Sosok

Siapa “Mukidi” dan Mengapa Ia Mendadak Viral?

Penggiat media sosial pasti hapal dengan si Mukidi. Beberapa minggu belakangan nama Mukidi mendadak viral dalam berbagai postingan jejaring sosial terutama broadcast melalui BBM, whatsApp dan facebook. Siapa Mukidi dan mengapa ia mendadak viral? Rasa penasaran terus menghantui saya hingga terbawa mimpi. Eh nggak ding, terlalu lebay. Meski tak sampai bermimpi tentang Mukidi toh saya tetap berharap bisa menyibak misteri tentang si tokoh ini. Akhirnya saya mendapat jawabnya dari sebuah koran nasional terbit di Surabaya.

Dalam artikel tersebut diceritakan bahwa penggagas sosok Mukidi adalah Soetantyo Moechlas, seorang pensiunan product manager farmasi. Asal muasal nama Mukidi tercipta karena pak Yoyo – nama sapaannya – hobi membuat cerita lucu untuk dikirim ke program Ida Krisna Radio Prambors. Nama Mukidi diambil dari salah satu adegan film Warkop, nama yang keluar dari celetukan Dono dalam sebuah serial filmnya.

Pak Yoyo ternyata sempat membukukan kisah-kisah lucu Mukidi, tokoh rekaannya secara independen di tahun 2010 dan terjual hingga 40-50 ribu eksemplar. Tokoh rekaan yang dikisahkan berasal dari Cilacap ini mendadak viral padahal belasan tahun telah berlalu. Kira-kira apa penyebab viralnya si Mukidi yang konon memiliki istri bernama Markonah dan dua anak bernama Mukirin dan Mukiran serta bersahabat dengan Wakijan ini?

Ada beberapa kemungkinan mengapa kisah jenaka yang sudah berlalu belasan tahun ini mendadak viral, yaitu:

1. Masyarakat butuh hiburan. Keruwetan dan hiruk pikuk dunia politik ditambah dengan kondisi perekonomian yang masih berusaha bangkit setelah diterpa inflasi membuat masyarakat jenuh. Masyarakat juga jenuh dengan tingkah laku para koruptor dan proses penegaka hukum yang dipandang masih tebang pilih. Satu-satunya yang menghibur adalah kisah-kisah lucu. Mukidi adalah sosok bersahaja, seperti halnya rakyat biasa. Ia tak pernah mengeluarkan statement politik, ia juga tidak pernah berjanji namun tidak ditepati. Humor Mukidi apa adanya, tanpa bumbu politik dengan bahasa sederhana. Tidak mengherankan jika kisah jenaka ini berhasil mencuri hati penggiat dunia maya.

2. Humor yang Relevan. Meski belasan tahun berlalu humor ala Mukidi masih relevan. Tidak ada humor yang ketinggalan zaman. Meski kadang beberapa guyonan yang dishare melalui jejaring sosial terkesan lelucon yang sering didengar paling tidak masih bisa membuat tersenyum.

3. Fenomena ingin menjadi pusat perhatian. Beberapa waktu lalu penggiat dunia maya sempat dihebohkan dengan pro kontra masalah FOMO (Fear of Missing Out) yang secara umum bisa diartikan sebagai fobia akan ketinggalan sesuatu yang berkaitan dengan dunia maya. Ketika seseorang mengirim broadcast tentang kisah Mukidi maka penerima pesan broadcast yang terjangkit FOMO tidak ingin ketinggalan. Sebagian besar orang akan berupaya mencari tahu siapa Mukidi itu. Tak jarang mereka juga ikut-ikutan membroadcast pesan tersebut. Bisa jadi kisah-kisah Mukidi yang beredar tidak lagi asli rekaan pak Yoyo tetapi hasil karya penggiat-penggiat dunia maya lainnya.

4. Rindu Lelucon ala Abunawas. Di tengah monotonnya humor ala Stand Up Comedy yang sedang naik daun masyarakat butuh lelucon yang berbeda. Lelucon ala Abunawas yang semakin sulit ditemui mungkin ditemukan pada sosok Mukidi.

5. Viral melalui facebook. Pak Yoyo sebagai pencipta sosok Mukidi mengaku bahwa sejak belum sempat membukukan kembali humor-humornya ia memilih memposting lelucon ala Mukidi melalui facebook. Sebenarnya ia memiliki blog tetapi lupa passwordnya. Pengguna facebook di Indonesia cukup signifikan karena masuk dalam urutan lima besar pengguna facebook di dunia. Viral di facebook bisa dicopas dengan mudah untuk dibroadcast melalui WhatsApp dan BBM dengan kecanggihan gadget saat ini.

Pak Yoyo memang jago membuat lelucon ala Mukidi. Dalam artikel tersebut ia diminta membuat lelucon Mukidi bertema koran. Maka hasilnya adalah:

Markonah pulang ke rumah melihat Mukidi, suaminya, serius membaca koran. Markonah pun merasa cemburu

Markonah: Mas, andaikata aku sebagai istri seperti koran yang kamu pegang.
Mukidi : Iya Dik, Aku juga berharap begitu. Tiap hari ganti yang baru.
Markonah : $&@@!!

Andaikan Pak Yoyo diminta membuat lelucon ala blogger mungkin akan begini jadinya.

Wakijan dan Mukidi sedang memperbincangkan blogger yang sedang naik daun belakangan ini.
Wakijan : “Wah blogger sedang naik daun nih. Bisa jadi endorser dari produk terkemuka, diundang ke Istana negara dan gedung parlemen, terima job review lumayan besarnya, diundang biro travel jalan-jalan ke luar negeri pula”
Mukidi : “Jangan salah, aku juga punya blog loh”
Wakijan : “Wow hebaaat, sudah dapat undangan dari mana saja?”
Mukidi : “Ya undangan syukuran di rumah pak RT nanti malam, lha wong aku sudah lama lupa password blogku, mana sempat aku meng up-datenya”
Pembaca artikel ini : @&$)@([email protected]_(#_!

Dwi Aprilytanti Handayani

Ibu dua anak, senang menulis dan berbagi pengalaman. Baginya menulis adalah salah satu sarana mengeluarkan uneg-uneg dan segala rasa.

Latest posts by Dwi Aprilytanti Handayani (see all)

Bagikan Jika Bermanfaat

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Why Do People Buy BRAND NAMES? 🤔🤔
.
Assalaamu'alaikum MB Friends, tau kenapa banyak orang yang bersedia membayar "mahal" untuk membeli produk bermerek?
.
They buy brand names for a variety of REASONS, guys!
.
✔ CONFIDENCE in Experience
.
Consumers generally buy a product in hopes that it provides a QUALITY experience. Recognized brand names typically have shown a consistency in product quality that has contributed to the evolution of the brand 😍
.
Often, consumers rely on prior experiences or public word-of-mouth when selecting brands
.
✔ Social Acceptance
.
People sometimes buy brands because they believe the brands will contribute to greater SOCIAL ACCEPTANCE. This is especially true in fashion 😜
.
Consumers often buy CLOTHING BRANDS that are either perceived as fashionable, trendy or high class, or that fit into a particular subculture or peer group
.
✔ Customer Loyalty
.
Over time, consumers develop loyalty to brands that provide a consistent, HIGH-QUALITY experience. Loyalty is essentially an emotional attachment to a brand .
✔ Personal Image
.
Just as company or product brands have identities, people do as well. Some people buy certain brands to SUPPORT their personal or professional image 😎😎
.
Credit: smallbusiness.chron.com
.
📧 For business inquiries please email us to mitrabranding@indoblognet.com
.
#mbcsosmedcontent #brandedproduct #branded #mbcommunication #indoblognet #brandingagency

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top