Berbagi Kasih Sayang

Menebar Kasih Sayang tanpa Tapi

Namanya Rahmadhita, panggilannya Dhita. Saya mengenalnya cukup lama, hampir 5 tahun. Hubungan saya dengan dia cukup akrab dan dekat. Padahal umur saya seumuran dengan umur ibunya. Sedang Dhita seumuran dengan anak saya.

Kok bisa???

Karena, Dhita dulu pernah menjadi teman dekat anak sulung saya, Thomi. Dan saya selalu berpesan pada Thomi, tidak ada salahnya mengenalkan pacar atau teman dekatnya kepada mama dengan mengajak main ke rumah. Syukurlah Thomi mau menuruti saran saya. Sehingga secara tidak langsung saya turut memantau lika liku hubungan mereka. Tapi meskipun begitu, saya tidak pernah ikut campur lebih jauh. Supaya mereka juga bisa belajar bersikap dan berpikir secara dewasa.

Begitu juga ketika saya tahu bahwa mereka sudah putus. Komunikasi saya dengan Dhita tidak ikut terganggu. Masih sering menyapa dan berkirim kabar lewat BBM, WA atau di Instagram. Karena kedekatan itulah membuat saya sudah menganggap dia seperti anak sendiri.

@@@

Hari itu adalah hari Kamis tanggal 04 Februari 2016. Dimana di seluruh dunia sedang merayakan Hari Kanker Sedunia. Rasanya bukan satu kebetulan. Ketika saya menyapa Dhita di WA, yang awalnya hanya untuk menanyakan kegiatannya sekarang terutama kuliahnya. Tiba-tiba dia minta doa untuk ibunya yang pagi ini jam 8 sedang menjalani operasi kanker payudara di RSAL Ramelan Surabaya. Saya cukup kaget waktu itu.

Saya memang tidak mengenal ibunya Dhita. Bertemu juga belum pernah. Tapi saya cukup mengenal dekat dengan Dhita secara emosional. Betapa dia seorang remaja putri yang lembut, santun, cerdas dan lebih dewasa dari usianya yang masih 19 tahun. Itu bisa saya nilai dari sikapnya yang tetap ramah menyapa saya di media sosial, meskipun sudah tidak memiliki hubungan spesial lagi dengan Thomi. Kekaguman saya semakin mendalam ketika dia memutuskan untuk mengenakan jilbab beberapa waktu yang lalu. Nasehat sayapun di respon dengan cukup hangat waktu saya puji sembari menitipkan pesan-pesan yang berhubungan dengan pilihannya menutup aurat waktu itu.

Sekarang, ketika Dhita minta saya turut mendoakan kelancaran dan kesuksesan operasi mamanya. Tentu saja dengan senang hati saya akan mendoakan. Betapa saya bisa merasakan, kesedihan serta kegundahan keluarga Dhita dalam mendampingi ibunda mereka berjuang melawan penyakit tersebut. Terlepas dari rasa sayang pada Dhita yang sudah seperti anak sendiri. Tapi dalam hati saya juga merasa wajib untuk bisa memberikan perhatian pada sesama muslim yang sedang tertimpa musibah.

@@@

Jumat pagi saya ada acara liputan, jadi sekalian merencanakan untuk menjenguk ibunya Dhita. Kebetulan RSAL saya lewati searah jalan pulang. Sempat kesulitan mencari kamar G2, dikarenakan lokasi rumah sakit milik angkatan laut itu cukup luas sekali. Tapi akhirnya ketemu ketika secara kebetulan Dhita lagi di depan kamar tempat ibunya di rawat.

Dengan niat yang kuat untuk memberi semangat pada Dhita dan ibu Enny, nama ibunya. Membuat saya tidak merasa ragu atau canggung berbaur di tengah keluarga yang hadir. Padahal sebelumnya tidak bertemu. Mungkin karena sikap ramah dan hangatnya Dhita, yang saya yakini itu adalah cerminan dari ajaran keluarga terutama dari ibunya.

Satu hal yang saya takjub adalah melihat wajah bu Enny yang segar dan cerah, tidak menampakkan sedang menderita penyakit yang sangat ditakuti banyak perempuan itu. Malah badannya kelihatan gemuk dan fit. Itu adalah efek dari doa serta semangat keluarga, handai taulan serta para sahabat. Hari ini saya juga kembali diingatkan, jagalah sehatmu sebelum sakitmu. Sesama muslim wajib mengingatkan. Terutama saling mengunjungi ketika ada saudara atau sahabat tertimpa musibah.

Sesampai di rumah, masih ada bisikan yang cukup membuat saya makin yakin. Bahwa sejatinya, kasih sayang itu tumbuh dari dalam hati kita masing-masing. Tidak bisa di suruh, di setir ataupun di paksa. Dia akan tumbuh seiring dengan keyakinan kita bahwa sesama makhluk hidup itu saling membutuhkan. Bukan dilihat dari materi atau benda yang bisa kita berikan. Tapi ada yang jauh lebih berharga yaitu perhatian dan doa.

Semoga secuil cerita ini bisa memberikan pemahaman lebih dalam tentang arti sebuah kasih sayang yang lebih luas.

Mbak Avy

Ibu - Istri - Blogger - Kompasianer dari Surabaya. Project leader Indoblognet- Regional Jawa Timur

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Instagram lahir di Tahun 2010 sebagai media komunikasi melalui gambar. Bisa dibilang inovasi Instagram saat itu sangat "fresh". Karena ternyata menyampaikan pesan (berbagi kisah) melalui gambar lebih mengasyikkan kan, yaaa? 😁😁😁
.
.
.
DOUBLE TAP IF YOU AGREE
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #instagram #sosialmedia #fotografi

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top