Agama

Menebarkan Ilmu Demi Meraih Pahala

Setelah shalat Isya Mbah Muslim duduk sejenak di teras mushala. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada Cak Ngaderi, Kromo Dingklik, dan jamaah lainnya menanyakan ini-itu, utamanya yang berkaitan dengan pengetahuan agama. Dengan cara ini maka mereka bisa menambah ilmu pengetahuan agama dengan santai dan lebih leluasa berdiskusi. Maklum ada orang yang segan bertanya pada acara-acara resmi karena malu atau takut ditertawakan orang lain.

Mbah Muslim mengetahui bahwa di antara jamaah di mushalanya sudah lancar dan fasih membaca Al-Qur’an. Namun kakek dengan beberapa cucu itu belum mengetahui dengan pasti apakah mereka juga sudah memahami makna yang terkandung dalam kitab suci yang merupakan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut. Mbah Muslim juga belum begitu yakin apakah tetangga kiri-kanannya sudah mempelajari hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Assalaamu’alaikum, Slim.” Kromo Dingklik langsung duduk di dekat sahabatnya.” Sudah punya akik kayak yang saya miliki ini?” Kromo Dingklik menunjukkan akik yang tersemat di jari tengahnya.

“Dapat dari mana tuh akik, gede amat”.

“Dikirimi keponakan saya yang jual akik di Surabaya. Langsung diikat dengan emas 23 karat sebesar 10 gram. Kata keponakan saya dagangan akiknya laku keras karena dipromosikan di internet. Mau ikutan beli akik?” Mbah Muslim menggeleng.

“Hati-hati tanganmu terbakar loch,” Mbah Muslim mengingatkan sahabatnya.

“Ah, kamu ada-ada saja. Ini akik biasa, bukan akik bertuah atau horor kok”.

“Bukan pada batu akiknya tetapi ikatan batu yang terbuat dari emas itu penyebabnya,” Mbah Muslim memberikan pencerahan. Cak Ngaderi, Kromo Dingklik, dan jamaah lainnya mulai tertarik.

“Emangnya kenapa dengan emas itu, mbah?” tanya Cak Ngaderi.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang laki-laki muslim memakai perhiasan emas.”

“Kalau istri saya boleh, Slim?” Tanya Kromo Dingklik sambil melepas cincin akiknya.

“Kaum wanita boleh memakai perhiasan emas, laki-laki muslim dilarang oleh beliau. Hal ini sesuai hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Musa ra. menyatakan, Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Dihalalkan emas dan sutera bagi wanita-wanita dari umatku, dan diharamkannya atas lelaki-lelaki dari umatku”. [HR. Achmad, Nasa’i, dan Tirmidzi]

“Lha, tadi kamu bilang tangan terbakar itu maksudnya apa?”

“Itu juga terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Dari Abdullah bin Abbas –radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat cincin dari emas pada tangan seorang laki-laki. Kemudian Nabi mencabutnya dan membuangnya. Beliau Shallallahu alaihi wasallam bersabda: Salah seorang dari kalian memakai bara api di tangannya. Kemudian dikatakan kepada laki-laki itu setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pergi: Ambillah cincinmu dan ambil manfaat darinya. Ia berkata: Tidak, demi Allah. Aku tidak akan pernah mengambil sesuatu yang telah dibuang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam”.

Begitulah cara Mbah Muslim menebar dan mengajarkan ilmu yang pernah dipelajarinya. Dia tak pelit untuk membagikan ilmunya kepada orang lain. Mbah Muslim mengetahui dengan pasti bahwa mengajarkan ilmu yang bermanfaat merupakan amalan yang bernilai ibadah dan mendapat pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pahala mengajarkan ilmu ini Insya Allah akan terus mengalir walaupun yang bersangkutan telah meninggal dunia. Dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada 4 golongan yang senantiasa mengalir pahala kepada mereka setelah meninggal dunia, yaitu: orang yang berjaga untuk berjihad di jalan Allah, orang yang mengajarkan ilmu, orang yang berrsedekah jariah, dan orang yang meninggalkan anak shalih yang berdoa untuknya”. [HR. Ahmad]

Sama halnya menuntut ilmu, menyebar dan mengajarkan ilmu juga bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja, dan dengan cara apa saja. Misalnya, seorang muslim ditugasi untuk mewakili shahibul hajat memberikan kata sambutan pada walimatul ursy (resepsi pernikahan). Dia bisa menyelipkan ilmu mengenai kewajiban memenuhi undangan walimatul ursy tersebut. “Kepada para kerabat, sahabat, dan tetangga yang telah berkenan menghadiri undangan ini kami ucapan terima kasih. Semoga amal ibadah bapak-ibu mendapat balasan berlipat ganda dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memenuhi undangan seperti ini memang diwajibkan bagi seorang muslim. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang artinya: ”Apabila seseorang di antara kalian diundang untuk menghadiri walimatul ’ursy, penuhilah”.

Jika seorang muslim sedang berbelanja, dia juga bisa menyelipkan sebuah nasihat kepada penjual dengan cara yang baik. “Mas, tahu enggak mengapa saya suka berbelanja di sini? Selain barang dagangannya bagus, harganya tak mencekik leher, dan takarannya juga pas. Ada lho pedagang yang suka mengurangi timbangan. Padahal perbuatan itu kan dilarang Allah. Selain berdosa, perbuatan seperti itu juga bisa mengakibatkan pelanggannya kapok dan nggak mau beli lagi”.

Jika pedagang tersebut semakin meningkatkan kualitas kinerjanya, maka Insya Allah yang memberi nasihat akan kecipratan pahala. Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengajak kepada suatu petunjuk, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia memperoleh dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka”. [HR. Muslim]

Sama halnya dengan mengajarkan ilmu, seorang muslim yang menunjukkan suatu kebaikan juga akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. Misalnya saja Anda sedang makan nasi rawon di warung Yu Ngatemi. Tiba-tiba Anda melihat ada beberapa botol minuman keras yang di letakkan di antara minuman teh botol. Anda tahu betul bahwa seluruh penduduk desa beragama Islam. Dengan cara halus Anda bisa memberitahu kepada Yu Ngatemi agar tidak menjual minuman keras tersebut. “Yu, mbok jangan menjual minuman keras. Nanti kalau anak-anak muda di sini pada mabuk-mabukan dan membuat keributan di warung ini kan Yu Ngat sendiri yang rugi. Lagi pula menjual minuman keras itu dilarang agama lho”.

Jika Yu Ngatemi tidak lagi menjual minuman keras sesuai saran Anda maka Anda Insya Allah akan mendapat pahala. Abu Mas’ud al-Anshari al-Badri radiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”. [HR. Muslim]

Nah, mengajari ilmu agama dan menunjukkan kebaikan tak selalu harus di masjid atau mushala. Di warung, di sawah, atau di jalan raya sekalipun, seorang muslim bisa membagikan ilmu yang dimiliki kepada orang lain. Forum yang digunakan juga tak selalu di majelis taklim atau di ruang kelas. Dalam acara bincang-bincang santai pun ilmu atau nasihat bisa diberikan kepada orang lain. Dengan kemajuan teknologi, menyebarkan ilmu juga bisa melalui internet. Menulis artikel di blog dan media sosial juga termasuk menyebarkan ilmu. Akan lebih bagus lagi jika ilmu tersebut ditulis dan diterbitkan menjadi buku.

Mengajarkan ilmu tak akan menjadikan ilmunya berkurang. Sebaliknya ilmu akan semakin bertambah jika disebarluaskan kepada orang lain. Sebagai contoh, seorang ustadz yang akan memberikan ceramah agama tentu akan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dengan membaca pelajaran yang pernah diterima. Dia akan mengingat kembali firman Allah Subhanahu wa Ta’ala atau sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang akan digunakan sebagai dasar dari materi ceramahnya. Demikian pula jika seorang muslim mengajar bahasa Arab atau bahasa Inggris. Semakin sering dia melafadzkan bahasa tersebut maka akan semakin lancar dan fasih lidahnya dalam menggunakan bahasa tersebut.

Yuk kita sebarkan ilmu bermanfaat yang kita miliki.

 

Source image: pixabay.com

Editor : Indoblognet

Abdul Cholik

Abdul Cholik adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI. Ngeblog sejak tahun 2009 dan mempunyai beberapa blog termasuk di kompasiana. Telah menerbitkan lebih dari 20 buku berbagai topik, termasuk buku antologi.
Selain menulis review buku, produk, dan jasa juga sering memenangkan lomba blog atau giveaway.
Pemilik www.abdulcholik.com ini dapat ditemui dengan mudah di Facebook/PakDCholik dan Twitter/@pakdecholik

Latest posts by Abdul Cholik (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Mitra Blogger Pontianak!  Terima kasih ya atas dukungannya untuk @klink_indonesia_official.

Semoga event-event K-Link dan MB Communication bisa hadir kembali di Pontianak.

#latepost #klinksolusihidupmu #klinkmember15olusi #bloggerpontianak #mbcommunication #indoblognet

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top