Inspirasi

Meneladani Semangat Laura dalam Little House in The Prairie

 

Pagi itu saya bersemangat menuju Boulevard Ijen, Malang. Setelah berkeliling ke Museum Brawijaya, saya pun menyeberang menuju Perpustakaan Kota Malang. Melihat koleksi novel berseri Little House in The Prairie yang lengkap maka sayapun mendekam di perpustakaan ini berjam-jam.

Novel Little House in The Prairie adalah novel favorit saya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Dulu juga ada serial televisinya yang dibintangi Michael London. Oleh karena film yang diputar TVRI ini saya tonton waktu masih TK, saya tidak paham ceritanya. Yang teringat hanya suasana wild west akhir tahun 1800-an dan gaun-gaun indah perempuan Amerika masa itu.

Melihat koleksi Little House di perpustakaan ini ibarat menemukan harta karun. Saya sudah punya sebagian koleksinya tapi di perpustakaan ini jauh lebih lengkap. Dalam hati saya bersorak gembira.

Bukan hanya tersedia koleksi masa kecil Laura yang dikenal oleh masyarakat, namun juga kisah-kisah buyut, nenek, dan ibu Laura. Koleksi cerita puteri Laura yaitu Rose Wilder juga banyak. Sebagian koleksi Rose belum pernah saya baca dan saya miliki.

Oh iya bagi yang belum tahu dan belum pernah baca serial Little House in The Prairie akan saya ceritakan mengapa kisah mereka begitu disukai dan menjadi inspirasi banyak wanita di berbagai negara. Laura Ingalls Wilder ibarat perwakilan wanita pionir tangguh yang berani menjelajah berbagai wilayah di Amerika bersama keluarga dan kereta buginya.

Sebenarnya leluhur Laura dari pihak ibu adalah bangsawan Skotlandia yang terpandang dan kaya raya. Martha Morse, nenek buyut Laura dikenal perempuan yang ceria dan bersemangat. Dalam dua bukunya, Rumah Kecil di Dataran Tinggi dan Jauh di Seberang Danau, Martha bercerita tentang masa kecilnya yang berkecukupan dan masih kental dengan tradisi bangsawan Skotlandia.

Berbeda dengan saudara-saudaranya, Martha ingin menjelajah dunia. Ia juga sangat membumi dan rendah hati, sehingga ia tak peduli mencintai dan menikah dengan kalangan rakyat biasa, yaitu seorang anak penempa besi bernama Louis Tucker. Keduanya kemudian bermigrasi ke Amerika dan menetap di Boston.

Nenek Laura, Charlotte lebih terkenal dengan bakat menjahitnya. Banyak yang memesan gaun-gaun indah kepadanya. Namun nasibnya berubah sejak suaminya meninggal saat pelayaran. Ia menjadi single parent, pindah ke hutan besar dekat kota Concord dan menghidupi enam anak dengan tanah pertaniannya. Panen gagal dan terancam kelaparan pernah dialaminya.

Ibu Laura, Caroline Ingalls, merupakan putri kedua yang paling rajin di antara saudarinya. Ia paling rapi dan selalu ingin menjadi teladan bagi kedua adiknya sehingga kakaknya sering menggodanya. Tindak-tanduk Caroline ini mirip putri sulungnya, Mary, yang juga sangat rapi dan sopan sehingga Laura sering merasa malu dengan sikapnya.

Laura tokoh favorit saya. Ia tak ragu mengikuti keluarganya berpindah-pindah tempat dengan gerobak yang didandani hingga cukup nyaman untuk ditumpangi selama perjalanan jauh. Mereka pernah tinggal di rimba besar Winsconsin, lalu pindah ke daerah Indian bernama Independence, ke Kansas lalu menetap ke Missouri. Pengalaman berpindah-pindah itu membuat Laura tumbuh menjadi perempuan mandiri, praktis, dan pantang menyerah.

Keluarganya juga telah melalui berbagai penderitaan, seperti nyaris kelaparan saat musim dingin berkepanjangan, panen gagal, terkena demam malaria, hingga diusir karena tinggal tak jauh dari daerah Indian. Saat keluarganya terkena demam parah, Laura merawat Ibu, kakak, dan adiknya. Kakaknya, Mary, kemudian mengalami kebutaan karena demamnya tak cepat ditanggulangi.

Laura sangat sedih melihat kakaknya yang cantik dan baik hati menjadi buta, iapun sering bercerita kepada kakaknya dan menjadi mata bagi kakaknya. Laura lalu bekerja keras di sela liburan sekolahnya agar mampu mengirim kakaknya ke sekolah bagi tunanetra di Iowa. Berkat Laura, kakaknya bisa kembali tersenyum.

Setelah dewasa, Laura menikah dengan Almanzo dan mereka membuka pertanian apel. Butuh waktu bertahun-tahun dan perjuangan keras hingga usaha apel mereka berhasil. Rose, putri tunggal, tidak meneruskan menjadi petani melainkan menjadi wartawati dan penulis. Berkat bujukan Rose, Laura mulai menulis biografinya.

Jika Laura tidak pernah menulis tentang kehidupannya mungkin kita tidak tahu bahwa wanita di benua Amerika juga memiliki semangat yang sama dengan perempuan di Indonesia. Keinginan bertahan hidup dan menyelamatkan keluarga dari ancaman kelaparan menjadi motivasi utama perempuan masa itu. Seiring dengan kehidupan yang mulai mapan, maka perempuan masa itupun mulai berkonsentrasi pada pendidikan dan bagaimana agar anak-anak mereka juga mendapat pendidikan dan keahlian yang cukup.

Menjadi perempuan dari keluarga petani sangat berat, bagaimana mereka harus pandai memasak, menjahit, mengurus hewan ternak, dan pandai membaca. Setiap hari mereka harus bangun sejak Subuh dan bekerja hingga matahari terbenam. Melihat hal tersebut saya menjadi malu dan terkesan oleh semangat perempuan pionir masa itu.

Little house in the prairie

Puspa

Saya suka membaca dan menulis apa saja.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Desain website yang menarik memang bikin pengunjung web jadi lebih betah sih, ya 😁 Makanya sebagian orang memilih untuk "bye-bye" saat berkunjung ke web yang desainnya "malesin" alias gak bikin pengunjung nyaman. Kalian gimana? 😀
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #desainweb #layout #website

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top