Menulis Yuk

Pahit Manis Kehidupan Sinden di The Sinden [Book Review]

 

Ketika menemukan buku ini Gramedia saya kontan tertarik dengan judulnya dan plot singkat yang ada di cover belakangnya. Saya menyukai kisah-kisah kehidupan pekerja seni, seperti ronggeng, dalang, dan kali ini saya ingin tahu seperti apakah kisah sinden dengan tembang-tembangnya yang menghidupkan cerita wayang kulit.

Adalah Nyi Inten, seorang sinden terkenal yang menghabiskan sekian malam untuk duduk bersimpuh di atas dingklik mengiringi pertunjukan wayang purwa. Dunia sinden sering dipandang sebelah mata dan sasaran kebencian para istri yang takut suaminya jatuh cinta kepada sinden. Namun, Nyi Inten sudah terlanjur jatuh hati menjadi seorang sinden. Ia mencintai kesenian ini dan berniat melestarikannya lewat putrinya, Waranggana.

Setiap hari ia melatih putrinya, Waranggana, teknik bernyanyi. Ia juga mengajari Waranggana cara berdandan ala sinden, ritual hendak manggung,dan juga memberitahukannya tentang ritual kungkum di Sendang Made, Jombang. Ritual kungkum atau berendam itulah yang harus dilalui pesinden jaman dulu sebagai upacara wisuda.

Nyi Inten gembira anaknya semakin pandai bernyanyi. Akan tetapi impiannya hampir musnah ketika penguasa setempat hendak menjadikan Waranggana sebagai istri selirnya. Jarok, pamannya, dimintanya untuk menyembunyikannya dan keluar dari desa.

Sejak itu Waranggana terpisah dari ibunya. Berkat kemerduannya suaranya dan ciri khas dingklik warisan ibunya, ia dipanggil sebagai Dingklik Waranggana. Ia hidup berpindah-pindah ke berbagai tempat karena kecantikannya dan suaranya yang merdu kerap membuatnya mengalami masalah. Hingga suatu saat ia memutuskan untuk berhenti berlari dan berani menentang.

Buku ini memiliki gaya bahasa yang enak untuk dibaca dan mengalir. Tidak sampai dua jam saya sudah berhasil menamatkannya. Covernya sederhana tapi elegan. Ada gambar seorang sinden dengan selendang di leher dan rambut yang digelung rapi.

Bagian menarik dari buku ini adalah serba-serbi kehidupan sinden. Suaranya yang merdu kerap membuat penonton terhanyut. Namun, suara merdu dan teknik bernyanyi yang khas itu diperoleh dari latihan bernyanyi yang keras dan rutin, tidak secara instan.

Kisah kehidupan Waranggana dan Nyi Inten tidak disodorkan begitu saja dari awal. Pembaca diberikan informasi bagian demi bagian tentang latar belakang keluarga Waranggana, demikian pula siapakah ayah Waranggana dan alasan ia tak ikut membesarkannya.

Cerita sinden bernama Waranggana ini memang agak berkesan didramatisir, bagaimana penguasa dan priyayi mengejarnya hanya untuk dijadikan selir. Namun di satu sisi, mental dan sikap Waranggana belum seperti sinden murni seperti ibunya. Ia mudah terjebak oleh kekayaan dan menganggap pekerjaannya sebagai sinden sah-sah saja digunakan untuk mempesona pria.

Yang agak membingungkan dalam novel ini adalah latar waktunya. Kurang jelas periode waktu novel ini karena di satu sisi disebutkan masih ada kebiasaan penguasa daerah untuk mengorbankan gadis tercantik di desa sebagai tumbal pembangunan seperti jembatan dan sebagainya, akan tetapi beberapa kali disebutkan ornamen dunia modern seperti keberadaan musik pop dan bus-bus kota. Mungkin latar waktunya sekitar tahun 70-an, tapi menurut saya agak kurang pas untuk cerita ini. Lebih baik jika ceritanya menggunakan setting waktu yang lebih kuno, yaitu awal tahun 1900-an hingga sebelum Indonesia merdeka.

Terlepas dari ceritanya yang terkesan didramatisir dan latar waktunya yang kurang pas, novel ini menghibur dan bisa jadi referensi bagaimana kehidupan sinden sebenarnya. Sinden menurut saya juga merupakan salah satu pahlawan kesenian dimana merekalah yang membantu melestarikan tembang-tembang Jawa hingga masih eksis seperti sekarang.

Detail Buku:
Judul: The Sinden: Cinta dan Airmata Dingklik Waranggana
Penulis: Halimah Munawir
Penerbit: Gramedia Pustaka , Jakarta
Tebal Buku: 145 halaman
Tahun Terbit: 2011
Genre: Roman
Rating: 3/5

 

 

 

Puspa

Saya suka membaca dan menulis apa saja.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Di tengah giatnya pengembangan sepak bola Indonesia, kabar bahagia dari Frozen Air Mineral. Produsen  air mineral ini untuk pertama  kalinya  menjadi sponsor tunggal pertandingan sepak bola Indonesia vs Islandia yang berlangsung di Stadion Maguwaharjo, Sleman, Yogyakarta (11/1 )  dan Stadion Utama Gelora Bung Karno (14/1). Sebenarnya mensponsori event olah raga bukan hanya kali ini. Tahun 2017, Frozen Air Mineral telah mendukung berbagai kegiatan futsal untuk remaja di sejumlah kota. Dilanjutkan tahun ini, Frozen  komit turut serta membangun kualitas persepakbolaan Indonesia. 
Dengan  jargon #CepetBikinSeger, @frozenairmineral
optimis dapat mendukung ketahanan stamina para atlit dan cepat memulihkan kondisi fisik saat olah raga. "Kualitas air kami cepet bikin seger. Karena tiap tetes disterilkan dengan ozon injeksi & teknologi multi filtrasi. Dan ketika di tes di lab, Frozen Air Mineral terbukti  terbersih diantara air mineral lainnya" ujar  Laurensius Zaoputra , Brand Manager Frozen Air Mineral

Semoga timnas Indonesia bisa bertanding dalam performa terbaiknya dengan Timnas Islandia yang pada Kamis lalu berhasil membobol gawang Indonesia 0-6.

Saksikan pertandingan sesungguhnya, 14 Januari 2017 di @gelorabungkarnostadium. 
#AdaFrozendiGBK #FrozenAirMineral 
#CepetBikinSeger

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top