Agama

Menyekolahkan Anak di Pesantren, Pikir-pikir Dulu Deh!

Agustus 2016 ini Rafif sulung kami tepat berusia 12 tahun. Bukan tanpa alasan kami mengarahkan Rafif untuk melanjutkan sekolah di sebuah Pondok Pesantren di Jawa Timur. Meski bertajuk “Pondok Pesantren” untuk menjadi santrinya butuh perjuangan karena harus melalui serangkaian test dan ujian kesabaran.

Pondok pesantren, bukan pilihan utama bagi para orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Berbagai stigma negatif yang melekat berkaitan dengan pondok pesantren sempat membuat orang ragu. Namun sepertinya minat orang tua sekaligus sang anak untuk memilih pondok pesantren sebagai tempat menuntut ilmu lanjutan mulai meningkat. Survey singkat sempat saya peroleh dari teman sekolah seangkatan Rafif. Setidaknya lima anak (atau mungkin lebih) dari empat puluh siswa teman sekelasnya memilih melanjutkan di pondok pesantren adalah sebuah kemajuan luar biasa.

Sebagian besar orang tua pasti pikir-pikir dahulu untuk menyekolahkan anaknya di pondok pesantren. Cecaran penghakiman dan rentetan pertanyaan akan keraguan kredibilitas pesantren bahkan saya alami sendiri dari lingkungan keluarga dan teman dekat. Mau menyekolahkan anak di pondok pesantren? Pikir-pikir dulu jawaban dari pertanyaan mereka yang meragukan instansi pencetak ulama-ulama di negeri ini. Berikut ini adalah serangkaian keraguan dan pertanyaan yang perlu dipikirkan jawabannya.

1. “Mondhok, nyantri nanti kelak mau jadi apa? Kerjanya cuma ngaji dan baca kitab doang”

Sebagai orang tua saya pribadi nggak menuntut Anak-anak “jadi apa” >> frasa yang biasanya merujuk ke profesi tertentu, target jabatan dan posisi di mata manusia. “Jadi Apa” di pemikiran saya untuk anak-anak adalah jadi apapun mereka kelak yang penting sholeh dan istiqomah di jalanNya. Masalah nanti jadi apa insyaAllah ikuti saja takdir Sang Maha Pencipta. Jika kita mau jujur toh berbekal ijazah sarjana saja bukan jaminan bisa cepat dapat kerja. Saya sudah pernah merasakan jadi pengangguran selepas lulus kuliah. Masih teringat lembaran-lembaran lamaran kerja, interview di sana sini tapi saya baru dapat pekerjaan setelah setahun lulus kuliah. Tak jarang para lulusan perguruan tinggi harus melupakan idealisme mimpi bekerja sesuai background ilmunya masing-masing.

Di pondok pesantren kegiatan para santri tidak sekedar mengaji dan belajar kajian hadits atau ilmu fiqih. Pondok pesantren tak ubahnya sekolah seperti sekolah umum lainnya. Bedanya di pondok pesantren porsi belajar agama Islam lebih besar daripada di sekolah umum. Pembelajarannya bukan sekedar pada text book tetap juga pada hidup keseharian. Santri juga belajar berhitung dan bahasa. Paham sejarah dan bagaimana merangkai kata. Jangan lupa beberapa pejabat tinggi di Indonesia baik legislatif maupun eksekutif, ketua umum organisasi masyarakat tertentu adalah mereka yang pernah ditempa pendidikan di pondok-pondok pesantren. Menteri Agama Lukman Syaifuddin salah satu contohnya. Bisa disaksikan sendiri kemampuan berpidato dan berdiplomasi para pejabat tinggi tersebut. Sebagian pondasinya adalah ketika mereka mereguk ilmu di pondok pesantren.

2. Masuk pondok? Hati-hati anakmu digebukin!

Seolah menjadi rahasia umum jika sekolah bersama model asrama harus siap digebukin senior. Apakah di pondok pesantren juga berlaku hal yang sama? Perbuatan kekerasan adalah sebuah pelanggaran besar di pondok pesantren. Namun tidak menutup kemungkinan terjadi pelanggaran sembunyi-sembunyi dengan cara membully yunior. Tetapi ini bukan kebijakan pondok. Jika tertangkap pengawasan ustadz dan pengelola pondok pelaku tindak kekerasan dan bullying di luar kewajaran pasti akan menerima sanksi dan hukuman.

Untuk mengantisipasi maka santri baru harus bisa beradaptasi dan menghindari hal-hal yang membuatnya menjadi sasaran hukuman dari senior. Sebagai langkah antisipasi maka santri sebaiknya melakukan hal-hal berikut : hindari perbuatan melanggar peraturan pesantren seperti misalnya membawa ponsel dan gadget, selalu bersikap sopan terhadap ustadz dan senior, tidak mengenakan busana yang menonjolkan kemewahan, berbuat baik dan senang berbagi dengan sesama santri, selalu berusaha tepat waktu di setiap kegiatan.

3. “Tega bener sih, anak kecil dibuang jauh dari keluarga”

Anggapan ini biasa terjadi di tengah masyarakat. Seolah mengirim anak ke pondok pesantren adalah tindakan membuang mereka, menjauhkan dari kasih sayang dan ikatan keluarga. Padahal di balik jarak jauh tersimpan hikmah. Sang anak akan mensyukuri keberadaan orang tua dan keluarga yang biasanya dilihatnya sampai bosan. Kadang tak tahan dengan omelan orang tua atau rengekan si adik. Begitu jauh akan terasa kehilangan dan rasa sayang akan semakin tumbuh subur. Begitupula sebaliknya bagi orang tua. Jika keberadaan ananda seringkali membuat jengkel maka ketika ia sedang berada di perantauan, kerinduan dan kekhawatiran akan menimbulkan perasaan sedap-sedap ngeri. Menyekolahkan anak di pondok pesantren membutuhkan keikhlasan, ikhlas berpisah dengan bagian dari kehidupan kita, namun tujuannya jelas yaitu untuk menuntut ilmu di jalan Allah.

4. “Mondhok sama saja, nanti juga sholat dan ngajinya cuma rajin pas di pesantren saja”

Salah satu kelebihan pondhok pesantren di banding sekolah umum adalah porsi belajar agama Islam lebih besar. Sholat wajib dilakukan berjamaah, tilawah adalah sebuah keharusan, sholat sunnah tahajjud dilakukan setiap malam. Patut disayangkan jika kebiasaan itu hanya diterapkan ketika saat mondhok saja namun santri berleha-leha kala liburan tiba. Adalah tugas orang tua untuk mengajarkan istiqomah. Sehingga kesadaran untuk beribadah muncul dari diri sang anak bukan karena keterpaksaan. Bukankah di hari akhir nanti yang dimintai pertanggungjawaban adalah orang tua dan bukan pimpinan pondok pesantren atau sekolah tempat menuntut ilmu?
Teacher

Sanggup menjawab berbagai pertanyaan dan cercaan penghakiman sebelum mengirim anak sekolah di pondok pesantren? Jangan lupa manusia berencana namun Allah yang menentukan. Maka tetap ikhtiar dan berdoa demi kebaikan keluarga hingga akhir zaman.

Dwi Aprilytanti Handayani

Ibu dua anak, senang menulis dan berbagi pengalaman. Baginya menulis adalah salah satu sarana mengeluarkan uneg-uneg dan segala rasa.

Latest posts by Dwi Aprilytanti Handayani (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Merdeka itu berani beragam dan bekerja sama. Kemerdekaan itu adalah Kerja Bersama.

Dirgahayu Indonesia ke-72. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Merdeka !

#hutri72 #kemerdekaan72 #kemerdekaanRI72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top