Menulis Yuk

Quo Vadis Revolusi Karakter?

Quo Vadis Revolusi Karakter?

Sebuah Pendekatan Strategis, Meretas Jalan Revolusi Karakter Melalui Pintu Gerbang Pendidikan

Oleh:  Sudiarto, SE (Dzafin)

 

Plung…”, begitu kira-kira bunyi gelas plastik bekas jajanan es dawet yang dilempar seorang Ibu percis di depan saya.  Belum hilang kekagetan saya, tak berselang lama, suara “plung”  itu kembali terdengar.  Kali ini seorang remaja putri berjilbab rapi yang melemparkan plastik sisa es teh tak jauh dari motornya. “Ah…mungkin cuma si Ibu dan anak gadis itu saja yang berperilaku seperti itu”, bisik saya dalam hati.

Tidak berapa lama bel sekolah tanda pulang pun berbunyi, anak-anak berhamburan keluar kelas. Tukang-tukang jualan menjadi sasaran pertama mereka, dan saya kembali terhenyak ketika sebagian besar anak-anak itu melemparkan sampah bekas jajanan mereka tepat di pinggir motor orang tua mereka. Tak ada teguran disitu, tak ada nasihat disitu, bahkan yang membuat saya semakin miris, ketika seorang Ibu menyuruh anaknya untuk melempar sampah itu begitu saja di halaman sekolah, karena ia terburu-buru mengajak anaknya pulang.

Saya yang sedari tadi melamun, mulai menebar pandangan ke segenap penjuru halaman sekolah yang cukup luas itu.  “Astaghfirullaahal ‘adzim” ternyata baru saya sadari, ternyata sedari tadi saya dikelilingi oleh sampah-sampah bekas jajanan yang menyebar hampir merata di halaman sekolah.

Ya Allah…fenomena apa yang sebenarnya barusan saya saksikan. Memang hanya membuang sampah, itupun sampah kecil, tapi bagi saya bukan masalah besar kecilnya tapi perilaku membuang sampah sembarangan itu adalah masalah serius. Membuang sampah memang tampak  sepele namun sebenarnya merefleksikan sebuah pola pikir, sebuah budaya, sebuah kesadaran bahkan boleh jadi merefleksikan sebuah keyakinan. Sudah sedemikian rendahkah karakter bangsa ini?

 

Dunia Pendidikan Pintu Gerbang Revolusi Karakter

17 Agustus 1956, Bung Karno sudah lantang meneriakan pentingnya revolusi mental, tak ketinggalan Pak Jokowi, Mr. Simple Presiden yang juga menyuarakan kembali pentingnya revolusi mental untuk mengembangkan karakter bangsa ini menjadi lebih unggul dalam semua bidang kehidupannya. Namun apa lacur, karakter bangsa ini tak kunjung berubah, Quo vadis revolusi mental, quo vadis revolusi karakter? Tapi revolusi karakter harus tetap bergulir.

Lantas dari mana kita mulai menggulirkan bola salju revolusi karakter ini, Saya memilih dunia pendidikan sebagai gerbang untuk memulai titik perjalanan revolusi karakter bangsa ini.  Kenapa harus pendidikan? Karena pendidikan adalah media mengembangkan potensi otak, dan otak adalah alat berfikir, dan berfikir adalah alasan manusia ada. “Cogito Ergo Sum” , kata Rene Descartes.

Untuk sistem pendidikan yang mampu melahirkan manusia-manusia unggul saya sematkan nama   “Sistem Pendidikan Cendekia”. Nah…untuk berjalannya sistem tersebut paling tidak dibutuhkan lima pilar. Kurikulum cendekia adalah yang pertama, selanjutnya adalah profil guru cendekia, metode pembelajaran I’m Act, Prasyarat dan pengkondisian proses belajar, dan last but not least adalah sinergitas.  Berikut ini uraiannya.

  1. Konsep Kurikulum “Cendekia”

Kurikulum adalah “kitab suci” para pendidik, maka kurikulum sebagai panduan utama, harus menjadi sibgah (warna pencelup) untuk semua aktivitas pendidikan dari hulu sampai hilir. Uraian dari Konsep Kurikulum Cendekia adalah sebagai berikut:

  1. Memadukan tafakur dengan tasyakur
  2. Kemampuan Diferensiasi antara kebaikan dengan keburukan, ditindaklanjuti dengan memperjuangkan kebaikan itu
  3. Memiliki sikap kritis
  4. Memiliki empati dan spirit untuk menyebarkan kebaikan
  5. Memiliki keberanian dan hanya takut pada Tuhan
  6. Memiliki ketakwaan, kesalehan ritual dan sosial
  1. Profil guru

Setelah kurikulum usai dirangkai, maka persoalan berikutnya adalah masalah profil guru. Orang tua saya dulu sering mengatakan, guru itu “digugu jeung ditiru” artinya guru itu nasihatnya diikuti dan perilakunya ditiru. Nah…untuk mewujudkan kurikulum berbasis konsep cendekia tentunya diperlukan profil guru yang juga memiliki warna “cendekia”. Untuk itu diperlukan pelatihan secara gradual dan berkesinambungan untuk bisa mewarnai profil guru ini.

Dunia pendidikan di era modern ini membutuhkan guru yang bukan hanya sekedar menguasai materi, namun juga memiliki kemampuan inovatif, kreatif, berkepribadian  menarik, memiliki communication skill yang baik, dan terutama memiliki integritas yang baik.

Kita tentu tidak bisa berharap anak-anak kita tidak merokok bila sang guru dengan asyik mengepulkan asap di lingkungan sekolah. Kita juga tentu tidak bisa berharap anak-anak tidak membuang sampah sembarangan bila melihat gurunya melempar botol plastik bekas air mineral di halaman sekolah. Kita juga tidak bisa berharap memiliki anak-anak yang disiplin bila guru tidak datang tepat waktu, dan masih banyak ketidakmungkinan lainnya, bila sang guru tidak patut “digugu jeung ditiru

Namun demikian, seorang guru juga adalah seorang manusia yang memiliki banyak kebutuhan. Mulai dari kebutuhan dasar hingga kebutuhan aktualisasi diri.( Hierarchy neednya Maslow).  Nah…bila dunia pendidikan berharap memiliki profil guru yang berintegritas, maka penuhilah kebutuhannya. Jangan berharap memiliki guru yang berintegritas manakala dia sendiri masih dipusingkan dengan urusan-urusan kebutuhan hidup dasarnya.

Adalah tugas pemerintah dan pihak legislator untuk merumuskan dan mewujudkan kesejahteraan guru. Generasi Umar Bakrie adalah generasi guru zaman dulu. Guru yang dituntut berdedikasi tinggi namun miskin penghargaan. Guru yang harus menerima gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Guru di era sekarang tak mesti lagi disemati dengan gelar pahlawan itu , sekarang adalah eranya guru berdedikasi dengan standar gaji profesional.

  1. Metode Pembelajaran I’m Act

Sehebat apapun kurikulumnya, dan semumpuni apapun profil gurunya tidak akan cukup melahirkan generasi berkarakter bila tidak di dukung oleh metode pembelajaran yang menarik.

Seperti yang diuraikan dalam kurikulum cendekia bahwa para peserta didik harus mampu menjadi insan tafakur dan tasyakur, memiliki kemampuan diferensiasi, memiliki sikap kritis, empati, berani , memiliki kesalehan ritual dan sosial, serta bertakwa ,maka semua metode harus mampu mengarahkan peserta didik agar memiliki ke enam sikap dasar tersebut.

Metode pembelajaran “I’m Act” ini seperti namanya, mengajak siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran. Paling tidak ada 5 hal yang harus ada dalam metode pembelajaran I’m Act, yakni:

  1. Inovatif

Pada dasarnya setiap manusia menyukai hal yang baru, atau paling tidak, hal yang baru itu menimbulkan kepenasaran. Nah…metode pembelajaran yang baru yang merupakan hasil kreatifitas dari guru akan mengundang rasa penasaran peserta didik dan itu adalah modal awal untuk melanjutkan proses belajar mengajar. Bila di awal proses pembelajaran, peserta didik sudah enggan karena selalu diajak belajar dengan metode yang itu-itu saja tentu sulit diharapkan akan terjadinya proses belajar mengajar yang baik.

  1. More Challenge

 Metode pembelajaran di era modern ini memerlukan daya tantang yang tinggi. Murid akan lebih tertarik mengikuti pelajaran bila hal itu memberikan tantangan lebih kepada mereka. Menantang berbeda dengan menuntut. Menantang itu lebih pada membangkitkan potensi diri siswa sementara menuntut itu berkonotasi memaksa siswa untuk mengikuti keinginan gurunya.

  1. Actual

Metode pembelajaran yang tidak mengikuti perkembangan dan perubahan zaman tidak akan disukai oleh siswa. Siswa akan lebih tertarik bila metode pembelajaran sesuai dengan trend yang sedang mereka gandrungi. Metode pembelajaran yang aktual akan menempatkan siswa pada posisi dirinya sendiri, mereka seperti diberi peran untuk memerankan diri mereka sendiri dalam proses pembelajaran.

  1. Colorfull,

Metode pembelajaran yang memberikan keluasan wawasan akan membentuk karakter siswa menjadi open minded, kritis, sekaligus empati, dan menghargai perbedaan. Metode ini juga cukup efektif untuk mengajarkan kebinekaan yang mulai luntur di masyarakat kita.

  1. Take the risk

Setelah siswa tertarik, tertantang, merasa jadi diri sendiri, dan disuguhi keanekaragaman maka pada akhirnya metode pembelajaran harus mampu menuntun siswa untuk berani mengambil sikap dengan penuh tanggungjawab sesuai dengan materi pelajaran yang diberikan.

  1. Prasyarat proses pembelajaran

Setelah kurikulum Cendekia ditetapkan, diikuti peningkatan profil guru, dan penentuan metode belajar I’m Act, selanjutnya yang tidak kalah penting adalah tersedianya fasilitas dan kondusifitas proses pembelajaran itu sendiri.  Untuk menjalankan metode pembelajaran I’m Act diperlukan alat-alat peraga yang sebenarnya bisa disiapkan secara mudah bila guru dan murid cukup kreatif yaitu dengan  menggunakan alat-alat bantu sederhana yang ada di sekitarnya.

Selain alat peraga, kondisi lingkungan pada saat proses belajar juga sangat menentukan. Proses belajar di lingkungan terbuka yang lebih dekat dengan suasana alam akan sangat membantu meningkatkan minat siswa, maka mesti diagendakan pelaksanaan proses belajar di luar kelas.

  1. Komunikasi membangun sinergitas

Hal yang tak kalah penting dalam keberhasilan proses belajar membentuk manusia berkarakter adalah sinergitas. Sekolah atau guru tidak bisa menjalankan sistem pendidikan sendirian. Guru membutuhkan orang tua siswa, juga membutuhkan peran serta lembaga pendidikan non formal. Selian itu peran unit kegiatan ekstrakurikulerpun sangat diperlukan untuk mengisi kekosongan kegiatan setelah belajar di kelas.

Begitulah, saya asyik dengan renungan saya sendiri, hingga tiba-tiba kembali terdengar suara itu “plung”. Kutoleh ke belakang, ah…ternyata itu suara anak saya membuang kotak bekas minum susu cokelatnya ke keranjang sampah. Alhamdulilah

Daftar Pustaka :

  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1990
  • Rakhmat, Jalaluddin, DR., Islam Alternatif ‘Ceramah-ceramah di Kampus’, Bandung, Mizan, 1994
  • Rakhmat, Jalaluddin, DR., Islam Aktual ‘Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim’, Bandung,  Mizan, 1996
  • Widjayakusuma, Karebet, M., Be The Best not be “asa”, Depok, Gema Insani, 2007
  • Website : kemenperin.go.id, Membangun Jiwa Merdeka Menuju Bangsa Besar, 2017

.

 

 

Image source: pixabay.com

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Yuhuu ikutan yuk...lumayan banget nih hadiahnya ! #Repost @ifisinema (@get_repost)
・・・
Ikuti #Mygeneration Experience Quiz
Hadiah Rp.5.000.000,- untuk 1 orang Pemenang!
.
Caranya:
.
1. Repost/Regram foto di atas
2. Tag, Mention dan Follow akun instagram @IFISinema @Mygenerationfilm
3. Click link di bio akun @IFISinema
4. Ceritakan secara singkat pengalaman paling konyol kalian bersama para sahabat dalam 1 paragraf caption
5. Ajak 1 orang teman kamu untuk turut berpartisipasi dalam kuis
6. Gunakan hashtag #mygeneration #mygenerationfilm #meversustheworld #ekspresimillennial #IFISINEMA
7. Jangan Private akun IG agar postingan bisa kami nilai
8. Pemenang diumumkan pada tanggal 4 Oktober 2017 di akun instagram @IFISinema @Mygenerationfilm
.
Contoh:
Pengalaman paling konyol gue dan para sahabat adalah ngumpet di kuburan sampe maghrib gara-gara ngindarin guru yg lagi razia siswa bolos.
.
Ayo @tag1orangtemankamu ikut partisipasi di kuis ini, caranya bisa dilihat di akun instagram @IFISinema @Mygenerationfilm
.
#mygeneration #mygenerationfilm #meversustheworld #ekspresimillennial #IFISINEMA #filmindonesia #filmbioskop #teenlife #serbakuis #giveaway

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top