 10 orang. Selain menari, mereka juga mengumandangkan kidungan. Kadang diselingi lagu-lagu dolanan.

ludruk

Acara yang mengundang gelak tawa berada pada babak kedua. Pada babak ini beberapa pelawak ngidung dan mengocok perut penonton dengan lawakan-lawakan mereka. Syair atau parikan kidungan mereka ada yang jenaka dan adapula berupa kritik sosial. Pada acara yang disebut dagelan ini kadang diisi lagu-lagu atas permintaan penonton. Beberapa penonton melempar bungkusan ke arah panggung. Sebagian isinya adalah rokok. Dalam bingkisan ada secarik kertas berisi permintaan gending atau lagu-lagu untuk dinyanyikan oleh pelawak tersebut.

Babak keempat dari pentas ludruk adalah cerita yang mirip drama. Ceritanya berupa kisah seputar rumah tangga, cerita rakyat, atau kisah kepahlawanan. Cerita rakyat yang populer antara lain: Sawunggaling, Pak Sakerah, dan Sarip Tambak Oso. Kadang pemangku hajat minta cerita tertentu untuk dimainkan. Seperti yang saya sebutkan di muka, jika ceritanya bagus maka saya menonton ludruk sampai akhir pagelaran. Namun jika cerita saya anggap kurang menarik biasanya saya dan penonton yang lain sudah pulang setelah acara dagelan selesai.

Saya memang penggemar berat kesenian khas Jawa Timur tersebut. Selain menonton pagelaran ludruk yang main di kampung saya juga suka mendengarkan ludruk yang disiarkan oleh RRI Surabaya. Adakalanya ludruk juga melakukan pentas di sebuah gedung atau tobong. Saya bahkan pernah menonton pentas ludruk di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Untuk menonton ludruk yang pentas di gedung atau tobong penonton harus membeli karcis. Tak apalah asal saya bisa menikmati tari ngremo, bedayan, lawak, dan aneka kisah yang penuh makna.

ludruk

Munculnya televisi juga dimanfaatkan oleh grup-grup ludruk. Saya pernah menonton ludruk Glamor yang menampikan pelawak kondang Asmuni dan kawan-kawannya. Pernah juga disiarkan ludruk artis, pemainnya memang para artis.

Sayang disayang, orang yang menanggap ludruk semakin jarang. Salah satu penyebabnya adalah munculnya orkes melayu atau musik dangdut, organ tunggal atau musik elekton, campursari, dan kuda lumping. Mereka tampaknya lebih suka menanggap musik dangdut atau elekton yang tampaknya juga digemari oleh masyarakat. Selain itu biaya untuk menanggap ludruk mungkin dinilai agak mahal oleh si empunya hajat. Kondisi ini menyebabkan satu-persatu grup ludruk bubar. Walaupun saat ini masih ada beberapa yang eksis namun pentas mereka bisa dihitung dengan jari.

Para pecinta kesenian ludruk memang masih terus berupaya agar kesenian khas Jawa Timur ini tidak punah. Festival ludruk diadakan secara berkala di Surabaya. Tari ngremo juga masih ditampilkan untuk menyambut tamu. Pada kesenian kuda lumping atau musik campursari kadang didahului dengan tari ngremo.

Terus terang saya miris jika kesenian ludruk punah. Juga miris jika tari ngremo atau bahkan ludruk diklaim menjadi milik suatu bangsa atau negara lain. Hmmmm….haruskah kita marah dengan membakar ban atau bendera suatu negara manakala ludruk diakui oleh bangsa lain? Sementara kita sebagai pemiliknya kurang peduli dengan nasib ludruk.

Semoga ludruk tidak hanya muncul ketika ada festival saja. Semoga ada dermawan atau perusahaan yang mau menjadi bapak angkat kesenian ini sehingga ludruk bisa main ditobong-tobong. Semoga pula sekolah atau perguruan tinggi juga menyediakan ekstra kulikuler tari ngremo atau ludruk secara utuh. Himbauan juga saya tujukan kepada stasiun televisi agar menyediakan slot bagi ludruk dan kesenian tradisional lainnya untuk tampil.

Pegupon omahe doro

Urip melu Nipon tambah sengsoro

Cak Durasim yang mengumandangkan parikan itu ditangkap dan dipenjarakan oleh tentara Jepang. Semoga Cak Durasim arek kelahiran Jombang yang juga seniman ludruk itu bukan hanya dijadikan nama gedung tetapi juga selalu dikenang. Salah satu cara mengenangnnya adalah melestarikan kesenian ludruk.

Jombang, Surabaya, Surabaya tanpa ludruk? Kecut, Rek!!

Image source: pixabay.com

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Selamat kepada 200 blogger terpilih yang akan membuat berisik jagad maya tentang realitas remaja milllenial : Generasi Z yang begitu kritis menyikapi hidup yang dinilainya tak sesuai dengan pola asuh.. Orang tua...wake up ! jangan lagi memandang anak sebagai objek yang bisa dengan leluasanya diatur. Mereka punya mata, hati dan nurani yang bisa berteriak bahkan memberontak sekiranya melihat prilaku orang tua yang tak sesuai dengan yang dilisankan dengan tameng "mendidik" ... >>> untuk blogger terpilih akan diemail hari ini.

Terima kasih kepada lebih dari 400 pendaftar.. semoga yang belum terpilih masih bisa berkesempatan join program berikutnya.. #Repost @miramiut (@get_repost)
・・・
Kami ada 
Dalam peradaban *Berilah kami kepercayaan untuk membuat karya yang bermanfaat
*Berilah kami kesempatan untuk menunjukkan bahwa hidup itu sangat berarti

Walau itu berbeda 
Walau tak semua tersusun rapi

Coming soon "My Generation" : film garapan Sutradara Upi yang layak ditunggu akan banyak sentuhan natural dan ide cerita yang unik serta berisi.

@mygenerationfilm
@upirocks
@Indoblognet

#MyGenerationFilm
#FilmMyGeneration

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top