Agama

Memberi Hutang, Siapa Takut?

Pernahkah Anda dalam situasi ini?

Suatu saat ada seseorang yang mengetuk pintu rumah kita. Lalu kita pun membukakan pintu. Berdiri seseorang yang Anda sudah mengenalnya, meskipun tak terlalu akrab. Kemudian dia utarakan keperluannya. Karena kebutuhan yang mendesak, dia terpaksa memohon untuk diberi hutang yang jumlahnya sebenarnya tak seberapa. Namun karena kondisi ekonomi kita yang pas-pasan, uang yang tak seberapa itu pun menjadi besar nilainya bagi kita.

Akankah kita memberinya hutang? Padahal secara kasat mata, si Fulan ini kondisi ekonominya lebih baik dibandingkan Anda. Tentu banyak pertanyaan yang berkecamuk di benak kita. Mengapa harus datang ke rumah kita? Bukankah lebih banyak rumah orang yang lebih mampu dibandingkan kita? Mereka pasti lebih mampu kalau hanya untuk sekadar memberi hutang yang jumlahnya tak seberapa.

Mungkin Anda tak menyadari. Bahwa sesungguhnya ‘ada kekuatan besar’ yang menggerakkan hatinya. Mengapa dia memilih pintu rumah kita untuk diketuk. Bukannya rumah para orang kaya yang terlihat kekayaannya melimpah ruah. Ya, kekuatan Allah-lah yang menggerakkan hatinya untuk mendatangi rumah kita. Kekuatan yang membisikkan pada hatinya bahwa kita adalah ‘orang baik’, yang akan memberi solusi terhadap permasalahan yang sedang dia hadapi saat itu.

Kita membayangkan, andaikan dia tidak kita beri pinjaman, maka akan ada bahaya besar yang harus dijalaninya. Meminjam kepada rentenir atau menjaminkan hartanya kepada koperasi berkedok simpan pinjam. Padahal kita tahu bahwa mereka akan kenakan bunga yang tidak kecil nilainya. Tiba-tiba kita menjadi perantara tidak langsung seseorang terjerumus ke lembah dosa.

Sementara di sisi lain, kita tak yakin bahwa uang kita akan dikembalikan tepat pada waktunya. Padahal kita sendiri sedang membutuhkan uang tersebut untuk kebutuhan yang sudah direncanakan. Sungguh suatu dilema yang tidak ringan bukan? Dilema yang mungkin tak hanya sekali atau dua kali saja menghampiri kita.

Kembali kepada iman kita. Apakah kita tidak menginginkan menjadi orang yang masuk golongan marhamah? Golongan kanan yang baik di hadapan Allah Ta’ala. Sebagaimana dilukiskan pada QS Al-Balad: 8-18. Di dunia ini kita menebarkan benih untuk saling membantu dan peduli. Pesan kasih dan sayang dari Penguasa ‘Arsy yang kita yakini kebenarannya secara mutlak. Pesan untuk menutup celah agar riba tak merajalela. Meruntuhkan sendi-sendi iman yang kita bangun dengan bersusah-payah.

Hati yang berat untuk melakukan satu kebaikan, akan terasa ringan jika kita meyakini ayat di atas. Yakin bahwa kita akan diberikan jalan yang lebih baik saat kita memberikan jalan untuk saudara kita yang lain. Sungguh tak ada satu pun kekuatan hati yang mampu menggerakkan hati kita selain iman itu sendiri. Maka kita pun bersegera untuk mengulurkan tangan.

“Silakan pakai. Bila sudah ada kemampuan, segeralah untuk menggenapkan kewajiban mengembalikan seperti sedia kala”.

Ucapan doa indah pun akan mengalir darinya, “BarakAllah ‘ala ma aktaita, wabarakAllah ‘ala ma amsakta“. (Semoga Allah memberikan barakah atas apa yang diberikan padamu, dan semoga Allah memberikan berkah atas usaha yang kamu berikan).

Sungguh, doa orang yang dalam kesempitan menjadi salah satu dari doa tiga golongan orang yang akan dikabulkan oleh Allah. Lalu perpisahan akan terjadi atas dua orang yang saling bertukar senyum bahagia. Senyum pengetuk pintu karena telah diberi kelapangan jalan. Senyum sang tuan rumah, telah memberi kemudahan untuk membuka jalan kebaikan.

Satu gambaran indah bahwa di Bulan Ramadhan yang penuh barakah inilah, kita awali (kembali) penguatan iman. Atas rezeki yang ada di genggaman kita, bahwa sesungguhnya rezeki itu hanyalah pinjaman yang bersifat sementara. Sebab sewaktu-waktu akan ada seseorang yang akan meminjam harta (pinjaman) itu. Kita sibukkan hati kita dengan prasangka-prasangka baik untuk membentuk diri menjadi pribadi mukmin.

Setiap jiwa muslimin berebut untuk memberi, bukan untuk meminta. Apalagi menjadi peminta-minta. Tsumma ‘auzubillah.

——————————————-

[Seri pertama Inspirasi Ramadan 1437H.]

Mas Nuz

Pecinta keluarga yang kadang suka nulis dan jalan-jalan.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Merdeka itu berani beragam dan bekerja sama. Kemerdekaan itu adalah Kerja Bersama.

Dirgahayu Indonesia ke-72. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Merdeka !

#hutri72 #kemerdekaan72 #kemerdekaanRI72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top