Gaya Hidup

Mengangkat Derajat Nasi Kotak

Ketika keponakan saya akan menikahkan putrinya, saya menanyakan bagaimana konsumsinya akan disajikan kepada tamu undangan. Keponakan menjawab bahwa untuk acara walimatul ‘urusy di rumah, tamu akan dijamu makan dalam bentuk piringan, Menu yang dipilih adalah nasi rawon lengkap. Pada saat resepsi di gedung acara makan para tamu disajikan dalam bentuk prasmanan. Para tamu akan dipersilakan menikmati makanan dan minuman yang sudah digelar di meja secara self service alias mengambil dan melayani sendiri .

Saya lalu mengusulkan bagaimana kalau pada acara pernikahan tersebut makannya disajikan dalam bentuk nasi kotak. Keponakan bilang, “Ah, Oom, kok bergurau sih, ya nggak lazimlah, resepsi kok makan nasi kotak.” Suaminya juga mengamini. “Malu ach, entar dikira super ngirit dan nggak menghormati tamu,” katanya sambil tersenyum. Saya sih manut saja wong mereka yang punya hajat dan punya duit.

Ide makan dengan versi nasi kotak ini terus saya gulirkan lagi ketika cucu saya Tanti akan menikah. Si Cucu yang dokter ini menjawab agak panjang, ”Eyang, kalau kita membuat kartu undangan secara sederhana, misalnya diketik pakai komputer mungkin tidak akan ada yang memedulikannya. Setelah dibaca kartu undangan itu toh juga akan dibuang. Tetapi, kalau soal makanan yang kurang bagus akan menjadi bahan omongan sepanjang masa. Kami kan malu.”

Kedua argumen yang disampaikan oleh keponakan dan cucu saya itu ada benarnya walaupun tidak seratus persen. Menyuguhkan nasi kotak dalam suatu resepsi pernikahan memang tidak lazim atau setidaknya belum lazim. Nasi kotak biasanya disajikan pada acara tidak resmi. Pada rapat staf di sebuah instansi sering disiapkan nasi kotak untuk makan siang. Nasi kotak biasanya juga hadir pada acara berbuka puasa bersama. Penyajian makan dengan nasi kotak memang lebih praktis. Tak heran jika cukup banyak pengusaha jasa catering atau rumah makan yang juga menerima order nasi kotak. Menu dan harganya beraneka ragam sehingga konsumen dapat memilih sesuai selera dan kemampuannya.

Nasi kotak

Saya melontarkan ide nasi kotak sebagai hidangan resepsi pernikahan bukan hanya sekadar untuk menghemat biaya, tetapi ada alasan-alasan lain. Berikut beberapa di antaranya.

1. Dengan nasi kotak, tidak ada kegiatan cuci-mencuci piring dan sendok setelah acara makan selesai. Ini terutama jika perhelatan itu diselenggarakan di rumah si empunya hajat. Hal Ini tentu sudah menghemat waktu dan tenaga bagi tuan rumah. Kita tahu, setelah acara hajatan selesai kondisi mental dan fisik tuan rumah maupun para pembantu sudah lelah. Maunya mereka segera istirahat setelah sehari atau bahkan beberapa hari bekerja keras menyiapkan hajatan.

2. Makan dengan cara prasmanan dinilai mahal. Biaya pernikahan yang paling besar jumlahnya adalah untuk pos konsumsi. Kadang tuan rumah tidak mau menanggung malu gara-gara hidangan makan kurang. Oleh karena itu, mereka menambah jumlah pesanan prasmanan sebagai cadangan, misalnya 10% dari jumlah undangan yang diedarkan. malu rasanya jika makanan dan minuman sudah menipis sementara undangan yang hadir masih terus mengalir. Jika hal ini terjadi maka shohibul hajat pasti akan merasa was-was.

3. Pada acara prasmanan banyak makanan yang mubazir, terbuang, akibat perilaku tamu yang silau melihat aneka makanan tergelar di meja. Mereka mengambil setumpuk makanan lalu dengan santainya meninggalkan sisa makanan yang masih banyak di piringnya itu karena kekenyangan. Mungkin juga rasa makanan dianggap kurang pas di lidahnya. Maklum selera manusia berbeda-beda. Makanan yang dirasa lezat memikat belum tentu dinikmati oleh orang lain. Akibatnya ya itu tadi, melihat makanan berwarna-warni langsung diambilnya. Setelah masuk mulut, lho kok rasanya asing begini. Makanan setumpuk itu lalu diletakkan di bawah meja dan selanjutnya berburu makanan yang lainnya. Ini juga terjadi jika tamu undangan membawa anak-anak. Mengambil makananannya terlalu banyak, sementara anak-anak sudah terlanjur menikmati minuman dingin sehingga perut terasa kenyang dengan cepat.

4. Nasi kotak lebih praktis. Jika ada tamu yang tidak mau makan pada acara resepsi itu maka nasi kotak bisa dibawa pulang. Makanan itu bisa juga diberikan kepada sopir yang mengantarnya. Untuk yang bujangan atau anak kos nasi tersebut bisa dimakan sendiri jika nanti sudah merasa lapar.

5. Nasi kotak pun juga akan tampak menarik jika dihidangkan secara baik. Kotaknya juga bisa dibuat dari bahan yang bermutu. Jika ingin lebih bagus lagi bisa ditambah dekorasi gambar atau tulisan.

6. Nasi kotak yang tersisa bisa dibawa pulang oleh shahibul hajat untuk dibagi-bagikan kepada tetangga, kerabat, sahabat, atau kaum duafa. Nasi berlebih tersebut bisa juga dikirimkan ke panti-panti asuhan. Para tukang becak, gelandangan, dan pengemis tentu juga akan sukacita jika diberi nasi kotak tersebut.

7. Hidangan nasi kotak pada acara resepsi mungkin awalnya mengejutkan atau mengherankan banyak pihak dan lalu menjadi bahan omongan. Namun, percayalah, itu hanya akan berlangsung beberapa saat saja. Nasi kotak akan menjadi lazim setelah 5 atau 10 orang menggunakan cara yang sama ketika mempunyai hajat.

Kita tentu masih ingat ketika ada orang mengirimkan undangan dengan embel-embel tulisan: “Tanpa mengurangi rasa hormat, mohon tali asih tidak berbentuk bunga atau barang.” Apa maksud kalimat itu? Mudah ditebak, berikan amplop berisi uang, bukan.

Tidak ada yang tahu siapa yang memulai menulis kalimat itu dalam kartu undangan. Kini tulisan itu sudah tidak ada lagi karena para penerima undangan sudah paham bahwa si pengirim undangan bukan hanya mohon doa restu, tetapi juga memerlukan uang. Ah masak? Lha iya tho, buktinya di meja depan sebuah resepsi disiapkan kotak uang.

Berkaitan dengan nasi kotak tadi timbul pertanyaannya: siapakah yang berani memulai, menyuguhkan nasi kotak dalam sebuah hajatan?  Atau siapa yang mau dengan sukarela”menjadi korban pertama” menghadirkan nasi kotak dalam acara resepsi pernikahan atau khitanan yang digelarnya? Siapa yang rela menjadi bahan omongan karena sajian nasi kotaknya? Jika ada yang mengacungkan tangan maka nasi kotak akan naik pangkat asal disajikan dengan baik dan menarik.

Sebenarnya, jika shohibul hajat, penerima tamu dan panitianya berwajah cerah dan murah senyum maka apapun sajiannya tentu akan terasa nikmat. Jika ada bisik-bisik tetangga tentang ketidak laziman nasi kotak itu ya ditanggapi saja sambil tersenyum. Katakan saja dengan santai:” Iya, Bu. Kami sedang mencoba sesuatu yang baru nich.”

Jika di antara para sahabat ada yang mau memelopori maka Anda akan membuat sejarah di dunia pernasikotakan. Kelak orang akan berkata, “Wah, ternyata enak dan praktis kok makan nasi kotak di resepsi. Saya juga akan menirunya pada hajatan kelak.”

Jika mereka ngomong begitu di depan Anda, silakan dijawab, “Ini semua berkat ide yang hebat dan cemerlang dari Pakde Cholik.”

Sesuatu yang baik walaupun awalnya dianggap anti-biasa lama-lama akan menjadi lazim setelah beberapa orang melakukan dan membenarkannya.

Bagaimana pendapat Anda tentang nasi kotak dalam resepsi ini? Maukah Anda menjadi pionirnya ?

Image source (featured image): pixabay.com

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Mitra Blogger Lampung  siap meriahkan "promosi" Superkids Colouring Competition dan Seminar Kesehatan Anak Bersama K-Link Indonesia.  #Repost @klink_indonesia_official (@get_repost)
・・・
Hai Mitra K-LINK! 
Kabar gembira untuk putra-putri Anda! 
K-Link Indonesia mengadakan “Super Kids Coloring Competition dan Seminar Kesehatan Anak Bersama K-LINK”

Kini saatnya anak Anda mengasah daya kreativitasnya dalam lomba mewarnai yang sangat menyenangkan ini

Yuk, catat waktu dan tempat acaranya di Gedung Wanita (Persit) Bandar Lampung pada hari Senin, 20 November 2017 jam 07.00 WIB

Jangan sampai putra-putri Anda melewatkan acara edukatif ini. Siapa tahu anak Anda menjadi pemenang dan mendapatkan hadiah menarik, seperti: 
Juara 1 : Uang tunai Rp.750.000,- Goodie bag senilai Rp.350.000,- Trophy + Sertifikat

Juara 2 : Uang tunai Rp.500.000,- Goodie bag senilai Rp250.000,- Trophy + Sertifikat

Juara 3 : Uang tunai Rp.250.000,- Goodie bag senilai Rp.150.000,- Trophy + Sertifikat .
.
Harapan 1 : Goodie bag senilai Rp.150.000,- Trophy + Sertifikat

Harapan 2	: Goodie bag senilai Rp.150.000,- Trophy + Sertifikat

Mau? Caranya gampang banget! 
Biaya Pendaftaran: Rp.50.000 (termasuk 1 botol K-Kids, Seminar kesehatan anak, Trophy, Goodie Bag & Lucky Draw) 
Kategori: 
A. Pra Tk-Tk 
B. Kelas 1-3 SD .
.
Syarat & Ketentuan: *Peserta wajib membawa sendiri alat mewarnai dan meja lipat
*Peserta hadir 30 menit lebih awal sebelum acara dimulai
*Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: 
Customer Service di kantor pusat  021.290.27.000 (bicara dengan bagian CS / Product Departemen)

Yuk, ajak anak Anda berpartisipasi dalam lomba mewarnai persembahan dari K-Link Indonesia.

#klink #klinkindonesia #klinksolusihidupmu✔️ #member15olusi #klinkmember15olusi

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top