Gaya Hidup

Ohhh..Ini Rahasianya “Kemesraan” dalam Rumah Tangga

komunikasi dalam keluarga

Pernikahan pada hakekatnya menyatukan seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang pada awalnya belum saling mengenal. Bukan hanya belum mengenal fisik semata tetapi juga ucapan, sikap, tingkah laku, kebiasaan, dan lain sebagainya. Apalagi orang jaman dahulu. Pernikahan karena dijodohkan oleh orangtua masih sering dijumpai. Mereka mungkin tidak pernah mengenal yang namanya pacaran atau pedekate. Komunikasi antara calon pengantin dengan pasangannya terkendala oleh jarak dan sarana komunikasi. Perkenalan justeru dimulai setelah pernikahan berlangsung. Cinta terbangun secara perlahan seiring dengan bertambahnya usia pernikahan mereka.

Berbeda keadaannya dengan pasangan di jaman modern. Seorang laki-laki bisa berkenalan dengan seorang wanita melalui aneka cara. Dari perkenalan di media sosial saja bisa langsung saling mengikat janji untuk meanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Sarana komunikasi beraneka ragam yang memungkinkan calon mempelai bisa meningkatkan keakrabannya. Namun demikian masih ada saja pernikahan yang kurang berhasil karena berbagai keadaan.

Tak ada pernikahan yang dapat bertahan hidup tanpa komunikasi yang tepat dan sehat. Cukup banyak contoh pernikahan yang kandas karena pasangan suami isteri kurang menjalin komunikasi yang intens. “Kami memang sama-sama sibuk sehingga komunikasi tidak bisa berjalan sebagaimana yang kami harapkan.  Kelelahan bekerja menyebabkan kami sensi, mudah tersinggung, dan cepat naik darah,”  begitu salah satu alasan mengapa suami-isteri memutuskan untuk berpisah.

Komunikasi yang baik memungkinkan pasangan mengekspresikan ide, gagasan, dan atau pendapatnya. Oleh sebab itu waktu-waktu senggang perlu lebih banyak digunakan untuk berkomunikasi, berdiskusi, atau ngobrol sambil minum kopi. Banyak yang bilang bahwa meja makan adalah tempat yang baik untuk berkomunikasi. Sambil menikmati makan malam suami-isteri bisa menceritakan sesuatu kepada pasangannya.  Topik pembicaraan tak selalu harus masalah yang serius dan berat. Kejadian menarik di tempat kerja bisa dijadikan appetizer di meja makan.

“Jeng, tadi siang Direktur mengundang saya dan mas Wito makan di ruang kerjanya lho.”

“Oh, ya.  Asyik donk. Emangnya ada acara apa, Mas.”

“Nggak ada acara apa-apa sih.  Kebetulan isteri bos datang ke kantor sambil membawa makanan agak banyak.”

“Menunya apa, Mas.  Pasti mewah dan enak ya?”

“Ah enggak, biasa-biasa saja. Nasi putih, sayur asem, ikan lele goreng, tahu, dan tempe bacem. Tak lupa sambel trasi. Wah enak banget loh, kami makan sampai tambah. Itu masakan isteri bos sendiri katanya.”

“Ck..ck..ck… pejabat sekaya itu menu makan siangnya hanya kayak gitu?”

“Iya, beliau memang sederhana kok.”

Nah, pembicaraan ringan seperti itu bukan hanya menarik tetapi ada makna yang terselip di dalamnya. Bahwa tak selamanya orang kaya bermewah-mewah diri atau hidup boros. Hindari pembicaraan yang berpotensi menyulut kesalahan-fahaman agar suasana nikmat di meja makan tidak terganggu. Suami dan isteri boleh saja berbeda afiliasi politiknya. Namun demikian jangan sampai perbedaan bendera itu  menyebabkan hubungan suami isteri menjadi tidak harmonis.

Komunikasi di tempat tidur juga asyik.  Pilih topik yang pas untuk menambah kemesraan dalam suasana yang romantis tersebut. Jabatan, kedudukan, dan pekerjaan tinggalkan saja di kantor.  Suami boleh juga memberikan sedikit tausiah ringan tentang masalah yang mungkin belum diketahui oleh isterinya.

“Jeng, mau nggak saya kasih kultum.”

“Ah, di tempat tidur kok  malah ngasih tausiah sih, Mas. Emangnya boleh?”

“Ya boleh, kan topiknya juga berkaitan dengan tempat tidur.  Dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila seorang suami mengajak isterinya ke tempat tidur (untuk jima’/bersetubuh) dan si isteri menolaknya (sehingga membuat suaminya marah), maka si isteri akan dilaknat oleh Malaikat hingga (waktu) Shubuh.”

“Ih, ngeriiiii.  Terima kasih ya Mas sudah diingatkan. Btw, itu isyaratkah?”  tanya isteri sambil tersenyum.

Komunikasi seperti itu kan bagus.  Jangan sampai menjelang tidur berdebat keras soal pilpres, terorisme, bencana alam, harga cabe, perselingkuhan, dan lain sebagainya. Bisa-bisa malam yang indah malah menjadi horor dan mencekam. Jangankan berkasih mesra, posisi tidurnya pun saling membelakangi satu sama lain.

Di jaman yang serba IT ini komunikasi antara suami dan isteri serta anak-anaknya menjadi semakin mudah. Tak ada lagi alasan bagi suami untuk tidak menjalin komunikasi dengan isterinya. Demikian pula sebaliknya. Pada jam makan siang,  isteri bisa sms kepada suaminya untuk mengucapkan selamat makan dan menanyakan menunya. Suami juga demikian. “Sayang, masak apa nich untuk makan malam nanti?”  Komunikasi ringan seperti itu kan bisa mendekatkan hati masing-masing.

Komunikasi hendaknya dilakukan dengan menggunakan kata atau kalimat yang enak didengar sehingga menyejukkan. Tak jarang situasi di meja makan menjadi kurang nyaman karena salah satu atau kedua belah pihak kurang bijak dalam berkomunikasi.

Seorang ustadz dalam ceramahnya pada acara walimatul urusy (resepsi pernikahan) memberikan ilustrasi yang kocak namun bermakna.

“Uang yang saya kasih minggu lalu masih, Dik?”  tanya seorang suami.

“Uang seratus ribu jaman sekarang dapat apa sih, Mas? Ingat enggak, setelah ngasih uang itu kan Mas minta dimasakkan ikan gurami goreng. Setelah itu Mas juga minta dibelikan kaos singlet. Lha sekarang masih tanya soal uang.”

Jawaban frontal bernada kurang bersahabat itu seharusnya dihindari. Pertanyaan suami yang sederhana itu sebenarnya bisa dijawab dengan kalimat yang lebih sejuk. “Tinggal lima ribu, Mas. Untung di kulkas masih ada ikan dan sayuran.” Nah lebih enak didengar, bukan. Dengan pertanyaan seperti itu mungkin suami akan berusaha untuk menambah lagi uang belanja kepada isterinya. Tapi karena jawaban isteri agak kurang sedap didengar menjadikan komunikasi mengha>ngat. Penggunaan kata atau kalimat yang berpotensi menyulut pertengkaran seyogyanya hindari.

Tak ada rumah tangga yang tak menghadapi masalah. Keuangan, anak, sex, orangtua, mertua bisa menjadi sumber masalah. Namun demikian tak ada masalah yang tak ada solusinya. Itulah pentingnya komunikasi antara suami dan isteri. Dalam berkomunikasi masing-masing hendaknya tetap menghargai dan menghormati pasangan. Pilih kalimat atau kata yang tepat agar kesalahfahaman dan ketersinggungan tidak terjadi.  Jangan dilupakan pula komunikasi non verbal. Bahasa tubuh yang kurang pas juga bisa menimbulkan salah tafsir dan salah sangka yang bisa berujung pada pertengkaran. Bijaklah dalam mengggunakan bahasa verbal maupun non verbal dalam berkomunikasi.</p

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Desain website yang menarik memang bikin pengunjung web jadi lebih betah sih, ya 😁 Makanya sebagian orang memilih untuk "bye-bye" saat berkunjung ke web yang desainnya "malesin" alias gak bikin pengunjung nyaman. Kalian gimana? 😀
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #desainweb #layout #website

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top