Menulis Yuk

Pameran Produksi Indonesia 2016, Gerbang Menuju Kemandirian Bangsa

Untuk yang ke-dua kalinya, Surabaya menjadi tuan rumah Pameran Produksi Indonesia (PPI). Sukses menggelar perhelatan PPI 2015, membuat Kementerian Perindustrian ingin membuat terobosan baru pada PPI 2016 kali ini. Jika pada tahun 2015 kemarin yang ditampilkan adalah multi produk, maka tidak demikian pada tahun 2016 ini. Pameran lebih spesifik kepada produk-produk unggulan industri dalam negeri yang memiliki daya saing dan nilai jual tinggi.

Mengangkat tema “Bangga Menggunakan produk Indonesia, Industri Indonesia, Industri Hebat”, tahun ini fokus kepada produk industri alat dan mesin pertanian serta alat kesehatan dan laboratorium. Produk-produk yang telah dipasarkan di pasar domestik maupun yang telah diekspor. Pemilihan terhadap dua segmen produk industri alat pertanian dan alat kesehatan tersebut bukanlah tanpa alasan. Hal itu desebabkan potensi kebutuhan belanja pemerintah atas produk-produk tersebut sangatlah besar. Program swasembada pangan dan pelayanan kesehatan yang paripurna menjadi alasan utama memilih tema produk besar pada PPI 2016 kali ini. Demikian seperti yang disampaikan oleh Sekjen Kemenperin Syarif Hidayat dalam sambutan pembukaan di Grand City Convex, Surabaya, Kamis (20/10) yang lalu.

Pembukaan PPI 2016 oleh Sekjen Kemenperin

Pembukaan PPI 2016 oleh Sekjen Kemenperin

Pameran yang diadakan selama empat hari, Kamis-Ahad, 20-24 Oktober 2016 ini dilangsungkan di atas area seluas 4.441 meter persegi. 1.397 meter persegi untuk area tematik mesin dan alat pertanian yang terbagi oleh 17 perusahaan. 1000-an meter persegi untuk area tematik alat dan laboratorium kesehatan sebanyak 17 perusahaan. Sedangkan siasanya adalah 14 stan makanan dan minuman, 8 stan produk jamu dan herbal, 14 stan lainnya adalah unit pendidikan, badan pendidikan dan latihan, balai penelitian dan pengembangan, serta klinik informasi dan sertifikasi di lingkungan Kemenperin. Pameran ini gratis dan terbuka untuk umum. Dibuka mulai pukul 10.00 – 21.00 Wib.

Pameran tidak hanya menyuguhkan stan-stan pamer saja. Panggung hiburan pun disiapkan setiap hari untuk pengunjung untuk sekedar melepaskan penat. Demikian juga acara-acara penunjang yang cukup menarik digelar. Forum diskusi, talkshow kisah sukses, workshop, demo produk, presentasi hasil penelitian Kemenperin, lomba fotografi, serta temu komunitas menjadi aksi yang mendukung suksesnya acara PPI 2016. Kehadiran perwakilan berbagai instansi pemerintah dan swasta diharapkan membuka cakrawala pandang terhadap keunggulan produk-produk dalam negeri. Demikian juga kehadiran para mahasiswa, siswa SMA/SMK/MA diharapakan dapat menambah wawasan bahwa produk-produk nasional mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional.

Era Berjayanya Alat Mesin Pertanian

Sebagai negara yang pernah mengalami kejayaan ‘swasembada pangan’ di era Orde Baru, tentu menjadi prestasi menyedihkan bila saat ini harus mengimpor bahan pangan. Langkah mundur ini tentu disebabkan oleh banyak faktor. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo. Bagaimana secara perlahan tapi pasti,  mulai menjabarkan cita-cita lewat Nawa Cita-nya menjadi program kerja yang benar-benar realistis. Program kerja yang mampu mengejar ‘ketertinggalan’ akibat euforia reformasi. Termasuk di dalamnya mampu mengembalikan sebagai negara yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan bahan pokok nasional.

Traktor multi fungsi produksi anak negeri

Traktor multi fungsi produksi anak negeri

Lewat PPI 2016 inilah, berbagai inovasi yang telah dilakukan oleh anak bangsa. Perusahaan-perusahaan negara maupun swasta yang sempat ‘tiarap’ di masa lalu, kini berlomba-lomba untuk menunjukkan eksistensinya. Hal ini sangat beralasan. Berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, alokasi anggaran untuk pembelanjaan alat mesin pertanian (alsintan) di tahun ini saja mencapai 4,6 triliun. Bersyukur bahwa sebagian besar pemenuhan alsintan sudah dapat dipasok dengan produk-produk berkualitas dari negeri sendiri, ditengah membanjirnya produk sejenis dari luar. Sebab kita tak mungkin membatasai produk yang masuk dari luar sebagai konsekuensi logis atas era kebebasan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Mesin roasting kopi kapasitas 18kg/jam

Mesin roasting kopi kapasitas 18kg/jam

Beberapa produk alsintan berkualitas yang sudah bisa diproduksi oleh anak-anak negeri diantaranya adalah: pintu air, pompa air, traktor tangan sampai dengan mobil traktor, mesin pengolah tanah, mesin panen, mesin perontok padi, jagung, kedelai, kopi, hingga Rice Milling Unit (RMU). Ini cukup membanggakan. Sebab selama ini seolah kita hanya mengetahui bahwa untuk mesin-mesin tersebut hanya bisa dipenuhi dengan cara impor saja. Padahal berdasarkan hasil survey, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) alsintan yang diproduksi anak bangsa telah mencapai kandungan yang tinggi (40%). Bahkan beberapa alat telah mencapai 90% lebih, semisal alat roasting kopi yang diproduksi oleh PT. CA. Cukup membanggakan bukan?

Hal tersebut di atas tentu akan mempunyai efek yang lebih besar jika seluruh pelaksanaan tender pemerintah yang berhubungan dengan alsintan harus memasukkan produk dalam negeri. Kalau bukan dari pihak pemerintah yang memulai kepercayaan terhadap produk dalam negeri, tentu akan cukup berat jika harus dipasrahkan pada mekanisme pasar. Lewat PPI 2016 atau kegiatan sejenis yang mendorong untuk Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) sinergi semua pihak diharapkan. Sudah saatnya produk alsintan Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Alkes Berkelas Produk Dalam Negeri

Bed pasien elektrik/digital multi fungsi

Bed pasien elektrik/digital multi fungsi

Sempat terkagum-kagum saat melihat dan mengamati tempat tidur (bed) pasien di ruang display produk unggulan. Masih belum percaya bahwa produk semacam itu diproduksi oleh perusahaan dalam negeri. Sebab yang selama ini saya tahu produk berkualitas seperti itu biasanya diimpor dari benua Eropa. Jika ada produk impor dari Asia pun biasanya kualitasnya kurang memuaskan. Namun setelah hadir di PPI 2016, semua persangkaan saya tersebut 99% keliru.

Sebuah perusahaan anak negeri, ternyata sudah mampu memproduksi sendiri lebih dari 40 model bed pasien, bed bayi, meja periksa, emergency stretcher, maupun bed gynec. Berbagai jenis bed mulai yang manual, semi otomatis, hingga otomatis penuh (digital) sudah mampu dibuat. TKDN-nya pun sungguh luar biasa. Rata-rata sudah di atas 70%. Bahkan sudah ada yang mencapai 90%, kecuali untuk penggerak digital, yang ‘otak’nya masih harus impor dari Eropa. Ini sudah luar biasa.

Sebagai catatan, menurut data Kemenperin di tahun 2014 total kebutuhan alkes di Indonesia sebesar 30 triliun rupiah. Sebuah angka yang tidak kecil. Sementara baru 7 triliun atau sekitar 23,3% saja alkes yang bisa dipasok oleh produsen dalam negeri. Keadaan  ini cukup miris bukan? Seolah negara ini tak berdaya untuk menciptakan produk inovatis di bidang alkes. Meski tak sedikit putera-puteri terbaik negara ini yang berkerja di luar, di perusahaan-perusahaan alkes internasional.

Namun dua tahun terakhir, perkembangan cukup menggembirakan dengan tumbuhnya sekitar 234 perusahaan industri alkes dan labkes nasional. Mencatatkan 4 triliun nilai ekspor menjadi harapan baru. Belum lagi tingkat pertumbuhan yang rata-rata telah mencapai angka 10% pertahun. Sebuah angka yang cukup menjanjikan, sekaligus memberikan bukti bahwa produk alkes kita tak bisa dilihat dengan ‘sebelah mata’. Oleh karena itu, sudah selayaknya bila laboratorium medis, rumah sakit, rumah bersalin, Puskesma, maupun klinik-klinik untuk lebih cermat berhitung.

Produk-produk dalam negeri pun tak kalah bersaing secara kualitas dengan produk asing. Belum lagi harga yang tentu lebih rasional dibandingkan jika harus membeli alkes impor. Layanan purna jualnya pun menjadi pertaruhan. Sebab masalah yang dihadapi dengan penggunaan alakes adalah ketika alat tersebut mengalami gangguan atau kerusakan. Pengalaman membuktikan, seringkali teknisi untuk produk impor  jumlahnya terbatas. Sehingga untuk pengecekan maupun perbaikan alat, biasanya dibutuhkan waktu yang lama. Mending jika ada cadangan alat sejenis di fasilitas kesehatan tersebut. Jika tidak ada, tentu akan menggangu layanan kesehatan bukan?

Alkes produk anak negeri yang murah tapi tak murahan, tentu layak untuk menjadi pilihan. Sebab jika bukan kita yang mendukung karya mereka, mau berharap pada siapa?

Mas Nuz

Pecinta keluarga yang kadang suka nulis dan jalan-jalan.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Selamat kepada 200 blogger terpilih yang akan membuat berisik jagad maya tentang realitas remaja milllenial : Generasi Z yang begitu kritis menyikapi hidup yang dinilainya tak sesuai dengan pola asuh.. Orang tua...wake up ! jangan lagi memandang anak sebagai objek yang bisa dengan leluasanya diatur. Mereka punya mata, hati dan nurani yang bisa berteriak bahkan memberontak sekiranya melihat prilaku orang tua yang tak sesuai dengan yang dilisankan dengan tameng "mendidik" ... >>> untuk blogger terpilih akan diemail hari ini.

Terima kasih kepada lebih dari 400 pendaftar.. semoga yang belum terpilih masih bisa berkesempatan join program berikutnya.. #Repost @miramiut (@get_repost)
・・・
Kami ada 
Dalam peradaban *Berilah kami kepercayaan untuk membuat karya yang bermanfaat
*Berilah kami kesempatan untuk menunjukkan bahwa hidup itu sangat berarti

Walau itu berbeda 
Walau tak semua tersusun rapi

Coming soon "My Generation" : film garapan Sutradara Upi yang layak ditunggu akan banyak sentuhan natural dan ide cerita yang unik serta berisi.

@mygenerationfilm
@upirocks
@Indoblognet

#MyGenerationFilm
#FilmMyGeneration

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top