Opini

Berlapar-lapar Dahulu, Berfoya-foya Kemudian

Bicara soal ramadhan, sama kah dengan yang saya alami juga dialami kalian? Yaitu, kehabisan bahan masak saat berbelanja atau antri beli makanan-camilan-minuman karena HEBOH ramadhan. Hal ini saya alami dimana-mana loh, dari waktu kecil sampai saya menikah tinggal di Jakarta Selatan dan sekarang di Depok.

Masih ingat betul, waktu saya kecil ketika membeli es kelapa harus dimulai dari pukul empat sore, kalau tidak antriiiii… atau lebih runyamnya kehabisan. Lalu saat tinggal di Jakarta Selatan kalau belanja ke tukang sayur telat sedikit saja dijamin..ludesss. Kini tinggal di Depok hal itu juga saya alami, tidak hanya kehabisan di tukang sayur langganan, tapi kehabisan di..mini market!

Awal puasa saya mau beli persediaan bahan makanan yang simpel untuk  diolah saat sahur. Tujuan saya ke mini market yang tidak jauh dari rumah untuk membeli ayam. Ayam simpel banget kan, diungkep-simpan kulkas-begitu butuh tinggal goreng. Selain ayam, mau beli sayuran yang gampang diolah, seperti kangkung , pokcoy atau bayam.

Sekitar jam sepuluhan tetangga ngajak ke  mini market, tapi saya memilih untuk berbelanja agak sore dan teryata….trantam! Sekitar dua jam kemudian tetangga balik denga info mengejutkan: Antri parah dan semua bahan-bahan di mini market tersebut (sayur mayur-daging-telur) ludes alias habis. Kondisi mini market yang biasanya nyaman berubah menjadi pasar tradisional yang padat. Saya jadi ingat ramadhan tahun lalu di Depok, karena sudah melewati dua ramadhan…ternyata masih tetap sama.

Akhirnya untuk sahur ramadhan pertama saya cuma beli 1kg telur di agen telur dekat rumah- sahur tanpa sayur hanya barlauk telur. Baru besok paginya saya belanja seperti biasa, menunggu tukang sayur langganan lewat depan rumah. Rencana hari ini untuk berbuka masak sayur bening, bakwan jagung, tempe dikecapin dan telur balado, camilannya kolak lengkap-buat sahurnya ayam ungkep. Tapiiii…jagung habis, isi kolak cuma ada kolang kaling-labu parang, tempe,ayam habis.

 “Puasa apa aja laku,” kata tukang sayur bernama Tuti yang berusia masih belia.

Sorenya sekitar pukul 5 sore, suami mencari gorengan, hasilnya… HABIS! Ampun, padahal biasanya tukang gorengan berbaris di jalan menunggu pembeli dengan bertumpuk-tumpuk gorengan yang kadang sudah tidak panas lagi. Inilah fenomena ramadhan!

“Nafsu lapar itu seperti raksasa, ketika perut belum terisi semua yang dilihat ingin dilahap, itu nafsu. Padahal ketika sudah sedikit saja kenyang, yang lezat pun terasa biasa…” itu ucapan Bapak saya dulu, ketika saya masih kecil.

Pada kenyataannya memang begitu, setiap bulan ramadhan seolah ada fenomena: Apa yang dijual pasti laku asal bisa dimakan. Lihatlah pejual lauk di pinggir jalan atau jajanan dadakan yang kalau ramadhan datang berbaris menyemut di sepanjang jalan. Jalan yang kalau bukan ramadhan sepi-sepi saja, antri yang beli… rasanya? Banyak yang bikin kapok-pok alias tidak enak sama sekali, kadang kolak keenceran-gorengan hanya berasa metcin. Tapi ttetap banyak yang antri. Kadang saya bertanya, itu yang beli beda-beda atau orang puasa bikin lihat apa saja jadi berubah lezat?

So?

Yaaa, jadi seperti ucapan yang pernah Bapak saya katakan..NAFSU LAPAR ITU SEPERTI RAKSASA. Kita bisa menjadi manusia yang rakus, boros, dan serakah. Membeli apa saja yang terlihat oleh mata, padahal apa tujuan berpuasa?

Puasa untuk membentuk pribadi Muslim yang bertakwa kepada Allah. Yakni, mengerjakan semua perintah Allah, dan menjauhi semua yang dilarang Allah (surah Al-Baqarah [2]: 183)

Mungkin.. mungkin saja- ehmm..saya berandai-andai jika berpuasa kita tetap seperti sehari-hari ketika mengolah menu, membeli sesuatu untuk dimakan, bisa jadi fenomena HARGA NAIK di bulan ramadhan tidak ada. Coba, walau harga naik kalau pembelitnya standart saja, apakah harga akan bertahan naik? Setidaknya kalau naik tidak terlalu boom-lah.

Lihat saja, tukang sayur yang sehari-sehari sebelum ramadhan dengan harga standart dagangannya bersisa-sisa, tapi begitu ramadhan dengan harga selangit-perbandingan ayam yang biasanya Rp.40.000.- jadi Rp50.000.- , kok malah ludes-laris???

Kita boleh saja membuat menu yang lebih istimewa di saat bulan ramadhan, seperti kolak yang biasanya tidak ada di meja makan, jadi ada. Selain kolak menjadi hidangan yang ‘mendadak’ ada fungsinya jelas, menu yang manis memang dianjurkan saat berbuka untuk menambah tenaga, apalagi dihidangkan hangat-hangat sebagai pembuka hidangan awal.

Namun jangan sampai memaksakan diri mengadakan yang tidak ada atau bermewah-mewah karena nafsu lapar yang mempengaruhi.

Rasanya kalau kita terlalu berlebihan di bulan ramadhan yang mana juga tujuannya merasakan laparnya fakir miskin, ini sangat tidak pas. Kita hanya berlapar-lapar sehari, lalu berfoya-foya begitu  buka.

Image source: pixabay.com

Eni Martini

Ibu 3 anak, penulis novel fiksi, blogger dan owner bliblibuku.com

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Merdeka itu berani beragam dan bekerja sama. Kemerdekaan itu adalah Kerja Bersama.

Dirgahayu Indonesia ke-72. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Merdeka !

#hutri72 #kemerdekaan72 #kemerdekaanRI72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top