Menulis Yuk

Mbah Kiyat dan Kain Shibori

Yogya, salah satu kota kesukaan saya. Mengunjungi Yogya selalu menghangatkan hati. Awal Oktober 2015 sya diundang untuk menyaksikan Gelar Budaya Sendangagung di Sleman. Sesudah menyaksikan Gelar Budaya Sendangagung, perjalanan berlibur saya belum selesai. Keesokan harinya, setelah sarapan nasi, sayur lodeh dan bacem wader, perjalanan dilanjutkan. Konvoi 6 motor, perjalanan menuju Desa Mingggir Sendangagung. Kami menuju rumah Mbah Kiyat yang memproduksi Kain Batik Shibori.

Kami diterima dengan baik. Ternyata Mbah Kiyat (padahal belum tua-tua banget) kemarin ikuta main ketoprak. Kesehariannya ia memproduksi Kain Batik Shibori. Sebetulnya keliru menyebut Shibori sebagai kain batik. Dari hasil diskusi dengan kawan-kawan. Shibori ini teknik melipat dan mencelup ke pewarna sehingga menjadi pola-pola yang teratur maupun yang tidak teratur. Shibori adalah kata yang berasal dari bahasa Jepang yang berarti mencelup.

Sedangkan batik hanya dua, batik tulis dan batik cap. Printing saja tidak bisa disebut batik. Ketika Unesco meresmikan batik sebagai warisan budaya dunia, dilihat bukan hanya dari motif tapi juga dari teknik pembuatannya yang menggunakan alat, dalam hal ini canting atau cap.

Tapi kita nggak bisa berprinsip apalah arti sebuah nama, karena keliru penyebutan akan membawa salah kaprah yang berkepanjangan. Maka seharusnya cukup disebut sebagai kain shibori. Ceritanya Mbah Kiyat ini belajar dari keponakannya yang sudah lebih dulu belajar dan memproduksi kain shibori. Karena sang keponakan kewalahan melayani permintaan konsumen, maka diajaklah Mbah Kiyat untuk mempelajari pembuatan kain Shibori.

Yang menarik dari pembuatan kain Shibori, karena polanya berdasarkan lipatan dan pencelupan, maka tidak bisa menghasilkan motif yang sama. Hal ini dikarenakan proses pembuatannya yang manual. Dilakukan dengan pola dan rutinitas yang sama, tetap hasilnya tidak bisa sama.

Kami benar-benar dibuat takjub menyaksikan proses pencelupan. Melihat prosesnya sama dan dicelup hanya di satu warna, ketika lipatan dibuka, motif yang terbentuk menjadi cantik dan unik. Nggak ada yang sama. Saya jadi paham, ini yang menginspirasi para desainer membuat baju dengan pola tabrakan, dua motif yang mirip tapi berbeda itu dijadikan baju. Sehingga jika memperhatikan dengan detil, ada dua motif tapi sekilas memang terlihat sama.

14448926_10154580990529803_1283414078858811257_n

Kami seperti anak kecil yang berteriak seru dan kagum, tiap lipatan kain dibuka. Motifnya unik dan cantik,  kami tak henti-hentinya berdecak. Prosesnya mirip dengan proses pembuatan batik, cuma shibori hanya dicelup. Setelah pencelupan warna, lipatan di diamkan sejenak. Lalu dibuka dan dibentangkan diletakan pada bidang datar. Cukup di tebar di atas rumput di tepi jalan rumah Mbah Kiyat. Setelah kering lalu di lorot/dirorot, yaitu prose membilas. Memanfaatkan alam, kain-kain Shibori dilorot/dirorot di selokan depan rumah Mbah Kiyat  yang airnya mengalir.

14446020_10154580985384803_8271041319549456794_n

Dilorot/dirorot sampai tidak ada lagi pewarna yang masih luntur. Setelah itu kain-kain dimasukkan ke mesin pencuci, di cuci dengan deterjen dan pewangi lalu dijemur. Proses penjemurannya sama seperti menjemur kain/baju. Digantung pada tali-tali yang direntangkan. Karena Shibori terbuat dari pencelupan kain katun, keringnya cepat. Senang banget bisa melihat proses pencelupan, lorot/rorot sampai cuci bersih wangi. Dan kami semua nyaris berteriak ketika diberi tahu kami boleh memilih satu kain Shibori. Ah memilih satu dari sekian banyak memang sulit. Tapi pilihan harus tetap dijatuhkan. Bahkan sebagian kawan memilih yang masih dijemur.

14440921_10154580990144803_3998173283228258594_n

Ah senangnya. Saya berniat akan kembali. Jika Menjadi Desa Budaya, berarti terbuka bagi masyarakat luar untuk datang dan belajar, saya akan membawa kedua anak saya ke sini. Biar keduanya menikmati alam pedesaan dan belajar berbagai kekayaan budaya Desa Minggir di Sendangagung. Mau memiliki kain shibori? murah kok, cuma Rp. 125.000 dapat selembar ukuran 100 cm x 200 cm. Cek di IG @shiborikiyatmbah

14643173_10154603176984803_435692729_n

Elisa Koraag

I am a Mom, Wife, Writer, Traveller. I love my family and i am a blogger. I care about human, specially women and children isuues

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • Selamat kepada 200 blogger terpilih yang akan membuat berisik jagad maya tentang realitas remaja milllenial : Generasi Z yang begitu kritis menyikapi hidup yang dinilainya tak sesuai dengan pola asuh.. Orang tua...wake up ! jangan lagi memandang anak sebagai objek yang bisa dengan leluasanya diatur. Mereka punya mata, hati dan nurani yang bisa berteriak bahkan memberontak sekiranya melihat prilaku orang tua yang tak sesuai dengan yang dilisankan dengan tameng "mendidik" ... >>> untuk blogger terpilih akan diemail hari ini.

Terima kasih kepada lebih dari 400 pendaftar.. semoga yang belum terpilih masih bisa berkesempatan join program berikutnya.. #Repost @miramiut (@get_repost)
・・・
Kami ada 
Dalam peradaban *Berilah kami kepercayaan untuk membuat karya yang bermanfaat
*Berilah kami kesempatan untuk menunjukkan bahwa hidup itu sangat berarti

Walau itu berbeda 
Walau tak semua tersusun rapi

Coming soon "My Generation" : film garapan Sutradara Upi yang layak ditunggu akan banyak sentuhan natural dan ide cerita yang unik serta berisi.

@mygenerationfilm
@upirocks
@Indoblognet

#MyGenerationFilm
#FilmMyGeneration

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top