Entrepreneur

Membangun Mentalitas UKM dari Zero to Hero Melalui Kurasi

anto suroto, kurator ukm

UKM memang tengah eksotik dibicarakan. Boleh dikata, saat ini semua latah membicarakan UKM,  ingin membantu dan memberikan perhatian lebih pada UKM. Apa karena Pak Jokowi sedang giatnya woro-woro agar UKM segera melakukan percepatan di segala lini. Atau memang, UKM makin diakui “penyelamat” ekonomi bangsa ? Dua-dua memang menjadi alasan kuat UKM harus dibangkitkan.

Apalagi kita sudah memasuki era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Kalau kata, Pak Anto Suroto, pengusaha tas kulit Scano Exotica Indonesia” yang ditemui di galerinya di Jalan Cempaka Putih Timur XVII No. 21, Jakarta, sekarang bukan saatnya lagi membicarakan kompetisi.  “Itu harusnya lima tahun yang lalu. Sekarang sudah saatnya tendangan pinalti. ASEAN, bukan mainan kita lagi. Tetapi, kita harus sudah agresif menjadi pemain di pasar Eropa, Amerika, Timur Tengah dan belahan dunia yang lain” katanya penuh semangat. Tetapi, apakah mampu UKM kita melesat ke sana ? Hmm… Pak Anto menarik nafas lumayan panjang dan tersenyum.

Anto Suroto dikenal sebagai pengusaha sukses. Selain tenar sebagai pengusaha tas kulit reptil yang omsetnya puluhan ribu dolar sebulan, ia juga memiliki berbagai bisnis, diantaranya advertising, media, dan tekstil. Dan, sejak 2013 ia aktif sebagai pegiat UKM, dan mendirikan Aliansi Perdagangan Industri Kreatif Indonesia (APIKI). Anggora APIKI sudah mencapai ribuan UKM yang tersebar di tujuh wilayah yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bogor, DKI, Bekasi, Medan, dan Palembang.

Di Galeri Indonesia Wow Smesco Indonesia, Anto Suroto mendedikasikan dirinya sebagai kurator produk-produk UKM agar memenuhi standar kualitas yang mumpuni. Tugasnya, bukan sekedar memilih dan menilai, tetapi sekaligus juga membangun mentalitas UKM dari zero to hero. Mentalitas UKM ? Ya, menurut pria Jawa kelahiran Medan ini, di Indonesia, masalah yang nyata bukan sumber dayanya, tetapi mentalitas SDM-nya. “Saya sudah keliling lebih dari 30 negara. Tak ada yang hebat selain Indonesia. Amerika, Jepang…apa hebatnya ? Tidak ada. Mereka maju karena mentalitas yang siap dan ngotot untuk maju. Disipilin untuk menjadi orang sukses sangat besar.  Sedangkan kita..hmm..mentalitasnya jempol ke bawah,” ujar Pak Suroto.

produk tas galeri indonesia wow

Karena merasa ‘sakit hati” produk kita kerap disepelekan oleh orang Jepang dimana ia lama bekerja bersama Jepang, tahun 1997, Anto yang memiliki keahlian di bidang legal dan konsultan pembebasan tanah ini  terpacu kuat untuk membuktikan bahwa produk buatan Indonesia bisa nangkring di dunia. “Waktu itu, posisi ekonomi saya sedang nyaman-nyamannya. Saya dibayar pakai dolar. Dalam setahun, kurang lebih saya mengantongi penghasilan 1,5 miliar. Tetapi darah saya mendidih ketika bangsa lain menyepelekan kita. Padahal apa hebatnya mereka. Tidak punya apa-apa !”

Ter-Bawa Perasaan, Baper, kalau meminjam istilah kekinian, pria jangkung ini sukses membuktikan, produk Indonesia bisa naik kelas dan diperhitungkan pasar internasional. Melalui produk fashion Scano Exotica Indonesia yang terbuat dari kulit buaya, ular dan hewan reptil ini, berhasil menembus pasar Asia, Eropa dan Amerika. Jatuh bangun dalam bisnis, tentu sudah menjadi makanannya. Tetapi ia tak gentar, justru makin penasaran untuk ditaklukkan. Terutama menaklukan mentalitas yang cepat merasa puas dan mudah menyerah. Sikap seperti itu memang tak ada dalam rumus hidup seorang Anto Suroto yang sejak kecil gemar berdagang ini.

Bagaimana mengkurasi UKM dari hero to zero ?

Sebelum mengulas lebih jauh tentang UKM. Perlu disamakan dulu persepsinya tentang UKM. Menurut staf ahli Menteri Koperasi dan UKM, Pariaman Sinaga yang ditemui dalam acara bincang blogger di Galeri Indonesia Wow, Smesco Indonesia (28/2),  banyak sekali kalangan mendefinisikan UKM. Hingga akhirnya, keluar Undang-Undang No. 20 tahun 2008 yang mendefinsikan UKM dengan batasan jumlah tenaga kerja dan omset. Pada pasal 6 disebutkan :

1)      Kriteria Usaha Mikro

  1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000, diluar tanah dan bangunan tempat usaha ; atau
  2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000.-(tiga ratus juta rupiah)

2)      Kriteria Usaha Kecil

  1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000 –  sampai Rp 500.000.000,  tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;atau
  2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000 – Rp2.500.000.000

3)      Kriteria Usaha Menengah

  1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000 –  Rp10.000.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;atau
  2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000 –  banyak Rp50.000.000.000

Anto Suroto agak berbeda mendefinisikan UKM. Menurutnya, hal mendasar antara UKM, UMKM, dan IKM adalah kepemilikan usahanya. UKM tidak harus memiliki produk, katanya,  tetapi bisa menjualkannya, apakah lewat media sosial, trading, pameran dan sebagainya. IKM atau Industri Kecil Menengan (IKM), sudah pasti memiliki industri, ada produk, tenaga kerja dan pendanaan yang cukup. Omsetnya juga bagus. Sedangkan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) itu boleh disebut pedagang musiman atau kagetan, seperti tukang bakso, tukang gado-gado, tukang cendol, atau gerobakan di pinggir jalan.

anto suroto, kurator ukm

Anto Suroto asyik menjelaskan tentang dunia kurator UKM di Galeri Scano Exotica Indonesia, Jalan Cempaka Putih Timur XVII, Jakarta

Nah,  sebagai kurator, tugasnya adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah (value added) produk UKM, dari yang harganya cuma Rp 5000 menjadi Rp 15.000. Memberikan dorongan inovasi rasa, agar produk tersebut punya cita rasa yang unik. Semisal, keju rasa getuk, duren goreng rasa pisang, es cream rasa madu. Untuk desain produk misalnya, bagaimana mencitarasakan Indonesia, semisal, Jepang rasa Indonesia atau Menara Eifel rasa Indonesia. Jangan ngomongin branding dulu katanya. Karena untuk branding butuh tahapan panjang. Yang penting, menurutnya bagaimana produk Indonesia bisa diterima di pasar global.

“Jangan dipaksakan, blankon yang notabene produk khas budaya kita  harus masuk Itali atau Paris. Buat apa, wong itu bukan budaya mereka. Tetapi kita berikan value added misal topi koboy dengan memakai ornamen blankon. Atau kita buat Menara Eifel. Apapun produk mereka kita buat bagus, made in Indonesia,” begitu ujarnya.

Intinya, ia ingin mengajak UKM berani berfikr kreatif, selain tentunya meningkatkan kualitas rasa, produk, kemasan dan sebagainya. “Jika tidak punya mentalitas yang kuat, sulit UKM diajak berfikir dan berbuat yang out of the box. Makanya kita kalah terus jika bersaing,” ujarnya.

Mental UKM Kebanyakan bersumber dari Gara-Gara

Dalam mengkurasi produk UKM, Anto Suroto selalu melihat dari persoalan mendasar dari setiap UKM.

Menurut pengamatannya, UKM-UKM yang tumbuh di masyarakat kita itu lantaran faktor “gara-gara”. Bukan lahir dari keinginan yang kuat dari awalnya. Ia membeberkan,” Orang jadi UKM, karena gara-gara. Gara-gara menjadi janda, kena PHK, narkoba, pelacuran, kena gusuran, atau kagetan. Kaget melihat tetangganya laku dagang bakso, ikutan dagang bakso. Mental kagetan.

“Mental ‘gara-gara” inilah yang harus dibangunkan dan bina betul  jika ingin sukses. Tetapi bagaimana kita ingin membina, kalau sebentar-sebentar mengeluh, teriak susah, nggak punya duit, cepet puas, minderan, ditambah banyak utang lagi. Saya tidak main-main menggembleng UKM. Kalau tidak bisa dibina, ya dibinasakan saja. Buat apa saya membina orang yang tidak serius. Ingat, kita sudah tidak punya waktu lagi. Sekarang sudah tendangan pinalti. Kalau nggak, ya siap-siap dilindas, dijajah lagi,”

furniture ikan

Ukiran kayu di Galeri Indonesia Wow, Smesco Indonesia. Foto : Yulia Rahmawati

Untuk menggali keseriusan UKM, Anto Suroto tak segan-segan mengenakan biaya yang cukup tinggi untuk sertifikasi. Kurang lebih, ia mematok hampir 145 juta untuk masa inkubator sekitar setahun untuk mendapatkan semacam sertifikasi profesi.

Ia merujuk pada Amerika yang menyelenggarakan lembaga sertifikasi UKM.  Menurutnya, setiap UKM yang mau mendirikan bidang usaha harus sudah melalui proses sertifkasi sehingga ketahuan mana yang benar-benar serius ingin berwirausaha. Sebelum masuk inkubator, mereka akan diassesment potensi dan kelebihannya yang terspesialisasi. Termasuk kekurangan dan peluang yang bisa mereka optimalkan. Segala skill tentang manajemen, keuangan dan kreativitas dalam berinovasi  diberikan pembekalan yang cukup. Sehingga begitu memperoleh sertifikat, mereka siap mental bersaing, berani berinovasi dan piawai dalam menjalankan bisnisnya. Makanya tak heran, UKM-UKM di Amerika jeli melihat peluang dan profesional. Mereka tekun dan fokus mengelola bisnisnya. Tidak setengah-setengah seperti kebanyakan yang terjadi pada UKM kita.

Anto demikian gigih menggembleng mentalitas UKM, karena ia punya keyakinan  kuat bahwa setiap manusia sejak dilahirkan telah dikaruniai Tuhan banyak kelebihan. Dalam kurasi, Anto selalu melihat faktor 5 K yang dimiliki manusia yaitu kreativitas, kemauan, kemampuan, konsisten dan komitmen, yang hasilnya kualitas. Namun, dalam perjalanannya, yang namanya “konsisten” dan “komitmen’ itu sangat susah dilaksanakan.

“Makanya, sebelum diakurasi,  mereka harus tahu dulu mau ngapain, kemudian paham dan sepakat terhadap segala ketentuan yang kita sama-sama sepakati untuk maju. Jika tiga hal itu sudah disepakati, baru kita jalan,” katanya.

produk UKM

Aneka produk di Galeri Indonesia Wow, Smesco Indonesia.

Lantas bagaimana standar atau ukuran kesuksesan UKM yang produknya sudah diakurasi ? Anto menjawab, soal standar itu berbeda-beda. Pemerintah punya standar bahwa produk UKM yang berkualitas itu harus dapat diterima di pasar ekspor. Ya itu terserah pemerintah, katanya. Kalau menurutnya, standarisasi produk bagus itu tidak harus ke pasar ekspor. Wong, pasar dalam negeri saja sudah gede. Tinggal disesuaikan saja dengan karakter konsumen kita yang sangat concern terhadap kehalalan untuk makanan. Cantumkan kandungan bahan yang jelas dari suatu produk makanan dan sebagainya, itu baru standar kualitas yang bagus.

Soal standarisasi dalam kurasi suatu produk, APIKI melihat dari tiga hal, yakni : 1) in, manusianya seperti apa. Maksudnya pengelolanya seperti apa. 2) proses, bagaimana proses yang bisa digali dan dikembangkan sesuai dengan potensinya. 3). output, apa dan siapa targetnya. Apakah bisa mencapai target sesuai harapan ?

Dari ketiga hal pokok tersebut, bagaimana memberikan nilai tambah untuk memperoleh impak yang besar. Caranya ? lihat selera dan kebutuhan konsumen serta perbaiki kemasan. Produk Jepang unggul karena kemasannya yang bagus.

Termasuk juga dalam memilih dan menembak sasaran yang tepat. Jangan sampai produknya bagus, tapi salah menjualnya. Bukannya dijual di Pondok Indah, malah di Pasar Senen. Atau ada produknya mahal, tetapi dijual di masyarakat yang berdaya beli rendah. Pilih wilayah market yang sesuai dengan produk yang akan ditawarkan. Misal Pondok Indah untuk tas-tas branded puluhan juta. Analisis market, menjadi salah satu acuan kurasi.

Ukuran standar dari proses kurasi yang berhasil, menurut Anto,  adalah ketika kita bisa menaikkan nilai jual suatu produk dari yang awalnya misalnya 10 juta menjadi 20 juta. “Saya yakin, kalau manusia pengelolanya sudah benar, SDM tenaga kerjanya sudah benar, pikirannya benar, Insya Allah proses dan hasilnya juga benar. Ini adalah proses kurasi,” tekan Anto.

 

 

 

 

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Halooo, smart people 🤗 Kamu suka males gak sih kalau bales-balesin komen di sosmed? Jangankan balesin komen negatif, balesin komen positif aja sering kelewat ya 😂 *hihi
.
Emang penting ya balesin komen-komen di sosmed? Penting donggg, apalagi kalau kamu pengen bangun akun yang engagementnya bagus dan bisa bertahan lama eksistensinya 😍
.
Para fans/followers adalah orang-orang yang ikut menentukan kesuksesan akunmu, lho. So guys, mulai sekarang jangan abaikan aset tersebut yesss 😄
.
#indoblognet #mbcommunication #socialmedia #youtuber #selebgram #instagramer #fans #followers #tipssocialmedia

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top