Ekonomi

Memberdayakan Tukang Sayur Langganan

tukang sayur langganan

Ngomogin tukang sayur langganan. Apakah anda punya tukang sayur langganan ? Dengan bangga saya mengatakan saya punya hhehe. Sejak 2010, sewaktu pertama kali saya tinggal di rumah yang sekarang di Tangerang.  Sebagai emak-emak yang rempong sama urusan dapur setiap hari, hadirnya tukang sayur memang bagai angin surga. Penting banget. Makanya, saya punya banyak kenalan tulang sayur mau mbak-mbak, mas-mas, akang-akang, sabet wae. Nggak pilih-pilih tukang sayur.  Selama dia menyediakan bahan makanan yang saya butuhkan dan cocok harganya dengan dompet, saya selalu belanja.

Lantas soal tukang sayur langganan ? Alkisahnya begini, suatu hari, saya menghampiri seorang tukang sayur yang menggelar dagangannya dengan plastic terpal. Ini berbeda dengan pedagang lain yang keliling komplek menggunakan sepeda motor atau sepeda biasa. Mbak Ro, demikian ia dipanggil, tampak melihat saya rada aneh. “Ibu tinggalnya dimana? Kok baru lihat?” . tanyanya polos dengan wajah yang ramah.

Saya memang tergolong penduduk baru saat itu. Karena keramahan dan kebaikannya dalam melayani pembeli, saya jadi terdorong untuk selalu berbelanja sayur pada Mbak Ro. Saya baru berbelanja ke tukang sayur lain ketika Mbak Ro libur berjualan atau ada bahan makanan yang tak ada di Mbak Ro.

Meski sekarang ada 3 tukang sayur yang mangkal (berdiam untuk beberapa jam di satu tempat) dekat tempat tinggal saya, saya tetap memprioritaskan belanja sayur di Mbak Ro.  Namun, bukan berarti saya selalu puas berbelanja padanya loh. Pernah suatu kali, saya merasa kecewa membeli sayuran. Kalau dipikir-pikir salah saya juga yang terlalu percaya, sehingga tidak mengecek barang belanjaan. Saat sampai rumah, saya kesal sekali mendapati sayur dan buah yang busuk. Rupanya, karena banyaknya pembeli, Mbak Ro kurang teliti. Sebagai pembeli, saya luput  memeriksa barang belanjaan sebelum membayar. Ini jadi pelajaran bagi saya untuk memilih sendiri belanjaan sebelum dibayar.

Meski begitu, saya merasakan banyak keuntungan memiliki tukang sayur langganan, diantaranya :

1.Kami jadi saling percaya. Seringkali saya keluar rumah untuk beberapa keperluan. Misalnya belanja sayur sekalian kirim paket. Nah, setelah belanja sayur, saya bisa titip belanjaan dulu di tukang sayur lalu pergi kirim paket. Pulangnya baru saya ambil belanjaan saya. Kalau tukang sayurnya tidak begitu saya kenal, saya juga kan sungkan kalau mau minta tolong.

2.Bisa pesan bahan makanan yang diinginkan. Kadang tidak semua bahan makanan ada di tukang sayur langganan. Misalnya paprika, karena jarang ada yang beli. Kita bisa pesan untuk dibelikan oleh si tukang sayur. Bisa saja sih kita ke supermarket, namun harus mengeluarkan waktu, tenaga dan ongkos untuk pergi kesana.

3.Bisa COD (cash On Delivery). Nah, ini  sangat membantu saya. Waktu lahiran anak kedua, saya hampir tak bisa kemana-mana karena repot mengurusi rumah tanpa asisten rumah tangga. Beli sayur akhirnya saya lakukan dengan SMS sama tukang sayur langganan. Walau tak bisa memilih sendiri, saya sangat terbantu dengan diantarkannya barang belanjaan saya.

4.Dapat bonus. Seringkali saya dapat bonus saat berbelanja di tukang sayur langganan. Ada saja bahan makanan yang diberikan sebagai bonus, dari bumbu dapur sampai anggur!!

Saya suka berfikir, Mbak Ro ini penghasilannya lumayan juga ya. Soalnya dia pernah mengadakan syukuran sunat anaknya dengan mengundang banyak orang dan mendatangkan hiburan orkes tunggal. Saya merupakan salah satu orang yang diundangnya. Hmm, saya aja tidak merayakan pesta sunat anak loh.

Tapi, akhir-akhir ini saya sering tak sengaja mendengarkan keluhan Mbak Ro pada suaminya yang selalu setia mendampingi saat berjualan. Semua serba mahal, sementara pembeli selalu ingin barang yang murah. Belum lagi banyak orang yang berhutang pada Mbak Ro.

IMG_20150828_075629

Hasil berbelanja di tukang sayur langganan

Dilema memang. Saya merasakan sebagai pembeli memang begitu, inginnya barang murah namun berkualitas. Tapi semua serba mahal sekarang. Saya sendiri selalu berusaha tak berhutang. Seribu atau dua ribu sih pernah kekurangan saat membayar karena ternyata uang yang dibawa tak cukup, namun besoknya segera dibayar.

Dengan pengalaman Mbak Ro, saya jadi terdorong untuk membantu pedagang kecil. Bentuk bantuannya memang tak banyak. Pasalnya, perekonomian keluarga kami juga tak terlalu berlebihan. Tetapi, ternyata sekarang ada loh cara cerdas membantu orang lain, dan kita pun jadi ‘”semakin sejahtera”.  Salah satunya dengan menabung di BTPN.

BTPN memiliki program namanya Daya yang bermisi memberdayakan masyarakat secara berkelanjutan dan terukur. Dengan menabung di Bank BTPN, otomatis kita  turut memberdayakan jutaan mass market di Indonesia yang terdiri dari para pensiunan, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta masyarakat prasejahtera produktif.

Simulasinya bisa melihat langsung di  website BTPN. Misal, setiap bulan saya  menabung di Bank BTPN sebesar 500 ribu rupiah, dalam waktu 5 tahun dana saya akan menjadi Rp 34.177.130,-.  Uang yang terendap di Bank BTPN dikelola untuk membantu pengusaha kecil binaan BTPN. Misalnya saja Bapak Baundara, seorang pengrajin kayu dari Yogya yang kapasitas dan ilmunya terus bertambah sejak mengikuti pelatihan dari program Daya di Bank BTPN. Karena motivasinya untuk mempunyai usaha mainan sendiri tinggi, kini usaha mainan Bapak Basundara dengan label Kajeng Handy Craft telah memiliki omzet hingga 30 juta per bulannya. Wahh…bagus juga ya programnya.

Jadi, mari kita menabung! Menabung membantu diri kita sendiri untuk berhemat dan menyiapkan dana masa depan. Sekaligus, membantu orang lain mengembangkan usahanya.

Untuk para tukang sayur, ada curhatan  nih dari pelanggan agar meningkatkan pelayanan.  Hindari menjajakan  sayuran yang bermutu jelek, apalagi sampai ada yang membusuk. Sekali pelanggan kecewa, biasanya paling lama nempelnya di benak. Dalam artian, kelalaian akan selalu diingat pelanggan.  Apalagi kalau berurusan dengan emak-emak, kita bisa selalu jadi bulan-bulanan. Karena itu, menjaga kepercayaan nomor satu deh.

Selain itu, karena sekarang jamannya gajet, sebaiknya memberikan kemudahan kepada pelanggan, dengan memberikan layanan SMS  atau WA. Pelanggan bisa pesan sayuran by mobile phone. Mbak dan mas sayur, juga proaktif mengabarkan via SMS  kalau tiba-tiba berhalanagan berjualan atau barang yang dipesannya tidak ada. Nah, bagi mbak dan mas sayur, juga perlu dilatih entrepreneurnya. Misal, belajar “menernakkan” gerobak sayur untuk dikelola rekan-rekannya. Sistem kerja samanya mungkin bisa bagi hasil, 70 persen buat yang memberikan modal belanjaan, 30 persen sisanya untuk yang menjajakan dagangannya. Ini sekedar usulan saja, siapa tahu Mbak Ro tertarik 😉

 

 

Sumber foto tukang sayur : Areta Ekarafi, Flickr

Kanianingsih

Ibu 2 anak yang senang menulis di blog. Salah satu blognya beralamat di www.petualanganzara.com

Latest posts by Kanianingsih (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Cara termudah untuk menghasilkan konten visual yang bagus adalah: buat konten yang memiliki keterikatan dengan audiens, mengandung unsur emosional, dan juga orisinal .
.
.
DOUBLE TAP IF YOU AGREE
.
.
.
#indoblognet #mbcommunication #trendingpost #popularpost #viralpost #content #brandingcontent

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top