Entrepreneur

Membangun Kepedulian, Memenangkan Persaingan

Jika  ingin menguasai pasar global sama halnya menguasai pasar domestik. Jika bisa menguasai pasar domestik, kita juga bisa masuk ke pasar global. Produk dari berbagai negara kini hadir di kota-kota di Indonesia. bila kualitas produk tidak memiliki daya saing dan kemampuan kompetisi yang kuat dibandingkan produk negara lain tentu kita akan menjadi penonton di negara sendiri.

UKM terbukti  cukup bertahan di masyarakat. Dibandingkan pengusaha besar, mereka jauh lebih jujur membayar hutang. Akan tetapi baik pemerintah maupun masyarakat belum melihat UKM sebagai sosok yang membutuhkan perhatian dari segi regulasi dan fasilitas dari pemerintah. Sebuah negara dikatakan maju jika kewirausahaannya mencapai 2%, sementara Indonesia hanya 1,6%. Demikian pengantar dalam diskusi ‘Menguji Ketangguhan Daya Saing UKM di Pasar Global’ yang diselenggarakan pada 3 Agustus 2016 di Galeri Indonesia Wow. Diskusi tersebut menghadirkan empat pembicara, yakni Dirut LLP-KUKM Ahmad Zabadi, Ketua Harian Perhimpunan Perusahaan dan  Asosiasi Kosmetika Indonesia Solihin Sofian, pengusaha kulit Anto Suroto, dan pengusaha manisan buah Buyung.

Banyak  usaha di Indonesia  hidup di jalan, contohnya penjual martabak. Betapa sulitnya ia mendapat akses permodalan. “Di sisi perbankan  ukurannya bukan uang yang banyak tapi administrasinya harus beres. Artinya secara bisnis dia visible tapi secara perbankan tidak bankable sehingga sulit dipercaya,” ujar Dedi Gumelar yang bertindak sebagai moderator.

Budaya kekeluargaan, kebersamaan, dan senasib sepenanggungan sebagaimana diatur dalam UUD 1945 sudah ditinggalkan. Kita bicara  ketangguhan UKM di pasar global yang berorientasi ekspor. Bicara ekspor berarti melampaui batas pasar  dalam skala nasional. Pasar nasional sendiri menjadi rebutan negara lain, seperti produk makanan dari Malaysia.

Indonesia adalah negara kaya. Namun  dalam konteks internasional,  MEA menjadi momok seperti  kata globalisasi. Di era peradaban modern  sulit dibenarkan bangsa lain menginvasi melalui senjata. Invasi melalui soft diplomatic product ini yang harus dilawan bersama-sama. Bagaimana menghadapi pasar global? Begitu mudah kita melihat produk makanan Jepang. Namun di Korea kita sulit mendapatkan restoran Padang. Ini kekalahan kita. “Betapa mudahnya kita welcome ke bangsa lain,” tutur Dedi.

Zabadi menjelaskan Kementerian Koperasi dan UKM menggagas Smesco RumahKU dengan tujuan UKM memasuki pasar global. Fasilitasi yang dilakukan dalam bentuk capacity building, mentoring, business matching, dan temu bisnis dengan potential buyer dari berbagai negara. Bahkan dalam berbagai kesempatan UKM difasilitasi untuk mengikuti pameran dan promosi dagang di luar negeri. “Saya pribadi tidak  khawatir kesiapan dan ketangguhan UKM di pasar global,” kata Zabadi.

Apakah anak bangsa  siap mengubah mindset  yang selama ini  menggunakan produk asing? Zabadi menyampaikan pada waktu yang bersamaan dengan diskusi, Smesco menerima kunjungan dari delegasi Nigeria dan Korea. Minggu lalu ada kunjungan dari  delegasi Senegal. Hal tersebut menunjukkan antusiasme dan kepercayaan potential buyer dari berbagai negara. “Sebagaimana beberapa bulan  lalu kami  memfasilitasi ekspor produk UKM  ke  China, Korea, Jerman, Perancis, Senegal, Meksiko, dan Italia. Memberi gambaran bahwa UKM kita berprospek baik,” ujar Zabadi.

Kita selalu menuntut UKM  memiliki kualitas produk yang baik. Di sisi lain kita tidak melakukan pemihakan apapun. Untuk menguasai pasar domestik  sesungguhnya UKM harus memiliki kualitas ekspor karena Indonesia sudah memasuki pasar global. Berlakunya MEA menjadikan tidak ada batas negara yang menghambat distribusi. Di pasar domestik produk  fashion, furniture, dan alas kaki Indonesia masih cukup kuat. Persoalannya sebagian di antara kita masih memberi kesan  produk UKM tidak lebih baik dari produk asing.

Zabadi mencontohkan Anto yang sukses menembus  pasar Italia yang terkenal dengan produk kulitnya. Anto sebagai salah satu mitra Smesco diharapkan membawa lokomotif bagi para UKM untuk menembus pasar  mancanegara. Sebenarnya yang mengalahkan produk kita bukan produk asing, melainkan  mindset pelaku usaha. Komitmen bersama membeli  produk UKM  otomatis meningkatkan  kualitas produk dari perputaran  uang.

LLP-KUKM memberikan dukungan dalam promosi dan pemasaran. Bahkan ada  permintaan dari Nigeria untuk mengirimkan pelaku usaha yang mumpuni  melatih UKM di sana. Permintaan yang sama juga datang dari Mesir, Madagaskar, Afrika Selatan, dan Srilanka. UKM  saat ini menghadapi berbagai masalah, misalnya  mahalnya biaya shipping. Hal tersebut menimbulkan  persoalan pada  harga jual produk. Oleh karena itu LLP-KUKM memfasilitasi sebagian UKM yang  akan menembus pasar negara tertentu dengan biaya  shipping yang mahal. “Ini upaya kami membantu UKM sehingga produknya memiliki daya saing. Apalagi secara faktual biaya shipping bisa mencapai 30% dari biaya ekspor itu sendiri,” ujar Zabadi.

 

Kepedulian

Kita sadar sebagian besar UKM  belum pada tataran merebut pasar global. Mereka masih berada pada level memenangkan pasar domestik. Basis mereka, berdasarkan data BPS, 70% dari 57,9 juta pelaku usaha berpendidikan SD-SMP. Berbeda dengan pelaku usaha yang memiliki basis pendidikan  cukup baik sehingga bisa  memasuki, bersaing, dan memenangkan pasar global. “Memenangkan pasar Jakarta, Surabaya, dan Medan itu sesungguhnya UKM kita sudah siap memenangkan persaingan di mancanegara,” kata Zabadi.

Ada persepsi publik mengenai  produk luar negeri sekalipun produk itu dibuat di dalam negeri. Ketika mereka memenangkan pasar sesungguhnya  telah memenangkan persepsi. Keberhasilan bangsa lain adalah  menguasai persepsi dan  mengkomunikasikan produk itu. “Di Cikampek ada produk boneka yang diekspor sampai ke Disneyland,  Jepang, Korea, bahkan Eropa. Padahal pembuatnya ibu-ibu,” kata Dedi.

Buyung memaparkan keluarganya merintis usaha pengolahan mangga di Cirebon. Latar belakangnya adalah harga mangga saat panen raya yang  mencapai Rp 1.000 per kilogram. Bagaimana mengolah mangga menjadi produk yang mahal dengan hanya sedikit tambahan bumbu.  Awalnya manisan mangga dijual di pasar tradisional. Beberapa negara mulai meniru, contohnya  Filipina. Padahal penemu dry mango pertama adalah orang Indonesia. “Saya melihat di pasar internasional bahkan lebih maju dari produk kita karena packagingnya jauh lebih bagus,” ujar Buyung.

Buyung pernah mengikuti  pameran di China, Malaysia,dan Singapura. Ia miris melihat promosi produk di booth negara tersebut sangat bagus. Dari sisi produk Indonesia tidak kalah. Kelemahannya adalah  packaging. Buyung mengobrol dengan peserta pameran. Mereka menyampaikan,  80% biaya packaging didukung  pemerintah sehingga mereka bisa menciptakan packaging yang bagus. Selain itu biaya menghias booth ketika pameran di luar negeri dibiayai 100% oleh pemerintah.

Solihin memaparkan mindset pembeli Indonesia harus diubah. Bagaimana anak-anak diajarkan mencintai produk bangsanya sehingga  mereka bangga dan menjadi pemakai  setia. Apa keunggulan UKM Indonesia? Potensi alam tropis Indonesia terbesar kedua setelah Brazil, keanekaragaman budaya bangsa, dan bonus demografi tenaga kerja. “Kalau mau bersaing secara teknologi kita kalah dengan Jerman dan Jepang, kalau  mau bersaing secara harga kita kalah dengan China, maka kita harus mengandalkan kreativitas,” ujar Solihin.

Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar, isu halal tentu menjadi utama. Hal tersebut merupakan senjata  untuk menembus dan melindungi pasar kita. Di pasar lokal kita terus memperbaiki diri menuju kualitas yang baik. Selain itu produk go green yang diminati pasar. Kelemahan pelaku UKM, antara lain lemahnya kompetensi SDM terkait rendahnya tingkat  pendidikan, lemahnya permodalan, dan kurang mampu mengikuti trend pasar yang ada. Kita harus mempelajari segmen pasar yang mau disasar.

Dalam pandangan Anto kata kunci untuk bangkit adalah kepedulian bersama dalam  membangun image dan branding. Tidak ada yang sulit. Permasalahannya  UKM tidak memiliki integritas diri. Apakah sebagai anak bangsa kita sudah sadar? Kemampuan dan kemauan kita tidak seiring. Konsisten dan komitmen harus diukur. Bagaimana standarisasi produk UKM. Peluang Indonesia besar.  Begitu sulit menciptakan pasar ekspor tapi begitu indah jika memiliki  kepedulian. “Selama ini kita selalu berharap. Saatnya action,” tutur Anto.

 

 

 

Ignasia

Saya Ignas, hobi membaca dan menulis. Bagi saya, setiap hari adalah kesempatan baru untuk mempelajari hal-hal menarik.

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Merdeka itu berani beragam dan bekerja sama. Kemerdekaan itu adalah Kerja Bersama.

Dirgahayu Indonesia ke-72. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Merdeka !

#hutri72 #kemerdekaan72 #kemerdekaanRI72

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top