Agama

Sempurnakan Agamamu dengan Menikah

Para sahabat mungkin pernah membaca surat undangan pernikahan yang di dalamnya ada kutipan dari Al Qur’an surat Ar Ruum ayat 21 yang artinya: ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya diciptakan-Nya untuk pasangan hidup dari jenis sendiri supaya kamu mendapat ketenangan hati dan dijadikan-Nya kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berpikir”. Yang dimaksud dengan pasang hidup dalam surat ini tentu pasangan suami-istri yang terikat dengan pernikahan yang sah.

Bagi seorang muslim, menikah adalah melaksanakan sunnah Rasulullah Shallallahi ‘alaihi wa sallam. Hal ini dijelaskan dalam hadits yang artinya: “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)

Di alam nyata memang ada juga laki-laki atau perempuan yang sudah cukup umur tetapi belum menikah karena berbagai alasan. Ada yang karena pernah patah hati sehingga tak percaya lagi dengan lawan jenisnya. Ada yang karena masih menunggu adik-adiknya selesai sekolah atau kuliah. Bahkan ada yang merasa takut karena hidupnya belum mapan atau belum mempunyai pekerjaan layak. “Bagaimana mau menikah, pekerjaan saja masih belum pasti. Emangnya anak orang mau dikasih makan apa?” begitu kira-kira yang ada dalam pikirannya.

Terhadap alasan yang terakhir tersebut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantu hamba-Nya yang menikah. Dari Jabir r.a., ia berkata: “Nabi Shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: ‘Ada tiga hal bila orang melakukannya dengan penuh keyakinan kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, Allah Ta’ala mewajibkan diri-Nya untuk membantunya dan memberinya berkah. Orang yang berusaha memerdekakan budak karena imannya kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, maka Allah Ta’ala mewajibkan diri-Nya membantunya dan memberinya berkah. Orang yang menikah karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya, maka Allah Ta’ala mewajibkan diri-Nya membantunya dan memberinya berkah..” [HR. Thabrani]

Sesungguhnya menikah itu bukan hanya bertujuan untuk hidup tenteram dan teratur. Menikah juga bukan hanya menjaga kemaluan agar terhindar dari zina atau pergaulan bebas. Menikah juga bukan hanya untuk mendapatkan keturunan belaka. Tetapi menikah juga merupakan ibadah untuk menyempurnakan agamanya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,  ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya”. (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

Pandangan manusia terhadap laki-laki atau perempuan yang membujang memang berbeda-beda. Pada masyarakat modern ada yang menganggap sebagai hal yang biasa. Sementara para orangtua, utamanya para ibu akan merasa cemas jika putra-putrinya belum juga tergerak hatinya untuk menikah. Takut anaknya menjadi jejaka tua atau perawan tua merupakan salah satu kecemasan mereka. Tak heran jika ada orangtua yang gemar mendorong anak-anaknya agar segera menikah. “Bapak dan ibu sudah semakin tua. Kami kan juga ingin segera menggendong cucu”. Itu juga sering dijadikan salah satu alasan agar anak laki-laki atau anak perempuannya tak berlama-lama membujang. Kadang orangtua juga risih mendengar gunjingan tetangga yang usil karena melihat anak tetangganya belum juga berkeluarga walau umur sudah mulai beranjak tua.

Dari segi kehidupan rumah tangga, menikah pada usia yang tepat juga menguntungkan keturunannya. Tentu lebih elok jika pasangan suami istri masih bisa mengurus anak-anaknya karena usianya belum terlalu tua dan salah satu atau keduanya bisa bekerja untuk memberikan nafkah dan membiayai pendidikannya. Bayangkan jika kedua orangtua sudah renta sementara anak-anaknya masih muda dan memerlukan biaya untuk sekolahnya. Di lapangan masih dijumpai seorang ayah yang sudah pensiun masih harus bekerja keras untuk mendapatkan tambahan penghasilan guna membiayai sekolah anaknya sekaligus menabung untuk biaya pernikahan putra-putrinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah memberitahu keutamaan menikah. Tentu akan lebih elok jika mereka yang masih senang membujang segera melakukan salah satu sunnah Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Harap pula diketahui bahwa pahala shalat orang yang menikah itu lebih besar daripada pahala orang yang belum menikah. “Dua rakaat yang dilakukan orang yang sudah berkeluarga lebih baik dari tujuh puluh rakaat shalat sunah yang dilakukan orang yang belum berkeluarga”. [HR. Ibnu Adiy dari Abu Hurairah]

Para sahabat yang masih bujang tentu akan tertarik untuk segera mengakhiri jomblonya jika membaca hadits ini. “Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan istrinya memperhatikan suaminya,” kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, “maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan perhatian penuh rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya, maka berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela-sela jari jemarinya”. [Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi dari Abu Sa’id Al-Khudzri r.a]

Jika kaum muslim mengakui sebagai umat Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka seyogyanya jangan mempunyai niat untuk hidup membujang selamanya. Dalam sebuah hadits disebutkan, pernah suatu ketika tiga orang Shahabat radhiyallaahu ‘anhum datang bertanya kepada istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peribadahan beliau. Kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan ibadah mereka. Salah seorang dari mereka berkata: “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa sepanjang masa tanpa putus”. Shahabat yang lain berkata: “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya”. Yang lain berkata, “Sungguh saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan nikah selama-lamanya, dst”. Ketika hal itu didengar oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda: “Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku pun tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai Sunnahku, ia tidak termasuk golonganku”.

Menikah selain berpahala juga mengandung beberapa keutamaan sebagaimana diuraikan di atas.

 

Source image: pickupimage.com

Editor: Indoblognet

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Halooo, smart people 🤗 Kamu suka males gak sih kalau bales-balesin komen di sosmed? Jangankan balesin komen negatif, balesin komen positif aja sering kelewat ya 😂 *hihi
.
Emang penting ya balesin komen-komen di sosmed? Penting donggg, apalagi kalau kamu pengen bangun akun yang engagementnya bagus dan bisa bertahan lama eksistensinya 😍
.
Para fans/followers adalah orang-orang yang ikut menentukan kesuksesan akunmu, lho. So guys, mulai sekarang jangan abaikan aset tersebut yesss 😄
.
#indoblognet #mbcommunication #socialmedia #youtuber #selebgram #instagramer #fans #followers #tipssocialmedia

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top