lomba blog

Muslimah Cerdas: Muslimah yang Cerdas dalam Menyiapkan Kematian

Kecerdasan merupakan salah satu bekal menjalani kehidupan. Kecerdasan dianggap sebagai hal paling utama dan menjadikan seseorang disegani orang lain. Di setiap doanya orang tua selalu mendoakan anak-anaknya untuk menjadi anak yang taat dalam agama dan cerdas dalam kehidupan. Dalam pepatah bijak dikenal ungkapan “air tenang menghanyutkan” artinya orang yang pendiam tetapi nyatanya ia cerdas karena menyimpan banyak ilmu pengetahuan.

Bagaimanakah sebenarnya sosok yang bisa disebut cerdas itu? Apakah seseorang dengan nilai akademis di atas rata-rata, pengetahuan berlimpah bisa disebut cerdas? Apakah seseorang yang cerdas itu adalah orang yang mampu mencari uang dan berinvestasi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia cerdas adalah sempurna perkembangan akal budinya sehingga mampu berpikir, mengerti suatu hal secara cepat dan tepat.

Menurut para ahli kejiwaan kecerdasan tidak hanya ditinjau secara sempit dari segi prestasi akademik atau pencapaian tetapi kecerdasan merupakan perpaduan dari kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Secara umum seseorang dianggap cerdas jika orang tersebut cepat tanggap dalam menghadapi suatu permasalahan, ia tidak kesulitan memecahkan masalah setelah menganalisa dan berupaya mencari alternatif jalan keluar dari suatu permasalahan. Seorang yang cerdas mampu menyeimbangkan antara hak dan kewajiban.

Bicara masalah kecerdasan sebagai seorang muslimah saya teringat tentang riwayat yang tercantum dalam Hadits Riwayat Ibnu Majah. Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshor, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Orang mukmin paling utama adalah Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy)

Hadits

Maka saya menyimpulkan bahwa ditinjau dari sudut pandang para ahli psikologi dan paling tepat menurut perspektif agama seseorang dapat disebut cerdas jika sering berpikir tentang kematian dan paham benar bahwa perlu menyiapkan diri sebaik mungkin menghadapi kematian. Bersiap menghadapi kematian bukan berarti menyiapkan dana pemakaman, bersiap busana yang hendak dipakai saat mati, menyiapkan bagaimana sikap yang baik saat nafas sudah tinggal satu-satu. Bersiap menghadapi kematian bagi seorang muslimah cerdas adalah menyiapkan bekal agar khusnul khotimah (mati dalam keadaan beriman dan mengingat Allah) dan yakin bahwa ada kehidupan setelah kematian untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama hidup di dunia. Kematian tidak melihat usia. Ajal tidak selalu didahului dengan pertanda sakit sebelumnya. Adik bungsu saya meninggal di usia 30 tahun padahal kami tak pernah menyangka umurnya akan sependek itu. Tak terhitung kematian lain di dunia ini yang menjemput muslimah di usia muda.

Muslimah yang cerdas mampu mengoptimalkan karunia Allah yang ada pada dirinya untuk senantiasa siap menghadapi kematian. Kematian adalah misteri, ia pasti datang menjemput setiap insan tetapi tak ada yang tahu tepatnya kapan. Muslimah yang cerdas tidak menghabiskan waktunya siang malam sekedar untuk beribadah sholat, mengaji, berpuasa, berdzikir. Muslimah cerdas paham bahwa ibadah secara garis besar dibedakan menjadi ibadah amaliyah yaitu ibadah yang diwujudkan melalui ucapan dan ibadah qauliyah yaitu ibadah yang diwujudkan dengan perbuatan.

Beribadah bagi muslimah cerdas tidak hanya ibadah yang berkaitan langsung dengan menyembah Allah. Setiap amal perbuatan kebaikan yang diniatkan Lillahi ta’ala bernilai ibadah di mata Allah. Maka muslimah cerdas dapat memilah bahwa sebagai umat beriman ia harus mampu menjalankan kewajibannya baik sebagai umat Tuhan maupun makhluk sosial.

Secara garis besar kewajiban muslimah dapat dibedakan menjadi:

1. Kewajiban muslimah kepada Rabbnya

Sebagai umat Islam muslimah wajib meyakini rukun iman (beriman kepada Allah, meyakini malaikat, kitab Allah, utusan Allah atau Rasul, hari kiamat dan takdir atau qadha’ dan qadir) dalam rangka meyakini rukun iman tersebut maka pengaplikasian pada kehidupan adalah dengan melaksanakan rukun Islam (bersyahadat, melaksanakan sholat, berzakat, berpuasa Romadhon dan berhaji apabila mampu). Sebagai insan yang taat kepada Allah maka muslimah wajib menjalankan semua perintah Allah serta menjauhi larangannya. Jika Allah memerintahkan menutup aurat seperti termaktub dalam Al Quran Surat An Nuur ayat 31 dan surat Al Ahzab ayat 59 maka muslimah wajib mentaati tanpa ragu lagi.

Zakiah

Gambar koleksi Zakiah Hijab

Jika Allah mengharamkan apa yang haram (zina, arak, babi, riba dan segala sesuatu yang diharamkan Allah) maka muslimah cerdas wajib menjauhi segala yang haram. Sebagai insan cerdas muslimah pun wajib merepresentasikan perilakunya sehari-hari sebagai bentuk ibadah. Bersikap ikhlas, berserah diri, sabar, memperbanyak istighfar, memperbanyak amalan-amalan sunnah adalah contoh perilaku cerdas seorang muslimah sebab ia memiliki keyakinan bahwa Allah mengawasi segala sesuatu yang dikerjakan. Muslimah cerdas akan menghindari hal-hal yang membuat Allah murka seperti misalnya sifat boros. Allah dengan tegas berfirman bahwa boros adalah langkah-langkah setan. Maka muslimah cerdas akan berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Ia akan mengutamakan membelanjakan hartanya di jalan Allah dengan jalan berinfaq sedekah daripada menghamburkan untuk berfoya-foya.

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27).

2. Kewajiban terhadap diri sendiri.

Muslimah cerdas juga memahami hak dan kewajiban kepada diri sendiri sebagai tanda syukur kepada Illahi. Kewajiban terhadap diri sendiri ini meliputi kewajiban untuk fisik, akal dan hati. Kewajiban terhadap fisik adalah menjaga kesehatan dan merawat kecantikan. Tujuan dari merawat kecantikan adalah menjaga karunia Allah sebaik-baiknya, bukan untuk memamerkan kecantikan agar mendapat decak kagum dari yang melihat. Merawat fisik ini meliputi menjaga kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggalnya, mengkonsumsi makanan minuman hallalan thoyyiban yaitu halal dan baik untuk kesehatan serta berolahraga. Kewajiban terhadap akal dan pikiran adalah dengan menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan secara umum. Untuk itulah muslimah yang cerdas harus mampu membaca, berhitung dan belajar ilmu fiqih dan aqidah agama sebagai bekal menjalani kehidupan. Ilmu fiqih bermanfaat agar ia bisa menjalankan syariat secara benar. Ilmu aqidah dan akhlak adalah penyeimbang agar ia pandai memilah hal baik dan buruk. Pondasi aqidah menghindarkannya dari sifat merasa paling benar sehingga mudah menyalahkan orang lain. Kewajiban terhadap hati dapat dilakukan dengan cara selalu berpikir positif, berhusnudzon terhadap setiap takdir Allah, meyakini bahwa ada hikmah di balik setiap kisah. Hati yang bersih adalah modal utama untuk menjadi insan yang sukses dunia dan akherat, sebagaimana hadits nabi:

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)”
(HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

3. Kewajiban terhadap orang tua.

Muslimah cerdas paham benar bahwa Allah mewajibkan umatNya untuk berbakti kepada orang tua. Birrul walidain adalah kewajiban dari setiap insan. Perintah Allah jelas tertera dalam Al Quran. Salah satunya terdapat dalam QS AL Isra : 23

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al Isra : 23)

Iluv

Sumber: pixabay.com

4. Kewajiban terhadap sesama

Sebagai makhluk sosial muslimah juga memiliki kewajiban terhadap sesama. Muslimah yang telah menikah dan menjadi seorang ibu memiliki kewajiban terhadap suami dan anaknya. Kewajiban sebagai seorang istri pada dasarnya adalah taat kepada perintah suami sebatas perintah tersebut tidak melanggar syariat. Sebagai seorang ibu muslimah cerdas wajib mendidik anak-anaknya di jalan Allah agar menjadi anak yang sholeh dan sholihah. Wanita sholeh akan senantiasa ingat kepada hadits nabi:

“Ad-dunyaa mata’un wa khoiru mataa’ihaa almar’atus sholikhah. (H.R. Bukhori Muslim)”. Artinya : “Dunia adalah harta, dan sebaik-baik harta dunia adalah wanita sholihah“.

Muslimah cerdas yang masih single tidak akan putus asa menanti datangnya jodoh. Ia akan tetap menjaga diri dan kehormatannya hingga jodoh yang dijanjikan Allah akan datang menyempurnakan separuh agamanya. Muslimah cerdas mampu menempatkan dirinya sebagai makhluk sosial tanpa harus merendahkan dirinya ketika mengais rezeki atau menemukan jodohnya.
30 Days Finding Heart

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah nafkah dengan cara yang baik, karena sesungguhnya seseorang sekali-kali tidak akan meninggal dunia sebelum rezekinya disempurnakan, sekalipun rezekinya terlambat (datang) kepadanya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram.” (Hadits shahih, Shahih Ibnu Majah no. 1743 dan Ibnu Majah II: 725 no. 214).

Muslimah cerdas juga senantiasa ingat wasiat Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia paling bermanfaat bagi manusia yang lain sebagaimana yang diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Maka muslimah yang cerdas akan berupaya agar hidupnya bermanfaat bagi orang lain dengan jalan berbuat banyak kebaikan, mengajarkan ilmu yang baik, mengajar membaca dan memahami Al Quran, berinfak dan bersedekah sekuat tenaga. Dan apabila sedang tak memiliki cukup harta maka ia bersedekah dengan ilmu yang ia miliki, tenaga serta senyum yang tersungging tulus di bibirnya. Muslimah cerdas paham bahwa dalam bertetangga dan bersosialisasi ada adab-adab yang harus ditaati seperti misalnya mengunjungi dan mendoakan yang sakit, bertakziah apabila ada yang meninggal dan berusaha meringankan beban jika kerabat dan teman ditimpa ujian.

5. Kewajiban terhadap lingkungan dan alam sekitar

Manusia ditugaskan oleh Allah untuk menjadi khalifah di bumi. Namun sayangnya manusia lebih banyak berbuat kerusakan daripada merawat lingkungan, alam sekitar penuh cinta kasih. Muslimah yang cerdas akan senantiasa ingat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup sebab menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan adalah sebagian dari iman. Seorang muslimah cerdas akan berupaya sekuat tenaga berpartisipasi dalam merawat lingkungan di sekitarnya dan melakukan introspeksi apabila tertimpa musibah.
#Florist
“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Cerdas merupakan bekal bagi manusia untuk menjadi insan yang bernas. Maka muslimah cerdas akan senantiasa mengoptimalkan karunia Allah yang telah ia nikmati untuk membawa manfaat bagi sesama selain berusaha menemukan kebahagiaan bagi diri sendiri. Dan muslimah cerdas dalam pencarian panjang pada akhirnya akan menemukan kesimpulan bahwa kebahagiaan ada pada hati yang senantiasa bersyukur dan tak pernah lupa untuk berbagi. Sebab ia paham bahwa apapun yang dilakukan di dunia kelak akan dipertanggungjawabkan di akherat. Setiap jiwa akan merasakan kematian. Setiap insan memimpikan akhir hidup yang baik atau khusnul khotimah. Namun akhir yang baik tidak dapat diraih dengan mudah, perilaku keseharian sangat berperan menentukan bagaimana baik buruknya sebuah akhir kehidupan. Muslimah yang cerdas tidak hanya berpikir tentang bagaimana cara agar ia bisa masuk surga sendirian tetapi ia juga mendambakan orang-orang yang dicintainya masuk surga bersamanya dan menikmati kebahagiaan sesungguhnya kelak di alam keabadian.

 

 

Dwi Aprilytanti Handayani

Ibu dua anak, senang menulis dan berbagi pengalaman. Baginya menulis adalah salah satu sarana mengeluarkan uneg-uneg dan segala rasa.

Latest posts by Dwi Aprilytanti Handayani (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Hai, haaai smart people 😍 Asyikkk ya weekend! Have fun ya, guys 😄
.
Guys, tau gak sih kamuuu, lebih dari 3,8 milyar orang di seluruh dunia menggunakan internet, dimana jumlahnya meningkat 38 juta orang sejak Januari 2017 😁
.
Kenaikan ini menandakan bahwa penetrasi internet di seluruh dunia mencapai 51%, atau bisa dibilang orang yang pakai internet udah lebih banyak daripada orang yang nggak pakai internet, hihi.. Memang sih, tahun 2017 ini sebenarnya peningkatan jumlah pengguna internet jauh lebih lambat daripada tahun 2016 😆
.
Daaan, dari 3,8 milyar orang pengguna internet di seluruh dunia, 2,9 milyarnya aktif menggunakan media sosial, lho! Wawww 😋 Pastinya kamu termasuk di dalamnya dong, heheee
.
Sumber: youthmanual.com
.
#indoblognet #mbcommunication #internet #survey #sosialmedia #socialnetworking #weekend #saturday #viral

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top