Parenting

Jalan Terjal Seorang Guru

 

Demi melindungi guru, sebaiknya pihak sekolah membuat kebijakan, bahwa setiap orangtua yang menitipkan anaknya, wajib membuat surat pernyataan di atas materai, tidak akan melakukan tuntutan terhadap pihak sekolah atau guru ketika mengingatkan siswa bandel/nakal dalam rangka perbaikan akhlaknya, jangan sampai kriminalisasi guru terjadi terus.

Demikian sebuah status di FB dari seorang sahabat yang bekerja sebagai seorang kepala sekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kuansing, Riau. Suara keprihatinan atas maraknya kriminalisasi terhadap profesi guru. Sebagaimana kasus terakhir yang menimpa seorang guru perempuan di sebuah SMP di Kab. Bantaeng, Sulawesi Selatan. Peristiwa yang terjadi pada Agustus 2015 ini sebenarnya telah diusahakan untuk dimediasi. Namun orang tua siswa yang berprofesi sebagai seorang polisi bersikukuh untuk melanjutkan kasus hukumnya. Karena ‘kesalahan’ mencubit itulah yang membuat bu guru tersebut dibantarkan di balik jeruji besi.

Sebuah kejadian yang tragis tentu saja. Ketika seorang pendidik dianggap ‘gagal’ karena melakukan tindakan kekerasan kepada anak. Akhirnya penjara siap menanti saat tuduhan melakukan tindakan kriminal. Ini menjadi keprihatinan banyak pihak, khususnya dari para guru. Sebab mereka dihadapkan pada kondisi ‘bagai makan buah simalakama’. Dimakan mati, tak dimakan pun mati.

Balik pada status tersebut, akhirnya banyak kawan yang memberikan komentar. Pro dan kontra pun muncul atas status tersebut. Termasuk komentar dari seorang sahabat kami yang menjadi salah seorang relawan di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dia menyatakan bahwa guru seharusnya melindungi anak (siswa). Anak di sekolah bukan untuk dihukum (secara fisik) tapi untuk menimba ilmu. Kalau (seorang) guru memukul atau melakukan kekerasan, maka dia tidak layak untuk disebut sebagai guru. Ada Undang Undang Perlindungan Anak (UUPA) yang bisa menjerat pelaku kekerasan, tak terkecuali seorang guru.

Jalan Terjal Seorang Guru

Guru, selain memiliki tanggungjawab untuk mengajar, dia pun bertanggungjawab untuk mendidik para siswanya. Dua fungsi yang berbeda tapi tetap dalam satu kesatuan. Mengajar dengan tujuan transfer ilmu/pengetahuan (transfer of knowledge) tentu tidaklah begitu sulit bagi seorang guru. Sebab dia telah dibekali dengan berbagai perangkat pembelajaran untuk mendukung kegiatannya mengajar. Saat ini dengan adanya sertifikasi, menuntut tanggungjawab yang lebih besar lagi kepada guru  untuk bekerja secara total. Tak lagi hanya kemampuan mengajar maupun didaktik. Kemampuan administrasi untuk pemenuhan kelengkapan media pembelajaran pun tak boleh dilewatkan.

Bekal nilai keluarga yg baik, memudahkan pendidik untuk jalankan fungsinya. (dok. PPM MBS Yogya)

Bekal nilai keluarga yg baik, memudahkan pendidik untuk jalankan fungsinya. (dok. PPM MBS Yogya)

Mengapa mengajar itu sudah tidak begitu sulit bagi guru? Sebab dengan adanya spesialisasi mata pelajaran (lewat sertifikasi) tentu seorang guru profesional sudah harus menguasi metodologi, teknik, serta strategi belajar yang tepat. Jika didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana pengajaran tentu akan lebih baik. Belum lagi jika para siswanya merupakan siswa pilihan yang diterima melalui seleksi yang ketat. Tentu ini akan menjadi modal yang bagus agar proses pelajar mengajar lebih mudah dilakukan.

Namun tugas yang ke-dua seorang guru bukanlah tugas yang mudah untuk dilakukan, yaitu mendidik. Mendidik adalah transfer sikap (transfer of attitude) yang merupakan transfer nilai/norma (transfer of value) yang sangat memungkinkan terjadi ‘gesekan’ antara guru dan siswa. Belum lagi gesekan antara guru dan orang tua siswa, gesekan antara guru dan masyarakat di lingkungannya. Sebab sangat memungkinkan bahwa nilai-nilai yang diajarkan di sekolah, akan berbeda dengan nilai di dalam keluarga atau di lingkungan masyarakat. Misalkan, seorang siswa dilarang merokok di lingkungan sekolah. Namun pada kenyataannya, masih saja dijumpai siswa yang merokok  di sekolah atau di jam sekolah. Saat guru atau petugas berwenang (BP/BK) memberikan teguran kepada siswa dan orangtua, orangtuanya malah tak menghiraukannya. Sebab ternyata di rumah oleh orangtuanya, si anak dibiarkan saja untuk merokok. Jadi merokok bukanlah satu hal yang tabu untuk dilakukan anaknya, meski berada di sekolah.

Sebagaimana terjadi pada kasus anak yang diberi peringatan secara fisik (dijewer, dicubit, atau dipukul ringan), bisa tidak terima atas perlakuan tersebut. Sebab di rumah, orangtua tidak pernah memberikan peringatan atau hukuman dengan cara tersebut. Yang terjadi adalah orangtua tidak terima atas perlakuan guru terhadap anaknya. Peringatan yang bertujuan untuk mendidik kedisiplinan siswa dianggap sebagai suatu tindak kekerasan terhadap anak. Dengan kata lain, guru telah melakukan tindak kekerasan terhadap anak.

Kasus-kasus seperti ini seringkali malah membuat guru menjadi ‘trauma’. Akhirnya untuk mencari ‘jalan selamat’, dibiarkan saja siswa yang nakal tersebut. Atau agar tidak menambah beban moral dan risiko, menyilakan orang tua untuk memindahkan siswa tersebut dari sekolahnya sekarang. Tentu ini sangat disayangkan bukan? Sekolah yang seharusnya menjadi salah satu agen pendidikan karakter justru dihadapkan dengan pilihan sulit. Guru tidak boleh medidik kedisiplinan siswa dengan cara hukuman fisik. Satu hal yang sebenarnya jamak dilakukan sekolah di era sebelum tahun 2000-an. Dengan hukuman tersebut, diharapkan siswa jera dan tak melakukan kesalahan yang sama.

Peran Vital Orangtua dan Masyarakat

Program sekolah yang sebaik apapun, tak akan berhasil baik jika tak didukung oleh orangtua dan lingkungan masyarakat. Keluargalah tempat awal memberikan pondasi pengajaran dan pendidikan norma atau karakter kepada anak. Bila keluarga mampu menanamkan nilai-nilai kebaikan dan humanisme, tentu akan menjadi modal yang kuat agar anak bisa bersikap baik. Baik itu di lingkungan masyarakatnya atau sekolah jika dia sudah menempuh pendidikan formal. Saat ini, hal tersebut sepertinya banyak diabaikan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seolah menjadi ‘penyelamat’ bagi orang tua. Anak dibiarkan bebas bermain dengan televisi atau gawai. Teve dan gawai menjadi ‘orangtua’ baru bagi anak-anak.

Peran lingkungan untuk ikut 'mengawasi' anak dalam pergaulannya. (dok. pribadi)

Peran lingkungan untuk ikut ‘mengawasi’ anak dalam pergaulannya. (dok. pribadi)

Demikiannya juga dengan maraknya tempat game daring maupun warnet. Pengunjung segala usia bebas mengakses apa saja yang mereka inginkan. Meskipun game atau laman situs yang dibuka tak sesuai dengan peruntukkan usianya. Meski anak terlihat ‘baik’, namun perilaku menyimpang sebagai efek negatif dari aktivitasnya itu tak sempat terpantau oleh orangtua. Tiba-tiba saja orangtua kaget, saat menerima kabar buruk tentang anaknya. ‘Anak baiknya’ melakukan tindakan menyimpang atau tidak disiplin di sekolah atau di lingkungan masyarakatnya.

Inilah pentingnya orang tua menyelaraskan sikap hidup atau nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dengan di keluarganya (rumah). Jika di sekolah diajarkan untuk shalat berjamaah serta mengaji, maka sudah seharusnya di rumah pun demikian. Bukan sebaliknya, di rumah anak dibiarkan untuk tidak mengaji atau shalat berjamaah. Sebab orangtua berpikir bahwa mereka pun tidak mengaji serta shalat berjamaah. Padahal secara tak langsung, sekolah mengajarkan aktivitas tersebut agar mendidik siswa menjadi pribadi yang bertakwa. Sekaligus menjadi pengingat bagi orangtua, bahwa mereka pun harus melakukan aktivitas baik sebagaimana sekolah mengajarkan kepada anaknya.

Nah, ternyata tugas mengajar dan mendidik anak itu bukan hanya menjadi tanggungjawab sekolah saja lho.  Ada peran besar orangtua sebagai tempat keberangkatan pertama sebelum anak-anak itu menerima ‘asupan tambahan’ ilmu dan norma di sekolah. Pun demikian juga dengan lingkungan sekitar. Menjadi salah satu pendukung tumbuh kembangnya kepribadian anak dalam menjalankan fungsi sosialnya. Lingkungan masyarakat yang baik, tentu akan memberikan tata nilai yang baik juga kepada anak. Sebaliknya, lingkungan yang tak kondusif, sudah sepatutnya agar orangtua mampu melindungi anak atau keluarga dari lingkungan yang tidak baik tersebut.

 

 

Editor: Indoblognet

Mas Nuz

Pecinta keluarga yang kadang suka nulis dan jalan-jalan.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Good morning, sahabat Indoblognet 😁 Jangan lupa siapkan amunisi (sarapan) terbaikmu pagi ini, supaya aktivitasmu kuat dan semangat 💪🏃
.
Guys, tau gak siiih, postingan yang mengandung unsur pertanyaan, lebih besar kemungkinannya untuk direspon dibandingkan postingan non question, lho 😄
.
Hihi, iya juga sih, kita seringkali "tergelitik" untuk ikut menjawab pertanyaan yang diajukan, ya 😂 Apalagi kalau pertanyaannya memang "mancing" banget 😅
.
Jadi, salah satu tips nih guys, kalau kamu pingin bikin postingan yang lebih direspon, buatlah postingan question posts 😉
.
#mbcommunication #indoblognet #morning #tuesday #instagram #instadaily #viral #followme #tips

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top