Inspirasi

Mari Menepis Stigma Negatif Pondok Pesantren

Ketika dunia pendidikan Indonesia diributkan masalah perubahan jam aktif belajar di sekolah menjadi Full Day School metode pembelajaran Full Day School sebenarnya sudah diterapkan di sekolah-sekolah berbasis agama dan pondok pesantren. Plus minus dan pro kontra tentang metode Full Day School mungkin tak akan pernah mereda. Demikian pula halnya dengan pro kontra menyekolahkan anak di pondok pesantren.

Beberapa stigma negatif tentang pondok pesantren berikut ini seringkali menjadi penghalang bagi orang tua untuk menyekolahkan anaknya di lembaga yang tak kurang sumbangsihnya bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia

1. Mondhok? Awas jadi teroris!

Sedih kalau mendengar stigma negatif bahwa pondok pesantren identik dengan terorisme. Gara-gara kelakukan oknum pelaku teror bom mewakili identitas Islam dan keluaran pondok pesantren tertentu maka pesantren-pesantren sempat diwarnai ketegangan karena konon disusupi intel untuk memastikan tidak terdapat gerakan anti pemerintah atau paham terorisme berkembang di pondok pesantren. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan anti sosial. Setiap agama menekankan tentang pentingnya cinta kasih sesama manusia. Jika terjadi tindak kekerasan atas nama agama termasuk dai lulusan pondok pesantren hal tersebut muncul karena perbuatan pribadi, oknum dan tidak mewakili Islam atau pondok pesantren secara keseluruhan.

2. “Pondok pesantren kan lingkupnya terbatas, gerak kurang bebas, tidak dapat bersosialisasi dengan masyarakat sekitar

Jika ada lembaga pendidikan dengan jumlah komunitas terbesar maka pondok pesantren adalah salah satunya. Pondok pesantren besar di Indonesia setiap tahunnya merekruit ratusan santri jika pondok tersebut tempat belajar selama enam tahun maka dalam satu kompleks pondok pesantren terdapat setidaknya seribu lima ratus santri dari kelas paling rendah hingga tertinggi. Tak jarang para santri tersebut datang dari berbagai latar belakang suku dan tradisi yang berbeda. Bergaul bersama, ditempa pendidikan yang sama akan memberikan kesempatan mengenal kebiasan, tradisi bahkan kosa kata bahasa daerah dari seluruh Indonesia. Suatu hal yang menjadi modal berharga ketika kelak terjun langsung ke masyarakat.

B

3. “Nanti lulus mondhok mau ke mana? di pondok kan belajar ilmu kuno yang tidak laku di dunia kerja”

Pondok pesantren bukan Balai Latihan Kerja. Seperti sekolah umum lain pondok pesantren tidak menjanjikan alumninya untuk langsung bekerja di tempat-tempat tertentu. Bekerja, mencari nafkah adalah salah satu bentuk ikhtiar. Mereka yang berjuang mendapatkan pekerjaan adalah mereka yang bermental tangguh dan tidak mudah mengeluh. Santri-santri dicetak untuk menjadi generasi pejuang. Kehidupan mereka di pondok pesantren telah diatur dengan jadwal ketat dan pemberian sanksi apabila melanggar peraturan. Di sinilah salah satu kelebihan pondok pesantren untuk membentuk generasi padat karya. Selain selama menuntut ilmu di pesantren yang tak ubahnya sekolah di sekolah umum, para santri di pondok pesantren dididik untuk kreatif.

Bentuk kreativitas tersebut bisa berupa kegiatan ekstrakurikuler di bidang jurnalis yang kelak mencetak para penulis, olahraga yang menjadi sumber bibit unggul atlet, kelas bahasa yang menghasilkan ahli bahasa sebagus native speaker hingga kemampuan dan bakat di bidang seni. Bahkan ada pondok pesantren yang membekali para santri dengan dasar-dasar wira usaha, tentang bagaimana mengelola penginapan, toko bakery, membuat kerajinan tangan, mengelola peternakan dan dasar wira usaha lainnya. Tidak mustahil lulusan pondok pesantren bukan sekedar bekerja namun menciptakan lapangan kerja.

4. Mondhok mahal?

Kembali ke ukuran mahal seperti apa? buat saya masa depan anak-anak adalah hal yang patut diperjuangkan. Mahal, murah ukuran manusia jauh berbeda dengan ukuran Sang Maha Pencipta. Gadget harga dua juta rupiah bagi manusia penggemar gadget adalah hal wajar dengan segala fitur yang tersedia. Tapi dua juta rupiah bagi non penggemar gadget akan terbilang mahal dan lebih baik dialokasikan untuk beli buku atau hobinya yang lain. Memang ada beberapa pondok pesantren yang tergolong wah yang menerapkan tarif “mahal” dengan segala fasilitas bagi santri dengan tujuan membuat santri kerasan. Tetapi lebih banyak lagi pondok pesantren yang mengajarkan kesederhanaan dan keikhlasan.

Uang pangkalnya tak sampai lima juta rupiah, biaya hidup dan SPPnya di bawah lima ratus ribu rupiah. Untuk urusan pendidikan, saya dan suami memilih pondok pesantren sesuai kemampuan pribadi. Nggak neko-neko dan berharap anak kami tetap kerasan dengan segala keterbatasan. Bukankah tujuan mondhok antara lain adalah belajar masalah kemandirian dan hidup dalam kesederhanaan?

5. “Hiiii mondhok rawan penyakit!”

Berbagai penyakit kulit menular identik dengan kehidupan para santri. Hidup bersama banyak orang memang harus hati-hati karena proses penularan penyakit akan lebih cepat tersebar. Hal ini dapat diatasi dengan rajin menjaga kebersihan lingkungan, kebersihan tubuh, menambahkan antiseptik ke dalam bak mandi dan menjaga stamina. Beberapa pondok pesantren mengantisipasi penularan penyakit tertentu dengan memberikan vaksinasi pada para santri, mewajibkan santri menjaga kebersihan yang masuk dalam penilaian serta segera mengarantina santri yang menderita penyakit menular.

Ayo Mondok, Pesantrenku Keren, slogan-slogan ajakan-ajakan tempo hari bukan sekedar slogan biasa. Sudah saatnya menepis stigma negatif tentang pondok pesantren dan menjadikannya salah satu opsi bagi generasi muda penerus bangsa untuk menuntut ilmu di jenjang lebih tinggi.

 

 

 

Dwi Aprilytanti Handayani

Ibu dua anak, senang menulis dan berbagi pengalaman. Baginya menulis adalah salah satu sarana mengeluarkan uneg-uneg dan segala rasa.

Latest posts by Dwi Aprilytanti Handayani (see all)

Komentar

Indoblognet merupakan bagian dari MB Communication Network (MB Network) yang diimplementasikan menjadi sebuah jaringan netizen dan blogger Indonesia.

Kami memberikan ruang bagi eksistensi sobat netizen dan blogger menuangkan ide, gagasan, opini, sekaligus berbagi informasi, ilmu, dan cerita tentang berbagai pengalaman yang menginspirasi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Fanpage

Instagram @Indoblognet

  • YouTube saat ini bisa jadi lahan yang mendatangkan penghasilan lumayan, lho. Makanya makin banyak nih para YouTuber yang bermunculan. YouTube juga bisa jadi sarana promosi yang kekinian bagi para marketer 😀
.
#indoblognet #mbcommunication #youtube #youtuber #marketer #socialmedia #promotion

Follow Me

Copyright © 2017 Indoblognet.com. Design by: Planetmaya.net.

To Top