Agama

7 Rambu Utama dalam Pergaulan Muslimah

Di era yang serba terbuka seperti saat ini, pergaulan antar manusia juga begitu terbuka. Saking terbuka seringkali batas-batas norma sosial terkadang begitu absurd. Begitu juga pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Batas-batas mahram menjadi sesuatu yang tidak begitu diperhatikan. Apalagi jika berada di lingkungan profesional. Dengan alasan karena tuntutan pekerjaan, dua orang berlainan kelamin yang bukan mahramnya melakukan perjalanan jauh bersama.

Padahal seluruh aktivitas muslimah tersebut telah ada rambu-rambunya. Oleh karena itu, ada baiknya kita perhatikan rambu-rambu pergaulan utamanya bagi muslimah. Rambu-rambu yang tertera secara cukup gamblang di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Meski sangat disayangkan, hal tersebut seringkali diabaikan. Padahal rambu itulah yang mencegah kaum muslimah tertimpa perbuatan keji dan munkar.

Lalu seperti apakah Al-Quran dan As-Sunnah mengatur pergaulan muslimah baik dalam pergaulan sosial atau profesional? Berikut ini tujuh (7) rambu utama yang seharusnya diperhatikan, dipahami, serta diamalkan oleh kaum muslimah:

  1. Urusan Pakaian.
  2. Urusan Pandangan
  3. Urusan Suara
  4. Urusan Bercanda
  5. Urusan Wewangian
  6. Urusan Jabat Tangan
  7. Urusan Bepergian

Urusan Pakaian

Pergaulan di luar rumah tempat berlindungnya, muslimah jelas disyaratkan untuk menutup auratnya secara penuh. Hal ini sebagaimana perintah Allah Ta’ala dalam TQS Al Ahzab: 59.

Urusan Pandangan

Islam jelas sangat mengatur tentang bagaimana kita saling mengedarkan pandangan. Ghadul bashar (menjaga pandangan) dalam pergaulan menjadi salah satu pilar keamanan diri dari seorang muslim/muslimah. Perintah menjaga pandangan bagi kaum laki-laki termaktub dalam TQS An Nuur: 30.

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya…”

Sementara untuk kaum perempuan, termaktub dalam TQS An Nuur:31.

Katakanlah kepada perempuan yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya…”

Menahan pandangan dalam kaidah fikih bukan berarti harus menundukkan kepala terus-menerus, atau malah memalingkan muka. Namun bagaimana seorang muslim atau muslimah saat berbicara tidak memandang lawan bicara (yang berlawanan jenis) dengan pandangan lekat-lekat. Bahkan sampai dilakukan dengan berulangkali. Sehingga menimbulkan rasa ketertarikan secara seksual yang tidak sewajarnya.

Jadi kalau sekedar melihat untuk menghormati lawan biacara tentu dibolehkan.

Urusan Suara

Para ummul mukminin masih berbicara (dengan suara yang jelas) untuk urusan perdagangan maupun urusan dakwah. Sebagaimana Rasulullah Saw. juga masih menjawan pertanyaan-pertanyaan para sahabiyah, dapat disimpulkan bahwa suara perempuan bukanlah aurat. Namun suara tersebut sebatas dalam pembicaraan yang normal serta penuh kesopanan. Bukan suara yang keras atau dikeraskan yang tidak ada kepentingan dalam hal dakwah atau untuk urusan kebaikan lainnya.

Hal tersebut akan menjadi kebalikannya jika suara yang dimunculkan oleh muslimah tersebut penuh nada merayu nan mendayu-dayu. Oleh karena itu sebagian ulama menyatakan bahwa nyanyian perempuan yang mendesah dan mendayu-dayu serta memancingan rangsangan syahwat haram hukumnya. Hal ini sejalan dengan larangan Allah Ta’ala yang tertuang dalam TQS Al Ahzab: 32).

…maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.

Maka jelaslah jika suara seorang muslimah yang dengan sengaja dibuat untuk menarik perhatian lawan jenisnya itu dilarang. Seharusnya pula perbuatan tersebut dihindari.

Urusan Bercanda

Rasulullah menyukai candaan, tapi candaan yang beliau lakukan tidak berisi kebohongan. Apalagi berupa lawakan yang sangat tidak bisa dipertanggugjwabkan kebenarannya. Hal ini sebagaimana kisah dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Ya Rasulullah, sungguh engkau sering bergurau bersama kami.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Tapi, sungguh aku tidak mengatakan kecuali kebenaran.”

Hal ini sebagaimana pernah diperlihatkan Rasulullah saat ‘menggoda’ seorang perempuan tua. Beliau mengatakan bahwa di surga tidak ada perempuan tua. Mendengar perkataan beliau, sang wanita tua itu menangis sejadi-jadinya. Karena menurut perkiraannya, dia tak mungkin masuk surga. Padahal Rasulullah Saw. memang benar adanya. Semua yang masuk surga akan kembali muda sebagaimana dinyatakan Allah Ta’ala dalam TQS Al Waqiah: 35-36.

Urusan Wewangian

Sejak dari dini Rasulullah Saw. sudah mengingatkan kepada kaum muslimah agar tak menggunakan. Apalagi wewangian (parfum) tersebut mengandung aroma yang menyengat dan bertahan lama. Wangi yang bisa mengundang syahwat lelaki inilah yang dilrang oleh beliau. Sebagaimana sebuah hadis yang diriwayatkan oleh An Nasai, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad.

Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.

Bahkan dalam riwayat lainnya, Rasulullah Saw. pernah menyuruh seorang sahabiyat yang menggunakan parfum untuk mandi besar. Mandi besar sebagaimana seorang yang berhadas besar. Hal itu semata-mata untuk menghilangkan bau wewangiannya. Hal ini sebagaimana dikisahkan dalam hadis riwayat Ahmad.

Perempuan manapun yang memakai parfum kemudian keluar ke masjid, maka shalatnya tidak diterima sehingga ia mandi.

Namun demikian bukan berarti seorang muslimah tidak boleh menggunakan parfum. Bau badan yang tidak baik pun tentu akan menganggu pergaulan. Maka menutupinya dengan wewangian yang tak menyengat baunya dan harumnya sebentar saja. Deodoran atau bedak yang sekedar menghilangkan bau badan tentu dianjurkan. Sebab siapapun pasti tak akan suka dengan bau badan yang tak sedap, sebagaimana sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi.

Wewangian seorang laki-laki adalah yang tidak jelas warnanya tapi tampak bau harumnya.Sedangkan wewangian perempuan adalah yang warnanya jelas namun baunya tidak begitu nampak.

Urusan Jabat Tangan

Dalam pergaulannya, Rasulullah Saw. sudah memberikan contoh bahwa beliau tidak berjabat-tangan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Ini sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam salah satu hadisnya.

Dari Aisyah radhiallahu’anha (istri Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam), beliau menceritakan tentang baiat kaum wanita (mukminah) kepada RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sama sekali tidak pernah menyentuh seorang wanitapun dengan tangan beliau, tapi beliau mengambil baiat wanita (dengan ucapan saja dan tanpa berjabat tangan), setelah membaiat wanita, beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda kepadanya: “Pergilah, sungguh aku telah membaiatmu”.

Namun beliau hanya pernah sekali beliau digandeng oleh seorang budak perempuan. Namun budak perempuan sudah tua dan tak memiliki hasrat kepada laki-laki. Demikian juga untuk kondisi-kondisi darurat karena untuk urusan-urusan kemanusiaan. Semisal operasi penyelamatan korban tenggelam, operasi medis, dan yang lainnya.

Urusan Bepergian

Untuk urusan berpergian jauh bagi muslimah, terdapat sebuah hadis yang sangat masyhur yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Ahmad.

Janganlah wanita safar (bepergian jauh) kecuali bersama dengan mahromnya, dan janganlah seorang (laki-laki) menemuinya melainkan wanita itu disertai mahromnya. Maka seseorang berkata, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya aku ingin pergi mengikuti perang anu dan anu, sedangkan istriku ingin menunaikan ibadah haji.” Beliau bersabda, “Keluarlah (pergilah berhaji) bersamanya (istrimu)”.

Menurut Imam Syafii, mahram di sini bisa berarti laki-laki mahramnya atau perempuan yang terpercaya sebagai teman seperjalanan. Namun untuk keperluan lain (bukan ibadah haji), sebagian ulama membolehkan muslimah berpergian selama keadaannya aman. Keamanan baik dari tindak kriminalitas maupun aman dari fitnah. Dimana urusan bepergian muslimah tersebut adalah semata-mata demi urusan yang baik sesuai syariah, seperti belajar, berdakwah, atau bekerja. Izin dari orang tua bagi yang masih lajang, atau izin dari suami bagi yang sudah menikah adalah satu keharusan.

 

 

Mas Nuz

Pecinta keluarga yang kadang suka nulis dan jalan-jalan.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Cara termudah untuk menghasilkan konten visual yang bagus adalah: buat konten yang memiliki keterikatan dengan audiens, mengandung unsur emosional, dan juga orisinal .
.
.
DOUBLE TAP IF YOU AGREE
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #trendingpost #popularpost #viralpost #content #brandingcontent

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top