Opini

Memberikan Pendidikan Agama Kepada Anak Melalui Metode OUDAP

 Anak Antara Anugerah Dan Amanah

Jika anak laki-laki lahir maka Allah berfirman “dia lahir untuk membantu ayahnya”, jika anak perempuan lahir maka Allah berfirman “dia lahir dan Aku yang membantu ayahnya” , demikian kurang lebih sederet kalimat yang berhasil saya kumpulkan dari serakan kata-kata hikmah Prof. DR. Quraish Shihab dalam acara Ramadan di sebuah televisi belakangan ini. Simpulannya adalah, anak kita, apapun jenis kelaminnya laki-laki atau perempuan adalah titipan dan anugerah Allah.

Alih-alih mempersoalkan masalah gender, Allah justru menekankan pada para orang tua terpilih, bagaimana menyikapi amanah dan anugerah yang telah diberikanNya itu. Epictetus filsuf Romawi Kuno berujar “bukan masalah-masalahmu yang mengganggumu, tetapi cara Anda memandang masalah-masalah itu. Semuanya bergantung pada cara Anda memandang sesuatu”. Jadi sekali lagi bukan masalah jenis kelamin anak yang mengganggu kita, tetapi yang menentukan adalah bagaimana kita memandang hadirnya anak-anak kita sebagai sebuah amanah sekaligus anugerah.

Setiap amanah menuntut tanggungjawab, setiap anugerah menuntut kewajiban. Dari sekian banyak tanggungjawab dan kewajiban kita sebagai orang tua adalah memberikan pendidikan kepada anak-anak kita. Pendidikan yang akan menghantarkan mereka menjadi insan-insan yang cerdas secara intelektual, emosional sekaligus spiritual.

Menakar Peran Keluarga

Seberapa besar keluarga berperan dalam perkembangan anak? George Herbert Mead (1934) menyebutnya dengan significant others – orang lain yang sangat penting. Kemudian Richard Dewey dan W.J. Humber (1966) menamainya affective others – orang lain yang dengan mereka kita mempunyai ikatan emosional. Itulah keluarga yang merupakan faktor terpenting dalam pembentukan konsep diri seorang anak. Jadi bukan guru di sekolah, ustadz di pesantren, teman di pergaulan, akan tetapi adalah keluarga.

Jadi jangan merasa sudah menjadi orang tua yang bertanggungjawab dan sudah tuntas menunaikan kewajiban mendidik anak bila telah menitipkan anak di sekolah atau pesantren favorit. Jangan pernah berfikir telah khatam kewajiban karena telah mengeluarkan biaya besar untuk menyekolahkan atau memasukan mereka ke pesantren. Kitalah sebagai orang tua yang merupakan fihak paling berkewajiban dan bertanggungjawab pada pembentukan konsep diri anak kita.

Lantas salahkah orang tua yang telah menitipkan anak-anaknya di sekolah dan pesantren favorit? Tentu tidak, yang penulis maksud adalah betapapun orang tua telah menitipkan anak di sekolah dan pesantren favorit tetaplah dia harus menempatkan dirinya sebagai pemegang utama amanah Allah, jadi orang tua harus tetap aktif memberikan didikan dan arahan pada perkembangan konsep diri anak.

Pendidikan Agama sebuah jawaban atau Kambing Hitam?

Sudah banyak metode mendidik anak lahir dari buah pikir para pakar. Tak sedikit pula pelatihan-pelatihan dalam rangka membentuk karakter anak-anak bangsa, namun apa lacur, karakter anak bangsa masih bahkan semakin memprihatinkan. Dari sekian banyak fenomena memprihatinkan itu, sebut saja fenomena balapan liar, cabe-cabean, tawuran, kejahatan seksual, narkoba bahkan begal dan pembunuhan. Apa yang salah dengan metode-metode buah karya para pakar itu? Atau sudah sedemikian parahkan moralitas anak-anak bangsa hingga metode-metode akademis yang brilian tak mampu meredam apatah lagi menuntun mereka menjadi generasi yang memiliki moralitas yang baik?. Tidak semua memang anak bangsa bermoral rendah, masih ada meski tak banyak generasi muda yang memiliki moralitas yang baik bahkan membanggakan. Persoalannya adalah bagaimana menurunkan angka imoralitas anak bangsa yang sudah kadung parah itu.

Setelah mengalami kebuntuan, lantas orang berpaling pada agama. Kemudian orang-orang berbondong-bondong menyuarakan back to religion. Agama dipandang sebagai solusi komprehensif untuk mengatasi kenakalan sekaligus panduan untuk pembentukan konsep diri anak.

Agama kemudian dikedepankan namun sekaligus juga dijadikan kambing hitam. Ko bisa? Itulah realitasnya. Bagaimana tidak, selain disanjung dan dipuji sebagai the ultimate solution, agama yang sejatinya adalah way of life menuju kedamaian dan kebahagiaan hidup seringkali justru dijadikan instrumen permusuhan bahkan peperangan yang meruntuhkan nilai-nilai keadaban, kemanusiaan dan kehidupan.

Bukan agamanya yang salah tetapi sikap keberagamaan para penganutnyalah yang seringkali jadi sumber masalah. Sikap keberagamaan ekstrinsik yang ditandai dengan mewahnya simbol-simbol kulit luar agama, ritual yang riuh rendah, hiruk pikuk formalitas agama seringkali justu menjadi sumber masalah dalam tatanan sosial kehidupan.

Orang-orang ekstrinsik cenderung arogan dan intoleran dengan mengatasnamakan firman-firman suci . Gordon W. Allport, seorang psikolog Amerika paling berpengaruh, menyatakan orang-orang yang ekstrinsik itu memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan dan bukan untuk kehidupan. Lebih jauh Allport mengatakan para ekstrinsik adalah orang yang berpaling pada Tuhan tetapi tidak berpaling pada dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang kepentingan-kepentingan mereka akan status, rasa aman dan harga diri. Mereka melaksanakan bentuk-bentuk luar agama namun tidak berada di dalamnya. Wajah agama kaum ekstrinsik begitu kaku, mereka tinggal di dunia monochrome yang hanya mengenal dua warna hitam dan putih. Dunia yang miskin toleransi namun kaya arogansi.

Pada yang intrinsik, agama dipandang sebagai comprehensice commitment, dan driving integrating motive yang mengatur seluruh hidup seseorang. Agama diterima sebagai faktor pemandu. Cara bergama kaum intrinsik terhunjam ke dalam dirinya. Mereka bukan sekedar melaksanakan bentuk-bentuk luar agama namun sekaligus mereka ada di dalamnya. Bentuk-bentuk luar agama yang mereka pertontonkan adalah pancaran dari sebuah kesadaran luhur yang sudah menetap di dalam hatinya. Sebuah kesadaran akan Kemutlakan Allah dan kerendahan diri, kesadaran tentang Tuhan Maha Mengetahui manusia tidak tahu apa-apa. Sebuah kesadaran yang melahirkan wajah agama yang santun, toleran, damai dan mendamaikan.

Kembali kepada pertanyaan diatas, apakah pendidikan agama adalah sebuah jawaban untuk melahirkan generasi berkarakter dan berprestasi? Jawabannya adalah tergantung pada bagaimana pembelajaran agama dilaksanakan. Bila pendidikan agama mengacu pada sikap ekstrinsik maka alih-alih menjadi solusi, agama justru akan menjadi penggerus kalau tidak boleh dikatakan peruntuh mental anak bangsa. Sebaliknya, bila pendidikan agama dilandasi oleh sikap intrinsik, maka pendidikan agama akan menjadi solusi yang tepat untuk melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual.

Jadi sebaik apapun konten pendidikan dalam hal ini agama akan sangat tergantung pada bagaimana agama dilandasi oleh nilai kesadaran. Bila nilai kesadaran keagamaannya adalah nilai-nilai ekstrinsik maka agama tidak akan mampu menjadi solusi bahkan sangat berpotensi menjadi trouble makers. Sementara bila kesadaran akan nilai-nilai intrinsik agama yang dijadikan dasar kesadaran maka pendidikan memang akan menjadi jalan lahirnya generasi yang berkarakter dan berprestasi.

Bagaimana Mengajarkan Agama Pada Anak ? (Warna-warna pendidikan)

Saya teringat dengan sebuah puisi buah tangan Dorothy Law Nolte bertajuk Children Learn What They Live yang menggambarkan bahwa anak dibentuk oleh bagaimana dia diajari. Ada korelasi antara bagaimana anak diajari dan bagaimana si anak kemudian belajar. Saya lebih suka membagi puisi itu menjadi dua dunia. Dunia pertama adalah dunia kegelapan, dimana anak diajari dengan celaan, permusuhan, cemoohan, penghinaan. Sementara dunia kedua adalah dunia cahaya, dimana anak diajari dengan toleransi, dorongan, pujian, perlakuan terbaik, rasa aman, dukungan, kasih sayang dan persahabatan.

Dunia Kegelapan

If a child lives with criticism, He learns to condemn, Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki.
If a child lives with hostility, He learns to fight Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,Ia belajar berkelahi
If a child lives with ridicule, He learns to be shy Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, Ia belajar rendah diri
If a child lives with shame, He learns to feel guilty Jika anak dibesarkan dengan penghinaan Ia belajar menyesali diri

Inilah sisi gelap pendidikan. Ketika anak-anak diajari dengan cara celaan, permusuhan, cemoohan dan penghinaan maka akan lahir generasi pemaki, pengguna kekerasan tetapi ia juga rendah diri dan terhantui dengan penyesalan diri.

Sekedar contoh, mari sejenak kita tengok dunia maya yang sekarang menjadi dunia utama manusia modern. Dunia yang dipenuhi dengan celaan, hinaan, kebohongan dan permusuhan. Dunia yang sekarang telah menggeser dunia televisi yang dulu dikatakan Tofler sebagai agama kedua manusia post modern. Dengan demikian hal-hal negatif itu telah menjadi agama, telah menjadi guru bagi manusia post modern dengan ajaran-ajaran kebohongan yang terus menerus diproduksi, didistribusi, dikonsumsi dan diredistribusi hingga menjadi kebenaran.

Sementara kebenaran teralianasi dan termarginalisasi menjadi atribut silent majority yang lebih memilih diam karena ewuh pakewuh dengan saudara, teman, dan tetangga. Meski suara hatinya berkata bahwa semua kebohongan itu harus dihentikan, namun lagi-lagi itu semua hanya sekedar suara hati. Mikrofon dipegang oleh para hoaxers dan para tokoh sumbu pendek yang dengan sesuka hati mengotori dunia yang mestinya bersih dan indah.

Nah, dunia maya yang di satu sisinya menyimpan kegelapan yang mengerikan itu di era kekinian telah menjadi guru, sahabat, ustadz sekaligus penasehat bagi anak-anak kita, anak-anak kita diajari cacian, makian, hinaan, dan permusuhan. Bisa dibayangkan, generasi seperti apa yang akan lahir dari dunia pendidikan yang mengajarkan kegelapan seperti ini.

Dunia Cahaya

If a child lives with tolerance, He learns to be patient Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri
If a child lives with encouragement, He learns to be confident Jika anak dibesarkan dengan dorongan, Ia belajar percaya diri
If a child lives with praise, He learns to appreciate Jika anak dibesarkan dengan pujian, Ia belajar menghargai
If a child lives with fairness, He learns justice Jika anak dibesarkan dengan kejujuran, Ia belajar keadilan
If a child lives with security, He learns to have faith Jika anak dibesarkan dengan rasa aman Ia belajar menaruh kepercayaan
If a child lives with approval, He learns to like himself Jika anak dibesarkan dengan dukungan Ia belajar menyenangi diririnya
If a child lives with acceptance and friendship, He learns to find love in the world Jika anak dibesarkan dengan sayang dan persahabatan Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Sisi terang dunia pendidikan ini mengajarkan anak-anak kita dengan nilai-nilai toleransi, dorongan, pujian, kejujuran, rasa aman, dukungan, kasih sayang dan persahabatan. Pendidikan yang akan melahirkan generasi yang toleran, percaya diri, menghargai, menegakan keadilan, percaya pada kebenaran, memiliki harga diri tinggi, dan mengutamakan nilai-nilai cinta dan persahabatan.

Jadi nilai-nilai instrinsik yang menjadi dasar atas pengajaran nilai-nilai agama tidak bisa berdiri sendiri, dia membutuhkan warna. Bila warna dunia kegelapan yang dijalankan maka tujuan melahirkan generasi berkarakter tidak akan tercapai, namun sebaliknya bila nilai-nilai intrinsik diwarnai dengan ajaran-ajaran dunia cahaya, maka Insya Allah generasi berkarakter dan berprestasi akan lahir.

OUDAB Sebuah Metode Alternatif Pendidikan Agama

Setelah penulis membahas tentang pentingnya peran keluarga dalam pendidikan anak, kemudian memaparkan nilai-nilai kesadaran intrinsik yang harus menjadi dasar pendidikan, dan juga memaparkan warna-warna pendidikan yang baik, selanjutnya penulis akan memaparkan sebuah metode alternatif cara mengajarkan nilai-nilai agama pada anak-anak. Penulis menyebutnya dengan metode OUDAB kependekan dari Observation, Understanding, Decision making, Attitude, dan Propagate. OUDAB adalah anak tangga, OUDAB adalah rangkaian serial, dia mesti runut dan tak boleh ada skip process didalam implementasinya.

Sebuah metode sederhana yang lahir dari perenungan tentang pentingnya mewujudkan sikap intrinsik keislaman pada anak-anak saya. Saya tidak ingin mereka besar dalam dunia ekstrinsik, saya tidak ingin mewarnai mereka dengan dunia kegelapan. Metode ini saya gunakan dalam interaksi sehari-hari dengan anak-anak. Saya bias menunggu mereka bertanya atau saya yang mencoba memancing pertanyaan mereka. Semua itu berdasar pada apa yang kami lihat, dengar, atau kami rasakan. Saya tidak pernah memberi batasan, masalah apapun kami bicarakan dengan santai penuh canda tanpa mengabaikan ketajaman daya analisis. Sekali lagi, dialog adalah media untuk menerapkan metode OUDAP ini dalam interaksi sehari-hari antara orang tua dengan anak. Mari kita mulai uraian tentang metode OUDAP ini.

1. Observasi

Observasi adalah proses mencerap informasi (tafakur), mengumpulkan dan melakukan sortasi (tabayun) dari sebuah fenomena atau peristiwa yang disaksikan, didengar atau dirasakan oleh anak. Hal ini merupakan titik awal yang sangat menentukan. Bila tahapan ini diabaikan maka dapat dipastikan langkah berikutnya akan salah.

Dalam tahap ini, kita sebagai partner anak membimbing anak untuk mencerap informasi, mengumpulkan informasi tentang fenomena atau peristiwa yang mereka alami untuk kemudian memilah informasi dengan preferensi akal dan dalil agama.

Sebagai contoh, suatu pagi saat saya dan anak bungsu saya Zettira, menonton Dora Emon. Tiba-tiba anak bungsu saya yang baru kelas 3 SD itu, berteriak dan dengan mata melotot bertanya pada saya dengan bertubi-tubi. “Pak, kok Suneo dan Giant kurang ajar, mereka ngejek Nobita karena Nobita masih percaya surga, masa katanya Nobita masih percaya sama surga, kaya anak TK aja”. Sebuah pertanyaan lugu namun cukup membelalakan mata dan pikiran saya. Perlahan saya ajak dia bercakap. Saya ajak dia mencerap peristiwa sekaligus mengumpulkan informasi tentang pandangan sebagian orang tentang keberadaan surga. Kurang lebih saya berkata seperti ini, “De…tidak semua orang percaya sama surga, di negara Jepang maju asalnya Dora Emon banyak orang yang tidak percaya adanya surga”. Kembali dia terbelalak, “ih…berarti mereka masuk neraka dong pa?”. “Ya de, buat kita orang yang percaya sama agama orang baik itu masuk surga, orang jahat masuk neraka. Tapi tidak semua orang itu percaya sama agama.”

Saya telah menambahkan beberapa informasi padanya sekedar untuk menambah pemahamannya sebelum saya mengajaknya menentukan sikap. Paling tidak ada beberapa informasi yang saya tambahkan, seperti Jepang negara maju, tidak semua orang beragama. Saya menghindari untuk menghakimi secara terburu-buru. Saya ajak anak saya untuk mengumpulkan informasi mencermati dan memfilter informasi yang ada.

Itulah tahapan awal, tahapan observasi sederhana, dimana anak diajak mengumpulkan informasi dan melakukan filtrasi atas informasi berpreferensi agama.

2. Understand

Tahapan ini adalah tahapan sinkronisasi antara nalar dengan emosi atau antara rasionalitas dengan emosionalitas dengan menggunakan preferensi agama.

Pada tahapan ini anak diajak untuk mengerti dan memahami secara lebih komprehensif atas peristiwa atau fenomena yang sedang dia hadapi. “Gitu De…jadi tidak semua orang itu beragama, tidak semua orang percaya surga dan neraka, tapi menurut kita orang Islam neraka atau surga itu ada”. “oh gitu ya pak…terus apa Giant dan Suneo masuk neraka pak? Saya tidak buru-buru menjawab, saya ajak dia berdiskusi kecil. “De…kalau orang jahat itu dihukum ga sih?” . “ya harus dihukum dong”. “Kalau orang baik dikasih hadiah ga?” tanya saya lagi. “ya iyalah pak”. “Nah…de, biar adil yang jahat harus dihukum yang baik harus dikasih hadiah. Buat yang jahat dimasukan neraka yang baik dimasukin ke surga”. “Oh jadi biar adil ya pa”. “Iya de…biar adil kan Allah itu Maha Adil kaya yang Dede belajar Asmaaul Husna setiap hari Jumat di sekolah”.

Paling tidak menurut saya, sekarang anak saya lebih faham tentang surga, neraka, dan agama. Lebih dari itu dia sudah mulai faham kenapa harus ada Surga dan Neraka.

3. Decision

Pada tahapan ini saya baru berani menjawab dengan tujuan menuntun anak untuk mengambil sikap atau keputusan. “Nah…De jadi menurut Dede gimana, apa Suneo sama Giant bakal masuk neraka?” jawabannya cukup mengejutkan. “ya kalau menurut kita orang Islam sih bakal masuk neraka, tapi kan mereka ga percaya agama ya pak jadi gimana yah…ah ga tau pak”. “He…he..he…bingung ya de?” “ya pak bingung ah…”. “Gini de…yang penting kita sebagai orang Islam kudu yakin yang baik masuk surga yang jahat masuk surga biar adil, tapi kita juga harus tahu bahwa tidak semua orang percaya sama Islam jadi pasti ada orang yang ga percaya surga dan neraka”. Huh…nafas panjang saya hela, sulit namun mengasyikan berdiskusi dengan anak itu.

4. Attitude

Tahap selanjutnya adalah bagaimana mewarnai sikap yang telah ditetapkan agar tetap bersandar pada akhlakul karimah yang merupakan ajaran tertinggi dalam Islam, paling tidak itulah yang saya yakini setelah mendengar wejangan Gus Mus di sebuah acara di TV.

De…jadi kita harus yakin sama Islam, tapi kita tetap harus menghargai Giant dan Suneo. Mereka begitu mungkin karena belum ngerti Islam itu keren”. “Emang Islam itu keren ya pa?” “Wuih keren de, Islam itu paling keren, tapi itu juga kalau orang Islamnya baik-baik, sopan-sopan, rajin, bersih, pinter-pinter, suka nolong orang. Kalau orang Islamnya bodo-bodo, jorok, buang sampah sembarangan, sukanya ngejek, sukanya berantem yah…jadi ga keren De

Itulah balutan attitude yang saya coba pakaikan pada sikap yang telah diambil olehnya.

5. Propagate

Pada tahapan ini orang tua mengajak anak untuk mendakwahkan Islam dengan cara yang elegan, menjauhi sikap intoleran dan menjauhi sikap dogmatis.

Kembali ke urusan Dora Emon, saya pikir urusan Giant dan Suneo sudah selesai, ternyata belum. Setelah sekian lama dia berhenti bertanya, tiba-tiba ketika di TV kembali muncul Suneo dan Giant, setengah bertanya dia memandangi wajah saya sambil berbisik “jadi Suneo sama Giant masuk neraka ya pak?” Waduh ternyata urusan belum kelar. “gini de… Suneo dan Giant bisa masuk surga atau masuk neraka, tergantung keyakinan mereka. Kita cukup dengan meyakini bahwa Surga itu ada untuk orang baik dan neraka itu ada untuk orang jahat.  Atau lebih baik kita ajak mereka biar mereka ngerti Islam”. “Tapi kan mereka cuma film kartun pak, gimana ngajaknya” Nah loh…ada yang bisa jawab? “Ya…kalau misalnya mereka itu manusia beneran kaya kita, ya kita wajib ngajak mereka untuk ngerti Islam”. “oh gitu pak”.          Alhamdulilah desah saya dalam hati serasa lepas dari cekikan Giant.

Tapi pak caranya gimana biar mereka ngerti Islam?” “Nah…caranya buat mereka tertarik sama kita, tunjukin bahwa kita itu orang yang baik, hormat sama mereka, suka membantu meski beda agama, tunjukin bahwa kita juga suka kebersihan, tunjukin bahwa kita itu pinter jadi mereka seneng sama kita. Nah…kalau mereka sudah seneng baru deh kita sedikit-sedikit perkenalkan Islam, gitu de…

Itulah sekilas OUDAP dalam prakteknya. Mudah ditulis sulit dijalankan. Tapi dengan mengingat bahwa mereka adalah amanah dan anugerah terindah yang Allah titipkan pada kita, maka kesulitan itu akan terasa menyenangkan. Sulit tapi asyik. Selamat mencoba.

Daftar Pustaka:
1. Agustian, Ginanjar, Ari. 2006. ESQ: The ESQ Way 165 : Arga     Jakarta
2. Rakhmat, Djalaludin. 2000. Psikologi Komunikasi : PT Remaja Rosda Karya Bandung
3. Rakhmat, Djalaludin. 1994. Islam Alternatif : Ceramah-Ceramah di Kampus: Mizan Bandung

Image source: pixabay.com

.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • #Repost @anisa.dee (@get_repost)
・・・
Pagi 😆😆😆 Mobil apa yang dimiliki saat ini? Saya baru punya Toyota Kijang, meski sudah 15 tahun usianya tp masih mampu dibawa jalan jarak jauh loh.

Ada yg sudah kenal dengan K-LINK Engine Power apa belum?

Saya baru kenal 1 bulan terakhir ini, di kotaknya dijelaskan K-LINK Engine Power merupakan Oil Additive yang bisa membersihkan seluruh ruang mesin hingga ke celah-celah terkecil, mengikat kotoran dalam ruang mesin, dan selanjutnya kotoran mesin dibuang melalui gas buang kendaraan.

Hasilnya akan meningkatnya performa mesin serta menghasilkan penggunaan bahan bakar minyak yang semakin minim/irit.

K-LINK Engine Power memiliki 7 Keunggulan yaitu:
1. Membuat BBM irit 10% – 50%
2. Membuat umur oli lebih panjang 50%
3. Meningkatkan performa mesin
4. Menjadikan mesin halus dan ringan
5. Menjaga suhu mesin tetap stabil
6. Menurunkan emisi gas buang
7. Menjadikan mesin bersih dan terawat

Mengetahui keunggulannya, tanpa ragu saya pakai dong untuk mesin mobil saya, cara pakainya: 10ml K-LINK Engine Power dapat digunakan untuk 1 liter oli 
K-LINK Engine Power ini dapat digunakan untuk SEMUA JENIS oli mesin, bensin maupun diesel, transmisi manual maupun matik.

Kondisi mobil saya lebih prima dan lebih awet dalam penggunaan BBM saat ini loh.

@klink_indonesia_official
@Indoblognet
#Klinksolusihidupmu
#Klinkmember15olusi

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top