Menulis Yuk

Orangtua Otoriter Udah Gak Zaman, Lagi

Parenting di era IT

“Mengasuh anak itu seperti memegang burung. Jika memegangnya terlalu kencang dia akan sulit bernapas, tetapi jika memegangnya terlalu kendor maka si burung mungkin akan lepas.”

Itulah antara lain nasihat yang pernah saya dengar dari salah seorang sesepuh yang anaknya berjumlah 7 orang dan sukses “menjadi orang” semuanya.

Para pakar mengatakan bahwa mendidik anak sebaiknya sudah dimulai sejak dia berada dalam kandungan ibunya. Pendidikan itu memang tidak secara langsung, tetapi ditransfer melalui perilaku baik dari kedua orangtuanya. Jika ayah dan ibunya suka bersedekah, insya Allah energinya akan sampai kepada si anak yang kelak mudah-mudahan bisa menjadi orang yang budiman dan dermawan.

Mendidik anak zaman dulu dengan zaman sekarang tentu berbeda lagak dan gayanya. Karena zaman sudah berubah, musim pun telah berganti. Ali Bin Abi Thalib Radiyallahu anhu memberi anjuran: “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, Karena mereka hidup bukan di zamanmu.” Mendidik anak pada zaman batu tentu ada yang kurang pas untuk diterapkan pada era digital, bukan.

Dulu ketika saya masih kecil, jika Emak melihat ke arah saya yang sedang asyik mendengarkan perbincangan beliau dengan tamunya maka itu merupakan suatu kode. Saya sudah mengerti bahwa saya harus segera meninggalkan arena itu. Ndomblong alias mlongo mendengarkan orangtua berbincang ria dianggap kurang baik. Maklum perbincangan orangtua bukanlah domain anak-anak.

Demikian pula ketika saya masih asyik bermain badminton dengan raket terbuat dari bakiak kayu dan shuttle cock-nya terbuat dari pelepah daun kelapa plus bulu ayam blirik di suatu petang. Dari jauh ayah berkata, “Ambil lampunya nih!” Saya sudah mahfum bahwa perintah ayah itu bukanlah hal yang sebenarnya. Kalimat yang dilontarkan oleh ayah tersebut dalam istilah Jawa disebut ‘nglulu‘. Kalimat itu harus dimaknai sebagai suatu isyarat bahwa saya harus menghentikan permainan. Tak elok jika saat senja kami masih bermain dan belum mandi karena adzan Maghrib akan segera berkumandang.

Sekarang berbeda situasinya. Ketika melihat keponakan saya sedang asyik SMS-an, sementara budhenya sedang sibuk mencuci piring di dapur, saya memberi kode dengan suara, “Ssssstt..sssst.ssst.” Alih-alih menghentikan SMS-nya, lha dia dengan santainya berkata, “Apaan sih, Pakde…, sat..set..sat..set mulu.” Dan tanpa sungkan dia terus melanjutkan SMS-nya. Beda kan perangainya dengan perangai saya dulu.

Tampaknya mendidik anak zaman sekarang tak perlu terlalu banyak kode atau basa-basi. Lebih baik gunakan kalimat langsung saja, “Nduk, bantu Budhe  menyapu lantai dong!” Straight to the point, langsung pada sasaran.

Bagaimana Mendidik Anak Kecil?

Orangtua harus mengerti bahwa anak kecil bukanlah manusia dewasa dalam ukuran mini. Dia tetap anak-anak dengan segala hobi dan kegemarannya. Jika dia mengambil semut lalu memasukkan ke dalam mulutnya, itulah dia, si anak kecil. Ketika dia dengan riangnya mencoretkan spidol di tembok dengan gaya naturalis atau hancurisme, lha itu dia, wujud ekspresi keberaniannya menggoreskan sesuatu ke tembok atau sprei.

Jika seorang ibu berteriak menggelegar, “Jangan coret-coret tembok!!” maka sesungguhnya sang ibu sudah melupakan sejarah bahwa dia pun pernah berbuat serupa ketika masih usia balita dulu. Ibu tak perlu berisik atau berteriak-teriak mencegah si kecil melakukan  aksi corat-corernya. Lebih bijak jika orangtua menyalurkan hobi coret-mencoret itu ke arah yang benar. Menyediakam buku gambar atau kertas dan membimbing si kecil untuk menyalurkan hobinya tentu lebih disukai di buah hati.

Hindari Berkata Buruk

Ketika anak masih asyik main game dengan menggunakan gadgetnya padahal sudah waktunya belajar, tak perlu lah orangtua berteriak, “Hla kok masih main game saja. Bandel banget anak ini. Mau Mama kurung di kamar tanpa makan?” Si anak bukan saja ketakutan terhadap ancaman kurungan tetapi juga takut memandang wajah sang mama yang sedang menyeringai bengis. Tetapi itu hanya sesaat. Esok hari dia mungkin akan bermain game lagi, terus-terang atau secara sembunyi-sembunyi. Akan lebih enak di hati jika kalimat yang dikeluarkan diubah menjadi, “Ayooo, main game-nya berhenti dulu, waktunya belajar lho. Katanya mau jadi jenderal seperti  MbahKung.”

Jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas kepada anak-anak. Apalagi mengancamnya. Jika dia terus-menerus mendengarkan kata buruk maka kelak dia juga akan mengeluarkan kata atau kalimat yang senada dan seirama dengan apa yang selama ini dia dengar. Mengumpat dan memaki orang lain ketika dalam perjalanan mengantar anak ke sekolah sebaiknya juga dihindari.

Reward and Punishment

Bagaimana dengan reward and punishment untuk anak-anak? Yup, bisa diterapkan secara bijak, terukur, dan terarah. Konon, seorang aktor luar negeri yang sangat terkenal, mempunyai perilaku yang aneh. Jika anaknya lupa meletakkan sepatunya di rak sepatu, maka si aktor berbodi kekar ini langsung melempar sepatu anaknya itu ke dalam api yang sedang menyala, membakarnya. Ini adalah perilaku yang kurang tepat, memberi hukuman yang berlebihan kepada anak yang tak setimpal dengan kesalahannya.

Jika anak melakukan pelanggaran, hal pertama kali yang harus dilakukan adalah segera menghentikan pelanggaran itu. Langkah berikutya adalah memberinya tegoran, peringatan, dan jika tetap tak bisa dihentikan berikanlah hukuman setara dengan kesalahannya. Tujuan pemberian hukuman adalah untuk memperbaiki kesalahannya, bukan untuk menyakiti dan membencinya. Beri tahu alasannya mengapa hukuman itu pantas untuknya. Yakinkan bahwa anak-anak aman dalam pelukan dan cinta orangtua.

Hadiah yang tepat dan tidak berlebihan selayaknya juga diberikan kepada anaknya yang berprestasi. Namun demikian sebaiknya tetap dijaga agar tak menjadikan anak bermental upahan.

Bakat dan Minat Anak

Setiap anak umumnya mempunyai minat dan bakat. Sebagai orang tua tentu perlu memperhatikannya lalu membimbing dan mengarahkan agar semuanya berkembang dengan baik.

Jika seorang ayah berkata, “Kamu harus menjadi dokter, seperti Mamamu ini, Nak!” Padahal, si Dewi telah berkali-kali menjuarai lomba merancang busana dan sudah berkali-kali pula memohon agar dirinya bisa melanjutkan studinya di bidang fashion. Apa artinya? Anda hanya mengerti hak, tetapi tidak mengerti kewajiban sebagai orangtua. Jika orangtua tetap memaksakan kehendaknya maka dia bisan dicap sebagai orangtua yang otoriter.

Teladan itu Penting

Mendidik anak bukan hanya dengan ucapan belaka. Ketika ayahnya menyuruh si anak, “Hey, apakah kamu nggak dengar suara adzan itu? Cepat gih berangkat ke masjid!” maka akan ada dua kemungkinan tindakan yang dilakukan oleh si anak. Pertama dia akan segera berangkat ke masjid. Yang kedua dia akan melihat ayahnya sejenak, lalu bertanya, “Ayah nggak ke masjid?” Jika ayahnya menjawab, “Saya shalat di rumah saja, nanggung nih acara sepakbola lagi asyik-asyiknya.” Si anak mungkin akan berangkat ke masjid, tetapi sambil berkata, “Jarkoni—iso ujar, gak iso nglakoni,” artinya “Ayah hanya bisa ngomong doank, tapi gak bisa menjalankannya.” Lebih bagus jika ayah juga sudah siap dengan busana muslim lalu mengajak anaknya ke masjid bersama-sama.

Orang tua selayaknya berusaha agar bisa menjadi idola, panutan, dan teladan bagi anak-anaknya dalam hal kebaikan.

Anak adalah amanah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Cukup banyak kegiatan yang harus dilaksanakan oleh orangtua agar amanah itu bisa diemban dengan sebaik-baiknya. Salah satunya adalah memberi nama yang baik kepada anak. Jika orangtua sering menonton film barat tak perlu latah memberi nama anak dengan bahasa asing yang hanya sekedar kedengaran keren, apalagi jika tidak tahu arti nama itu.

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan [email protected]

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Sebagian besar konsumen yang merasa kecewa dengan sebuah produk memilih untuk diam (tidak komplen terhadap pemilik produk), dan akhirnya beralih pada produk lain
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #product #business #selling #consumer #customer

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top