Parenting

Saya Bahagia Bisa Jadi Suami Siaga

Kehadiran seorang anak dalam sebuah keluarga adalah sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan oleh pasangan suami istri untuk memperoleh seorang anak. Demikian juga saat sang istri sudah diberikan keberkahan berupa kehamilan. Upaya lebih keras dilakukan agar sang janin dapat tumbuh dan berkembang secara baik di dalam kandungan. Kerjasama pasangan suami istri menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menjaga janin agar bisa selamat hingga dilahirkan.

Tentu semua upaya tersebut tidaklah mudah. Sebagaimana yang kami alami, saat istri saya hamil dalam usia ‘risiko tinggi’ (risti). Di usia yang tidak muda lagi (43 tahun), pihak Puskesmas selaku Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) Tingkat I jauh-jauh hari telah memberi rujukan ke PPK II (rumah sakit). Hal tersebut disebabkan terbatasnya fasilitas penunjang (alat dan tenaga kesehatan/dokter spesialis obsgyn) pada Puskesmas. Hal ini dapat kami pahami, sehingga saya sebagai suami langsung memutuskan untuk menerima saran tersebut.

Sejak minggu ke-30, pemeriksaan pun kami lakukan di RSU dr. Wahidin Sudirohusodo Kota Mojokerto. Selain fasilitas yang memang sudah cukup lengkap sebagai RS Tipe B, dokter spesialis kandungan (obstetri ginekologi) ada empat orang. Satu lagi kelebihan yang membuat istri saya nyaman, sebab salah seorang dokter kandungannya adalah seorang perempuan. Hal ini semakin membuat kami nyaman untuk melakukan pemeriksaan rutin.

Perdarahan di Minggu ke-32

Di minggu ke-32, kami, saya, dan putri bungsu saya, sempat mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawa saya. Selama tiga hari saya harus dirawat di rumah sakit. Dengan alasan sakit, kami tak berani berterus terang kepada istri saya yang sedang hamil. Baru pada hari ke-empat saat saya pulang ke rumah, mau tidak mau akhirnya saya bercerita kondisi yang sebenarnya. Istri saya sempat shock meski sudah berusaha saya hibur.

Rupanya rasa kaget itu masih saja melekat di benaknya. Tiga hari kemudian saat usai shalat Subuh, istri saya mengeluarkan beberapa noktah flek di mukenanya. Tanpa banyak pertimbangan, langsung saya antarkan menuju rumah sakit. Setelah beberapa saat dilakukan palpasi (pemeriksaan) di ruang PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif). Isteri saya diminta untuk beristirahat sambil dilakukan observasi.

Oh ya, mengapa saya pilih RSUD Kota Mojokerto? Di rumah sakit ini, terdapat sebuah tim yang selalu siaga untuk penanganan kasus ibu hamil. Tim tersebut dinamakan PONEK atau unit kegawatdaruratan khusus bagi ibu hamil. Tim yang dikepalai oleh seorang dokter spesialis obsgyn ini selalu siaga 24 jam untuk menangani kasus-kasus bumil. Ini perlu diketahui oleh para pasutri, khususnya suami agar tidak kalut saat sang istri mengalami kondisi tak terduga saat dalam masa kehamilan atau persiapan kelahiran bayi.

Alhamdulillah, setelah hampir setengah hari, istri saya pun diperbolehkan untuk pulang di sore harinya. Hal ini setelah dalam masa observasi ternyata istri saya tidak mengeluarkan darah/flek lagi. Tentu saja ini cukup melegakan kami. Sekaligus menjadi catatan bagi istri saya agar sedikit ndableg saat mendengar berita sedih/duka. Faktor psikologis menjadi salah satu faktor penting yang harus dijaga oleh seorang bumil, selain faktor nutrisi maupun faktor kinestetik (aktivitas fisik). Nah, suami ternyata menjadi faktor utama untuk selalu memberikan dukungan lahir dan batin. Pengetahuan suami seputar kehamilan maupun karakter kehamilan istri menjadi salah satu kunci agar istri menjadi nyaman selama kehamilan.

Pemeriksaan Kehamilan Minggu ke-33

Pasca kejadian perdarahan di minggu ke-32, pemeriksaan menggunakan USG pun saya lakukan (14/3). Hal ini untuk mengetahui kondisi bayi yang sebenarnya di dalam rahim. Alhamdulillah, kondisi dan posisi bayi sangat baik. Kemudian dokter yang memeriksa memberikan saran-saran agar bisa melangsungkan partus (melahirkan) normal. Ternyata saya baru tahu bahwa di RSUD Kota Mojokerto ini sangat mendukung kampanye ibu melahirkan normal. Tentu hal ini menjadi kabar yang sangat menggembirakan bagi kami.

Kondisi isteri saya selama kehamilan sebenarnya tidak terlalu ‘menggembirakan’. Maklumlah, dari beberapa kali kehamilan, baru kali ini merasakan apa yang dinamakan ngidam (Jw.). Sejak kehamilan di minggu ke-2 sudah ogah-ogahan makan yang mengandung garam atau manis. Padahal dua zat tersebut (garam dan gula) sangat dibutuhkan oleh janin dan ibunya. Tapi karena kengeyelan saya, setiap waktu makan pasti saya pantau meskipun saat itu saya berada di luar kota. ‘Berantem’ menjadi hal yang biasa saat saya paksa untuk makan makanan yang tidak disukai istri saya.

Sugesti dan motivasi terus saya lakukan. Keinginan yang aneh-aneh tersebut harus dilawan. Meski terkadang istri saya harus menangis karena memakan sesuatu yang tidak dia sukai. Saya bilang bahwa inilah risiko yang harus dihadapi jika menginginkan janin dan kesehatannya tetap baik.

Kehamilan Minggu ke-40

Tanggal 1 Mei malam, istri saya mulai mengeluh kesakitan. Sebab untuk duduk, berdiri, atau berbaring pun sudah sangat tidak nyaman. Sebagaimana kakak-kakaknya yang lain, saya lebih pas dengan feeling saya. Prediksi dokter bahwa Hari Perkiraan Kelahiran (HPL) istri saya diperkirakan pada minggu ke-4 April. Tapi menurut perhitungan saya (saya melakukan KB alami/kalender), istri saya akan melahirkan di minggu pertama Mei 2016. Oleh karena itu, pada akhir April saya masih sempat melakukan aktivitas selama tiga hari di luar kota.

Nah, agar istri merasa nyaman dan tidak cemas menjelang kelahiran sang jabang bayi, ada baiknya suami mengetahui cara untuk menghitung kontraksi (hikcs) sang istri. Sebab banyak kejadian terutama pada kehamilan pertama, ketidaktahuan sang istri menjadi lengkap saat suami pun tidak paham dengan kontraksi yang terjadi pada sang istri. Ketakutan berlebihan pada istri ditambah dengan kecemasan pada suami mengakibatkan istri mau pilih ‘cara mudah’ untuk melahirkan yaitu dengan operasi SC (seksio cesaria). Padahal operasi cesar ini juga sebenarnya tidak mudah juga. Banyak pantangan yang harus dilakukan oleh sang istri (ibu bayi) pasca melahirkan dengan cara ini.

Sifat kontraksi dan yang dirasakan oleh bumil ini biasanya berbeda pada tiap individu. Terkadang, kondisi fisik ibu yang kuat dan aktivitas yang padat membuat kontraksi ini ‘tidak terlalu dirasakan’ oleh bumil. Atau bisa terjadi ‘kontraksi palsu’. Beruntunglah, istri saya mengalami kontraksi pada fase yang terakhir. Untuk mengetahui hitungan kontraksi, bisa lihat di sini.

Karena malam adalah kondisi yang sebenarnya untuk istirahat, hicks tersebut benar-benar bisa dirasakan.  Mulai dari interval 15-20 menit pada tengah malam, hingga 4-5 menit pada waktu Subuh. Tepat setelah kami shalat Subuh (jam 04.45 Wib), segera kami berangkat menuju rumah sakit. Ruang PONEK yang berada satu komplek dengan gedung IGD menjadi tujuan kami. Petugas yang cukup sigap segera menyambut kami.

Ternyata benar perkiraan kami, saat dilakukan palpasi, istri saya sudah mengalami ‘bukaan tiga’. Artinya tidak akan lama lagi proses melahirkan akan segera dimulai. Untuk menunggu ‘bukaan lengkap’ (bukaan 10), istri saya dipindahkan ke Ruangan Kandungan dan Bersalin (jam 07.30 Wib).

Saat-Saat Mendebarkan

Sebagaimana komitmen awal, istri saya meminta untuk partus (melahirkan) normal. Saat masuk ruang bersalin, saya pun disila untuk menunggu di luar terlebih dahulu. Saya dapat memaklumi, sebab tindakan pemeriksaan oleh dokter maupun paramedis agar tidak terganggu. Meski sebelumnya sudah saya sampaikan bahwa saat proses persalinan saya akan mendampingi.

Untuk mempermudah proses ‘bukaan’, istri saya diberikan ‘obat pendorong persalinan’ (drips) (jam 20.45 Wib). Karena efek medis yang dikhawatirkan, pemberian drips ini pun harus melalui persetujuan penanggungjawab (dalam hal ini saya sebagai suami). Menandatangani informed concent (lembar persetujuan) perlu dilakukan sebab obat pendorong tersebut menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Istri pun harus tahu efek yang ditimbulkan dengan drips yang biasanya disuntikkan melalui cairan infus.

2,5 jam istri saya berjuang melawan rasa sakit yang hebat. Alhamdulillah, tepat jam 11.22 wib, putri kami pun menghirup oksigen pertama di luar kandungan. Putri kami tidak spontan langsung menangis. Sebab sempat menelan cairan ketuban. Paramedis (bidan dan perawat) yang sangat cekatan segera bertindak. Sekitar 1 menit berupaya untuk ‘memompa’ cairan tersebut. Tak lama kemudian, keheningan dan ketegangan di ruang persalinan pecah dengan lengkingan tangis putri saya.

Amirah Fathin Wataqiyya Putri Zulfah dengan berat badan 3,595 kg. dan tinggi badan 49 cm. Bayi mungil nan cantik bersiap menuju ruang perinatal untuk mendapatkan perawatan intensif lebih lanjut. Pemberian cairan antibiotik mengharuskan untuk dilakukan obeservasi minimal selama dua hari.

Terima kasih Ya Allah, masih Kau berikan kesempatan untuk mendampingi istri saya. Terima kasih istriku yang luar biasa. Terima kasih semua kru medis dan paramedis RSUD Kota Mojokerto, khususnya paramedis di R. Kandungan dan Bersalin. Komitmen pelayanan kalian kepada pasien sungguh luar biasa. Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan kesehatan dan kekuatan untuk selalu bekerja dengan ikhlas dan penuh komitmen.

 

 

Editor: Indoblognet

Mas Nuz

Pecinta keluarga yang kadang suka nulis dan jalan-jalan.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Mitra Blogger Pontianak!  Terima kasih ya atas dukungannya untuk @klink_indonesia_official.

Semoga event-event K-Link dan MB Communication bisa hadir kembali di Pontianak.

#latepost #klinksolusihidupmu #klinkmember15olusi #bloggerpontianak #mbcommunication #indoblognet

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top