Agama

Mengajari Ibadah Anak Melalui Cerita

mendidik anak
 Suatu hari ada yang punya hajat sunatan. Sayangnya acara tersebut tidak dimeriahkan dengan pengajian atau acara keagamaan, tapi dengan layar tancep. Sepertinya di daerah ini kalau sudah mampu mengadakan layar tancep itu udah dikatakan hebat banget. Layar tancep menjadi sesuatu yang prestise bagi warga sini. Gak usah sebut daerah ya hehehhee
Di gelarlah layar tancep di area tanah kosong tepat samping rumah kakakku. Malam hari itu anak-anak, bapak-bapak dan ibu-ibu berduyun-duyun menyaksikan layar tancep. Hanya keluarga kakakku yang tidak tertarik. Pasalnya film yang di putar adalah film horor Suzana yang entah tahun berapa itu.
Suara filmya menggema dan terdengar keras. Kedua anak kakakku pun penasaran. Mereka ingin ikut nonton tapi takut, tapi penasaran, tapi takut, tapi penasaran. Atau istilahnya undal undul. Hingga pada titik mereka telah mengumpulkan keberanian, mereka berdua bergandengan tangan menuju tempat layar tancep itu. Begitu sampai pas! Kebetulan pas adegan horor mengagetkan. Selain semua penonton teriak, kedua keponakanku pun kaget lalu lari terbirit-birit masuk rumah.
Tante…. Tanteee……..!!!! Mereka berteriak lalu masuk kamar menemuiku. Mereka bercerita kekagetannya dan suasana di layar tancep. Dan tiba-tiba si adek tanya.
“Tante tante…. Sebenernya setan itu ada gak sih??”
Pertanyaaan yang penuh rasa ingin tau. Aku mulai menghela nafas panjang sambil berfikir sejenak jawaban apa yang baik untuk mereka.  Mata dan kepala merekapun sudah bersiap siap mendengar jawaban.
“Te! Setan itu sebenernya ada apa enggak sih?!”
“Ada..” cool
“Bentuknya kaya pocong genderuwo gitu ya te…”
“Bukan….” cool
“Trus kaya apa setan bentuknya te?” xixixi mereka penasaran akut
“Setan itu ada di dalam tubuh kita…”
“Apppaaaaaa?!!!! Kita setan donk….?!”
Sejenak mereka kaget dan kompak amat kagetnya. Wokelah.. Lalu aku bercerita.
“Kalian tau gak? apa yang bikin kalian males kalau mau berangkat sekolah itu?”
“Hmmm… gurunya galak!” si kakak menjawab
“Temennya rese-rese!” Adek juga gak kalah pengen jawab
“Kalian juga tau gak? apa yang bikin kalian bangunnya telat dan sholat subuhnya jadi kesiangan?”
“Ngantuk lah teeeeeeee…” Mereka kompak menjawab
Jawaban kalian salah semua gak ada yang benar…….. Setan sesungguhnya itu ada dalam diri kita. Di dalam diri manusia. Kalau kalian itu malas sekolah yang katanya karena gurunya galak temennya rese, itu hanya bujukan dan hasutan setan”.
Kalau kalian kok bangun subuhnya tetep kesiangan padahal dengar adzan subuh mau bangun males itu berarti setan yang ada di dalam tubuh kalian lagi ngendoli. Ayo tidur aja masih ngantuk ka…gak usah bangun gak usah bangun tidur aja. Itu setan. Setan sedang menghasut kalian agar malas bangun sholat subuh“.
Te.. te… te… berarti kaya cerita Habil dan Qobil itu yah? Si Qabil kan jahat ama Hobil gara-gara ngikutin hasutan setan ya te?” Tiba-tiba mereka teringat sebuah film yang pernah aku putarkan.
“Yups! bettul!! Dan ketika kita tetap tidur dan tidak sholat, kalian tau? setan yang ada dalam diri kalian? hemm sorak-sorak gembira.. Gak cuma soal solat aja. Tapi semuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaaaa perbuatan jahat, buruk, dengki, lali ibadah dan semua yang buruk-buruk itu adalah hasutan setan”.
Hemmmmmmm gituuu terus pocong, genderuwo sama hantu-hantu itu sebenernya ada gak te???”  Mereka kembali memastikan keberadaan setan sebenarnya.
“lah Adya dan Dinda pernah liat wujud asli dan ketemu langsung gak sama mereka??”
“Enggaaaaakkkkkk…”
“Tapi, kalau malas sholat pernah gak?”
“Pernaaaahhhhhhhhhhhhh….”
Sejak cerita hari itu, kedua keponakanku tau siapakah setan sesungguhnya. Berbuat jahat pada orang, melawan orang tua dan bermalas-malasan ibadah itu artinya ada setan dalam diri kita yang sedang berjuang dan perang menghasut kita tanpa kita sadari. Dan ketika kita nyerah, mere setanlah yang menang dan bersorak.
Sejak saat itu pula mereka semakin rajin sholat. Begitu adzan memanggil mereka langsung bergegas ambil air wudlu. “Kakak… ayo jangan mau di kalahkan oleh setan….”. Begitupula saat adiknya mulai ngambek-ngambek cari-cari alasan gak sekolah, “Dinda… jangan kalah sama setan, males sekolah itu hasutan setan doang“. Begitu juga saat bepergian, mereka tak lupa membawa rukuh untuk sholat di perjalanan.
Sebenarnya mereka sudah tau kewajiban ibadah dari sekolah Yayasan TPA nya. Tapi apalah arti pelajaran di bangku TPA jika tidak dikuatkan di rumah. Alhamdulillah, kedua keponakanku ini rajin ibadah, baik sama teman, rajin belajar, ya meskipun kadang-kadang kumat rewelnya maklumlah anak-anak.
Orangtua mereka yang tidak diktator dan tidak pemarah juga membentuk kepribadian mereka mau menerima an suka mendengar nasehat baik dan tidak menjadi anak yang pembangkang.
Tulisan ini aku buat karena melihat fenomena di keluarga lain dimana orangtuanya sibuk beribadah sendiri tapi mudah terpancing amarah dan ketika anaknya malas dan susah sekali diajak atau disuruh sholat orangtua ini selalu memarahi anaknya.  Hanya amarah yang di kedepankan.
Farichatul Jannah

Farichatul Jannah

•Eks Penyiar Radio •Blogger •Video Blogger •VO •Script Writer •Kontributor Video TV •Product Review
Farichatul Jannah

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Merdeka itu berani beragam dan bekerja sama. Kemerdekaan itu adalah Kerja Bersama.

Dirgahayu Indonesia ke-72. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Merdeka !

#hutri72 #kemerdekaan72 #kemerdekaanRI72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top