Menulis Yuk

Oalah, Balada Speaker

Sekali lagi dan entah kejadian yang ke-berapa kali. Media sosial berhasil menghasut dan menyulut sekolompok orang untuk berbuat anarkis. Begitu mudahnya kita ‘disulut’ isu yang bermotif SARA. Merusak dan membakar fasilitas tempat ibadah umat yang lain tanpa dapat dicegah oleh siapapun.

Peristiwa Tanjung Balai akhir Juli 2016 kemarin, menampar kesadaran kita. Bangsa ini masih rentan untuk diadu-domba. Pancasila sebagai perekat sendi idealisme bangsa seolah tertinggal jauh di belakang. Bhinneka Tunggal Ika tertutup nafsu angkara dan kebencian. Usut punya usut menurut berbagai sumber yang ada, kerusuhan dipicu oleh seorang perempuan warga keturunan. Merasa terganggu dengan keberadaan speaker masjid, membuatnya ‘melabrak’ jamaah yang akan tunaikan shalat di masjid. Kejadian yang tak diinginkan dapat diredam. Namun tak lama kemudian muncul isu berkumpulnya banyak masa di beberapa tempat. Pembakaran beberapa vihara pun akhirnya tak terelakkan. Padahal saat itu belum diketahui, apa keyakinan perempuan tersebut. Sangat menyedihkan bukan?

Bijak Menggunakan Speaker

Kejadian awal seperti kasus di atas sempat terjadi di lingkungan kami Ramadhan kemarin. Ketika seorang warga yang nota bene muslim (taat), mengeluhkan kerasnya speaker mushala saat tadarus di malam hari. Kebetulan sang bapak mertuanya sedang sakit keras. Sementara tadarus dengan suara speaker yang keras berlangsung hingga jam 11 malam. Bahkan terkadang sampai jam 12 malam. Padahal sudah pernah ada kesepakatan beberapa tahun yang lalu. Apabila tadarus di atas jam sembilan malam, maka suara menggunakan speaker dalam. Hal ini untuk menjaga kekhusukan ibadah umat muslim dan warga yang lain.

Namun sejak berganti ketakmiran, kesepakatan tersebut pun seolah dilupakan. Mengingat kondisi tersebut juga membuat keluarga kami tidak nyaman, maka saya pun menyampaikan keluhan kepada Ketua RW. Oh ya, di rumah ada putri bungsu kami yang baru berusia 1,5 bulan. Sayangnya usaha persuasif saya tak membuahkan hasil. Akhirnya saya mencoba komunikasikan kepada kepala desa, agar kejadian tersebut tak lagi terjadi di Bulan Ramadhan yang akan datang.

Hal ini sebenarnya tak perlu terjadi jika setiap pribadi muslim paham. Speaker bukanlah alat untuk menunjukkan dominasi atau arogansi. Menggunakan secara bijak tentu akan membuat kegiatan peribadatan menjadi nyaman. Azan dan  iqamah sudah jamak jika menggunakan pengeras suara. Memberi tahu jamaah untuk bergegas tunaikan shalat (wajib) berjamaah. Dalam keadaan tertentu, beberapa kegiatan insidental (pengajian umum, pengajian rutin mingguan, dsb.) pun bisa gunakan pengeras suara secara proporsional.

Hal itu juga sebenarnya sudah ada ketentuan yang mengatur. Sebagaimana tertuang di dalam Instruksi Dirjen Bimas Islam Departemen Agama (sekarang Kemeterian Agama) Nomor 101 Tahun 1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Mushola. Di dalam aturan tersebut dengan rinci telah disebutkan bahwa penggunaan pengeras suara ke luar ditujukan sebagai penanda waktu untuk shalat. Sedangkan untuk shalat, zikir, serta berdoa, ataupun pengajuan cukup menggunakan pengeras suara dalam saja.

Beberapa butir penting lainnya adalah:

  • Subuh, paling awal 15 menit sebelum waktu azan, boleh menggunakan pengeras suara untuk tarhim (atau bacaan Al-Qur’an). Sementara untuk shalat Subuh, kuliah Subuh, dan setelahnya cukup menggunakan pengeras suara dalam.
  • Dzuhur dan Jumat, paling awal 5 menit sebelum azan Dzuhur atau 15 menit sebelum azan shalat Jumat, boleh diisi dengan bacaan Al-Qur’an, dan tentu saja azan itu sendiri dengan pengeras suara ke luar. Adapun shalat, khutbah, pengumuman, dan doa cukup menggunakan pengeras suara dalam.
  • Ashar, Maghrib, dan Isya, paling awal 5 menit sebelum azan dianjurkan membaca Al-Qur’an dan azan itu sendiri menggunakan pengeras suara ke luar. Namun setelah azan, menggunakan pengeras suara dalam.
  • Takbir Idul Fitri dan Takbir Idul Adha menggunakan pengeras suara ke luar. Namun saat Ramadhan, membaca Al-Qur’an (tadarus) menggunakan pengeras suara dalam, baik di siang atau malam hari.
  • Upacara Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) dan pengajian, hanya menggunakan pengeras suara ke dalam, kecuali pengunjung meluber sampai ke luar.

Nah, bila ketentuan yang mengatur sudah ada, mengapa kita tidak mencoba untuk taat? Kesemuanya itu dibuat dengan tujuan agar ketertiban dan suasana yang nyaman di dalam lingkungan dapat terjaga. Tak ada yang saling merasa terusik, sebab semua ditempatkan pada porsi masing-masing. Menghindari kejadian seperti kasus Tanjung Balai terjadi di tempat yang lain.

Bila aturan dapat ditegakkan. Maka provokator pun akan berpikir sejuta kali untuk membuat pemicu  ‘gesekan-gesekan’. Semua mampu berpikir rasional. Tak ada masalah yang tak dapat dipecahkan jika masyarakat bersatu. Aparat pun dapat secara dini bertindak antisipatif terhadap setiap aktivitas yang mencurigakan. Apalagi sudah ada kecenderungan meresahkan masyarakat.

 

 

 

Mas Nuz

Pecinta keluarga yang kadang suka nulis dan jalan-jalan.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Merdeka itu berani beragam dan bekerja sama. Kemerdekaan itu adalah Kerja Bersama.

Dirgahayu Indonesia ke-72. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Merdeka !

#hutri72 #kemerdekaan72 #kemerdekaanRI72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top