Inspirasi

Menjalani Tugas Mulia Sebagai Ketua RT

Waktu menunjukkan pukul 22.50 waktu saya tiba di rumah. Cukup lumayan lama juga perjalanan saya dari Yogya ke Mojokerto. Tidak seperti biasanya, bus patas yang saya tumpangi begitu lama menempuh jarak yang tak lebih dari 300 km. Delapan jam dan 20 menit. Mungkin ini menjadi rekor perjalanan saya ngebis pakai bus patas.

Belum juga rasa lelah bisa saya kibaskan jauh-jauh dari tubuh ini, tiba-tiba di luar terdengar keributan. Masih saja saya santai dan berharap bisa rebahan sebentar. Tak begitu menghiraukan keributan yang jamak terjadi. Maklumlah, saya memiliki tetangga yang sebagian ‘cukup antik’. Hobi ribut sesam anggota keluarganya sendiri. Atau mengajak ribut tetangga atau orang lain.

Tiga tahun menjadi Ketua Rukun Warga (RW) sedikit hafal dengan beberapa karakteristik keluarga yang ada di lingkungan saya. Ada ‘Keluarga Cemara’, yang para anggota keluarganya cukup ideal sebagai sebuah keluarga yang ideal. Dua anaknya menjadi doktor yang mengajar di perguruan tinggi tersohor. Sementara kedua isterinya hidup rukun sentosa dalam satu rumah. Meski sang ‘isteri muda’ sudah memiliki rumah sendiri, namun ‘isteri tua’ tak mau ditinggal pergi. Maklumlah, isteri tua dan sang suami sering sakit-sakitan. Maka sang isteri muda berperan sebagai ‘juru rawat’ bagi ‘kakak’ serta suaminya.

Ada juga tipikal ‘Keluarga Tukang Bubur Naik Haji’. Janda yang dengan usahanya di pasar, berlimpah ruah rezeki hartanya. Sayang, anak semata wayangnya sudah meninggal saat melaksanakan tugas pengeboran minyak di Kalimantan Utara. Dengan kekayaan dan kebaikan hatinya, banyak santunan yang diberikan ke masjid, musala, ataupun panti asuhan. Tak pelak, banyak para ‘duren’ yang berusaha menaklukkan hatinya. Tapi rupanya beliaunya masih bergeming dengan kesendiriannya itu.

Tipikal keluarga yang k-tiga ini yang cukup seringย trouble maker. Tipikal ‘Keluarga Ampar-Ampar Pisang’. Tahu arti lagu tersebut bukan? Sudah anggota keluarganya banyak. Tata krama serta etika bertetangga pun seolah abai saja. Belum lagi beberapa anggota keluarga (anak-anak dan cucu) yang sering tersandung masalah kriminal. Bagi saya, hal itu tidaklah terlalu merisaukan. Sebab biasanya kalau ada permasalahan akan ditangani oleh Ketua Rukun Tetangga (RT) dan pihak keamanan desa (Linmas). Saya hanya menerima laporan, atau paling berat dimintai keterangan ke balai desa atau Polsek/Polres.

Namun, malam kemarin rupanya menjadi ‘malam pertama’ saya ‘berhadapan muka’ dengan ‘Keluarga Ampar-Ampar Pisang’ tersebut. Ehm, balik pada asal keributan tadi ya. Ternyata ada tamu dari keluarga tersebut yang marah besar. Hingga terjadi percekcokan, yang berujung pada pemukulan pada salah seorang anggota keluarga. Tak pelak, suasana hingar-bingar dan gaduh tercipta.

Anak-Anak Layangan (Alay)

Di saat genting, salah seorang rombongan tamu mengetuk pintu rumah saya.

“Maaf, Bapak RT di sini ya?” Seorang laki-laki setengah baya dengan nafas ngos-ngosan berdiri di depan pintu.

“Ya, Bapak. Ada yang bisa saya bantu?” Sambil saya silakan beliau untuk duduk di ruang tamu saya.

Kemudian secara singkat, dia ceritakan kronologis mengapa sampai terjadi keributan di rumah keluarga itu. Ternyata laki-laki tersebut adalah orang tua anak perempuan (sebut saja Bunga) ย yang ‘dilarikan’ oleh cucu Mbak Yah, sang empunya ‘Keluarga Ampar-Ampar Pisang’. Waktu saya tanya, apakah yakin kalau yang membawa pergi adalah cucu Mbak Ya (sebut saja Andang), dia menjawab dengan yakin. Inilah yang menjadi pemicu awal kegaduhan yang saya dengar tadi.

Merasa tidak terima sang anak dituduh ‘melarikan’ anak orang, orang tua Andang balas marah. Patut disayangkan, saat terjadi adu mulut, terjadi juga adegan adu jotos antara bapak Bunga dengan salah seorang keponakan Mbak Yah. Mau tidak mau, agar tak terjadi keramaian lebih lanjut, saya pun mencoba untuk menenangkan keluarga Mbak Yah. Maklumlah, siapa sih yang ikhlas salah seorang anggota keluarga dipukul tanpa sebab yang jelas. Lagian, masalahnya belum tentu juga Andang yang membawa pergi Bunga.

Setelah bercerita panjang lebar asal muasal cerita barulah saya ‘ngeh’. Ternyata Bunga, Andang, dan seorang saksi yang ikut serta adalah ‘anak alay’ yang biasa ngamen dan nongkrong di sepanjang jalan. Usianya berkisar antara 15 hingga 17 tahun. Usia produktif untuk belajar, namun dilewatkan begitu saja. Orang tua yang tidak terlalu peduli dan orang tua yang over protective menjadi salah satu penyebabnya. Saat anak tersandung masalah, barulah mereka seolah terbangun dari tidur panjang. Bunga yang berusia 16 tahun dan sudah 11 hari tidak pulang ke rumah. Sementara Andang, 17 tahun, yang ‘diikhtiarkan’ dimasukkan ke pesantren namun minggat.

Sebuah pemandangan yang ironis bukan? Di saat pemerintah sedang menggalakkan budaya revolusi mental, nun jauh di sini dari ibu kota negara, anak-anak usia sekolah merelakan dirinya untuk menjadi ‘anak layangan’. Tak jelas jluntrungnya. Tak jelas tujuan hidupnya. Tak jelas apa yang mau dilakukan hari ini dan esok harinya.

Padahal beberapa bulan sebelumnya, saya pernah menegur keluarga tersebut. Andang yang terlihat dengan beberapa orang temannya dengan menggunakan seragam di jam sekolah, asyik kongkow di warung belakang rumah saya. Kejadian ini sebenarnya sudah beberapa kali sempat saya ketahui. Dengan persuasi saya minta mereka untuk kembali pulang. Sementara saya segera temui keluarga Mbak Yah untuk memberikan kepada cucunya.

Kami Harus Bekerja dengan Sepenuh Hati

14060393_10207062396334568_1573300737_o

Belajar bijak dari seorang nelayan tradisional

 

Kasus di atas hanya salah satu contoh kasus yang ada di depan mata saya. Setelah sebelumnya masalah pemberian jatah Beras Untuk Rakyat Miskin (Raskin) juga sempat menuai protes. Beberapa orang beranggapan bahwa RT sebelumnya ‘kurang adil’ dalam pengaturan beras tersebut. Sehingga keluarga yang seharusnya layak menerima, malah tidak kebagian. Sementara keluarga yang cukup mampu memperoleh bagian. Alhamdulillah, dengan pendekatan kekeluargaan akhirnya saya berikan jalan tengah, untuk bulan ini membagi jatas beras tersebut. Sementara mulai bulan depan, keluarga yang berkecukupan tersebut mengikhlaskan diri untuk tidak menerima lagi.

Belum lagi masalah anak kos serta keluarga pindahan dari desa atau kampung yang belum juga melaporkan keberadaannya. Apalagi salah seorang keluarga pindahan tersebut disinyalir sebagai ‘istri simpanan’. Pokoknya joss lah. ย Saya pun berusaha menghibur diri.

Membayang para pejabat yang berebut proyek, atau mereka yang bergaji besar namun masih saja gede nafsu korupnya. Sementara sang pejabat RT dengan gaji nol (0) rupiah ini, harus berjibaku merangkul semua keluarga di lingkungannya. Agar bisa hidup berdampingan dengan damai tentu saja. Masalah sekecil apapun yang menyangkut kepentingan mereka, seringkali kita lah yang seolah-olah menjadi tumpuan untuk mencarikan solusinya. Sangat kontradiktif bukan?

Namun inilah seni hidup dan kehidupan. Terkadang kita tak boleh menampik amanah itu. Meski susah, kita yakinkan bahwa ada banyak pelajaran dalam setiap perjalanan yang kita lakukan. Toh, seandainya Ketua RT digaji dengan puluhan juta rupiah, belum tentu saya bisa mengabdi dengan segembira ini. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang membuat saya akan berpikir dengan perhitungan tertentu. Ah, tak baiklah beranda-andai yang negatif.

Tetap tersenyum dan tetap bergembira menghadapi keadaan yang bagaimana sulitnya. Tetaplah menjadi Ketua RT yang ganteng dan keren. Turun jabatan dari Ketua RW menjadi Ketua RW bukanlah satu hal yang merisaukan. Hahaha..

 

Mas Nuz

Pecinta keluarga yang kadang suka nulis dan jalan-jalan.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Hellooo, sahabat Indoblognet ๐Ÿ˜‰ Kamis manis nih, yuk perbanyak optimis ๐Ÿ˜
.
Bagi seorang pebisnis atau penjual, memiliki banyak konsumen tentunya adalah hal yang sangat penting, ya ๐Ÿ˜ Masalahnya konsumen gak akan datang sendiri tanpa dijemput, artinya penjual perlu melakukan berbagai cara untuk menarik konsumen ๐Ÿ˜„
.
Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh penjual adalah dengan menerapkan konten marketing. Dengan konten marketing, kamu menarik perhatian konsumen dengan konten-konten berkualitas, menarik, dan disukai konsumen ๐Ÿ˜
.
#instagram #indoblognet #mbcommunication #thursday #instadaily #followme #business #tips #viral

Follow Me

Copyright ยฉ 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top