Inspirasi

Menulis Buku Silsilah Keluarga, Tantangan Bagi Saya

Keluarga Abdul Cholik

Sudah siap mudik lebaran atau sudah berada di tengah-tengah keluarga besar? Bagaimana jika kesempatan silaturahmi Anda gunakan untuk mengemukakan ide menulis buku silsilah keluarga? Jika banyak yang setuju maka ajukan diri Anda sebagai penyusunnya? Sebaliknya jika orangtua dan keluarga besar tampak ogah-ogahan atau pesimis yakinkan mereka bahwa keberadaan buku silsilah keluarga akan bermanfaat untuk ‘ngumpulake balung pinisah’ atau mengumpulkan sanak-famili yang domisilinya tersebar entah di mana. Bukan hanya mempertemukan wajah dengan wajah saja tetapi juga mempertemukan hati dengan hati.

Dalam sebuah keluarga besar belum tentu mereka saling mengenal. Lokasi tempat tinggal yang berjauhan, kesibukan masing-masing, dan kurangnya komunikasi menyebabkan jarang sekali mereka bertemu secara fisik. Itulah sebabnya ada seseorang atau beberapa orang yang berinisiatif untuk menyelenggarakan reuni keluarga. Waktu yang dipilih biasanya saat merayakan Idul Fitri atau pas liburan sekolah. Itupun tidak menjamin bahwa mereka bisa hadir semuanya. Selain faktor kendala yang sudah saya sebutkan di atas juga karena faktor biaya. Itu juga yang dialami oleh keluarga besar istri saya, baik dari pihak ayah maupun pihak ibu. Saya ingin menceritakan tantang pengalaman saya menulis buku silsilah.

Mulai Dari Obrolan Kecil

Ketika saya dan istri menghadiri pernikahan salah seorang kerabat di Yogyakarta, Mas Bambang Supriyanto, sepupu istri saya berkata: “Dik Cholik, saya ingin membuat buku silsilah keluarga Eyang Darono, tapi belum ada kesempatan”. Mendengar ucapan beliau saya tanggap dan langsung menawarkan diri: “Saya siap membantu, Mas”. Gayungpun bersambut. Kami berbagi tugas. Saya ditugasi untuk menyusun draftnya dan Mas Bambang yang akan menerbitkannya. Kebetulan saya memang mempunyai waktu cukup banyak karena saya sudah pensiun dari dinas militer. Terus terang saya belum mempunyai pengalaman menulis buku silsilah. Tapi saya bertekad untuk mewujudkan keinginan kakak sepupu tersebut. “Yang penting jadi dulu, jika kurang bagus ya nanti ada edisi revisi,” begitu tekad saya.

Pengumpulan Data Keluarga

Karena Mas Bambang Supriyanto menyebut buku silsilah Eyang Darono dan beliau beserta istri sudah menianggal dunia maka saya mengumpulkan data dari putra-putri beliau yang berjumlah 7 orang. ย Kala itu dua orang putra dan putri beliau sudah meninggal dunia. Putra-putri yang masih hidup usianya juga relatif sudah tua. Oleh karena itu saya memanfaatkan cucu Eyang Darono sebagai contact person. Mereka menyambut gembira rencana penerbitan buku silsilah ini dan juga siap membantu.

Kepada kerabat yang saya jadikan personil kunci saya kirimkan blangko untuk diisi oleh masing-masing keluarga. Blangko ini saya minta diteruskan juga kepada adik-adiknya untuk diisi data keluarga. Data yang saya butuhkan meliputi:

  1. Nama lengkap
  2. Tempat tanggal lahir
  3. Jenis kelamin
  4. Agama
  5. Pekerjaan
  6. Alamat lengkap
  7. Nomor telepon
  8. Nama suami/istri
  9. Nama anak-anak beserta data nomor 1 sd 7.

Selain mengirimkan data juga mengirimkan pas foto masing-masing plus foto keluarga.

Blangko tersebut saya jadikan lampiran pada surat pengantar saya. Dalam surat pengantar saya sebutkan bahwa data tersebut akan digunakan untuk penyusunan buku silsilah keluarga Eyang Darono. Saya sebutkan juga siapa diri saya dan kedudukan saya dalam keluarga besar Eyang Darono. Hal ini untuk penting agar mereka tidak bertanya-tanya siapa gerangan orang yang mengirimkan surat permintaan data keluarga.

Ternyata tahap pengumpulan data inilah yang paling lama prosesnya. Maklum, cucu Eyang Darono tersebar di seluruh Nusantara dan bahkan ada yang bermukim di Jerman. Ada juga keluarga yang tidak mempunyai pas foto atau foto keluarga. Alhamdulillah setelah 3 bulan data keluarga bisa terkumpul semuanya.

Penyusunan Bagan Keluarga

Berdasarkan data keluarga yang masuk maka saya mulai menyusun bagan keluarga masing-masing, dimulai dari keluarga inti Eyang Darono. Pada setiap kotak saya pasang pasfoto. Eyang Darono dan isteri paling atas, di bawahnya adalah data putra-putrinya. Nama yang menggunakan font warna merah artinya sudah meninggal dunia. Dari bagan ini terlihat putra-putri beliau sebanyak 7 orang. Lengkap dengan tanggal lahirnya.

Bagan silsilah keluarga

Setelah itu saya lanjutkan dengan membuat bagan keluarga tiap anak Eyang Darono. Nama bertanda biru adalah para menantu. Pada bagan di bawah ini sudah tampak anak dan cucu dari Eyang Darono. Ada yang sudah menikah dan ada yang masih bujangan.

Bagan silsilah keluarga

Demikian satu demi satu saya buat bagan keluarga. Jika anak dan cucunya cukup banyak maka saya buatkan bagan tiap keluarga sampai yang terkecil. Untuk menghindari kebingungan maka pada tiap bagan saya beri judul seperti ini: Keluarga Eyang Darono/Soewarto/Anita Purwati. Ini berarti bagan keluarga Anita Purwati, anak dari Bapak Soewarto, cucu dari Eyang Darono. Mula-mula mungkin masih agak bingung, namun lama-lama menjadi jelas.

Dari tiap keluarga diusahakan ada foto keluarga sehingga setiap orang akan mengetahui keluarga yang lain secara utuh. Namun karena tidak semua keluarga memiliki koleksi foto bersama yang baru maka ada saja foto keluarga yang sudah kuno ketika anak-anaknya masih kecil.

Susunan Buku Silsilah Keluarga

Tentu kurang menarik jika buku silsilah isinya hanya data dan gambar keluarga belaka. Oleh karena itu buku silsilah Eyang Darono saya lengkapi dengan beberapa informasi yang layak diketahui oleh keluarga besar.

1. Sambutan-sambutan : Sambutan Pemrakarsa, Sambutan saya selaku penyusun buku, sambutan putra-putri Eyang Darono yang masih hidup atau menantunya yang masih hidup. Khusus untuk sambutan putra-putri Eyang Darono ditulis dengan tangan agar otentik. Tulisan tangan tersebut saya scan kemudian di upload dalam draft.

2. ย Profil Eyang Darono

3. Daftar alamat masing-masing orang

4. Daftar pekerjaan masing-masing orang

5. Daftar hari ulang tahun masing-masing orang

6. Tempat wisata terkenal di kota/propinsi keluarga berdomisili

Peluncuran Buku Keluarga Eyang Darono

Buku silsilah keluarga Eyang Darono diluncurkan dalam sebuah reuni keluarga di Cimahi. ย Warga yang hadir langsung mendapatkan buku tersebut. Yang tidak bisa hadir buku dikirimkan melalui famili masing-masing. Walaupun buku silsilah ini bentuknya masih sederhana namun sudah cukup sebagai alat pengikat bagi keluarga besar. Sejak saat itu komunikasi semakin intensif baik melalui sms, telepon, atau email. Kini komunikasi semakin bagus dengan adanya grup di Facebook dan WhatsApp.

 

Buku silsilah Keluarga Eyang Darono

Tantangan dari Ibu Mertua

Beberapa tahun setelah buku silsilah Keluarga Eyang Darono terbit, adik ipar saya berkata: “Buat juga donk buku silsilah dari Eyang Mochammad Chasan”. ย Mendengar ucapan anaknya, ibu mertua berkata: “Wah, impossible membuat buku silsilah itu. Wong putranya tinggal saya satu-satunya yang masih hidup. Nak Cholik pasti sulit mencari datanya karena cucu dan cicitnya tersebar entah ke mana”.

Eyang Mochammad Chasan adalah ayah dari ibu mertua saya. Sedangkan Eyang Darono adalah ayah dari bapak mertua saya. Bagi ibu mertua, membuat buku silsilah dari pihak ayahnya mungkin sulit tetapi naluri saya sebagai seorang militer berkata lain. Percuma donk saya sekolah intelijen di Amerika Serikat jika tak bisa mengumpulkan data anak, cucu, dan cicit Eyang Mochammad Chasan. “Sepanjang ada keluarga yang bisa dihubungi tentu bukan hal yang mustahil untuk membuat buku silsilah Eyang Mochammad Chasan,” kata saya optimis.

Sejak muncul tantangan dari ibu mertua itu maka saya langsung mengontak adik ipar yang berdomisili di Purwokerto. Di kota inilah sebagian besar cucu dan cicit Eyang Mochammad Chasan berada. Jika 9 dari 10 orang putra-putri Eyang sudah meninggal dunia pastilah masih ada cucu dan cicitnya.

Sama halnya keluarga Eyang Darono yang tersebar di seluruh Nusantara, keluarga Eyang Mochammad Chasan idem dito. Satu keluarga juga berdomisili di luar negeri yaitu di Belanda. Pola yang saya gunakan juga sama dengan waktu menyusun buku silsilah Eyang Darono yaitu mengirimkan blangko untuk diisi data keluarga masing-masing. Adik ipar yang di Purwokerto saya jadikan penjuru untuk menghubungi para personil kunci dari keluarga masing-masing.

Tantangannya juga persis sama yaitu pada proses pengumpulan data dan foto. Jumlahnya memang lebih banyak karena satu keluarga bisa mempunyai putra-putri sebanyak 5 orang lebih. Ini benar-benar keluarga besar. Alhamdulillah, akhirnya pengumpulan data dan foto selesai. Memang masih ada yang belum menemukan foto keluarganya karena sudah terlalu lama ayah atau ibunya meninggal dunia.

Reuni Mini

Setelah data terkumpul, atas prakarsa saya dan adik ipar kami menggelar reuni mini. Kami undang wakil dari masing-masing sub-trah. Pada reuni tersebut saya paparkan draft buku Trah Eyang Mochammad Chasan. Ternyata pada reuni ini banyak di antara keluarga yang belum saling mengenal satu sama lain. Satu persatu para wakil sub-trah memperkenalkan diri. Pada reuni mini ini kami berjanji akan menggelar Reuni Akbar dengan mengundang seluruh anak, cucu, dan cicit beserta keluarganya. Tempatnya juga tetap di Purwokerto yang letaknya memang sentral di Jawa Tengah.

Sambil menunggu waktu reuni saya ngebut menyelesaikan buku silsilah. Kali ini buku tidak saya kirim ke percetakan tetapi saya print sendiri dengan memakai komputer. Alhamdulillah buku setebal 500 halaman plus buku alamat keluarga itu bisa saya persembahkan pada reuni akbar keluarga besar Trah Mochammad Chasan tanggal 5 Oktober 2008 di Purwokerto. Buku tersebut saya berikan kepada masing-masing wakil sub trah. Yang menggembirakan, banyak keluarga yang order buku tersebut karena sangat bermanfaat.

Kini kami bisa saling kontak dan juga mengadakan reuni secara berkala. Ketika salah seorang warga trah mengikuti pendidikan di negeri Belanda dia juga bisa kontak dengan warga yang ada di negeri kincir angin tersebut. Mereka bisa bertemu dengan akrab dan jalan-jalan bareng. Demikian pula ketika famili yang berada di Ambon mengikuti kegiatan di Surabaya, dia bisa menginap di rumah kami.

Buku Trah Mochammad Chasan

Peluncuran buku Trah Mochammad Chasan

Nah, bagi Anda yang ingin membuat buku silsilah keluarga silakan mencobanya. Kemukakan ide tersebut saat silaturahmi dengan keluarga pada kesempatan mudik lebaran atau kesempatan lainnya. Niatkan saja untuk ibadah agar hasilnya barokah dan mendapat petunjuk, bimbingan, dan kekuatan lahir batin dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Modelnya terserah selera dan gaya Anda. Jadikan tantangan menjadi peluang. Jika atas keberhasilan menerbitkan buku silsilah itu Anda menjadi terkenal dan keluarga besar berkata:”Wow..keren,” maka hal itu adalah bonusnya.

Editor: Indoblognet

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Hai, haaai smart people ๐Ÿ˜ Asyikkk ya weekend! Have fun ya, guys ๐Ÿ˜„
.
Guys, tau gak sih kamuuu, lebih dari 3,8 milyar orang di seluruh dunia menggunakan internet, dimana jumlahnya meningkat 38 juta orang sejak Januari 2017 ๐Ÿ˜
.
Kenaikan ini menandakan bahwa penetrasi internet di seluruh dunia mencapai 51%, atau bisa dibilang orang yang pakai internet udah lebih banyak daripada orang yang nggak pakai internet, hihi.. Memang sih, tahun 2017 ini sebenarnya peningkatan jumlah pengguna internet jauh lebih lambat daripada tahun 2016 ๐Ÿ˜†
.
Daaan, dari 3,8 milyar orang pengguna internet di seluruh dunia, 2,9 milyarnya aktif menggunakan media sosial, lho! Wawww ๐Ÿ˜‹ Pastinya kamu termasuk di dalamnya dong, heheee
.
Sumber: youthmanual.com
.
#indoblognet #mbcommunication #internet #survey #sosialmedia #socialnetworking #weekend #saturday #viral

Follow Me

Copyright ยฉ 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top