Menulis Yuk

Pensiunan Jenderal Ditipu di Media Sosial

 

Pensiunan Jenderal ditipu di media sosial? Benar atau hoax?

Benar donk. Korbannya saya sendiri yang memang pensiunan Jenderal sekaligus blogger, penulis buku, dan penikmat media sosial. Penipuan di media sosial ini saya alami pada tahun 2015. Agar kejadian ini tidak menimpa orang lain, maka saya ingin menceritakan bagaimana penipu itu menjalankan aksinya.

Suatu siang, tahun 2015 saya sedang berada di Facebook. Saya mengomentari status yang ditulis oleh seorang sahabat. Kegiatan seperti ini memang sering saya lakukan untuk selingan menulis artikel di blog atau membuat draft artikel untuk buku. Maklum Facebook merupakan media sosial yang banyak penggemarnya. Jika sebuah status terbit di wall atau timeline maka akan berdatangan berbagai komentar dari pengguna akun FB yang lainnya. Jika topiknya menarik bisa memnacing diskusi yang hangat.

Ketika sedang asyik berdiskusi munculah pesan di kotak saya. Saya kenal baik dengan pengirim pesan. Dia juga seorang blogger yang rajin menulis artikel. Saya pernah berjumpa dengannya pada acara kopdar mini di Jakarta. Saya memanggil dia Mbak dan sebaliknya dia memanggil saya dengan sebutan Pakde. Sebutan Pakde ini memang sudah dikenal oleh teman-teman blogger. Berikut saya sampaikan rangkaian chating antara saya dengan si Mbak.

“Pakde sedang sibuk?” tanya sahabat yang sudah saya kenal dengan baik itu.

Saya menjawab: “Tidak, mbak.” Saya menduga si Mbak akan bertanya tentang blogging sebagaimana sering dilakukannya.

“Kalau ada dan tidak keberatan saya mau pinjam uangnya.” Eh, tumben. Barangkali si Mbak ada keperluan penting dan mendesak ya.

“Berapa, mbak?”

“Tiga juta saja, besok saya kembalikan. Tolong dikirimkan kepada sahabat saya bernama… Nomor rekeningnya…”

Saya terdiam sejenak. Ingat status seorang sahabat yang bercerita bahwa dirinya nyaris kena tipu teman baiknya. Insting saya jalan. Saya mencoba menjajaki apakah saya benar-benar sedang chating dengan orang yang saya kenal itu atau orang lain.

“Sebentar ya, mbak. Apakah mbak pernah kopdar dengan saya?”

“Ya pernah toh pakde.” Saya lega mendengarnya. Namun saya ingin bukti yang lainnya untuk mendukung kebenaran ucapannya barusan.

“Mbak ingat judul buku yang pernah saya kasih waktu kopdar?” Pertanyaan ini saya ajukan karena pada waktu kopdar saya memberi kenang-kenangan buku kepada si mbak.

“Lho, jadi pakde nggak percaya sama saya. Ya sudah kalau begitu nggak jadi. Maaf telah merepotkan. Terima kasih.” Saya tak menyangka si mbak menjawab dengan nada tersinggung seperti itu.

Saya merasa nggak enak. Wong ada sahabat baik minta tolong kok malah saya lakukan fit and proper test. Walau saya blogger urakan tetapi perasaan saya kan peka, nggak tegaan. Saya berasumsi bahwa jika seorang sahabat sampai meminjam uang kepada saya pasti sedang amat membutuhkan. Apalagi usianya lebih tua daripada saya. Oleh karena itu saya berniat membantunya.

“Oke, mbak saya bantu. Saya tak ke ATM sebentar.”

“Kalau sudah transfer tolong kasih tahu ya, pakde.” Tampaknya si mbak sudah nggak marah lagi sama saya.

Saya segera menuju ATM yang lokasinya dekat rumah. Saya langsung transfer tiga juta rupiah ke rekening yang disebutkan si mbak. Setelah itu saya kembali ke ruang chating untuk mengabarkan bahwa uang sudah saya transfer. Saya upload pula struk bukti transfer.

“Nanti uangnya saya transfer ke mana, Pakde? Mohon nomor rekeningnya,” kata si Mbak.

Saya kasih nomor rekening bank lain. Bukan rekening bank yang saya pakai transfer tadi.

“Ooo tadi transfernya pakai Bank…ya, Pakde? Kalau bisa saya minta nomor rekening Bank… itu Pakde, karena saya nggak punya nomor rekening yang bank satunya itu,”

“Sama saja kok mbak caranya. Tinggal nambah kode bank di depannya.”

“Saya minta nomor rekening bank itu saja, pakde.” Lho si mbak kok maksa. Saya menjadi curiga lagi. Oleh karena itu permintaannya saya tolak.

“Nggak mau!” jawab saya tegas. Saya sudah nggak enak karena merasa bukan chating dengan sahabat baik saya yang sudah saya kenal dan pernah kopdar bersamanya.

“O ya sudah kalau begitu. Terima kasih, Pakde.”

Tak lama usai chating semua conversation di atas lenyap. Tampaknya sudah dihapus.

Saya telah tertipu oleh hacker. Dia menggunakan akun si Mbak secara ilegal.

Dua hari setelah itu pemilik akun asli menulis status: “Alhamdulillah akun saya sudah pulih kembali.”

Betul dugaan saya. Kemarin itu akun Facebooknya di bajak orang lain untuk melakukan kejahatan penipuan. Perasaan kasihan, tidak tega, setia kawan, dan rasa hornat kepada senior telah menyebabkan kewaspadaan saya hilang, diikuti uang saya. Untung nomor rekening bank yang satunya tidak saya berikan. Jika saya lengah mungkin uang tabungan saya akan amblas juga. Saya sebetulnya bisa melaporkan penipu melalui pelacakan pemilik nomor rekening yang saya transfer uang itu. Tetapi tidak saya lakukan. Uang 3 juta itu saya anggap sebagai uang buang sial saja.

Kepada sang penipu silakan nikmati uang saya. Jika Anda membaca artikel ini pasti Anda tertawa sambil bilang: ”Emangnya enak ditipu.” Tetapi saya yakin Tuhan sudah punya cara untuk menghandle masalah ini. Cepat atau lambat dia akan menerima ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya.

Ditipu memang tidak enak. Ketika kita sedang bersedih karena telah kehilangan sesuatu, penipu justru sedang bergembira sambil tertawa ngakak.

Para sahabat harap waspada agar tidak mengalami peristiwa seperti yang saya alami. Hacker telah mempelajari lagak-lagu saya sehingga dia juga ikut-ikutan memanggil saya dengan sebutan ‘Pakde’. Oleh karena itu jika ada orang yang minta sesuatu dari kita jangan segan-segan mengecek identitasnya dengan cara yang sip. Jika memungkinkan hubungi dia melalui telepon untuk meyakinkan bahwa dia adalah kawan atau kerabat kita. Maklum penipuan bukan hanya dilakukan secara langsung tetapi sudah memanfaatkan dunia maya.

Ketika berkali-kali foto saya yang ada di Facebook dipakai sebagai profile picture oleh orang lain maka saya buru-buru melaporkan ke admin Facebook agar ditindak lanjuti. Saya juga mengumumkannya di wall agar para sahabat mengetahui bahwa pemilik akun itu bukanlah saya. Ini untuk mencegah agar foto saya tidak di salah gunakan untuk melakukan kejahatan.

Kepada si Mbak yang akunnya pernah dibajak oleh orang lain agar mengganti passwordnya secara berkala.

Pernahkah sahabat mengalami kejadian serupa di dunia maya atau dunia nyata? Silakan share agar bisa menjadi perhatian kita semua.

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Hellooo, sahabat Indoblognet 😉 Kamis manis nih, yuk perbanyak optimis 😍
.
Bagi seorang pebisnis atau penjual, memiliki banyak konsumen tentunya adalah hal yang sangat penting, ya 😁 Masalahnya konsumen gak akan datang sendiri tanpa dijemput, artinya penjual perlu melakukan berbagai cara untuk menarik konsumen 😄
.
Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh penjual adalah dengan menerapkan konten marketing. Dengan konten marketing, kamu menarik perhatian konsumen dengan konten-konten berkualitas, menarik, dan disukai konsumen 😍
.
#instagram #indoblognet #mbcommunication #thursday #instadaily #followme #business #tips #viral

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top