Entrepreneur

Simply Amelie, Kreasikan Fashion Lurik yang Menarik dan Unik

Menumbuhkan kecintaan pada produk dalam negeri membutuhkan usaha lebih. Seperti yang dilakukan Simply Amelie yang terus mengedukasi masyarakat mengenai produk kain berkualitas.

Kutu baru jumputan

Siapa sangka kain lurik dengan motif garis-garis kecil yang merupakan pakaian khas pria pedesaan di kalangan suku Jawa menjadi berbeda di tangan perempuan Yogya, Amalia Suntoro. Dilihat dari sisi sejarah, lurik yang berbahan dasar katun itu relatif murah dan terjangkau. Lurik adalah bahan dasar pembuatan surjan, busana resmi adat Jawa untuk pria. Dalam perkembangannya ternyata lurik dapat pula dikreasikan sebagai bahan kemeja atau komponen estetis fashion.

Celana lurik dengan padu padan atasan yang simple tetap bikin penampilan pemakaianya terlihat cool

Pada 2014 Amalia mendirikan Simply Amelie, brand baju siap pakai yang didesain dengan siluet simpel serta detail etnik dan unik. Dalam kreasinya, Amelia memadukan lurik, batik cap dan tulis, dan tak jarang pula tenun dari berbagai daerah di Indonesia yang dipadupadankan dengan cara berbeda dan menarik. Untuk menambah taste, ia juga mengombinasikannya dengan kain katun, brokat dan linen.

Sebagai bahan utama, ciri khas produk fashion Simply Amelie selalu menggunakan kain tradisional yang asli buatan tangan.

Seandainya pun menggunakan batik, yang digunakannya adalah batik cap atau tulis yang proses pembuatannya menggunakan malam (lilin). Begitu pun jika customernya menyukai tenun, Amelie hanya menggunakan kain tenunan tangan atau lazim disebut alat tenun bukan mesin (atbm).

bucket hat patchwork dengan paduan lurik, batik cap dan tenun.

Amelia memakai lurik Klaten. Kota yang berada di antara Yogyakarta dan Solo itu memang dijuluki ibukota lurik. Lurik yang telah ada sejak jaman Kerajaan Majapahit digunakan secara terbatas oleh kasta tertentu. Seiring dengan perkembangan jaman peminat dan pengguna lurik terus bertambah.  Motif dan warna lurik pun semakin beragam.

Proses pengerjaan lurik lumayan telaten melalui beberapa tahap, dimulai dari menenun helaian-helaian benang menjadi selembar kain; mencelupkan helaian-helaian benang tersebut pada warna yang diinginkan lalu dijemur hingga kering; memintal benang menjadi gulungan-gulungan kecil,; menata benang hingga membentuk motif (proses yang paling rumit karena setiap motif memiliki rumus yang berbeda-beda); memindahkan desain motif ke alat tenun, hingga proses menenun menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dijalankan oleh manusia.

“Kita sempat berebut batik dengan Malaysia, lalu di hari batik kita pakai batik printing, itu salah kaprah,” kata Amalia yang menyayangkan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap kualitas batik.

 

Tank top patchwork lurik

Secara garis besar perbedaan batik tulis, batik cap, dan batik printing yaitu pada susunannya ornamennya. Pada batk tulis, ornamen   satu dengan lainnya agak berbeda dengan bentuk isen-isen yang terlihat rapat dan rapi. Pada batik cap, ornamen yang satu dengan lainnya tampak sama tapi bentuk isen-isen tidak rapi dan agak renggang. Sedangkan pada ornamen batik printing bergantung pada desain batik yang akan ditiru dengan warna yang tidak tembus karena prosesnya hanya satu sisi.

Berdasarkan proses pembuatannya, batik tulis dikerjakan secara manual, per orang dengan canting, malam, kain, dan pewarna. Batik cap dikerjakan dengan alat stempel yang memiliki pola batik (alat itu dicelupkan ke dalam lilin panas kemudian dicapkan pada kain. Proses ini memakan waktu yang lebih cepat dibandingkan batik tulis). Sementara pada batik printing, pola telah diprint di atas alat sablon sehingga pembatikan dilakukan secara langsung (prosesnya lebih cepat dibandingkan batik tulis dan batik cap).

Beberapa teknik diterapkan Amalia dalam mendesain pakaian seperti teknik patchwork yang menggabungkan lurik, batik, dan tenun dengan cara yang unik. Dalam perkembangannya Simply Amelie membuat bucket hat dan tote bag dengan teknik scrappy patchwork.

Anda yang ingin tampil beda tak perlu khawatir akan mengenakan pakaian yang sama dengan orang lain. Pasalnya produk Simply Amelie dibuat limited atau produksi tidak massal dan handmade. “Model dan desain produk saya yang buat sendiri berdasarkan selera customer dan personalized,” tutur Amelia.
Pemasaran produk Simply Amelie dilakukan secara online (melalui Facebook dan Instagram) serta offline dengan mengikuti berbagai pameran, baik di lingkup komunitas maupun publik antara lain Festival Kesenian Yogyakarta tahun 2015 dan 2016, Vrederburg Fair, event Selamat Pagi di LSM Kampung halaman, dan lain-lain. Dan,  akhir 2016 Simply Amelie bergabung dengan Komunitas Indonesian Crafter membuka outlet di Baksya Gallery.  Konsumen Simply Amelie tersebar selain di Yogyakarta dan Jawa Tengah, juga Jakarta, Bandung, Bali, Nusa Tenggara, hingga Kalimantan.

 

Alamat outlet Simply Amelie: Baksya Gallery, Jl. Gerilya Prawirotaman 2 No. 646, Yogyakarta

Facebook: SimplyAmelieFashion

Instagram: @simplyameliefashion

*Editor : Kartina Ika Sari

Ignasia

Saya Ignas, hobi membaca dan menulis. Bagi saya, setiap hari adalah kesempatan baru untuk mempelajari hal-hal menarik.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Seorang pebisnis harus pandai menganalisa pesaing mereka, khususnya yang berada pada niche yang sama. Belajarlah dari kesuksesan termasuk dari kegagalan mereka
.
.
.
DOUBLE TAP IF YOU AGREE
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #analisamarketing #competitor #business #tipsbisnis #trendingpost

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top