kesehatan

Mengurus BPJS yang Terlambat Bayar di Saat Emergency

bpjs

Memang ya kadang-kadang manusia suka mengabaikan hal-hal kecil.  Karena kesibukan, eh jadi lupa. Atau bisa jadi karena memang kurang paham dengan aturannya. Seperti soal pembayaran BPJS. Aku dan suamiku benar-benar kurang update. Padahal sejak April, aku lumayan aktif bolak-balik RS dengan BPJS ngurus Ibu yang terkena batu ginjal.  Karena sudah mendapakan surat rujukan yang berlaku 6 bulan dan cuma kontrol aja, jadi terlewat soal pembayaran iuran deh.Padahal murah banget cuma 28 ribu untuk kelas 3.

Penafsiran kami, karena approve BPJSnya tanggal 29, maka satu bulan berikutnya jatuh pada tanggal yang sama…Oalah ternyata sangat berbeda penafsirannya. Mau approve BPJS kapan pun, yang penting pembayaran iurannya harus dilakukan sebelum tanggal 10 tiap bulannya. Sesuai dengan peraturan baru yang dikeluarkan sejak Maret  2016, tetapi resmi diberlakukan pada 1 Juli 2016 yaitu peraturan presiden nomor 19/2016, merevisi dari peraturan sebelumnya, Perpres 12/2013.

Kalau peraturan sebelumnya, peserta BPJS yang telat membayar iuran dikenakan denda sebesar dua persen dari total tunggakan dan ada batas toleransi menunggak selala tiga bulan, pada peraturan baru, tidak pakai tendeng aling-aling lagi, langsung menonaktifkan keanggotaan BPJS begitu lewat tanggal 10. Tau sendiri kan kalau dinonaktifkan, artinya kita tidak bisa menggunakan BPJS jika jatuh sakit. Kalau mau diaktifkan kembali, harus menunggu selama 45 hari. Waduhhh…mendengar staf layanan BPJS di RS Pelni, Petamburan ini, saya langsung shock.

Bagaimana nggak, ibu saya memang sedang menanti-nanti panggilan untuk tindakan rawat inap penghancuran batu ESWL dan pengambilan selang, begitu di depan meja registrasi dibilang, kartunya tidak aktif, saya panik setengah hidup. Nggak mungkin lagi menunggu panggilan berikutnya. Karena sudah lebih dari 2 bulan, kami menunggu panggilan RS untuk tindakan ga kunjung ditelepon.  Usut punya usut setelah kami samperin, ternyata berkas hasil pemeriksaan dan rekomendasi dokter untuk pencabutan selang ibu saya hilang. Betapa kesalnya saya saat itu. Untungnya dokter urologi, dr Wempi, segera ambil tindakan cepat dengan menuliskan kata “Segera” di surat pemanggilan berikutnya. “Berisiko kalau belum diambil juga selangnya…Ini saya tulis segera ya..Minggu depan bisa diproses,” begitu dr. Wempi bilang.

Keesokan harinya saya mengajak ibu kembali ke RS Pelni untuk periksa anastesi. Suster anastesi mengingatkan saya untuk menunggu pemanggilan berikutnya. Jika dalam satu minggu, tidak ada pemanggilan, segera telpon nomor handphone yang tertera pada sehelai kertas. Ok, fix jelas..dibanding sebelumnya, saya tidak diberitahu kontak, hanya dibilang “tunggu saja panggilan”. Meski saya tanya beberapa kali sampai berapa lama menunggu, sedikit sewot susternya bilang…”tunggu panggilan”.  Nyebelin banget sebenarnya.

Pukul 10 pagi tiba-tiba RS Pelni menghubungi agar siang pukul 14:00  datang untuk tindakan selanjutnya. Dibalik telepon menginformasikan persyaratan yang harus dicopy rangkap dua seperti kartu BPJS, KTP pasien, kartu keluarga, dan surat rujukan dari Puskesmas. Karena ibu tinggal di Cileungi, kami berangkat lebih awal, pukul 12:30. Di jalan tidak terlalu macet, pukul 15:30 sudah sampai. Kami sudah hapal jam dr Wemphi praktek, malam hari, sehingga kami nggak mau berlama-lama menunggu di kamar. Ruang pendaftaran Alhamdulillah tidak terlalu penuh. Saya cuma menunggu sekitar lima orang saja.

Pukul 16:00 saya dipanggil dan menyerahkan segala persyaratan, sampai akhirnya saya shock mendengar kartu BPJS ibu  tidak bisa digunakan. Setengah mengomel, saya menghubungi suami..dan jawabnya simple..lupa..kan masih lama tiap tanggal 29. Waduhh…Petugas BPJS menjelaskan, konsekuensinya. Dalam konteksi ini, saya  sifatnya emergency, bisa ditunggu sampai 3×24 jam agar menyerahkan bukti bayar dan denda yang harus dibayar. Jika lewat, maka saya harus membayar seluruh biaya perawatan. Wahh lumayan juga untuk tindakan ESWL dan ruang rawat inapnya. Sementara ibu saya tidak sampai 3 x 24 jam diopname. Paling besok pagi pulang. Bagaimana kalau besok pagi pulang ? tanya saya. Petugas tidak bisa menjawab gamblang, hanya disampaikan nanti tergantung dari kebijakan RS. Ok, dengan berat hati saya tanda tangan persetujuan rawat inap. Duhh..siap-siap keluar duit.

Kemudian saya bertanya, dimana bayarnya dan bagaimana caranya. Petugas mengatakan, bayarnya di kantor BPJS Jakarta Barat di Widuri, dan bayarnya di kantor pos…Hah ? ribet bener…pengin nangis kejer kala itu. Nggak punya waktu banyak, harus melalui proses yang beribet. Dalam hati, mau nggak mau, harus besok sudah kelar.  Saya tany lagi, ” Jam berapa ya kantor BPJS tutup?  Dijawab dengan yakinnya, biasanya sekarang udah mo tutup bu.

Saya melirik jam sudah pukul 16:10 Wib. Ohh…Tuhan help me.  Semoga kantornya belum tutup. Saya browshing bentar, ditemukan kantor bpjs tutup sampai jam 7. Alhamdulillah. Saya berlari kecil keluar RS. Oh Tuhan, begitu saya keluar hujan turun deras. Nggak mungkin naik gojek. Saya langsung memanggil supir sayayang menunggu di parkiran. Nggak begitu ngarep betul naik mobil ke arah palmerah. Macettt banget biasanya daerah seputaran pasar palmerah. Apa boleh buat, saya harus segera sampai. Alhamdulillah, ternyata tidak begitu macet. Pukul 16:30 sudah sampai. Tapi kok sepi….petugas kebersihan sudah mulai membersihkan ruangan. Udah tutup mbak !’ hah ? pendaftarannya dah tutup,”kata mas petugas kebersihan itu. Saya tak putus asa, nyamperin petugas BPJS yang sedang berjalan. Oh..kalau terlambat, coba ke meja sebelah sana ! tunjuk pada meja yang diujung.

Saya langsung menduduki kursi di depan meja layanan keterlambatan. Alhamdulillah masih bisa dilayani. Mbak-mbaknya segera mengecek dan meminta saya membayar iuran BPJS yang terlambat di Indomaret atau Alfa Mart. Setelah itu balik lapor ke kantor lagi. Oh…kenapa ga bisa bayar di kantro saja ya..jadi nggak harus bolak-balik. saya bertanya meski tak yakin dengan jawabannya. Sebenarnya sih bisa, tapi pake atm mandiri.  Ohh masih bisa.. Sementara saya hanya punya BCA. Ya sudahlah saya segera meninggalkan ruangan. Hujan deras sekali. Untungnya ada tukang ojek payung. Saya berjalan cepat menuju Alfa Mart yang berada di seberang kantor BPJS agak pinggir. Alhamdulillah ga terlalu mengantri di kasir. Saya langsung membayar sebesar Rp 28.500, kelas tiga. Hujan mulai mereda, saya percepat langkah saya.

bpjs-denda-3

Kuitansi pembayaran diserahkan ke petugas. Saya diminta menunggu ke bagian keuangan untuk dihitungkan dendanya. Tercatat saya harus membayar senilai Rp 71.378. Oke sayang langsung merogoh dompet dan kasih uang ke petugas. Bu…bayarya di kantor Pos…Ohh…kantor pos..Waduhhh dimana kantor pos yang buka  sore gini ? nadaku mulai berat. “Ada bu, kantor Pos Kemanggisan di dekat Pasar Slipi, buka sampai jam 6.” kata petugasnya.

Aku melihat jam sudah pukul 16:46…”Ibu bayar dulu dendanya, terus ke sini lagi. Tapi kami tunggu sampai jam 5. Hah ? aze gile…gimana caranya menuju kantor Pos trus jam  5 harus udah di sini lagi. Setahu saya jalan menuju kawasan slipi suka macet. Aku langsung pesen aplikasi…oalah ga berhasl..lemot banget jaringannyaa..Pakai ojek pangkalan aja bu, saran mbak petugasnya lagi. Ok, aku ngeloyor pergi.  Untunglah hujan dah mulai reda.. Aku jalan sebentar, supirku membantu mencari tukang ojek pangkalan. “Berapa bang ke kantor pos kemanggisan di Slipi ? tanyaku. “30 ribu bolak balik bu ! jawab pria yang kupingnya banyak tindikan.  “Ok. mungkin ga  sebelum jam 5 sampai kantor Pos ? tanyaku. Bisa bu, saya dah biasa nganterin bolak balik. ” Okelah.

Kala itu aku pakai rok…ga peduli deh..langsung duduk posisi seperti orang pakai celana. Benar saja…abang tukang ojek melaju kencang, melewati jalan yang tidak begitu macet.

Pukul 16:55 sampai di depan kantor Pos. Alhamdulillah tidak mengantri sama sekali, petugas posnya pun sigap, cuma 1 menit kelar. Tukang ojek tancap gas lagi. Luar biasa abang-abang ojek ini. Pukul 17:00 teng…saya sudah menyerahkan bukti bayar denda ke bagian keuangan di lantai 3. Dan….Alhamdulillah…selesai. Bahagia banget…Saya belum sempat shalat Ashar, Ya Allah terima kasih. Saya langsung mneyerahkan bukti-bukti bayar ke meja pendaftaran. Ibu saya udah dibawa ke kamar perawatan. Sebelum ke Ibu, saya tuntaskan urusan sama Allah pada dua kewajiban.

bpjs-ruang-bougenvile

Usai magriban, betapa takjubnya kalo ternyata ibu saya masuk ruang perawatan kelas 2 di gedung baru, New Boegenville. Mewah sekali ruangan ini. Berasa seperti menginap di hotel. Ada ruang tidur buat yang jagain.  Sebenarnya perlakuan kamar kelas dua ini bukan sekali dua kali. Beberapa kali opname diberikan kamar kelas 2. Sebelumnya kelas 2 tapi di bangunan lama. Sebelumnya lagi juga di ruangan khusus yang bagus. Untuk bagian ini…nanti saya ceritakan lagi. Bagi yang punya BPJS, warning banget nih…jangan sampai telat ya…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

kartina Ika Sari

kartina Ika Sari

writerpreneur, founder MB Communication, Indoblognet.com & jelajahiindonesiamu.com
kartina Ika Sari

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Ini Video Versi Layanan Masyarakat untuk Anti Drugs Campaign. Supported BNN dan MB Communication

Kalau temen-temen punya cerita, ide seru dan bikin video masih bisa ikutan lombanya yah. Cek hastag
 #IniCaraGueCegahNarkoba
Teman-teman bisa Minta Tolong Subscribe, Share dan komen yah.

Share boleh di Instagram, twitter dan FB
Linknya :

https://youtu.be/zOCgnf66Hik

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top