Inspirasi

Membumikan Tradisi Silaturahim

Hiruk-pikuk Idul Fitri berangsur-angsur telah meninggalkan kita. Seiring dengan libur dan cuti bersama bagai para pegawai, karyawan, dan PNS yang sudah usai. Mereka harus mulai ‘ngantor’ kembali. Jalanan ibu kota yang menjadi parameter keramaian itu telah kembali seperti sedia kala. Sebagaimana jalanan desa tujuan mudik berangsur senyap. Seolah alam berbisik, “Mereka telah kembali fitrah.”

Cerita horor tentang mudik yang menimbulkan korban jiwa menjadi catatan sejarah. Bahwa para pemudik (khususnya dari arah Jakarta ke Semarang atau Jogja) tahun ini perlu melakukan perjuangan yang ekstra. Brexit menjadi trending topik yang menghiasi lini masa media daring ataupun media sosial. Setelah British Exit dengan cerita negara Inggris yang mengundurkan diri dari Uni Eropa, Brexit versi indonesia pun ikut mendunia. Brebes Exit atau pintu ke luar tol Pejagan di Brebes Timur melahirkan banyak kisah pilu tentang panjangnya antrean hingga puluhan kilometer. Ditambah belum siapnya sarana penunjang jalan tol seperti rest area di sepanjang jalan tol Pejagan.

Kisah yang mewarnai perjalanan tahunan itu pun memberikan banyak pelajaran bagi kita. Demi silaturrahim/silaturahmi apapun dipertaruhkan agar dapat mencapai tujuan. Berlelah diri menempuh jarak ratusan bahkan ribuan kilometer pun dijalani. Suka dan duka selama perjalanan seolah menjadi bumbu penyedap yang selalu ingin dicicipi.

Kemudian berbagai pertanyaan muncul sebagai perwujudan rasa penasaran tersebut. Apakah silaturrahim atau mudik mesti harus dilakukan saat Hari Raya Idul Fitri?

Tentu akan banyak variasi jawaban yang akan disosodorkan. Tergantung dari sudut pandang mana jawaban itu diberikan. Bila ditinjau dari makna religi, silaturrahim tentu menjadi satu hal yang bersifat wajib. Dalam Islam, Allah Ta’ala mengancam akan melaknat orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan (TQS Muhammad: 22-23). Demikian juga perintah menjaga silaturrahim itu pada agama yang lain. Sebab dengan silaturrahim itulah berbagai manfaat akan banyak diperoleh.

Maka sudah selayaknya, tradisi mudik yang dikenal oleh ras Melayu ini lebih dapat membumi. Dalam artian bahwa mudik dengan membawa misi silaturrahim ini tak terbatas pada momen Idul Fitri saja. Banyak pilihan hari yang dapat dilakukan. Sekaligus menghapus anggapan bahwa jika tak mudik di hari raya tersebut berarti kurang menghargai makna silaturrahim. Mengubah pola pikir serta mengembalikan lagi makna silaturrahim dengan menghilangkan sekat tempat dan waktu. Meski hal tersebut secara sosiologis dan psikologis tentu bukanlah masalah yang mudah untuk dilakukan.

Sebab tak dapat dipungkiri, momen mudik menjadi saat ‘unjuk gigi’ para perantau. Kembali pulang dengan menunjukkan aksesoris keberhasilan yang telah diraihnya di kota. Menjadi ‘orang sukses’ akan meningkatkan cara pandang tetangga atau masyarakat sekitarnya. Keberhasilan tersebut akan menempatkan derajat diri dan keluarganya menjadi ‘lebih tinggi’. Meski terkadang untuk menciptakan gambaran tersebut terkadang harus memakasakan  diri dengan cara-cara yang tak wajar. Hal ini tentu amat disayangkan bukan?

Nah, membumikan tradisi silaturahim itu akan menjadi indah. Membuat silaturahim tanpa membatasi jumlah kali. Jika bisa dilakukan setiap ada kesempatan, atau menciptakan kesempatan itu, mengapa tidak? Tidak harus setiap tahun, atau setiap perayaan hari raya Id (Fitri atau Adha). Menyiapkan buah tangan atau oleh-oleh bukan menjadi suatu yang dibiasakan. Hal ini jika dibiasakan, secara langsung akan menjadi beban psikologis tersendiri. Bila ongkos cekak, alamat silaturrahim akan tertunda. Karena tak akan mampu untuk membeli oleh-oleh tersebut.

Hal tersebut di atas jika dapat kita awali dari diri kita masing-masing, insya Allah akan menjadi gaya hidup yang keren. Silaturahim menjadi suatu hal yang tak harus mahal. Apalagi sampai dengan membahayakan nyawa. Berkendara tanpa memperhatikan keselamatan diri, keluarga, bahkan orang lain. Bila ada anggaran berlebih, bisa lebih bermanfaat untuk digunakan membantu perekonomian keluarga. Sehingga silaturahim yang dikemas dalam kegiatan mudik pun lebih terasa gaung dan manfaatnya.

 

 

Mas Nuz

Pecinta keluarga yang kadang suka nulis dan jalan-jalan.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Apa sih tujuanmu menggunakan sosial media? Sekadar pengen narsis dan eksiskah? Nope, jangan gunakan sosmedmu hanya untuk popularitas semata guys, manfaatkan sosmedmu untuk memberikan pengaruh yang baik/positif untuk orang lain
.
#indoblognet #mbcommunication #sosialmedia #viral #trending #impact #eksis

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top