lomba blog zakiah hijab

Mendidik dengan Cinta, Belajar Sepanjang Masa

Timang dengan Sholawat

Kasih Ibu, kepada Beta. Tak terhingga. Sepanjang Masa. Hanya Memberi. Tak harus kembali. Bagai sang surya menyinari dunia.

Pernah menyanyikan syair lagu itu, kan? Syair lagu yang sering diiringi dengan gerimis. Ya, Ibu selalu menjadi dambaan anak-anak. Kasih sepanjang masa tanpa mengharap imbalan.

Tetapi, apakah menjadi Ibu terbentuk begitu saja ketika telah melahirkan anak?

Tidak, secara lahiriah mungkin perempuan langsung bisa dipanggil ibu setelah anak lahir di dunia. Secara bathiniah, perempuan harus melalui proses yang sangat panjang untuk menjadi seorang ‘ibu’ bagi anak-anaknya. Apalagi untuk menjadi ibu idaman, tentu saja harus terus-menerus belajar.

Betapa mulia keberadaan seorang ibu, hingga kanjeng Rosul pun begitu memuliakan ibu. Kanjeng Rosul menahan seorang sahabat untuk turut jihad karena masih ada ibu di rumah yang harus dirawat.

Hingga… ketika seorang sahabat bertanya, kepada siapakah ia harus berbakti.

“Ibumu…”

“Siapa lagi yaa Rosul?”

“Ibumu…”

“Lalu siapa lagi yaa Rosul?”

“Ibumu…”

Baru ketika sampai pada pertanyaan keempat, kanjeng Rosul menjawab, “Bapakmu.”

Disini tersirat, betapa ada pengorbanan dan pembelajaran yang harus ditempuh oleh seorang perempuan untuk menjadi seorang ibu. Kemuliaan tak akan pernah diraih tanpa diiringi pengorbanan.

Yai, kulo badhe ngaos malih.” Pintaku kepada yai Nasrudin, Guru Ngaji Hafidzahullah, yang menjadi Ayah ketiga bagi keluargaku.

Yai mengambil sebuah kitab hijau tipis, lalu menyerahkan kepadaku sembari bertitah, “Ini, sekarang belajar ini, Nduk…”

Almaratush-Sholikhah. Sebuah kitab yang mengulik serba-serbi perempuan. Akhlak perempuan kepada suami, anak, orangtua, mertua, menantu, tetangga, guru, handai tholan… Aku sungguh ternganga, tak menyangka. Kukira yai akan memberikan sebuah kitab berat semacam Nahwu-Shorof, Alfiyah, Imrithi, atau Bidayatul Hidayah, ternyata beliau mengambil kitab super tipis berwarna hijau itu.

Iki gawe sangu uripmu. Sinau sing tenanan. Kudu lulus sakdurunge nikah.”

Nyatanya, meski kitab tersebut sangat tipis. Aku membutuhkan waktu satu tahun untuk belajar. Padahal saat mengaji selepas isya, tiga kali seminggu, hanya diselingi setoran bacaan qur’an bin nadzor yang tak lebih dari lima menit. Selebihnya membahas kitab hijau tipis tersebut.

Dalam kitab tersebut diuraikan kedudukan wanita, pun akhlak-akhlaknya. Yang masing-masing kedudukan saling berpegangan erat layaknya jaring laba-laba. Jika satu saja jaring rusak dan lepas, maka akan mempengaruhi jaring lainnya, bahkan bisa menghancurkan.

Pun kedudukan sebagai ibu, kitab ini pun menguraikan bagaimana akhlak seorang ibu kepada anaknya. Menguraikan apa yang harus dilakukan ibu kepada anak agar menjadi ibu daman ideal bagi anak. Nah, lhoo, ternyata akhlak kepada anak pun seorang ibu harus mempunyai ilmunya. Seorang ibu bagi anak kecil laiknya tuhan, lihatlah, jika menangis, siapalagi yang bisa menenangkan anak jika bukan ibunya? Maka, disinilah titik sentral kedudukan ibu dalam pendidikan anak.

Mendidik anak sudah dimulai semenjak merencanakan kehamilan. Tetapi, disini aku tidak menguraikan tentang mendidik anak sebelum lahir. Yang kuambil dari kitab tersebut adalah garis besar mendidik anak setelah lahir. Bahasan yang lain bisa ditilik ke blog di widut.co.

Timanglah anak dengan sholawat, bacaan ayat-ayat Qur’an. Jangan menimang anak dengan orkestra. Sebab, hati seorang anak yang baru lahir masih sangat putih, inilah kesempatan emas bagi ibu untuk mengenalkan Allah kepada anak.

 

Itulah wejangan yai yang pertama terkait mendidik anak. Menimang anak dengan sholawat, selain untuk mengenalkan anak kepada Allah dan Robbuna, juga membuat hati ibu tentram sehingga bisa mendidik dengan cinta. Apalagi jika shalawatnya sepenuh hati. Aku pernah sholawatan sembari main hp, eh, si K teteup rewel, setelah HP kuletakkan, si K anteng kemudian tertidur. Kata salah seorang sahabat, ini bukan kita yang mendidik anak, tetapi anak yang mendidik orang tuanya agar lebih serius ibadah. Ehm.

Allahumma Sholli ‘alaa Muhammad… ya Robbi Sholli ‘alaihi wa sallim

Ada beberapa wejangan yai terkait mendidik anak. Mau tahu? Yuk, tengok.

mendidik dengan cinta

mendidik dengan cinta

  1. Sebisa mungkin anak diberi ASI. Jangan sekali-kali memberi susu formula jika tidak ada darurat medis. Sekarang kan sudah banyak ilmu tentang memerah asi. Jika pun terpaksa memberi susu yang bukan dari ibu sendiri, boleh kok mencari donor asi, tetapi harus selektif, ya.
  2. Ibu harus mengenalkan anak kepada bapak terus-menerus agar timbul rasa cinta kepada bapak di dalam hati anak. Kan nggak banget jika anak tidak mengenal bapak karena waktu bapak untuk anak tidak sebanyak ibu, padahal bapak sudah berjuang menafkahi. Hiks.
  3. Jika anak dinakali oleh temannya, jangan sekali-kali membela anak. Sebab akan menimbulkan rasa sombong dalam hati anak. Pun, sikap membela anak bisa menimbulkan pertengkaran dengan ibuibu lain. Kan, sering tuh kasus ibu-ibu berantem karena saling membela anaknya.
  4. Jangan dibiasakan mengunggul-unggulkan, menyanjung anak. Sebab hal tersebut bisa menyebabkan anak terkena penyakit ‘ain. Akibat dari penyakit ‘ain adalah anak selalu merasa dirinya paling benar, jika salah tidak mau disalahkan, tidak punya cita-cita yang tinggi sehingga cenderung tidak mau berusaha dan manja.
  5. Ketika usianya menginjak 7 tahun, maka harus dididik untuk sholat dengan ajakan halus. Baru diperbolehkan untuk memukul ketika anak menginjak usia 10 tahun. Itu pun dengan pukulan di paha yang tidak terlalu membahayakan.

Nah, itu lima poin ringkasan dhawuh yai terkait mendidik anak sebagai bekal menjadi ibu idaman. Itu pun baru dasar-dasarnya saja. Lainnya? Harus terus belajar, kemanapun, kepada siapapun. Via internet? Ayuk. Gabung di grup-grup parenting? Mariii. Belajar langsung dari orang lain, seperti aku ngaji dari yai? Boleh banget. Banyak jalan untuk mendidik anak dengan sepenuh cinta. Di jaman yang serba digital ini belajar menjadi lebih mudah. Jangan sampai menjadi emak gagap dengan perkembangan anak lantaran ogah belajar.

Ilmu dari kitab tipis tersebut serupa pondasi, yang tiang-tiang, dinding dan atapnya harus dibangun sendiri. Mencari ilmu kemanapun. Berguru kepada sesiapapun. Sepanjang masa. Tanpa henti. Tak boleh lelah untuk belajar.

 

 

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Kemajemukan  adalah anugerah dan takdir terindah dari Tuhan untuk bangsa Indonesia. Ini harus kita kelola dengan baik dalam komitmen yang sama sebagai bangsa merdeka untuk kemajuan negeri ini.

Founder Kader Bangsa Fellowship Program @kaderbangsafellowship Dimas Oky Nugroho Ph.D  @dimas_okynugroho mengajak generasi muda Indonesia untuk  turun tangan, ambil bagian  membangun kemajemukan untuk kesejahteraan dengan kerja sama, gotong royong dan kolaborasi. Merdeka !

Dirgahayu Republik Indonesia Merdeka 72 tahun !

Mari sebarkan pesan cinta Indonesia yang majemuk !

#mudakolaborasimerdeka #mudabersatumerdeka #mudakreatifmerdeka #mudakerenmerdeka #hutri72 #indonesiamerdeka72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top