Opini

Menyoal Pemahalan Harga Rokok

TENTU Anda mafhum bila belakangan ini rokok banyak dipergunjingkan. Bukan terkait dengan bahayanya bagi kesehatan, melainkan terkait dengan harganya. Iya. Hari-hari ini memang sempat berkembang wacana pemahalan harga rokok. Dari belasan ribu rupiah, rencananya menjadi sekitar lima puluh ribu rupiah. Sungguh, sebuah kenaikan harga yang sangat signifikan.

Terlepas dari hoax atau tidaknya, jika wacana pemahalan harga rokok itu menjadi fakta, maka akan rumit akibatnya. Lalu, apa akibatnya? Sudah pasti para perokok menjadi gusar. Terlebih para perokok berat. Betapa tidak? Harga rokok naik berarti pengeluaran mereka juga meningkat. Yang paling terkena dampaknya tentu para perokok berat yang berduit pas-pasan.  Para perokok berat berdoku cekak sudah pasti akan kelimpungan. Merasa sangat gusar. Puluhan ribu rupiah untuk menebus sebungkus rokok, lho. Yang mana isinya cukup untuk sehari saja. Bahkan mungkin, tidak sampai sehari. ‘Kan perokok berat?

Namun, yang paling gusar tentu istri-istri mereka. Uang belanja bisa-bisa disunat habis demi mampu menjangkau harga rokok. Para bocah pun tak kalah merana dari para emak mereka. Bocah-bocah itu dapat didamprat oleh sang bapak ketika meminta uang saku. Jangankan meminta tambahan uang saku. Jatah uang saku permanen saja bisa makin sulit exit permit-nya.

Huft. Tak adil, tak adil. Kalau hal demikian yang terjadi, sungguh  tak adil. Si bapak yang ingin terpenuhi hasrat merokoknya kok malah anak-istri yang menderita? Yang dikorbankan? Di mana logikanya, dong? Di mana keadilan? Hmm. Imajinasiku itu mungkin terasa ekstrem. Tepatnya ekstrem yang lebih cenderung berburuk sangka.

Tapi begini, lho.  Imajinasi buruk sangkaku tersebut sangat mungkin terjadi. Bila si bapak yang perokok berat egois, tetap ngotot untuk merokok sebanyak sebelum harganya dinaikkan, maka anak-istrinyalah yang menjadi korban. Siapa lagi?

Ah, tapi saya toh berharap yang baik-baik saja. Semoga melangitnya harga rokok tak berakibat “seseram” itu. Tak menimbulkan kekisruhan apa pun yang dapat menambah kerumitan hidup masyarakat. Bayangkan saja. Kalau imajinasi buruk sangkaku menjadi nyata, maka sungguh menyedihkan.

Mengapa saya bilang menyedihkan? Sebab itu berarti bahwa tujuan pemahalan rokok tak tercapai. Bukankah tujuannya untuk lebih menyehatkan masyarakat? Dimahalkan supaya orang tak boros belanja rokok. Supaya orang berpikir tujuh puluh kali sebelum membeli sebungkus rokok. Ujung-ujungnya demi penghematan, berkuranglah kebiasaan merokoknya. Yang pada akhirnya, makin sehatlah gaya hidup masyarakat kita.

Itu gagasan idealnya. Jika yang terjadi situasi ideal seperti itu, sip markosip adanya. Yang runyam bila terjadi hal sebaliknya; justru uang belanja keluarga dan uang saku anak yang dipangkas demi rokok. Wuaaah! Sangat miris. Alih-alih masyarakat kian sehat. Yang ada malah suasana makin kisruh penuh kasak-kusuk.

Para ibu bisa-bisa meradang keras kepada pemerintah. Berdemonstrasi heboh menuntut harga rokok segera diturunkan. Apalagi kalau ada yang ngipasin demonstrasi tersebut. Sementara anak-anak mereka diam-diam merasa tertekan enggak bisa jajan.

Apa boleh buat? Bila harga rokok dinaikkan secara drastis, saya kok meyakini kalau imajinasi buruk sangkaku tadi akan mewujud nyata. Bukannya aku pesimis dan underestimate terhadap bangsa sendiri. Tapi toh selalu ada orang yang memilih solusi egois ‘kan? Bagaimanapun akan selalu ada perokok berat yang tega kepada keluarganya. Hanya demi kepentingan pribadinya, yaitu tetap puas merokok, ia –misalnya– mampu memutuskan untuk menyunat uang saku anak.

Sekali lagi, apa boleh buat? Bila harga rokok betul-betul dinaikkan secara drastis, maka pihak yang paling terdampak adalah masyarakat. Diakui atau tidak, bagi masyarakat umum pemahalan harga rokok bisa menjadi kabar yang sangat buruk. Sangat berkebalikan keadaannya dengan pemerintah. Bagi pemerintah, pemahalan tersebut justru akan menyenangkan. Mengapa? Karena berarti akan punya pemasukan tambahan. Konon kabarnya begitu.

Ah, sudahlah. Di sini saya tak bermaksud menuduh tanpa bukti detil. Hanya saja, jika berita konon itu benar, mari kembali berpikir positif saja; bahwa pemasukan tambahan itu pun akan dikembalikan lagi ke masyarakat dalam bentuk lain.

Syukurlah hingga detik ini pemahalan harga rokok kelihatannya baru sekadar wacana (untuk tidak menganggapnya hoax). Buktinya, hingga kini harga rokok belum naik. Pemerintah pun tampak adem ayem; belum ada manuver apa pun terkait harga rokok. Ya, syukurlah begitu.  Jadi, kita semua boleh bernapas lega. Lega… sebab tak harus segera berhadapan dengan kerumitan hidup akibat mahalnya harga rokok. Hidup sudah rumit di negeri ini. Masak sih mesti diperumit lagi?

Saya bukan perokok. Bukan pula istri/pacar seorang perokok. Saya pun tak punya anak yang doyan rokok. Jadi sebenarnya, saya sama sekali tak terpengaruh oleh harga rokok. Kalau memperbincangkan soal pemahalan harga rokok begini, bukan berarti saya sedang cemas: jangan-jangan kelak uang belanja saya disunat gara-gara mahalnya rokok. Bukan. Sama sekali  bukan seperti itu.

Saya memperbincangkannya sebab saya peduli pada negeri ini. Adapun saya peduli sebab mencintainya dan tak ingin persoalan harga rokok memecah belah bangsa ini. Ya, begitu saja. Boleh ‘kan saya peduli?

 

 

Image source: pixabay.com

 

Agustina Soebachman

Perempuan biasa saja. Namun, berusaha aktif membaca dan menulis demi perbaikan diri.

Latest posts by Agustina Soebachman (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Ikuti yuk !

Creative Video Competition 
Tema : Pencegahan Narkoba ala kamu

Kategori peserta : Umum dan pelajar atau mahasiswa 
Mekanisme Lomba:
1. Follow, like & subcribe akun social media di @Indoblognet

2. Peserta wajib share ulang info lomba yang ada di sosial media Indoblognet atau repost. Bikin caption yang mengajak teman lainnya untuk ikutan Lomba Video Anti Narkoba

Timeline lomba:
• Pengumpulan video nominasi 1 November-20 November 2017.
• Pengumuman nominasi peserta lomba 25 November 2017. Nominasi ini akan kami viralkan di media sosial.
• Pengumuman pemenang lomba pada 30 November 2017 di media sosial @indoblognet

Ketentuan :
1.	Peserta lomba adalah WNI dan berdomisili di Indonesia
2.	Video dibuat berkelompok dengan penokohan yang berbeda (jumlah tim bebas, bisa 2 orang).
3.	Jenis video netizen (vlog) dan film pendek yang diuplod di youtube personal. Segmentasi target audien remaja.
4.	 Konten video tidak bermuatan SARA dan atau mendiskreditkan suatu golongan, tidak berkesan menggurui (soft campaign) dan menyentuh nurani untuk melakukan perubahan. 
5.	Durasi video : 2-4 menit
6.	 Melampirkan logo Badan Narkoba Nasional (BNN) di akhir video 
7.	 Peserta wajib menyebarluaskan video yang telah diuplod di youtube ke khalayak luas dengan hastag #IniCaraGueCegahNarkoba
8.	Bagi peserta yang sudah mengunggah youtube masing-masing, bisa mengisi formulir pendaftaran di http://bit.ly/LombaVideoMB
9.	DL kirim : 20 November 2017, pukul 24:00 Wib. 
10.	Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat. Apabila di kemudian hari Dewan Juri menemukan pelanggaran terhadap persyaratan, maka Dewan Juri berhak mendiskualifikasi dan membuat ketentuan lebih lanjut
11.	Video pemenang berhak kami atau digunakan BNN untuk kegiatan kampanye anti narkoba (non komersial

Hadiah :
Kategori umum

Juara 1 : 2.500.000
Juara 2 : 2.000.000
Juara 3 : 1.000.000

Kategori pelajar atau mahasiswa
Juara 1 : 2.000.000
Juara 2 : 1.000.000
Juara 3 :  750.000

Informasi lebih lanjut hubungi : Mira (0858 8335 5122), Ignas (0813 80741911)
www.indoblognet.com

#lombabikinvideo
#videocompetition
#lombavideokreatif #BNN #IniCaraGueCegahNarkoba #kampanyeantinarkoba  #MBcommunication #indoblognet

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top