Menulis Yuk

Promosi Wisata Ternate Yang Harus Berbenah

Selfie dengan latar Danau Ngade dan P. Maitara memang eksotik. (dok. pribadi)

Selfie dengan latar Danau Ngade dan P. Maitara memang eksotik. (dok. pribadi)

Event “Total Solar Eclipse” (Gerhana Matahari Total) banyak memberi pelajaran berharga kepada kita. Sebagaimana penulis dan Tim Laskar Gerhana Matahari alami kemarin di Kota Ternate, Prov. Maluku Utara. Selama 3 hari (9-11 Maret 2016) backpacking ke Ternate sungguh tidak ada ruginya. Pemandangan yang luar biasa Kota Ternate yang terhampar di ‘kaki’ Gunung Gamalama seolah tiada matinya. Seluruh destinasi wisata yang penulis datangi memberi kesan ‘wah’. Indah dan begitu mempesona.

Masjid Raya Point, titik favorit bagi para diver pemula. (dok. pribadi)

Masjid Raya Point, titik favorit bagi para diver pemula. (dok. pribadi)

Potensi alam, baik daratan dan pantai/perairan yang dimiliki Kota Ternate cukup banyak. Sebagai kota kepulauan terdapat 8 pulau di bawah wilayah administrasi Kota Ternate yaitu: P. Ternate, P. Hiri, P. P. Moti, P. Mayau, dan P. Tifure yang berpenghuni. Sedangkan pulau yang tak berpenghuni meliputi: P. Maka, P. Mano, dan P. Gurida yang saat sebagian kecil lahannya dimanfaatkan untuk tanaman kopi. Semua pulau di Kota Ternate tersebut sudah terkenal dengan keindahan pantainya. Termasuk beberapa spot untuk diving (selam) yang sudah dikenal oleh wisatawan manca negara.

Benteng Kalamata dengan latar belakang Gunung Tidore. (dok. pribadi)

Benteng Kalamata dengan latar belakang Gunung Tidore. (dok. pribadi)

Sementara di Pulau Ternate sendiri, destinasi wisata cukup lumayan banyak. Semuanya memiliki keistimewaan untuk para pecinta/penghobi fotografi. Tak pelak, beberapa lokasi cukup sering digunakan sebagai lokasi pemotretan pre-wedding. Sebagaimana cerita beberapa orang penjaga destinasi tersebut kepada penulis. Lokasi itu meliputi: Benteng Tolukko, Benteng Kastela, Benteng Kalamata, Pantai Sulamadaha, Danau Tolire, maupun lingkungan Kedaton (Keraton) Kesultanan Ternate. Di awal tahun 2016 ini Pantai Falajawa, Benteng Fort Oranje, dan Danau Ngade menjadi primadona baru untuk spot photo event atau photo contest.

Fort Oranje plus laskar Oranje-nya. (dok. pribadi)

Fort Oranje plus laskar Oranje-nya. (dok. pribadi)

Bagi pecinta olah raga selam, spot Masjid Raya (Masjid Apung) menjadi favorit sebab paling mudah dijangkau. Disamping itu, ada tiga titik selam lain yang bisa dikunjungi yaitu: Tanjung Hole Point, Pelabuhan A. Yani Point, dan Floridas/Santo Pedro Point. Tempat penyewaan peralatan selam sudah bisa dijumpai di sekitar kota ternate. Tapi menurut Ikky, driver kendaraan penulis, spot Masjid Raya banyak menjadi pilihan sebab dekat dengan tempat sewa alat selam. Disamping, tingkat kedalaman yang cukup variatif, sehingga lebih nyaman bagi diver (penyelam) pemula.

Oh ya, selain tempat-tempat yang telah saya sebutkan di atas, masih ada beberapa destinasi wisata lain di P. Ternate. Destinasi tersebut diantaranya adalah Benteng Kota Naka, Benteng Gam Lamo, Benteng Talagame, Benteng Willyam Star, Danau Tolire, Danau Laguna, Pantai Bobane Ici, Pantai Tobololo, Pantai Jikomolamo, Pantai Dorpedu, Batu Angus, Gereja Santo Wilibrordus, serta Masjid Raya Al Munawaroh dan Taman Nukila. Masing-masing memiliki kekhasan yang dapat kita peroleh pada titik-titik tertentu.  Apalagi ditunjang dengan jalan cukup mulus yang menghubungkan satu destinasi dengan destinasi wisata lainnya.

 

Promosi Wisata ‘Kurang Kencang’

Berjibunnya lokasi wisata yang ada, tentu menjadi potensi kekayaan yang luar biasa bagi pemerintah kota setempat. Namun sayangnya, greget dari para wisatawan rupanya kurang diimbangi dengan kesungguhan pemerintah untuk segera berbenah. Sebagaimana yang kami jumpai di Bandara Sultan Babullah (8/3) kemarin. Momen TSE/GMT yang banyak diburu oleh para wislok maupun wisman ternyata berbanding terbalik dengan ‘sambutan’ dinas terkait. Sepinya sambutan di satu-satunya bandara komersial di Maluku Utara sempat membuat kami prihatin.

maitara

Memandang P. Maitara (sisi mata uang kertas Rp. 1.000,-) di petang hari. (dok. pribadi)

Jangankan wisatawan disambut dengan karangan bunga, mencari pusat informasi wisata di seputaran bandara saja kesulitan. Menurut salah seorang wartawan yang penulis temui, alasannya sih karena walikota terpilih barusan dilantik. Hari Senin (7/3), Burhan Andurahman, walikota Kota Ternate baru datang dari Jakarta. Jadi memang kurang ada persiapan.

“What…?” Penulis dan Melanie Soebono yang serombongan pun sempat terperangah.

“Terus ngapain saja aparat di bawahnya. Ngapain saja tuh Dinas Pariwisata-nya. Apa nggak ada orang yang becus ngurus event segede ini? Ini event dunia lho. Asli gila!” Dengan penuh keheranan Melanie tanyakan itu kepada mas wartawan tersebut.

Penulis (kiri) bersama Ofa (Pangeran) Hidayat di Kedaton Kesultanan Ternate. (dok. pribadi)

Penulis (kiri) bersama Ofa (Pangeran) Hidayat di Kedaton Kesultanan Ternate. (dok. pribadi)

Ya, kenyataan memang demikian yang kami temui. Dengan kekepoan kelas berat, saya mencoba akses situs resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Maluku Utara, setali tiga uang. Ternyata situs yang tidak up to date tersebut sama sekali tidak menunjukkan ucapan selamat datang atau apalah menyambut GMT. Padahal 2 kota menjadi jujugan para wisatawan dan peneliti yaitu Kota Ternate dan Maba (Kab. Halmahera Timur). Sebab diperkirakan di 2 kota tersebut, puncak GMT (9/3) akan mencapai durasi terpanjang.

Saat bertemu pasangan turis Swiss di Masjid Raya, penulis sempat berbincang kepada mereka. Tanggapan seputar keindahan Ternate dan Tidore (yang sudah mereka kunjungi) sangat bagus. Sayang mereka kurang mendapatkan informasi yang utuh tentang potensi wisata di Ternate. Belum lagi transportasi yang terhitung ‘mahal’ menurut mereka.

Sewa motor sehari Rp. 150.000,-. Padahal di Bali, cukup dengan Rp. 50,000,- mereka sudah dapatkan motor yang bagus. Bahkan kalo sewa lebih dari 4 hari, bisa dapat diskon lagi. Petunjuk ke lokasi wisata pun masih minim, sehingga mereka harus tanya ke sana ke mari. Hotel yang mereka sewa pun mematok tarif yang cukup mahal menurut mereka.

Kemudian saya bandingkan hotel yang kami tempati. Dengan tarif Rp. 375.000,- semalam (menurut penulis kualitas losmen melati 4 atau hotel bintang 1 di Bali, Bandung, Yogya, atau Surabaya) kondisi kamar cukup ‘memprihatinkan’. Mungkin ini salah satu alasan para backpacker lebih memilih losmen atau hotel kecil di seputara Kota Ternate. Cukup dengan Rp. 250.000,- (bisa nego) mereka sudah dapatkan kamar dengan fasilitas hotel ‘beneran’. Kamar mandi dalam dengan fasilitas air panas, ber-AC, free breakfast, dan pemandangan yang bagus di seputaran hotel.

Makan siang di salah satu rumah makan di Kota Ternate. (dok. pribadi)

Makan siang di salah satu rumah makan di Kota Ternate. (dok. pribadi)

Pemandu wisata di destinasi wisata yang ada juga sebaiknya disediakan. Jika memang anggaran yang tersedia belum ada, bisa disiasati dengan menarik retribusi yang wajar. Toh seperti di Batu Angus atau di Danau Tolire, para pengunjung dikenakan ‘retribusi desa’ sebesar Rp. 15.000,-/orang. Meski mahal, tetap harus kami bayar. Meski penulis sempat sampaikan saran ke salah seorang petugas penarik retribusi, kiranya disediakan brosur atau lembaran informasi seputar tempat tersebut. Paling tidak dari pemerintah setempat, menyiapkan brosur seputar destinasi yang ada di sekitar Kota Ternate.

Demikian juga untuk penyedia jasa operator seluler atau penyedia data. Di Kota Ternate, internet hanya bisa diakses melalui Telkom dan Telkomsel (operator seluler GSM). Ini tentu membatasi ‘ruang gerak’ para wisatawan. Ini menjadi catatan juga bagi para wisatawan yang hendak datang ke Ternate atau Maluku Utara. Kondisi media darling diperparah dengan penyediaan informasi yang minim dan kurang ‘kekinian’. Baik dari situs Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Maluku Utara, maupun dari Pemkot Ternate, websitenya hendaknya dikelola dengan lebih profesional. Sehingga para wisatawan tidak ragu-ragu untuk memperoleh informasi yang mereka butuhkan saat akan berkunjung ke Maluku Utara, khususnya ke Kota Ternate.

Nah, menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tentu kondisi tata kelola potensi wisata tersebut tentu sangat disayangkan. Ketika negara tetangga sudah ‘selamat datang’ beneran menyambut para wisatawan manca, yang di sini masih tertatih-tatih dalam memberikan sambutan. Ungkapan realistis dari sebagian para pelancong kita hendaklah menjadi cambuk. Ungkapan berwisata ke Indonesia bagian timur lebih mahal daripada ke Singapura memang demikian adanya.

Bagaimana daya upaya yang sungguh-sungguh agar daerah menyiapkan seluruh infrastruktur wisata dengan baik. Buatlah hitungan yang ekonomis bagi wisatawan yang akan berkunjung. Sehingga dengan biaya yang ekonomis serta penunjang yang baik tentu wisatawan juga tak akan ragu-ragu untuk datang. Bagaimanapun lebih banyak wisatawan yang menghitung secara ekonomis, dibandingkan wisatawan yang murni berburu destinasi bagus.

Mas Nuz

Pecinta keluarga yang kadang suka nulis dan jalan-jalan.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Good morning, sahabat Indoblognet 😁 Jangan lupa siapkan amunisi (sarapan) terbaikmu pagi ini, supaya aktivitasmu kuat dan semangat 💪🏃
.
Guys, tau gak siiih, postingan yang mengandung unsur pertanyaan, lebih besar kemungkinannya untuk direspon dibandingkan postingan non question, lho 😄
.
Hihi, iya juga sih, kita seringkali "tergelitik" untuk ikut menjawab pertanyaan yang diajukan, ya 😂 Apalagi kalau pertanyaannya memang "mancing" banget 😅
.
Jadi, salah satu tips nih guys, kalau kamu pingin bikin postingan yang lebih direspon, buatlah postingan question posts 😉
.
#mbcommunication #indoblognet #morning #tuesday #instagram #instadaily #viral #followme #tips

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top