Blogging

Menulislah Karena Menulis Itu Perlu

Lagi rame lagi soal honor tulis menulis di lini masa kanal facebook saya. Ketika sebuah agensi bloger menawarkan kerjasama menulis. Agensi tersebut juga menawarkan jasa menulis artikel untuk para bloger. Dahsyatnya, ‘harga’ yang ditawarkan ‘sangat murah’ bagi sebagian bloger atau penulis. Hingga ada yang menyindir dengan komentar sinis.

Masalah yang sebenarnya hampir tiap waktu muncul ke permukaan. Bahkan tema masalah yang hampir sama di dunia kerja yang lain. Sebagaimana pernah kita lihat celengan ayam dari tanah liat yang dijual dengan harga 10 ribu rupiah. Sementara di tempat yang lain, celengan yang sama dijual dengan harga 40 atau bahkan 100 ribu. Ada yang salah?

Menulislah Karena Menulis Itu Perlu

Segera ambil pena. Coretkan apa saja isi hati dan otakmu. Jika ada laptop atau komputer, segera nyalakan. Segeralah jemarimu menari di atas keyboard lembutnya. Pasti ada waktu untuk menulis. Sebab hidupmu masih ada. Hidupmu masih punya makna untuk sesama. Selamat menulis, selamat berkarya, Sahabatku.

Sebuah paragraf awal dari tulisan saya di buku “Buka-Bukaan Ala Blogger Kondang(an)” karya keroyokan bloger (Pakde) Abdul Cholik dan kawan-kawan (2014). Paragraf yang selalu saya ingat saat akan menulis di blog. Apalagi saat akan menulis artikel untuk lomba blog atau lomba menulis. Karena saya hidup, maka saya menulis. Karena saya menulis, saya ada.

Menjadikan menulis menjadi sesuatu yang menyenangkan tentu bukan hal yang mudah. Kalau ada yang bilang bahwa menulis di blog itu sangat mudah, mungkin beliaunya itu sudah sekelas ‘maha guru’. Sebagaimana yang saya alami. Saat laptop opname, ditambah dengan ‘sibuknya’ merawat bayi, maka diri seolah menjadi mati kutu. Bak ruang tamu yang diberikan lampu penerangan 5 watt. Hahaha.

Inilah hidup. Kadang sesuatu terjadi seperti yang tak kita rencanakan. Apalagi yang berhubungan dengan force majeur bagi para bloger. Misalkan seperti laptop yang mati. Sementara saya tak sepintar sahabat bloger lain yang bisa dengan santainya menulis di atas gawai mereka. Dengan layar cuma 2,5 – 3 inci saja, bisa menghasilkan tulisan yang ciamik untuk blog mereka. Ini yang saya tak bisa. Makanya ngeblog itu dalam hal tertentu menjadi tidak mudah bagi saya.

Tapi karena menulis itu perlu, apalagi kewajiban untuk pekerjaan. Maka membuat artikel sambil menggendong bayi di bilik sempit warnet pun kini menjadi biasa. Suatu hal yang dahulu saya anggap aneh, bahkan tidak mungkin. Dalam kondisi seperti ini pula, saya menjadi kagum pada para bloger  yang berusaha berkarya meski kondisi sinyal inet yang kembang-kempis.

Menulislah Karena Menulis Itu Ibadah

Nah, setelah saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa menulis dan ngeblog itu perlu, maka saya mencoba untuk belajar (sok) bijak. Mungkin terbaca klise, menulis untuk ibadah. Lha iya ya? Memang sudah seharusnya demikian. Menulis di media sosial, menulis untuk laporan pekerjaan kantor, menulis untuk ngeblog, atau menulis untuk apa saja niatkan untuk ibadah. Urusan diterima atau tidak oleh Alloh Ta’ala, saya tidak tahu.

Karena ngeblog, membuat saya bisa bersua para bloger senior. [dokpri]

Karena ngeblog, membuat saya bisa bersua para bloger senior. [dokpri]

Jika kita berangkat dengan niatan ibadah, pasti kita akan berpikir bagaiamana menulis sesuatu yang positif. Bagaimana kita menulis yang bisa memberikan manfaat bagi para pembaca. Minimal bagi diri kita sendiri, keluarga, atau teman dekat. Kecuali Anda terkenal, maka tulisan Anda yang bunyinya cuma ‘eheemm‘ pun bisa menjadi viral. Hihihi.

Setiap penulis pasti akan menemukan jalannya. Demikian sebuah kalimat bijak yang pernah saya baca. Beberapa penulis yang tidak begitu dikenal semasa hidup, karyanya begitu mendunia saat mereka sudah tiada. Sebut saja penulis Swedia Stieg Larsson, buku trilogi Millennium-nya terjual 25 juta eksemplar pada tahun 2010. Hingga dia dinobatkan menjadi penulis terlaris Eropa di tahun tersebut. Padahal sang penulis meninggal secara misterius di tahun 2004. Di Indonesia kita mengenal Chairil Anwar. Di usia yang cukup muda beliau meninggal, 26 tahun. Puisinya yang berjudul ‘Aku’ dan ‘Krawang Bekasi’ menjadi begitu fenomenal pasca kematiannya.

Saya yakin, saat menulis puisi tersebut, beliau tak berpikir akan laku berapa rupiah puisi saya ini? Namun semata-mata nurani yang membaca fenomena sosial pasca kemerdekaan saat itu. Di mana antara pejuang yang benar-benar berjuang atau pejuang yang memperjuangkan ambisinya saling berebut tempat dan pengaruh. Membuat kegelisahannya sebagai sastrawan membuncah. Hingga puisi-puisi dan tulisan yang bernada pedih terekam oleh sejarah.

Keyakinan beliau akan Tuhan itulah, yang seolah membimbing keluhannya. Tuhan pasti akan mendengar keluh-kesahnya. Demikian tergambar dari suasana 2 puisi beliau saat dibacakan. Sebagaimana saat saya menulis di blog, tak ada harapan berlebihan bahwa tulisan saya akan dibaca oleh ratusan bahkan ribuan pembaca. Tapi saya berharap bahwa Tuhan membimbing pembaca saya untuk dapat memahami apa yang saya tulis. Kemudian dapat merubah sikap menuju yang lebih baik dari pembaca blog saya. Itu saja.

Terus apa hubungannya dengan penulis yang mau dibayar dengan ‘recehan’? Eh iya, apa hubungannya dengan tulisan saya yang A sampai dengan Z dan tidak jelas itu ya? Hahaha…

Disilakan menghubungkan sendiri saja deh. Saya kan bukan motivator.

Image source: pixabay.com

 

Mas Nuz

Pecinta keluarga yang kadang suka nulis dan jalan-jalan.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Merdeka itu berani beragam dan bekerja sama. Kemerdekaan itu adalah Kerja Bersama.

Dirgahayu Indonesia ke-72. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Merdeka !

#hutri72 #kemerdekaan72 #kemerdekaanRI72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top