Opini

Protes Hanya untuk Sepotong Daging Sapi?

SEBAB harganya yang mendadak melangit, si daging sapi tempo hari menjadi buah bibir. Kerap diperbincangkan oleh banyak kalangan. Nge-hits! Hmmm. Pokoknya enggak kalah tenar dari Raisha, deh. Dibahas di mana-mana.  Bahkan dalam urusan bikin puyeng pejabat terkait, Raisha kalah dengan daging sapi.

Anda pasti sudah amat mafhum kalau harga daging sapi, pada hari-hari menjelang Ramadan lalu, tiba-tiba menggila. Dari yang semula di bawah seratus ribu rupiah per kilogram, kemudian menjadi jauh di atas angka seratus ribu itu. Ada yang harganya Rp120.000,00 per kilogram. Ada pula yang sampai menyentuh angka Rp189.000,00 per kilogram.  Dahsyat sekali, ya?

Namun tadi pagi, dari berita radio saya tahu bahwa harga daging sapi telah turun.  Kisaran harganya sudah berada pada angka Rp85.000,00 per kilogram. Rupanya dengan berbagai daya upaya, pemerintah berhasil menormalkan harga daging sapi.

Dari berita radio itu pula kudengar, seorang pejabat terkait menjawab wawancara dengan nada suara ceria. Mungkin sang pejabat sedang merasa lega selega-leganya karena sudah berhasil memenuhi permintaan Presiden Joko Widodo. Yakni permintaan untuk menurunkan harga daging  sapi.

Hmm. Meskipun bukan pejabat terkait, saya juga ikut lega. Mengapa? Sebab saudara-saudara sebangsa dan setanah air saya, yang kehidupan sehari-harinya tak lepas dari daging sapi, menjadi lenyap galaunya. Mau galau dengan alasan apa lagi? “Kan harga daging sapi sudah kembali terkendali?

Jujur saja, hilangnya kegalauan mereka itulah yang bikin hati ini lega. Jika kegalauan rakyat hilang, maka potensi kerusuhan dapat dinolkan. Berarti situasi negeri kembali tenang. Saya juga bisa menjalani hidup dengan tenang. Kalau soal harga daging sapi yang kembali terjangkau, saya enggak terlalu peduli. Toh mahal atau murah, saya tak pernah beli daging sapi.

Sebagai warga masyarakat dari golongan ekonomi menengah ke bawah, saya memasak daging sapi hanya pada saat Idul Qurban. Biasalah. Menunggu pembagian daging dari masjid. Kalaupun ingin menikmati rendang di luar momentum Idul Qurban, cukuplah beli sepotong saja di warung padang terdekat. Menurut kalkulasi saya, cara tersebut jauh  lebih irit daripada beli daging sapi mentah dan mesti mengolahnya  sendiri.

Pendek kata, isu-isu seputar daging sapi terasa kurang seksi bagi saya.  Istilahnya, enggak ngaruh buat saya. Kalau kemudian saya menjadi peduli dan berminat membahasnya dalam tulisan ini, penyebabnya jelas. Yaitu… saya merasa terganggu dan dimanfaatkan. Lho? Terganggu bagaimana? Dimanfaatkan oleh siapa?

Begini. Saya merasa terganggu sebab pada masa-masa awal kenaikannya, berita daging sapi menjadi booming. Saya bukanlah konsumen setia daging sapi. Bahkan saat Ramadan dan Idul Fitri, saya dan keluarga tak punya tradisi menyiapkan hidangan berbahan dasar daging sapi. Hidangan lebaran kami yang paling istimewa ya opor ayam yang disubal telur. Alasannya, ayam dan telur jauh lebih murah harganya.

Maka sebetulnya saya sedikit kesal kepada pemerintah. Mengapa pemerintah mesti tergopoh-gopoh untuk melakukan impor daging sapi demi menstabilkan harga? Untuk persoalan yang konsisten ada pada tiap tahun begini, mengapa tak dipikirkan sebuah solusi jangka panjang dan bersifat antisipasif? Ih, bikin gemas saja.

Saya pikir, kalaupun harga daging sapi melejit sekian lama, toh tidak apa-apa. Bukankah konsumennya rerata orang berduit? Adapun orang berduit itu, dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun tetap mampu membeli sesuatu, kok. Hanya saja, kalau dulunya mampu membeli 5 kg, mungkin karena mahal menjadi hanya mampu beli 2 kg. Tapi tetap mampu toh?

Ah, entahlah. Tulisan ini memang berdasarkan sudut pandang pribadi. Tapi saya yakin, ada banyak orang yang senasib sepenanggungan dengan saya dalam hal perdagingsapian. Hanya saja, mereka tak berani atau tak berkesempatan untuk menyampaikan uneg-unegnya.

Pada akhirnya, saya merasa curiga kepada Menteri Susi. Jangan-jangan beliau diam-diam sedang merasa kesal kepada Presiden Jokowi. Mengapa Pak Presiden ngotot untuk segera menurunkan harga daging sapi? Mengapa tidak menawarkan solusi lain selain mengimpor daging sapi? Misalnya saja meminta rakyat Indonesia untuk berkreasi dengan aneka olahan berbahan dasar ikan saat lebaran nanti. Nah, lho. Bukankah cara begitu malah bisa menyukseskan Program Cinta Makan Ikan punya Menteri Susi?

 

 

Image source: pixabay.com

Agustina Soebachman

Perempuan biasa saja. Namun, berusaha aktif membaca dan menulis demi perbaikan diri.

Latest posts by Agustina Soebachman (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Dengar, dengar dan dengar.... Anda dihargai bukan krn bicara Anda yang banyak, tetapi dari seberapa perhatian Anda mendengarkan orang lain.

#Repost @gmsusanto (@get_repost)
・・・
Hanya karena anda paling jago dlm bidang tertentu bukan berarti menganggap audience anda itu bodo semua.

Kita tidak perlu mengeluarkan semua jurus yang kita kuasai hanya utk membuat mereka terkesan.

Kt punya 2 telinga dan 1 mulut, dengarkan lebih banyak, bicara secukupnya. Ini bukan panggung anda!

Anda tidak dihargai hanya krn mengerti segalanya, audience anda menaruh respek kepada anda karena anda bisa menaruh hormat kepada mereka.

Terkadang mereka hanya ingin didengar dan anda mendengarkan saja.

Dan ingat, tdk semua audience dijadikan 'mangsa' jualan anda.

Terlalu kecil jika anda mengukur kesuksesan anda dg seberapa byk yg mereka bisa beli dari anda.

Belajarlah mendengar my friends😊

#digitalcommunicator
#smartselling
#onlinecoach
#digitalmarketing
#affiliatemarketing
#internetmarketing
#pemasaranonline
#newsnipermarketing
#snipermarketingonline
#digitalmarketingmotivation
#bisnisinternet
#startingupbusiness
#digitalentrepreneur
#dailyentrepreneur
#serialentrepreneur
#onlinebusiness
#onlinemarketing
#laptoplifestyle
#bekerjadimanasaja
 #financialfreedom

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top