Inspirasi

Muhammad Ali, S3 yang Menginspirasi

Siang itu langit Sidoarjo cukup bersahabat. Panas namun tak terlalu terik. Tidak seperti biasanya saat musim kemarau. Waktu makan siang pun tiba, batin saya. Terbayang satu buah resto yang telah diberikan rekomendasi oleh seorang sahabat.

Meluncurlah saya menuju sebuah resto yang bentuk bangunannya cukup unik. Asapasap Steak and Soup, demikian nama restonya. Berada di ‘mulut’ Perumahan Taman Pinang Indah, tidaklah sulit untuk menemukan tempat ini. Oh ya, letaknya berada di sebelah utara gerbang utama. Atau di sebelah kanan jalan. Baiknya, Anda putar balik di U-turn pertama, meskipun langsung belok kanan juga boleh. Tapi jika kondisi lalu lintas ramai, pasti diminta terus oleh petugas sekuriti.

Meskipun bukan hari kerja, tempat tersebut rupanya tak pernah sepi pengunjung. Memasuki resto suasana yang nyaman terasa. Ada beberapa ruang yang disiapkan oleh pemiliknya. Mulai dari ruang atau tepatnya space khusus disiapkan untuk yang suka lesehan, hingga ruang khusus ber-AC. Tak lupa, mushala kecil pun disiapkan khusus untuk pengunjung.

Steak Bandeng Sidoarjo yang mak nyuss

Steak Bandeng Sidoarjo yang mak nyuss

14002464_10206958526577889_348135248_o

Es Campur, minuman andalan AsapAsap

Saya pilih tempat untuk lesehan. Maklumlah, bisa selonjoran sambil buka-buka laptop dan gawai memanfaatkan fasilitas free-wifi. Tak lama kemudian, pramu saji pun datang menyapa ramah. Kemudian saya memesan dua menu makanan dan dua menu minuman. Soup Iga Rebus dan Steak Bandeng Sidoarja yang merupakan menu ikon Asapasap. Minumannya saya pilih Es Campur dan Jus Melon.

Tak usah khawatir dengan harga. Minuman yang dibanderol mulai 6 ribuan hingga 17 ribuan. Sementara untuk makanan, dibanderol mulai harga 6 ribuan sampai dengan 40 ribuan. Jika datang rombongan, tak ada salahnya memilih harga paket yang dijamin lebih murah.

Tak perlu menunggu terlalu lama. Satu per satu datang juga pesanan saya. Perut yang sudah keroncongan segera perlahan-lahan diisi. Maklumlah, perjalanan dari Jogja cukup melelahkan. Apalagi berangkat sebelum Subuh, sengaja tak menikmati sarapan. Sebab sensasi makan tentu akan terasa ndessnya saat perut kita kosong bukan?

Singkat cerita, makanan dan minuman tak sampai sejam tandas juga. Sssssttt, ini cukuplah menjadi rahasia kita ya.  Meski dengan harga sederhana, makanan dan minuman yang disajikan cita rasanya mewah lho. Kalau tak  percaya, boleh coba kalau ke Sidoarjo. Toh, jaraknya tak terlalu jauh dari Kota Surabaya dan Kota Malang.

Sarungers S3 yang Inspiratif

Alhamdulillah, setelah menikmati makanan dan minuman yang haujek. Sang pemilik tiba-tiba nongol. Pucuk dicita ulam tiba. Sebelumnya saya sudah minta kepada pramusaji agar mengontak saya jika pemiliknya datang di resto. Maklumlah, menurut sahabat saya, pemiliknya termasuk saudagar yang sibuk. Banyak bisnis yang diurusi selain Asapasap.

Muhammad Ali, sosok muda yang rendah hati dan inspiratif

Muhammad Ali, sosok muda yang rendah hati dan inspiratif

Seorang pria tampan, masih muda, dengan dandanan khas pesantren mendekati tempat saya. Kemeja, sarung, dan kopiah menempel pas di tubuh berperwakan sedang namun cukup lincah dan cekatan ini. Salam pun meluncur dari sang pemilik Asapasap. Dengan senyum penuh kehangatan saya pun bersalaman dan memperkenalkan diri. MasyaAllah, sama sekali tak menampakkan pribadi jumawa melihat prestasi bisnisnya yang cukup wah.

Tanpa basa-basi, Muhammad Ali, yang saya lebih suka memanggil dengan Gus Ali ini mempersilakan saya untuk bertanya. Kesempatan yang tak boleh saya sia-siakan tentu saja. Maka mengalirlah obrolan kami dengan gayeng. Sesekali ditimpali dengan guyonan khas Yogya. Apalagi kampus yang pernah kami huni pun sama. Alumni UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Gadjah Mada ini ternyata sempat nyantri juga di beberapa pesantren saat berstatus mahasiswa.

Perjalanan bisnis yang tak lalui dengan mulus telah menempa beliau untuk menjadi pebisnis, atau lebih tepatnya saudagar tahan banting. Memulai pekerjaan dengan prestise yang tinggi di sebuah resto ayam bakar dengan jaringan nasional, tak membuatnya nyaman. Hingga pekerjaan manajerial lain dilakoninya. Rupanya hal itu tak membuat hatinya puas.

Berbekal tekad kuat dan ridla sang istri, dimulailah petualangan bisnisnya. Mulai dari makelar motor, berjualan penyet ayam, hingga menjadi pedagang sarung. Kisah suka dan duka mulai bergulir. Dan cerita duka yang cukup ‘heroik’ dan tak akan pernah terlupa adalah kisah sedih namun cukup lucu bila dikenang. Ketika membawa berkodi-kodi sarung dari Surabaya, tiba-tiba sarung yang diangkut dengan motor jatuh berceceran. Tak pelak, sempat membuat kalang-kabut pengguna jalan HR. Muhammad Surabaya yang terkenal padat dan sering macet itu. Sampai-sampai sebuah radio FM yang biasa menyiarkan kejadian lalu lintas memberitakan peristiwa tersebut. Sampai di situ, saya pun tak mampu menahan tawa saat membayangkan kejadian tersebut.

Semangat keyakinan atas pertolongan Allah Ta’ala begitu kuat tersemat di dada. Satu per satu usaha pun mampu dirintis dengan mulus. Bisnis properti, kolam pancing, serta bisnis resto wara laba M2M, mulai menggurita. Sarjana, santri, yang menjadi saudagar yang sukses, gumam saya dalam hati. S3 deh!

Derasnya Sedekah Membuat Derasnya Rezeki

Satu resep utama kesuksesan mengelola semua usaha tak lepas dari sebuah keyakinan. Jika sedekah semakin deras yang dikeluarkan, maka semakin deras pula rezeki yang akan diberikan Allah. Ditambah dengan restu dari keluarga, baik dari istri atau ibu, serta guru menjadi pendorong semangat dan keyakinan atas usaha yang dijalankan. Selalu bersikap positif terhadap setiap hubungan pertemanan dan persaudaraan.

Di tengah kesibukannya untuk mengelola berjibun usahanya, kegiatan mengaji tak lupa selalu dilakukan. Silaturrahim kepada para kyai, para asatiz tak lupa selalu dilakukannya. Hal inilah sekaligus yang membuat para kyai tak segan-segan untuk menawarkan modal material maupun lahan untuk dikelola. Kesuksesan yang justru membuat beliau semakin merendah.

Sebagaimana guyonan yang saya lontarkan, bahwa sepertinya beliau sudah layak untuk merintis pondok pesantren. Dengan gaya merendah, beliau pun menampik halus. Merasa ‘belum cukup’ ilmu agama untuk membuka ponpes. Masih perlu untuk mengistikomahkan hafalan Al-Quran. Demikian jawabnya lugas.

Sosok muda yang inspiratif di mata saya. Membuat saya pun ikut terbawa semangatnya hingga pulang ke rumah. Menjadi santri ternyata menempa pribadi penuh dengan keyakinan. Dengan ilmu di bangku kuliah memberi bekal kemampuan manajerial untuk mengelola banyak potensi yang ada. Menjadi saudagar menjadi pilihan cerdas agar mampu berbagi dengan sesamu.

Jazaakumullahu khairan, Gus Ali.

 

 

 

Mas Nuz

Pecinta keluarga yang kadang suka nulis dan jalan-jalan.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • YouTube saat ini bisa jadi lahan yang mendatangkan penghasilan lumayan, lho. Makanya makin banyak nih para YouTuber yang bermunculan. YouTube juga bisa jadi sarana promosi yang kekinian bagi para marketer 😀
.
#indoblognet #mbcommunication #youtube #youtuber #marketer #socialmedia #promotion

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top