Kuliner

Resensi Buku Antologi: Makanan Tradisional Indonesia

 

Hei tahukah Kalian ada berapa jumlah masakan dan minuman tradisional? Hehehe saya sendiri juga tidak tahu jumlah pastinya, hanya tahu 30 di antaranya menjadi ikon kuliner tradisional. Jika ingin tahu sebagian kecil dari khazanah kulinet tradisional Indonesia, maka Kalian bisa membaca Antologi Kisah Makanan Tradisional Indonesia.

Bukan karena saya salah satu penulis dari 15 tulisan yang ada di buku ini sehingga saya mereferensikan buku ini. Buku ini menarik karena beberapa penulisnya mengupas kuliner yang tidak umum. Bukan saya penulisnya hahaha, melainkan Mia Ismed, Tuki, Mirnawati, dan Mang Tri, yang bercerita tentang keunikan dan daya tarik kuliner Kalimantan Selatan dan Bali.

Buku ini meski terdiri dari 15 penulis, kulinernya masih terpusat di daerah tertentu, seperti Sumatera Utara, Padang, Jawa, Kalimantan Selatan, dan Bali. Daerah lainnya belum dikupas dan mungkin suatu saat akan ada antologi jilid dua untuk kuliner daerah-daerah yang belum diceritakan di buku perdananya.

Buku ini modelnya gado-gado. Ada yang serius dan berupa opini yang dikombinasikan dengan pengalaman pribadi seperti tulisan pembuka karya Fauziah Rachmawati. Pada tulisannya yang berjudul Menghidupkan Kembali Makanan Tradisional pada Anak ini Fauziah mengusulkan memperkenalkan masakan tradisional sejak dini. Ia menerapkannya pada anak didiknya, dengan dilatarbelakangi niat untuk melestarikan kekayaan kuliner nusantara. Alasan lainnya yaitu dikarenakan masakan tradisional yang umumnya jauh lebih sehat dari segi bahan dan pemrosesannya.

Saya menyukai cara Fauziah mengajarkan ke anak didiknya cara membuat kue tradisional yang sederhana. Ia juga meminta anak-anak membawa makanan tradisional ke sekolah, lalu bercerita ke teman-temannya tentang nama makanan, asal makanan tersebut, rasanya, dan sebagainya. Cara pengenalan kuliner tradisional ke anak-anak yang kreatif.

Gaya menulis lainnya dalam antologi ini adalah semi fiksi dan juga gaya bertutur tentang pengalaman pribadi. Dari cerita kari ayam, pecel, seblak, anyang pakis, cingur dan sebagainya.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya ada empat penulis yang bercerita tentang aneka masakan yang jarang diulas dan memang belum pernah saya cicipi. Alhasil ketika membacanya, saya mencoba menebak-nebak bagaimana rasanya.

Favorit saya adalah tulisan Mia Ismed yang bernama asli Ngatmiyatun. Mia bercerita tentang kuliner unik dari Kalimantan Selatan. Oleh karena Kalimantan Selatan daerahnya kaya akan sungai dan juga merupakan daerah pesisir, maka hasil tangkapan ikannya berlimpah, baik ikan air tawar maupun ikan laut. Oleh masyarakatnya, ikan-ikan tersebut diawetkan dengan cara tradisional sehingga mampu bertahan hingga tahunan.

Salah satu jenis pengawetan adalah fermentasi seperti pada ebi dengan menambahkan garam dan nasi selama 7-10 hari hingga warna, tekstur, dan rasanya berubah. Ebi yang berubah menjadi ronto ini kemudian diolah menjadi sambal sebagai pengganti terasi. Saya bayangkan rasa ronto itu gurih, asin, dan masam dengan aroma yang khas.

Yang tak kalah unik adalah olahan cempedak. Di Kalimantan Selatan, buah cempedak yang seperti nangka cukup beken dan diolah dari daging, bijih, hingga kulitnya. Bahkan, harga asinan kulit cempedak cukup mahal dibandingkan buahnya.

Melengkapi artikel Mia Ismed, Tukinah bercerita tentang perkenalannya dengan Mandai, yaitu hasil fermentasi kulit cempedak yang kemudian dimasak dengan ditumis seperti oseng-oseng sayuran. Mandai itu berwarna kecokelatan, asin, dan masam dengan tekstur yang liat. Meskipun awalnya terasa aneh, Tuki merasa ketagihan setelah mengenalnya.

Lagi-lagi tentang Kalsel, kali ini tentang Ketupat Kandangan dimana disantap dengan ikan haruan atau gabus asap yang dimasak dengan santan kental. Cara Mirnawati mengulasnya membuat saya penasaran dan ingin mencobanya.

Untuk Bali, saya memang tidak asing dengan lawar. Namun Mang Tri alias Ni Nyoman Triwahyuningsih menceritakannya dengan detail dan menarik akan perbedaan lawar merah dan lawar putih juga bumbu-bumbu serta cara memasaknya. Mang Tri juga menjelaskan filosofi dari lawar dan mengapa lawar di Bali umumnya menggunakan babi, selain juga terdapat lawar daging ayam dan daging penyu.

Ehmmm…membaca ulasan Mang Tri, saya jadi pengin banget mencicipi lawar ayam dengan tipe lawar putih. Wah pastinya asyik menikmati keindahan alam Bali sambil bersantap dengan nasi hangat dan lawar putih ayam.

Antologi kisah makanan tradisional ini menarik. Sayangnya bukunya terlalu tipis hanya 100 halaman. Dalam kurun waktu kurang satu jam saya sudah melahapnya dengan habis. Desain covernya juga apik dan berkesan elegan, membuat saya ikut bangga menjadi salah satu penulisnya. Coba harganya lebih murah. Harganya yang berada di kisaran empatpuluhribuan menurut saya kurang sebanding dengan tebalnya buku. Tapi saya patut berterima kasih dengan penerbit Genom. Oleh karena buku ini menjadi inspirasi saya bersama-sama dengan rekan Kompasianer Penggila Kuliner untuk membuat lomba penulisan dan pembuatan antologi buku bertema serupa dengan cakupan daerah yang lebih luas.

Deskripsi Buku:

Judul Buku: Antologi Kisah Makanan Tradisional Indonesia
Penulis: Fauziah Rachmawati dkk
Penerbit: CV Genom
Tebal Buku: 100 halaman
Tahun Terbit: 2016
Jenis Buku: Kuliner
ISBN: 978-602-73881-8-5

 

 

Puspa

Saya suka membaca dan menulis apa saja.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Seorang pebisnis harus pandai menganalisa pesaing mereka, khususnya yang berada pada niche yang sama. Belajarlah dari kesuksesan termasuk dari kegagalan mereka
.
.
.
DOUBLE TAP IF YOU AGREE
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #analisamarketing #competitor #business #tipsbisnis #trendingpost

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top