Gaya Hidup

Saya Tak Semudah Itu untuk Kamu Tipu!

Penipu berlagak pegawai pemerintah gentayangan dan menghampiri saya dengan iming-iming uang jutaan rupiah.

Berikut salah satu contoh aksi penipuan yang pernah saya alami.

Dalam perjalanan Surabaya–Jombang beberapa waktu yang lalu istri saya menerima telepon dari Sandy, anak saya, yang mengabarkan bahwa dia ditelepon oleh seseorang yang mengaku dari sebuah instansi pemerintah di Jakarta. Laki-laki yang mengaku bernama Sengkuni (bukan nama sebenarnya) tersebut memberitahukan bahwa ada uang dari pemerintah yang harus segera saya urus. Sandy kemudian mengirimkan SMS yang berisi nomor telepon kantor dan nomor hape Pak Sengkuni.

Setibanya di Trowulan, Mojokerto, saya singgah di Rumah Makan Asmuni langganan saya. Sambil menunggu pecel lele dan es teh saya mencoba kontak ke nomor telepon instansi yang disebutkan oleh Sandy. Terdengar nada panggil, tetapi tidak diangkat. Lalu, saya coba telepon ke HP Pak Sengkuni. Tak lama kemudian terdengar suara seorang laki-laki, “Halooo”. Saya pun terlibat pembicaraan dengan si penerima telepon.

“Selamat siang pak, tadi anak saya memberi tahu bahwa saya diminta untuk menghubungi Pak Sengkuni. Ada apa ya, pak?”

“Ini dengan Pak Abdul Cholik?” tanya orang yang mengaku bernama Sengkuni.

“Benar”.

“Begini pak, apakah Bapak sudah menerima surat kami tanggal 21 Maret?”

“Belum pak, apa ya isinya?”

“Oh, belum terima ya, pak. Begini Pak Abdul Cholik, bapak termasuk yang menerima uang dari pemerintah. Ya semacam uang balas jasa begitulah”.

“Oh ya, berapa pak besarnya?” saya mulai agak tidak percaya dengan berita ini.

“Jumlah uang 157 juta pak, dan akan diberikan dalam tiga tahap. Tahap pertama bulan ini dan sisanya akan diberikan pada bulan-bulan berikutnya. Untuk bulan ini sebesar 53 juta dan hari ini adalah batas akhir penyelesaiannya”.

Mendengar kalimat “hari ini adalah batas akhir penyelesaiannya” itu saya semakin yakin bahwa ini adalah sebuah penipuan. Tetapi, saya akan mengikuti permainan dia untuk mengetahui bagaimana ending dari uang balas jasa pemerintah tersebut. Hitung-hitung mencari bahan untuk menulis artikel di blog. Saya pun mencoba bersikap tertarik dengan berita tersebut.

“Ooo, lalu apa yang harus saya lakukan, pak?”

“Begini pak, uang itu akan diberikan melalui salah satu dari bank yang menjadi mitra kami, yaitu B*I, B*A, M*RI, dan bank Per*ta. Bapak maunya dikirim melalui bank yang mana?” (nama bank saya edit).

“Kalau begitu, dikirim melalui B*A saja ya, pak.”

Semula saya mengira Pak Sengkuni itu akan meminta saya untuk mengirimkan komisi dengan mentransfer sejumlah uang, seperti modus operandi penipuan yang lain. Ternyata ini lain, saya hanya diminta nomor rekening bank.

“Baiklah kalau begitu. Saya mohon bapak mengirimkan nomor rekening, lalu saya akan melaporkannya kepada pimpinan untuk selanjutnya transfer uang bapak.”

Nah, saya sudah mengetahui kelanjutan dari pola permainan akal bulus ini. Orang yang mengaku Sengkuni itu pasti akan memanfaatkan nomor rekening bank saya. Untuk membuat ending ini terdengar enak, tetapi sebenarnya menyentak maka permainan saya kendalikan.

“Begini saja, pak.”

“Bagaimana, pak?” (ehhh, dia kayaknya sudah nggak sabar, langsung memotong kalimat saya). Inilah gong percakapan kami.

“Begini pak, uang jasa tahap pertama sebesar 53 juta itu untuk Bapak saja.”

“Wah, maksudnya bagaimana, pak?”

“Ya, uang 53 juta itu bapak ambil saja, setelah itu bapak langsung masuk kuburan sana dan tidur sepuasnya!”

Tuut..tuut..tuut.. Laki-laki yang mengaku bernama Sengkuni dari instansi tersebut langsung memutuskan hubungan telepon. Jelas bahwa laki-laki itu adalah penipu yang berlagak pegawai pemerintah.

Sebenarnya, laki-laki penipu itu sudah membuat intro yang apik dengan kalimat, “Apakah bapak sudah menerima surat dari kami tanggal 21 Maret 2012”. Ini mengesankan bahwa ada hal serius. Namun, adagium berbunyi “Tak ada kejahatan yang sempurna” ternyata berlaku di sini. Laki-laki itu membuat cerita yang saya anggap tidak masuk akal sehingga saya mulai meragukan kebenarannya.

Pertama, dia menyebut angka 157 juta rupiah itu sebagai uang balas jasa dari negara. Hahaha, inilah yang tak pernah terjadi. Pemerintah tak pernah menggunakan istilah “uang balas jasa” kepada mantan pegawainya, pensiunan, dll.

Jika saja laki-laki itu sedikit mau bermain cerdas, yaitu mengganti “uang balas jasa” dengan istilah yang lebih manis tentu permainan ini akan lebih menarik.

Kedua, kalimat berbunyi “Untuk bulan ini akan diberikan sebesar 53 juta dan batas akhirnya adalah hari ini” adalah kalimat bunuh diri bagi seorang penipu. Batasan hari ini menjadikan tipuan ini mudah dibaca oleh sasaran yang cerdas bahwa sang penipu ingin segera memetik hasil kegiatan penipuannya.

Ketiga, ketergesa-gesaan penipu sebenarnya juga sudah ditunjukkan ketika laki-laki itu menelepon Sandy dengan ucapan, “Kalau bapak tidak ada ya istrinya, kalau istrinya juga tidak ada bisa diwakili oleh ahli warisnya.” Mendengar kalimat itu, Sandy langsung mengaum, “Enak saja, bapak dan ibu saya masih ada!!”

Hikmah

Penipuan dengan pelakunya menyamar sebagai pegawai pemerintah atau pejabat sering terjadi sebagaimana saya uraikan di atas. Salah satu kelemahan para penipu adalah keinginan untuk segera menikmati hasilnya dengan menggunakan kata: segera, batas akhir, hari ini, dan lain sebagainya. So, berhati-hatilah mengeluarkan atau memberikan nomor rekening kepada siapa saja yang belum Anda kenal dengan baik. Termasuk juga jika orang jahat itu melakukan penipuan di media sosial seperti yang pernah saya alami.

Source image: negativespace.co

Editor: Indoblognet

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Selamat kepada 200 blogger terpilih yang akan membuat berisik jagad maya tentang realitas remaja milllenial : Generasi Z yang begitu kritis menyikapi hidup yang dinilainya tak sesuai dengan pola asuh.. Orang tua...wake up ! jangan lagi memandang anak sebagai objek yang bisa dengan leluasanya diatur. Mereka punya mata, hati dan nurani yang bisa berteriak bahkan memberontak sekiranya melihat prilaku orang tua yang tak sesuai dengan yang dilisankan dengan tameng "mendidik" ... >>> untuk blogger terpilih akan diemail hari ini.

Terima kasih kepada lebih dari 400 pendaftar.. semoga yang belum terpilih masih bisa berkesempatan join program berikutnya.. #Repost @miramiut (@get_repost)
・・・
Kami ada 
Dalam peradaban *Berilah kami kepercayaan untuk membuat karya yang bermanfaat
*Berilah kami kesempatan untuk menunjukkan bahwa hidup itu sangat berarti

Walau itu berbeda 
Walau tak semua tersusun rapi

Coming soon "My Generation" : film garapan Sutradara Upi yang layak ditunggu akan banyak sentuhan natural dan ide cerita yang unik serta berisi.

@mygenerationfilm
@upirocks
@Indoblognet

#MyGenerationFilm
#FilmMyGeneration

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top