lomba blog

Sanggupkah Menjadi Ibu Idaman Anak?

“Ma, aku gak suka sama tante E, cerewet banget….untung bukan ibuku, kalau ibuku seperti dia lebih baik aku pergi saja”, kata Fawaz suatu hari sambil menunjukkan muka cemberutnya.

 

Apa yang dikatakan Fawaz, sempat membuat saya berpikir, sejatinya menjadi ibu itu tidak mudah. Tanggung jawab seorang ibu bukan hanya membesarkan dan mencukupi segala kebutuhan anak saja. Lebih dari itu, ibu harus bisa menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya. Tutur kata yang santun, sikap yang selalu mengayomi dan melindungi atau bahkan tingkah laku yang sopan, selalu menjadi cermin yang bisa diteladani oleh anak.

Sebagai seorang ibu, saya masih jauh dari sempurna. Masih harus belajar lebih banyak lagi agar bisa disebut sebagai ibu idaman. Jujur….sejauh ini saya sering menghadirkan ego dalam mendidik Fawaz. Bahkan dalam benak saya sempat terpatri, bahwa orang tua harus bisa mengupayakan agar anak berprestasi, menjadi bintang kelas dan selalu tampil cemerlang di depan kelas. Barangkali itu pemikiran kuno, yang dulu sempat ditanamkan orang tua saya.

Bisa jadi apa yang pernah saya alami saat kecil dulu, menjadi patokan saya mendidik Fawaz. Dulu ibu selalu marah besar ketika mendapati nilai ulangan saya jelek. Saya harus rajin belajar demi mendapatkan nilai bagus dan menjadi juara kelas tiap kenaikan kelas. Saya bahkan dilarang terlalu sibuk mengikuti kegiatan diluar sekolah. Padahal, melihat teman-teman berlatih menari atau karate, saya pun ingin seperti mereka. Namun, segala keinginan itu akhirnya kandas demi membahagiakan orang tua.

Rumah saya ibarat sebuah terali besi. Saya tidak diijinkan terlalu sering keluar rumah. Bersyukur ada ayah yang bisa menghandle semuanya. Menjelang sore hari, saya memanggil teman-teman untuk belajar di rumah. Ayahlah yang bertindak sebagai guru les kami. Bahkan, ketika saya ingin belajar mengaji atau sholat berjamaah, ayah juga bisa berperan sebagai guru ngaji atau imam sholat. Di rumah semua serba terpenuhi. Namun masih ada yang kurang dalam diri saya, saya merasa terpenjara.

Saya sadar, apa yang dilakukan orang tua saya adalah bentuk kasih sayang mereka.  Mereka tidak ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tanpa arah, akhirnya rumahlah yang dijadikan tempat untuk menempa ilmu dan ketrampilan. Tak ada yang salah dengan didikan orang tua saya tempo dulu, bahkan saya bersyukur andai mereka memberikan kebebasan penuh, mungkin saya tidak akan seperti saat ini.

Ya…barangkali seperti itulah cara mendidik anak “tempoe doeloe”, dimana jaman saya masih kecil, jarang ada anak yang membantah bila dinasehati orang tuanya. Bahkan, paradikma kesuksesan anak jaman dulu selalu dilihat dari prestasi sekolahnya. Anak yang selalu mendapat juara kelas atau bersekolah di sekolah negeri, selalu dianggap anak yang pandai. Tentunya anggapan seperti itu sudah tidak berlaku dijaman sekarang.

Anak jaman sekarang tidak bisa dididik terlalu keras. Kekerasan akan membuatnya melawan. Akhirnya mereka  tumbuh menjadi pribadi yang suka melawan dan tidak mau menurut kata orang tua. Orang tua sering dianggap sebagai pribadi yang kuno, ketinggalan jaman, gaptek atau kurang gaul, sehingga anak seringkali bertindak sendiri tanpa mempedulikan nasehat orang tua.

Kini, saya bersyukur  ada suami yang selalu mengingatkan ketika saya terlalu keras mendidik Fawaz. Bahkan, bersama suami pula, akhirnya saya membuat sebuah komitmen, bahwa kami ingin mendidik anak melalui hati. Bukan ego yang kami utamakan, namun didikan penuh kasih sayang yang akan membawa anak menjadi pribadi yang terbuka dan merasa diperhatikan.

“Mendidik anak laki-laki tidak sama dengan mendidik anak perempuan. Dan kemampuan masing-masing anak juga berbeda. Kalau dulu kamu sering mendapat juara kelas, jangan berharap yang sama terhadap Fawaz. Anak kembar saja belum tentu mempunyai kemampuan yang sama, apalagi ibu dengan anaknya. Bisa jadi Fawaz mempunyai kemampuan lain yang tidak kamu miliki. Jadi buang jauh-jauh pikiran dangkalmu yang menganggap anak pandai itu adalah anak yang selalu juara dikelasnya”, kalimat suami saya terasa adem dihati dan menyadarkan kekeliruan saya selama ini.

Fawaz, bukanlah anak briliant yang selalu berprestasi di sekolahnya. Namun saya bersyukur dia bisa menjadi anak penurut.  Meski sikap manja atau cari perhatian masih seringkali  muncul, setidaknya dia sudah menunjukkan sikap terbuka pada orang tuanya.

Kadang terbersit rasa iba mengikuti perjalanan pendidikannya. Demi mengikuti tugas suami yang kerapkali berpindah-pindah, anaklah yang menjadi korban. Lahir di Papua, sempat bertahan hingga umur 6 tahun. Saat itu dua kali Fawaz harus berpindah sekolah. Hal yang menyedihkan, saat guru kelasnya memanggil saya, karena Fawaz kurang mampu mengikuti pelajaran.

Bisa jadi apa yang dialami Fawaz karena ia tidak bisa dididik terlalu keras oleh gurunya. Cara mendidik yang otoriter, membuatnya tidak bisa menangkap pelajaran dengan baik. Saya sempat kecewa dengan prestasi Fawaz. Namun keadaan berubah 180 derajat ketika ia saya pindahkan ke sekolah lain.  Fawaz dididik oleh guru yang sabar dan telaten hingga semua pelajaran yang diterimanya di sekolah bisa dipahaminya dengan baik.

Rupanya kepindahan tugas suami saya berikutnya membuat Fawaz pun harus ikut berpindah sekolah. Tidak lagi di Papua, melainkan di Jawa. Tadinya banyak tetangga dan kerabat yang sangsi akan kemampuan Fawaz. Anak yang bersekolah di luar Jawa, seringkali tidak bisa mengikuti pelajaran di Jawa. Namun saya yakin Fawaz mampu. Ternyata benar, diusianya yang belum genap 6 tahun dia bisa diterima di SD Negeri.  Bahkan, prestasi di sekolahnya pun tergolong baik. Ia mendapat peringkat 4 besar dan bisa naik ke kelas 2.

Fawaz hanya bertahan satu tahun di Jawa, begitu naik kelas 2 SD, saya kembali memindahkan sekolahnya ke Bali, agar kami bisa kembali berkumpul. Bagi saya dan suami, lebih baik kami hidup bersama ketimbang terpisah. Soal pendidikan anak, tentunya akan menjadi tanggung jawab kami berdua. Karena kami yakin, kesuksesan pendidikan anak itu berangkat dari rumah. Sudah pasti disertai campur tangan orang tua yang selalu membimbing anak setiap saat. Nyatanya hampir 4 tahun kami bertahan di Bali dan tak ada kendala tentang pendidikan Fawaz.

Sekali lagi, saya sedang berproses menjadi ibu idaman anak. Saya berusaha menjalin kedekatan yang begitu akrab dengan anak, sehingga hubungan kami tidak hanya sebatas orang tua dengan anaknya, namun kami merasa menjadi teman yang saling membutuhkan. Disinilah akhirnya terjalin ikatan batin dan keterbukaan.

Pernah suatu hari saya bertanya kepada Fawaz, “Fawaz sekolah di Jawa saja ya, temani nenek. Nenek kan baik orangnya, tidak cerewet seperti mama. Biar mama yang temani papa di Bali.”

“Tidak mau, nenek kan bukan ibunya Fawaz. Fawaz maunya sama mama…titik……”

Jawaban singkat Fawaz membuat saya terharu. Ternyata satu hal yang dibutuhkan anak adalah kasih sayang orang tuanya. Bukan materi yang berlimpah, fasilitas yang terpenuhi atau kebutuhan yang tercukupi. Dan salah besar bila kasih sayang terhadap anak kita ganti dengan barang-barang berharga. Kasih sayang tulus dari kedua orang tuanya, membuat anak merasa diperhatikan. Inilah prinsip yang akhirnya saya tanamkan dalam keluarga kecil kami.

Namun, jangan sampai kita menyalahartikan sebuah kasih sayang. Sayang kita terhadap anak bukan berarti memenuhi segala keinginannya. Harus ada batasan tertentu agar anak bisa tumbuh menjadi pribadi mandiri.  Misalnya, dengan memberikan reward ketika anak mampu menjalankan sholat 5 waktu dan sebagainya.

Menjadi ibu yang baik memang tidak ada sekolahnya. Justru dengan berbagai pengalaman yang pernah dilihat dan dialaminya, membuat seorang ibu mampu belajar lebih baik dari hari ke hari. Jam terbang seorang ibupun tidak bisa ditetapkan layaknya pegawai kantoran atau karyawan perusahaan. 1 x 24 jam ia harus sanggup menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Sementara, anak adalah anugerah Allah yang harus dijaga dan dirawat dengan maksimal. Disinilah peran orang tua, khususnya seorang ibu dipertaruhkan.

Satu-satunya jalan adalah senantiasa mendokan anak setiap saat. Doa ibu menjadi obat yang paling mujarab bagi anak-anaknya dalam berbagai situasi. Bahkan setiap ucapan ibu bisa jadi sebuah doa. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam berucap bila itu berhubungan dengan anak. Sadar akan pentingnya doa dan ketaatan kita kepada Allah, saya pun senantiasa membimbing Fawaz agar tumbuh menjadi anak sholeh yang selalu taat beribadah.

Inilah yang sering dipertanyakan oleh teman atau kerabat saya. Seringkali mengikuti suami yang berpindah-pindah tugas, bahkan daerah yang kami tuju pun mayoritas memeluk keyakinan yang berbeda, barangkali menjadi kendala untuk membimbing anak dalam hal agama. Nyatanya tidak demikian dengan saya. Delapan tahun di Papua dan empat tahun di Bali, tak serta merta membuat Fawaz lalai akan agamanya. Setiap saat saya dan suami selalu membimbingnya untuk taat menjalankan perintah Allah. Bahkan disela-sela kegiatan belajarnya, ia masih sempat ke masjid untuk belajar mengaji bersama teman-temannya. Rasanya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami.

Yah….meski tak mudah menjadi seorang ibu yang bisa menjadi idaman anak, namun saya bersyukur mempunyai anak yang mau menurut nasehat orang tuanya. Saya bahagia manakala sebuah kecupan manis dari Fawaz mendarat manis dipipi saya, sambil berucap, “aku sayang mama.” Duh, rasanya inilah anugerah terindah yang Allah berikan kepada saya.

Sekali lagi untuk menjadi seorang ibu yang baik memang tidak butuh pendidikan tinggi, karena dari dulu pun tak ada sekolah yang mendidik para wanita untuk menjadi seorang ibu yang baik. Namun pengalamanlah yang berbicara.  Bukan berarti hanya wanita tertentu saja yang bisa menjadi ibu idaman anak. Akan tetapi semua ibu bisa dianggap sebagai ibu idaman anak. Hanya butuh proses dan niat yang tulus dari dalam hati demi anak-anak kita.

 

 

Yunihan09

house wife, blogger

Latest posts by Yunihan09 (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Good morning, sahabat Indoblognet 😁 Jangan lupa siapkan amunisi (sarapan) terbaikmu pagi ini, supaya aktivitasmu kuat dan semangat 💪🏃
.
Guys, tau gak siiih, postingan yang mengandung unsur pertanyaan, lebih besar kemungkinannya untuk direspon dibandingkan postingan non question, lho 😄
.
Hihi, iya juga sih, kita seringkali "tergelitik" untuk ikut menjawab pertanyaan yang diajukan, ya 😂 Apalagi kalau pertanyaannya memang "mancing" banget 😅
.
Jadi, salah satu tips nih guys, kalau kamu pingin bikin postingan yang lebih direspon, buatlah postingan question posts 😉
.
#mbcommunication #indoblognet #morning #tuesday #instagram #instadaily #viral #followme #tips

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top