Ekonomi

Membernaskan Bisnis E-Commerce untuk UKM

diskusi publik kementerian kukm

UMKM dan UKM digadang-gadang menjadi solusi bangkitnya perekonomian nasional yang melesu. Pengalaman krisis ekonomi beberapa tahun silam membuktikan,  ketangguhan UKM dalam menggerakkan roda perekonomian. Dikala perusahaan industri besar multinasional banyak yang tiarap, tak dinyana justru UKM tumbuh bergeliat bertengger pada pangsa pasarnya di sektor riil.

Saya masih ingat ketika wawancara dengan CEO kontraktor pameran Samudra Dyan Praga, Bapak Hariman T Zagloel yang berkisah tentang  bagaimana pertama kali pameran INACRAFT dilaksanakan di tengah krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1999. Expose, EO milik Pak Hariman kala itu nekat menyelenggarakan pameran UKM, dan berhasil mengumpulkan sebanyak  102 UKM di Bidakara.  Pengunjung pun antusias  dan transaksi yang dicetak terbilang cukup besar kala itu.

Berlanjut INACRAFT kedua, Pak Hariman menyerahkannya ke sahabatnya Pak Bramantyo (owner Mediatama Binakreasi) untuk menyelenggarakannya, karena ia ingin fokus mengembangkan bisnis kontraktor pameran. Belajar dari pengalaman sebelumnya di Bidakara, INACRAFT kedua venue dipindah ke Jakarta Convention Centre dengan mengambil luas area 10 ribu m2. Tujuannya, supaya lebih merebut perhatian UKM sebagai peserta dan pengunjung. Alhasil, turut mendulang sukses. Peserta yang berpameran meningkat menjadi 307 UKM dari berbagai daerah.

Tahun ke tahun, peminat untuk menjadi peserta INACRAFT terus bertambah. Bahkan, kini INACRAFT telah memenuhi seluruh area JCC dan penyelenggara terpaksa harus menolak kepersertaan karena kurangnya lahan pameran. Ya, kini INACRAFT menjelma menjadi trend setter pameran produk kerajinan dan industri kreatif yang kehadirannya selalu ditunggu-tunggu. Produk baru belum afdol dikeluarkan, sebelum dipamerkan di INACRAFT.

Dari sini, UKM makin menggigit. Pameran UKM dijadikan  wahana mendongkrak pertumbuhan ekonomi.  Tak heran, pameran-pameran UKM tiap tahun tumbuh pesat. Pameran memang tak sekedar etalase promosi, tetapi sekaligus juga tempat berinteraksi, melobi, dan mengenali selera dan kebutuhan konsumen. Sekarang, dengan kemajuan teknologi informasi, pengembangan terhadap UKM pun harus menyesuaikan yaitu bagaimana penciptaan  etalase dalam ruang maya dapat melesatkan potensi UKM Indonesia ke pangsa pasar dunia.

Presiden Jokowi sewaktu menghadiri KTT ASEAN- Amerika Serikat di Sunnylands, California (15/2) sangat menekankan keseriusan Indonesia dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk pembangunan ekonomi , khususnya UMKM. Menurut Jokowi, kemajuan teknologi informasi harus mampu memberdayakan Usaha Mikro dan Menengan (UMKM) untuk mempersempit kesenjangan pembangunan yang terjadi selama ini.

diskusi publik kukm

 

“Teknologi harus dapat memberdayakan UMKM dan mempersempit kesenjangan pembangunan. Teknologi harus bermanfaat bagi rakyat,” kata Presiden Jokowi melalui pernyataan tertulis yang diterima Beritasatu.com.

Hadir  pada saat itu Presiden Obama, CEO Microsoft Corporation Satya Nadella, CEO IBM Corporation Ginni Rometty, dan CEO Cisco System Chuck Robbins.

Presiden Jokowi mendorong terutama Kementerian Koperasi dan UKM yang lebih dekat mengurusi UKM agar lebih proaktif mengangkat pemberdayaan UKM dan melesatkannya melalui e-commerce. Karena itu, untuk menciptakan sinergi pembangunan UKM, Kementerian Koperasi dan UKM menggelar diskusi publik tiap bulannya. Diskusi ini menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan : birokrat, praktisi bisnis dan pengamat ekonomi, serta peserta yang diundang dari berbagai elemen : jurnalis, komunitas, praktisi dan netizen-blogger.

diskusi publik ecommerce

Saya bersama 9 blogger dari jaringan MB Communication berkesempatan datang pada diskusi yang bertema “Peluang dan Tantangan Koperasi dan UKM dalam Bisnis E-Commerce” di ruang Audiorium, Kementerian KUKM (9/2). Diskusi yang cukup seru,  menghadirkan pembicara mumpuni, diantaranya Bapak Wayan Dipta (Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran) Kementeran Koperasi dan UKM, kemudian Bapak Fajri Rosyid (Co-founder Bukalapak.com) dan pengamat e-commerce dari ITB, Bapak Kun Arief Nurcahyo.

Dalam diskusi tersebut, Bapak Wayan Dipta mengatakan, kontribusi UKM terhadap pendapatan nasional memang tak bisa dianggap enteng.  Khusus untuk pasar ekspor, kontribusi UKM mencapai 16,6 persen atau sekitar 550 ribu USD. Rata-rata per tahun tumbuh 7 persen. Secara umum, dalam  kurun waktu lima tahun terakhir, UMKM telah memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) di atas 50 persen. Angka yang tak bisa lagi dipandang enteng dan sebelah mata. Masalah yang melingkungi UKM seperti pembiayaan, pemasaran, teknologi desain, hak cipta, dan kualitas produk harus terus diupayakan solusinya.

E-commerce, Solusi Memajukan UKM ke Pasar Global

Meski masih banyak PR untuk pengembangan UKM. Marketplace e-commerce menjadi perhatian khusus untuk diimplementasikan maksimal. Menurut Wayan Dipta, Kementerian KUKM, sebenarnya sudah beberapa tahun terakhir menggarap e-commerce, tetapi khusus untuk pasar ekspor. Pasar global yang lumayan rewel terhadap kualitas, membuat Kementerian KUKM harus menyeleksi ketat produk-produk yang bisa tembus di pasar global.

Diantara produk yang dibutuhkan pasar ekspor dan telah dipasarkan hingga saat ini yaitu furniture, aneka kerajinan (anyaman, bambu, kayu, ukiran), kopi, emping, dan bawang goreng. “Tidak semua produk UKM bisa kami e-comercec kan ke pasar ekspor. Kami harus sesuaikan dengan kebutuhan, selera pasar, disamping kualitas yang bagus,” ujar Wayan Dipta. Untuk furniture, Wayan Dipta menyebutkan bekerja sama dengan Mitra Bali, Agung Alit. Sedangkan untuk bawang merah, diberdayakan dari petani bawang merah di Nusa Tenggara Timur.

produk furniture

Pembukaan pasar baru terus dilakukan, sambil menyeleksi produk-produk yang sesuai dengan selera dan kebutuhan ekspor. Marketplace-ecommerce akan semakin disuburkan untuk produk UKM. Pemerintah melalui salah satunya Kementerian KUKM, fokus menggarap pasar  ekspor, sedangkan pihak swasta menjadi partner erat dalam menyaring produk-produk yang mumpuni.

Kolaborasi yang telah berjalan ini memang menunjukkan hasil  signifikan. Tahun 2014, transaksi e-commerce kita sudah mencapai US$ 12 miliar, meningkat tajam pada 2013 yang hanya sekitar US$ 8 miliar. Diprediksi tahun 2016, transaksi e-commerce di Indonesia bisa membukukan angka sebesar US$ 24,6 miliar. Apalagi tahun ini Indonesia harus diketuk palu peluncuran roadmap e-commerce nasional yang diperkirakan akan menciptakan 1000 entreprenuers.

Bukalapak.com adalah salah satu marketplace leading di negeri ini yang siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk membangun UKM.  Tidak tanggung-tanggung untuk memperkuat pasar Indonesia di era Masyrakat Ekonomi ASEAN (MEA), Bukalapak.com menargetkan menggaet dua juta UKM bergabung dalam marketplacenya. Menurut Fajri Rosyid ,Co-founder Bukalapak.com yang ditemui pada Diskusi Publik Kementerian KUKM memaparkan, saat ini optimalisasi UKM giat dilakukan sambil mengedukasi UKM dari berbagai daerah melalui pendekatan pada  komunitas-komunitas bisnis.

Pertumbuhan seller di Bukalapak.com  tumbuh dinamis sejak 6 tahun usianya. Dari 20.000 seller di tahun 2011, tahun 2015 sudah berhasil mencapai 650.000 seller yang tersebar hampir di 500 kota di seluruh Indonesia. Transaksi yang dibukukan tiap UKM anggotanya pun cukup cemerlang, rata-rata per lapak bisa mengantongi Rp 5 juta per bulan untuk satu UKM.  Untuk mendorong lebih bersemangat UKM  bergabung, Bukalapak.com melakukan promosi di media  televisi, radio dan media online. Promosinya jika kita lihat menarik ya. Friendly dan berunsur humor tinggi. Ya, Bukalapak, memang berupaya membumi.

“MEA harus dijadikan peluang. Dalam MEA, UKM akan digenjot oleh pemerintah. Kami siap mendukung usaha pemerintah. Tapi sejauh ini kita tetap akan fokus di pasar indonesia,” pungkas Ahmad Zaky dalam sebuah wawancara media.

Peluang dan Tantangan dalam Bisnis E-Commerce

pengguna internet

Ditengah semangat Indonesia membangun e-commerce, kita memang harus selalu waspada dan melek terhadap trend pasar yang berkembang. Pengamat e-commerce dari ITB, Bapak Kun Arief Nurcahyo dalam diskusi tersebut mengungkapkan data dari We Are Social/November 2015 yang menyebutkan, Indonesia memang sangat prospektif untuk bisnis e-commerce. Ini dilihat dari jumlah pengguna internet di Indonesia, saat ini mengambil persentase sebesar 34 % dari jumlah penduduk Indonesia. Mobile subscribernya saja menjulang di angka 125% dari total jumlah penduduk.

asean digital population

potensi bisis e-commerce

Dibalik legitnya pasar e-commerce di Indonesia, tak pelak mengudang banyak e-commerce asing untuk menikmati legitnya kue ini. Melimpahnya jumlah penduduk produktif di Indonesia menjadikan negeri ini pasar ritel yang diperhitungkan. Targetnya adalah kalangan anak muda dan usia produktif yang terus membesar jumlahnya hingga 2035. Karena itu, Kun mengingatkan pemain e-commerce kita agar jangan lengah dan selalu meningkatkan kualitas layanan e-commerce, terutama memperhatikan keamanan dan kenyamanan transaksi baik dari sisi penjual maupun pembeli.

Kun membeberkan tantangan yang harus disikapi oleh pemain e-commerce :

(1) Budaya Beli

Sekitar 80% pembeli menggunakan internet untuk melakukan perbandingan harga sebelum melakukan pembelian langsung di toko. Dan 60% pembeli melakukan kriteria pencarian berdasarkan harga (sumber: PaymentAsia, 2015).

Jadi,kalau ada yang tanya-tanya harga sebelum memutuskan membeli, sebagai penjual tidak boleh malas menjawab atau malah tidak menjawab sama sekali. Harus menyiapkan tim khusus yang sigap menjawab berbagai pertanyaan yang memang selalu diulang-ulang. Kecepatan respon dalam menjawab pertanyaan dari konsumen, akan menjadi nilai plus dari konsumen. Tidak jarang ditemui, calon konsumen yang akhirnya membeli lantaran merasa diperhatikan oleh sellernya. Selisih dengan lapak sebelah tak bisa dipungkiri memang ada, tetapi karena perhatian yang bagus diberikan seller, akhirnya konsumen malah memilih lapak yang selisihnya lebih tinggi. Daripada  murah tapi slow respond atau tidak direspon sama sekali.

(2) Sistem Pembayaran

Mayoritas pembeli di Indonesia masih mengunakan transfer bank (57%) dan COD – Cash On Delivery (28%) (sumber: PaymentAsia, 2015).

Usahakanlah seller memberikan kemudahan dalam sistem bayar. Untuk konsumen anak muda, mereka kebanyakan memilih CoD.

(3) Tingkat Kepercayaan

21.5% pembeli menginginkan dapat memeriksa kualitas dari barang yang dipesan sebelum membeli barang tersebut. Penilaian, rekomendasi, data, respon penjual, dan keamanan pembayaran menjadi hal penting bagi pembeli dalam menentukan tingkat kepercayaan terhadap penjual (sumber: PaymentAsia, 2015).

Karenanya, upayakan yang difoto atau didisplay pada lapak adalah memang barang yang dijual. Jangan terlalu banyak mengedit untuk memanipulasi kualitas… Jika ketahuan terbukti  tidak bagus, konsumen akan selalu ingat dan malah jadi kapok untuk membeli dari suatu lapak. Termasuk juga keterlambatan pengiriman. Jangan terlalu menjamin muluk barang cepat diantar, jika dalam kenyataannya durasi pengiriman yang kita berikan tidak cepat. Amannya, beritahukan informasi rentang pengiriman terlama kepada konsumen. Dan, jamin uang bisa dikembalikan jika barang hilang dalam perjalanan atau ada pergantian jika barang rusak.

(4) Keamanan Data

Meningkatnya penyalahgunaan data pribadi seperti nomor telepon, email, alamat, dan nomor rekening menyebabkan banyak pembeli dan penjual tidak menggunakan data pribadi sebenarnya sehingga tingkat kepercayaan antar pembeli dan penjual menjadi rendah (sumber: Polhukam, 2015).

Sebagai penjual, jaga selalu keamanan dan kerahasiaan data pembeli. Ini adalah aset yang sangat berharga untuk kepercayaan. Sekali penjual ketahuan lalai dalam penyimpanan data base ini, pembeli tidak akan bertransaksi lagi.

Kun mengatakan, dunia e-commerce akan berubah secara konsisten untuk mencapai keunggulan dalam ekosistem yang terus berkembang ini. Pemain e-commerce harus selalu berada di atas tren yang diperkirakan, jika ingin terus eksis dan maju.

 

Semoga UKM kita makin matang dalam percaturan bisnis e-commerce global.

 


kartina Ika Sari

kartina Ika Sari

writerpreneur, founder MB Communication, Indoblognet.com & jelajahiindonesiamu.com
kartina Ika Sari

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Hai, sahabat Indoblognet 😁 Selamat beraktivitas dan menjalani hari penuh berkah, aamiin
.
Sahabat, tau gak kalian, kalau saat ini menulis content yang hanya berupa tulisan rasanya jadi kurang menarik, khususnya untuk konten sosmed ya guys 😀 Karena saat ini konten yang menarik perhatian  audiens adalah konten yang dikemas dalam bentuk infografik (yaitu konten dalam bentuk visual: tabel, gambar, animasi, dll)
.
Berdasarkan survey, konten infografik mendapatkan like dan share yang lebih banyak 3X lipat dibandingkan konten yang hanya berupa tulisan 😉 Nah, yuk ah belajar meningkatkan kualitas kontenmu dengan mencoba berbagai bentuk infografik 😀
.
#indoblognet #mbcommunication #infografik #konten #tipscontent #trending #popularpost #viralcontent #socialmedia

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top